Nak, Untukmu Kuciptakan Puisi

cropped-img_0515-e1418830325426.jpg

 

Langkah-langkahku sudah jauh terjejak, Nak

Bisakah kau ikuti?

Masih adakah jejak-jejakku di sepanjang jalan yang kau lalui?

Tersesatkah dirimu, Nak?

Apakah hujan atau desir angin yang kencang menjadi penghalang kau segera sampai ke tempatku menanti?

Minta saja tolong pada Tuhan

Agar ia mengutus malaikatNya untuk menuntunmu sampai ke rahimku

Β 

Tenang saja, Nak

Aku akan tetap menunggumu

Hati-hati di jalan, Nak

Genggam erat panduan malaikatmu

Agar mudah langkahmu menemuiku

 

 

~ Pada waktu yang entah kapan sebelum kehadiranmu di pelukan ~

 

 

Senja yang Gerimis

IMG_0998

Senja yang gerimis
Menguarkan aroma manis kenangan kenangan lalu

Β 

Aku di situ, duduk di sampingmu
Tersenyum, tertawa, bahagia

IMG_1006

Berdua menata hari
Berharap kita akan selamanya berselimut cinta

Β 

Sampai di senja gerimis yang sama
Aku memilih tinggal, dan kau memutuskan pergi

IMG_1048

Ujung September, 2013

***

>> Puisi dan Foto oleh AFR

Rindu Nirwana

Semalam kita bersua
Dalam mimpiku, kau tersenyum demikian manisnya
Wajahmu…duhai, teduhnya
Ingin kumemelukmu
Buncahkan rasa rindu
Tapi apalah daya
Kau lalu pergi
Meninggalkanku sembari tetap tersenyum
Menaiki tangga, mungkin menuju nirwana

Kuingat-ingat, tak ada selembar gambar pun
yang mengabadikan aku dan kau, Bang
Aneh kurasa
Inginku berpose riang bersamamu
Kita saling merangkul, tersenyum lebar
Sambil menikmati desiran angin di pantai

Tapi yang kupandang kini
Hanya selembar gambar duka
Di kala kukecup wajahmu yang membeku dingin
Dalam tubuh berbalut kafan

Lalu semata berbait-bait doa yang dapat kukirimkan khusus untukmu
Harap Tuhan menyampaikan salam rinduku yang acap kali hadir tak tentu waktu
Kala rindu itu datang, maukah kau mengetuk lagi pintu mimpiku?

Tak apa jika tak ada gambar kenangan kita
Aku akan terus berdoa..
Semoga, Bang…
Semoga kelak kita ‘kan kembali bersua

***

Lelaki di Pembaringan

Sesosok lelaki tertidur di pembaringan

Kepalanya berbalut sorban

Kedua matanya rapat terpejam

Helai-helai rambut tipis merimbuni dagunya

Sesungging senyum menghiasi bibirnya

Tubuhnya berbalut kain putih seluruhnya, senada sorban

Kulihat-lihat dan kupandang-pandang lama

Duhai, betapa tampan wajahnya

Laksana saudagar Arab dari Sahara

Kuamat-amati dan kucermat-cermati lagi dengan seksama

Ah, itu kan wajahmu, Bang? Itu wajahmu!

Bahkan ketampanan dan sinar ramah wajahmu tak lekang oleh sebab kematian

 

*Ketika rindu padamu kembali buncah dan air bening itu menderas lagi