4 Tahun Sudah, Teruslah Menulis Mimpi

dreams

TAK terasa, 4 tahun sudah blog ini ikut nimbrung di jagat maya. Empat tahun yang mungkin lebih banyak absennya daripada update-nya. Hehehe…Tahun ini bolosnya sampai 6 bulan. Sejak akhir April kemarin, saya memilih untuk tak ngeblog dulu. Karena di beberapa bulan terakhir ada hal super penting yang dianugerahkan Allah pada saya. Saya akhirnya mengandung, berbadan dua, hamil! Alhamdulillah.. Saya anggap itu tak hanya anugerah dari Allah karena doa saya dan suami semata, tapi juga doa dari kedua orangtua kami, saudara-saudara kami, teman-teman kami, sahabat-sahabat kami, dan orang-orang lain yang kami mungkin tak tahu kalau diam-diam rajin mendoakan kami *anggap aja ini kege-eran πŸ˜€ *

Rasanya baru saja saya posting soal penantian anugerah ini waktu event GA-nya Mak Evrina tahun lalu. Saat menulis itu, jujur, perasaan saya seperti mengambang. Antara percaya tak percaya atas kekuasaan Sang Maha yang katanya bisa menjadikan segala sesuatu menjadi mungkin sesuai kehendakNya. Astaghfirullah.. Tapi begitulah. Mungkin saya waktu itu sedang berada di titik kepasrahan yang lebih cenderung ke pesimisme. Nyaris pesimis akan diberi anugerah itu dalam waktu dekat. Saya memang percaya bahwa suatu hari nanti Allah akan memberikannya juga. Tapi entah kapan. Rasanya jadi seperti sedang berjalan di lorong panjang yang tak sampai-sampai ke tujuan. Demikianlah.

Hingga akhirnya Allah menjawab keraguan itu di tahun ini, di tahun yang sama saat saya dan suami mengawalinya dengan berumrah ke Baitullah. Masyaa Allah.. Subhanallah.. Rasanya memang ajaib, sampai-sampai saya tak berminat untuk melakukan hal lain lagi selain menjalani kehamilan ini saja. Entah karena faktor hormon juga ya, apa-apa jadi malas. πŸ˜€ Saya tak menyesal bila sempat menolak tawaran pekerjaan yang kalau di saat biasa pasti terlihat menggiurkan dan langsung saya sambut dengan antusias. Penolakan halus nan spontan yang begitu saja keluar demi mengingat ada janin, makhluk mungil yang sedang hidup dan bertumbuh di rahim saya. Saya tak mau capek dulu karena disibukkan oleh beban pekerjaan. Apalagi saat itu sedang hamil muda, trimester I yang masih rawan-rawannya. Saya tak mau kejadian 2 kali keguguran terulang lagi. Cukuplah saya banyak bersantai menikmati hari demi hari bersama calon buah hati saya saja. πŸ™‚

Di tahun 2015 ini, satu mimpi tak lama lagi akan mewujud nyata menurut kehendakNya. Alhamdulillah..

Sempat terlintas untuk kembali menulis, dan benar ya, kalau sudah lama tak menulis rasanya pikiran dan jari jemari ini kaku luar biasa. Baru kali ini saya merasa agak lebih santai dan mengalir. Itu juga karena dipicu membaca tulisan teman-teman blogger yang setiap hari tampak selalu bersemangat untuk berbagi. Saat membaca tulisan-tulisan mereka, tiba-tiba saya kangen menulis, tiba-tiba saya rindu blog saya yang sederhana ini. Lalu teringat tanggal 20 Oktober tak cuma peringatan setahun pemerintahan Jokowi-JK, tapi juga ultah Menulis Mimpi, yang sampai sekarang belum pernah bikin Give Away πŸ˜€ Baru berisi curhatan dan info alakadar yang semoga bermanfaat buat yang sengaja atau tak sengaja mampir baca. Belum serius-serius amat a la seleblog atau blogger profesional.

Buat saya itu tak jadi masalah. Mau menjadikan personal blog cuma jadi diary atau buat lahan pekerjaan, ya sah-sah saja. Yang penting enjoy dalam menjalaninya. Tak perlu memaksakan diri agar jadi seperti blogger lain yang sudah mapan kalau memang passion kita jadi blogger bukan untuk itu. Eeuuu..ini bukan pembenaran buat sikap saya yang masih nyantai-nyantai ini sih. Tapi sekadar penghibur pengingat (buat saya) supaya lebih memilih untuk jadi diri sendiri agar senantiasa nyaman dengan apa yang dilakukan. Buat saya yang masih blogger angin sepoi-sepoi ini, yang perlu saya seriusi dan lakukan secara kontinyu hanyalah menulis konten yang bermanfaat. Kalau bisa menambah ilmu soal teknis untuk mempercantik blog tentu akan lebih baik. Belajar tentang info grafis, misalnya. Atau apalah ilmu yang sebenarnya bisa didapat dengan mudah di komunitas blog semacam KEB. Dengan terus menulis, apapun gaya atau ciri khas penulisannya, saya yakin akan berbuah manis juga pada akhirnya. Segala macam berkah dan hal baik itu pasti dianugerahkan sesuai kapasitas dan kebutuhan hambaNya, plus tujuan menulisnya untuk apa.

Dan jadilah, tulisan ini sebagai penghibur dan kado buat blog saya sendiri. πŸ˜€ Apapun isi Menulis Mimpi ini, semoga bermanfaat sampai kapanpun bagi siapa saja pembacanya. Terima kasih buat yang selama ini rajin berkunjung dan dengan sukarela mem-follow. Maafkan bila saya bukan teman blogger yang baik, yang rajin mengunjungi balik blog teman-teman sekalian. Tapi percayalah, saya ikut senang bila ada berkah dan hal-hal baik yang menghampiri teman-teman. Setidaknya, saya bisa terus mencamkan sesuatu, bahwa takkan pernah ada namanya rugi dengan berbagi.

Salam hangat saya di ultah Menulis Mimpi yang ke-4!

Tetap semangat bermimpi dan berbagi! πŸ™‚

***

Menulis Setiap Hari, Untuk Apa?

Setajam apapun pisau, ia akan tumpul bila tak terus diasah.

Β 

Saya merasakan betul perubahan saya dalam hal menulis ini. Bila biasanya semangat menulis saya begitu menggelora, menggairahkan, memantik semangat setiap harinya, akhir-akhir ini tidak lagi demikian. Bila sebelumnya ide-ide begitu deras mengaliri kepala, aksara menjadi sahabat pagi, siang, malam untuk mengisi kepala, kini, tak lagi demikian. Hati saya kerap bertanya sebenarnya, ada apakah gerangan? Apa yang membuat saya kehilangan semangat? Apa yang membuat saya tak lagi menjadikan huruf-huruf yang terangkai menjadi kata-kata itu sebagai napas hidup? Yang bila saja tak dilakukan sehari dua hari, bisa membuat tubuh saya tak nyaman, pikiran saya gelisah. Oh, aksara! Mengapa aku dan kau tanpa sadar telah membentang jarak?

Ingin saja rasanya langsung menyalahkan waktu dan kesempatan yang sering kali tak berpihak.

β€œDuh, tak sempat!”

β€œTak ada waktu!”

β€œAh, nanti sajalah…Toh, masih ada hari esok..”

β€œTak ada ide. Blank!”

β€œBosan. Idenya mainstream. Itu-itu saja..”

Segunung alasan tetaplah menjadi alasan. Saya memilih mengamini alasan-alasan itu tanpa sekalipun coba menyelami diri sendiri, tentang sebab sejati kehilangan gairah menulis ini. Ketika mengakui alasan sebenarnya jauh di lubuk hati, saya masih mencoba menyangkal. Ah, betapa munafiknya manusia! Padahal, setitik kesombongan tengah tumbuh menjadi bibit yang menjerumuskan. Saya merasa sudah bisa menulis. Untuk apa lagi latihan menulis setiap hari?

Ya, untuk apa lagi menulis kalau kemarin-kemarin tulisan-tulisan saya sudah ada yang nangkring di media cetak, sudah ada yang jadi buku? Lalu, buat apa terus menulis? Toh, paling sekali duduk saya bakal bisa menyelesaikan satu tulisan bermutu. Lagipula, menulis kala perlu sajalah. Saat ada waktu senggang dan ada yang ingin disampaikan lewat tulisan.

Sayangnya, menurut para dedengkot di bidang penulisan, menulis setiap hari, bagi penulis professional sekalipun, tetaplah perlu. Menulis apa saja, meski sebaris dua baris kalimat. Meski berupa status atau kicauan. Meski hanya beberapa kata, tapi kalau itu dimaksudkan untuk terus melatih keterampilan menulis, ya akan sangat berguna. Mau menulis apapun, kapanpun dan di manapun, tak akan ada ruginya.

Nah, ini ilmu yang sering saya hiraukan. Padahal saya ngakunya ingin jadi penulis betulan, penulis profesional. Kalau tak rajin latihan menulis, kapan mahirnya? Biasanya saya bakal termotivasi lagi kalau melihat prestasi teman-teman yang sering menang lomba ini itu, atau cuma bisa sirik demi melihat tulisan-tulisan mereka yang sudah nampang di berbagai media cetak nasional. Wah!

Maka, tak ada jalan lain selain menikmati prosesnya. Menikmati setiap ide remeh temeh yang sering berlompatan dari kepala namun urung ditangkap. Bahkan sebenarnya tak ada yang namanya β€œide remeh temeh”. Semuanya adalah ide besar dan penting untuk kemajuan proses menulis. Terdengar klise, tapi benar, kan?

Sambil menulis ini, semangat saya perlahan muncul kembali. Ah, syukurlah! Semangat kembali menulis!

***

Being Smart; Do What You Love, Love What You Do

Bukan. Ini bukan lagi baca buku serieus, tapi baca buku menu. Nggak ada foto lain soalnya.. :P

Bukan. Ini bukan lagi baca buku serieus, tapi baca buku menu. Nggak ada foto lain soalnya.. πŸ˜›

***

SAYA sempat berada di zaman ketika kesan smart itu ada pada orang-orang yang berkacamata, sebagai tanda suka membaca. Apalagi kalau kacamatanya berminus tebal seperti pantat botol. Wah, bisa dipastikan kesan smart itu akan bertambah-tambah, mengundang decak kagum. Keren! Sampai-sampai saya dulu ingin sekali berkacamata. Ya karena kesan smart dan keren itu tadi. Haha! Tapi dasar nasib, keinginan saya tak didukung ibu yang sehari-harinya suka menghidangkan menu sayuran dan jus wortel. Jadilah, mata saya tak pernah kenal dengan kacamata minus.

Β  Continue reading