Menjadi Tua

dok. AFR

dok. AFR

 

 

PAGI ini, mari kita bicara tentang menjadi tua. Menurut pengamatanku, menjadi tua adalah saat di mana organ-organ tubuhku menjadi kurang daya. Pergerakanku menjadi lambat, hampir-hampir harus selalu memakai tongkat.

Menjadi tua adalah ketika gurat-gurat kecantikan itu mengeriput secara alamiah. Secara kasat mata, diriku takkan sedap lagi dipandang. Tentu sudah kalah jauh dengan para gadis belia yang masih rupawan.

Menjadi tua adalah saat helai-helai putihku semakin lebat, sehingga harus semakin kututup rapat.

Menjadi tua adalah tentang mengenang berjuta kejadian yang telah lewat. Menangisi atau menertawainya, sama saja. Semua kenangan itu takkan pernah mampir lagi di depan mata.

Menjadi tua adalah saat hari-hari bersahabat sepi. Terhibur hanya saat para sahabat dan kerabat sesekali datang menemani. Mungkin saat itu pasanganmu sudah mati. Beruntung bagi yang menjadi tua bersama. Tapi tetap saja. Apa yang menarik dari pembicaraan dua orang tua yang acap terperangkap sunyi?

Menjadi tua adalah titik akhir perjalanan. Tuhan menandainya dengan rasa cemas karena akan menutup buku kehidupan yang entah kapan.

Tapi begitulah. Menjadi tua adalah keniscayaan, yang mungkin hanya bisa dinikmati dengan menyeruput secangkir susu cokelat hangat dan biskuit di pagi hari. Di bawah pohon mangga, bersama sahabat-sahabat yang tersisa.

***

>> Momen indah pagi ini. Melihat Ayah dan sahabat-sahabat lansianya asyik bercengkerama di halaman rumah.. Long life, Old Men! πŸ™‚