Nak, Untukmu Kuciptakan Puisi

cropped-img_0515-e1418830325426.jpg

 

Langkah-langkahku sudah jauh terjejak, Nak

Bisakah kau ikuti?

Masih adakah jejak-jejakku di sepanjang jalan yang kau lalui?

Tersesatkah dirimu, Nak?

Apakah hujan atau desir angin yang kencang menjadi penghalang kau segera sampai ke tempatku menanti?

Minta saja tolong pada Tuhan

Agar ia mengutus malaikatNya untuk menuntunmu sampai ke rahimku

 

Tenang saja, Nak

Aku akan tetap menunggumu

Hati-hati di jalan, Nak

Genggam erat panduan malaikatmu

Agar mudah langkahmu menemuiku

 

 

~ Pada waktu yang entah kapan sebelum kehadiranmu di pelukan ~

 

 

Ibu, Cinta Tanpa Akhir


 Hari Ibu-KEB

***

“Kalau sayang anak, jangan dimanjakan.” Begitu selalu nasihat Umak pada kami, anak-anaknya. Aku, si bungsu, mencamkan betul kata-katanya ini. Meski kata orang sebagai anak bungsu seharusnya aku paling dimanja, tapi perlakuan Umak padaku sama saja dengan kakak-kakakku yang lain. Aku belajar mengurus diriku sendiri; mandi, makan, berpakaian, sejak usiaku masih balita. Saat SD, kira-kira mulai kelas 3, aku mulai membantu mencuci piring -paling tidak piringku sendiri- dan melakukan apapun tanpa bantuan sebisaku, seperti membuat susu sendiri, mencuci kaus kaki, menyiapkan buku-buku pelajaran, atau apapun yang bisa kulakukan sendiri. Umak memang sengaja tak memanfaatkan jasa asisten rumah tangga (ART), kecuali untuk mencuci dan menyeterika pakaian. Jadi aku dan kelima abang dan kakak-kakakku, sudah terbiasa mandiri sejak kecil, sehingga tak mengalami kesulitan jika harus menginap atau pergi ke mana-mana.

Sering ketika aku sedang mengobrol dengan Umak, aku  berseloroh karena sekarang Umak memakai jasa ART ketika kami anak-anaknya sudah menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing. “Kenapa nggak dari dulu?” tanyaku sambil nyengir. Biasanya Umak hanya tertawa tanpa jawaban. Lalu aku akan membayangkan jika seandainya dulu Umak sudah mempekerjakan seorang ART untuk membantunya mengurus keenam anaknya ini, mungkin aku, abang dan kakak-kakakku takkan bisa mandiri seperti sekarang. Kalau saja Umak bukanlah sosok yang tegas menyuruhku bangun pagi meski di hari Minggu, barangkali aku bahkan tak terampil merapikan tempat tidurku sendiri. Aku ingat, ketika baru lulus SMP, aku sudah mengurus berkas-berkasku sendiri untuk mendaftar di SMU idamanku, di saat calon siswa lainnya masih diantar oleh Ayah atau Ibunya. Kala itu, aku merasa sangat dewasa. Continue reading