15 Tahun Berhijab, Jalan Panjang Menuju Hijab Syar’i

 

TAK TERASA, 18 November 2014 lalu menjadi penanda 15 tahun sudah saya berhijab, belajar menutup aurat. Saya sebut belajar, karena memang saya masih terus belajar. Belajar meluruskan niat untuk berhijab, semata-mata demi mematuhi perintah Allah. Bukan sekadar ikut-ikutan teman, tren atau suruhan orang lain. Belajar menutup rapat keindahan diri dan hanya memperuntukkannya bagi suami. Belajar untuk memperindah akhlak agar sejalan dengan tampilan yang syar’i. Sebagai perempuan, pastilah ada keinginan untuk dilihat dan dipuji kecantikannya oleh orang banyak. Karenanya banyak perempuan yang lebih suka mempertontonkan auratnya yang indah, memesona dan merangsang birahi kaum adam demi pujian dan bahkan…materi.

Tapi perempuan berhijab memilih untuk membatasi dirinya. Tak sembarang orang yang boleh melihat atau menyentuhnya. Tak sembarang pandangan mata yang boleh menikmati keindahannya. Mereka sadar, harga diri mereka tak ternilai bila dibandingkan kepuasan duniawi sesaat. Apalah artinya bila kecantikan lahiriah dipuji tapi kerap dilecehkan karena suka memakai kaus ketat dan rok mini. Apalah artinya bila keindahan diri tak diiringi keindahan akhlak dan ketaatan pada Ilahi. Begitulah…

***

Saya masih kelas 1 SMU waktu itu. Ketika pada suatu siang, saya menangis tersedu dalam sesi muhasabah pada kegiatan pengajian rutin di sekolah. Entah kenapa, siang itu terasa berbeda. Saya begitu tergugunya, sampai-sampai harus ditenangkan oleh teman-teman dan kakak-kakak kelas saya yang menjadi mentornya. Kalau saya pikir-pikir sekarang, pastilah hati saya saat itu masih bersih, polos, jujur, sehingga apa yang kemudian dinamakan hidayah itu begitu mudahnya masuk ke dalam hati. Sambil menangis terisak, saya bertekad untuk berhijrah, berhijab dalam waktu dekat.

Sebenarnya saya sudah sering dinasihati, dipengaruhi atau bahkan disuruh oleh kakak-kakak saya yang lebih dulu berhijab agar saya ikut mengenakan hijab. Mereka menyertakannya dengan dalil-dalil Al Quran tentang kewajiban berhijab bagi perempuan muslimah, suka mengajak saya ikut pengajian, sampai terkadang suka mengkritik pakaian saya yang katanya terlalu pendek dan kurang sopan. Maklumlah, saat itu saya masih suka mengenakan celana bermuda yang kadang di atas lutut atau rok pendek. Dalam pandangan saya saat itu, kakak-kakak saya itu sungguh cerewet, suka mengatur dan menyebalkan. Haha…

Padahal Umak saya saja tak sebegitunya. Beliau santai saja melihat gaya berpakaian saya. Paling ditegur kalau terlihat pendek dan kurang sopan. Karena beliau yakin, pasti ada masanya kelak saya akan mengikuti pilihan kakak-kakak saya untuk berhijab. Kalau sekarang, mumpung masih remaja begini, puas-puaskan sajalah dulu. Karena menurut beliau, sekali memutuskan berhijab adalah untuk selamanya, karena hijab bukan untuk main-main, yang kadang bisa dilepas sesuka hati. Lebih baik hatinya dimantapkan lebih dulu untuk menopang keputusan besar itu. Atau kalaupun ada perempuan berhijab yang awalnya merasa terpaksa karena disuruh, mudah-mudahan seiring berjalannya waktu bisa mengikhlaskan hatinya untuk menutup aurat. Karena yakinlah, segala apa yang diperintahkan Allah pasti ada hikmah dan maksud baiknya.

Belasan tahun berhijab, tak lantas membuat saya mengenakan gaun gamis panjang dan hijab lebar tertutup rapat. Awalnya tentu masih dengan gaya anak muda, meski bagian depannya saya usahakan tetap menutup dada. Saya lebih suka memakai celana panjang kain atau jeans, dengan kemeja atau kaus dan hijab sederhana. Itu gaya saya saat kuliah. Saya jarang memakai rok, bahkan bisa dikatakan tak suka, karena merasa gerak saya jadi terbatas. Apalagi saat itu saya sering naik turun angkot. Hehe… Kala teman-teman hijaber lain menutup kakinya dengan kaus kaki, saya nyaris alergi. Saya lebih suka kaki saya tak berkaus. Alasannya karena panas dan…kurang modis. Yaiyalah…gimana ceritanya mau pakai high heels tapi dibungkus kaus kaki? 😀

Saya masih bersyukur, saya tetap istiqomah berhijab meski dengan gaya masih seadanya. Belum syar’i, kalau kata Pak Ustaz dan Bu Ustazah. Saya tetap berhijab bila ada tamu laki-laki bukan mahram datang ke rumah. Saya tetap berhijab ke manapun saya pergi. Saya tetap berhijab saat cebar-cebur di sungai atau kolam renang. Saya tetap berhijab, di saat beberapa teman membuka-tutup hijabnya. Saya tetap berhijab, kala banyak teman melepas hijabnya saat memasuki dunia kerja. Saya tetap berhijab, meski godaan fashion dan hair style terkini kadang membuat diri ingin bergaya dan berdandan layaknya perempuan-perempuan modis masa kini.

Alhamdulillah, sampai hari ini saya masih berhijab. Bahkan lama kelamaan, mulai muncul rasa risih ketika bergaya kasual dengan celana jeans. Seiring berjalannya waktu, mulai muncul keinginan untuk memperbanyak koleksi rok dan gamis dengan hijab lebarnya. Mulai timbul kekaguman melihat para muslimah yang tetap santai travelling, hiking, atau melakukan apapun tetap dengan memakai rok atau gamisnya. Padahal dulunya, hati ini sempat sinis. “Pakai hijab kok repot amat?” atau “ Gimana bergaulnya itu kalau terlalu menutup diri seperti itu? Sok eksklusif!” atau “Ntar orang-orang malah takut ngedeketin untuk belajar tentang Islam” dan ungkapan sinis semacamnya, yang tentu hanya saya batinkan atau rumpikan dengan teman-teman “sealiran”. Astaghfirullah…

Tanpa terasa, saya sudah berproses sekian lama untuk mencapai titik itu. Sebuah perjalanan yang tak bisa dikatakan mudah ataupun sulit. Suatu proses yang sangat personal sekali. Yang saya percaya, hanya butuh niat baik untuk istiqomah menjalani perintahNya saja agar bisa dituntun ke sana, ke titik di mana saya mulai merasa nyaman mengenakan gamis dan hijab lebar ketika berjalan di keramaian. Meski belum setiap hari, tapi setidaknya saya sudah memulainya pelan-pelan. Berhijab dengan lebih baik.

Saya hanya berharap, semoga keinginan untuk berpenampilan lebih syar’i itu semata-mata karena meningkatnya iman atas kehendakNya, bukan hanya karena tren fashion ala hijaber yang mulai banyak bermunculan menggugah selera.

***

[Liebster Award] Kepo-in Saya Dong!

Heyho! Apa kabar di hari libur yang…hmmm…agak gerah ini? 😀 Baru kali ini nih dapet Liebster Award. Awalnya ngeliat postingan para emak kok banjir Liebster Award ya? Apaan sih itu? Baru aja niat pengen tau, eehh…udah dapet colekan maknyus dari Mak Carolina Ratri (@RedCarra).

“Makasih, Maaakk..tanpa jasa emak nyolek-nyolekin aku, aku ga bakal pernah membuka diriku dengan sukarela seperti ini. Hiks..” #halaahh..

Pokoknya senenglah dicolek Mak Ratri. Atas colekannya itu, saya wajib menuliskan postingan yang berisi 11 hal jujur tentang saya dan menjawab 11 pertanyaan dari Mak Ratri. Selanjutnya, saya akan estafetkan hal yang sama ke emak-emak yang lainnya. Jadi Liebster Award tuh semacam postingan berantai gitu. Tujuannya ya biar yang belum kenal jadi kenal, yang udah kenal jadi makin kenal, yang kenalnya udah kental banget, jadi makiiin akrab lagi. Pokoknya sebagai ajang mempererat persahabatan dan silaturrahim lah.

Biar lebih jelasnya, gini nih caranya #ehem :

  1. Post award ke blog anda.
  2. Sampaikan terima kasih pada blogger yang mengenalkan Liebster Award ini pada anda dan jangan lupa backlink ke blognya.
  3. Share 11 hal jujur tentang diri anda.
  4. Jawab 11 pertanyaan yang diberikan pada anda.
  5. Pilih 11 blogger lainnya dan berikan pertanyaan yang anda inginkan mereka jawab.

Gimana? Seru ya keliatannya? Emang seru kok. Yuk ah, daripada nyerocosnya kelamaan, mendingan cekidot hal-hal tentang saya berikut ini. Pasti pada pengen tau kan? Pada ga sabar kan? Pada iya kan? 😀 #disembur

11 hal jujur tentang saya:

  1. Humoris. Wajib ketawa tiap hari! 😀 meski keliatannya jaim dan tulisannya lebih sering serius dan jaim *uhuk!*
  2. Kurang disiplin. Ehehehe… *senyum-senyum salah tingkah
  3. Pelupa! Jadi kalo apa-apa suka pake reminder.
  4. Suka travelling dan fotografi *Padahal ilmu fotografinya masih segitu-segitu aja sih.. 😀
  5. Suka perfeksionis kalo soal tulisan. Jadinya jarang nulis dan kelamaan nyiapin draft buku.
  6. Tergila-gila sama mie. Mau mie jenis apa aja dan diolah gimana aja, masuk aja tuh ke perut. Wuehehehe…tapi sekarang udah mulai ngurangin sih. Apalagi mie instan. Udah berbulan-bulan ga makan tuh.. *kipas-kipas songong.. 😀
  7. Pecinta es krim! Apalagi hawa-hawa bulan Mei lagi panas-panas gini yaa..huwaaahh..nikmatnyaaa.. *sluuurrpp!
  8. Suka segala hal yang sederhana, termasuk soal pakaian dan make-up. (Ngakunya) masih tetep modis sih.. *uhuk!* tapi ya ga ribet-ribet dan menor-menor juga dandanannya.
  9. Lebih suka baca karya-karya non-fiksi, semacam biografi atau cerita-cerita based on true story.
  10. Sempet suka nulis fiksi, tapi sekarang minatnya mengarah ke non-fiksi. Paling suka nulis reportase hasil jalan-jalan ke tempat-tempat yang cihuy, seputar kuliner, review buku dan curhatan..ahahaha..
  11. Suka sulit memulai dan rehat di tengah jalan. Hahaha…phlegmatis banget pokoknyaaahh..santaaaii..sering dikejer deadline..hihihi..tapi kalo udah “kena” motivasi orang lain dan abis baca quote-quote keren, semangatnya bisa bikin susah tidur.. 😀

Banyak lagi sih sebenernya. Tapi ya ga seru juga dikeluarin semua. Ntar ga misterius lagi doonngg? #halah :))

Daann..inilah jawaban dari 11 pertanyaan yang diajukan Mak Ratri ke saya:

  1. Domisili? Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Komplit kan? Sebelum ditanya, “Panyabungan itu di mana?” J) Tapi buat korespondensi dan kirim2 paket (sapa tau ada yang mo kirim2 gitu..hahah..) biasanya saya alamatkan ke alamat Medan, karena paling nggak sekali sebulan balik ke sana. Kalo kirim ke sini takut kelamaan nyampe, lagian ongkir lebih mahal katanya sih..hehe.. *woi…woi…kepanjangaaann.. 😛
  2. Mulai mengeblog sejak kapan? Ngeblog seriusnya pas 23 Desember 2009 di Kompasiana. Ngeblog di blog pribadi 2 tahun kemudian. Ngeblog ga seriusnya dulu pas masih asik friendster-an.. 😀
  3. 5 kata yang menggambarkan blog yang sekarang dimiliki? Suka, duka, serius, santai, random
  4. Manfaat apa yang didapat dari ngeblog? Latihan nulis, nambah teman, nambah pengalaman di dunia tulis menulis, nambah rejeki..hehe..dikenal sebagai yang berbakat nulis -dan itu nilai plus buat saya.
  5. Apa impian terbesarmu? Nulis buku best seller dan jalan-jalan keliling dunia, terutama ke Eropa.
  6. Sekarang lagi sibuk apa, selain ngeblog? Jadi IRT, sesekali menyibukkan diri di dunia psikologi. #ehem 😀
  7. Postingan terfavorit dari blog sendiri? Kasih linknya ya 😀 Saya mau baca.. Aiihh..semua tulisanku adalah favoritku..hihihi.. #disembur. Hmmm..ini salah satunya ya.. https://annisarangkuti.wordpress.com/2013/08/01/tiga-dekade-dan-doa-doa-yang-melangit/
  8. Apakah desain blog masing-masing sudah sesuai dengan kepenginan? Atau kalau mau dikembangkan, pengin ditambah apa lagi? Belum sesuai keinginan pastinya. Ini masih bener2 terasa make blog gratisannya. Hahahah…belum dipercantik dengan theme yang asyik, sederhana, namun elegan. Pengennya gitu sih. Kapan-kapan pengen belajar bikin video juga, supaya ga bosen baca tulisan mulu.
  9. Dulu kenapa akhirnya memutuskan untuk ngeblog? Ga sengaja terjun ke dunia blog sebenernya, karena pas Desember 2009 itu suami saya yang dokter ditugaskan ke Panyabungan ini. Waktu itu saya “terpaksa” ikut dan harus rela melepaskan pekerjaan sebagai dosen di salah satu universitas swasta di Medan. Untuk mengisi waktu, saya jadi rajin online dan kepincut sama dunia blog lewat Kompasiana.
  10. Dapat ilmu blog terutama dari mana? Dari temen-temen di Kompasiana. Sampe sekarang ilmu ngeblog saya masih standar aja sebenernya. Hahaha..
  11. Apa harapan terbesar dari ngeblog? Misalnya, menjadi seleblog, komersialisasi blog, juara kontes blog di mana-mana, nulis buku? Nulis buku.

 

Gimana? Okesip? Nah, selanjutnya ini nih daftar pertanyaan yang bakal saya ajukan ke emak-emak ketje berikut ini yang saya pilih secara acak, sekalian emang pengen kenal lebih jauh juga sih..hehehe..; Mak Hanna, Mak Ria, Mak Nia, Mak Sary Melati, Mak Rodame Napitupulu, Mak Pritha Khalida, Mak Marintan, Mak Indah El Rahma, Mak Rita Dewi, Mak Fenny Ferawati, Mak Adeanita.

Pertanyaannya adalaaahh:

  1. Punya hobi lain selain ngeblog?
  2. Blog yang sekarang udah sesuai keinginan belum?
  3. Apa yang paling bisa bikin emak termotivasi?
  4. Film yang pengen banget ditonton tapi belum kesampean?
  5. Apa yang belum dicapai dalam hidup?
  6. Daerah mana yang pengen banget dikunjungi di nusantara ini?
  7. Negara mana yang paling pengen dikunjungi?
  8. Lebih suka nulis fiksi atau non-fiksi?
  9. Kalo lagi marah, kesel, sebel, biasanya ngapain?
  10. Mau tau dong kelebihannya apa aja? 😉
  11. Hal-hal yang ga disukai dari diri sendiri dan pengen mengubahnya?

Nah, gitu deh pertanyaannya. Semoga punya kesempatan buat ngejawabnya ya, Mak..kalo ga ada kesempatan, diusahain Mak..hihihi.. #maksa

Pokoknya, sama kayak quote dari Mak Lusiana, yang Mak Ratri tulis di postingannya; dikerjakan, tidak dikerjakan, tetap teman-teman saya.. 😀

Terima kasih sudah membacaaa.. 🙂

Apa Enaknya Tinggal di Daerah?

dok. AFR

dok. AFR

Emang enak tinggal di daerah? Nggak ada mall, nggak ada jajanan enak, nggak bisa nonton film di bioskop, dan semuanya serba terbatas. Emang enak?

Begitu biasanya arti tatapan, ekspresi dan kata-kata yang langsung terucap dari orang-orang ketika tahu saya ikut suami yang bertugas di daerah. Saya cuma nyengir. Mungkin bagi orang-orang yang biasa hidup dan bergantung pada kehidupan serba ada di kota besar sana, hidup di daerah akan cenderung membosankan. Lha nggak ada apa-apanya ini. Mau ikut event-event yang asik-asik juga jauuuhh. Jadilah kehidupan cuma di sekitar rumah, pasar, dan jalan-jalan alakadar keliling kota kecil -kalau nggak mau dibilang kampung. Oh my…kalau nggak kuat-kuat iman dan “berjiwa kampungan”, bakal stress.

Tapi Alhamdulillah, sejauh ini, sesudah dua tahunan ini mukim di dua tempat yang berbeda, saya enjoy-enjoy aja. Malah keasyikan kayaknya. Saya jadi “candu” melihat pemandangan-pemandangan hijau yang ada di mana-mana. Angin segar, langit biru, dan suasana kota kecil yang begitu-begitu saja. Dari segi pembangunan fisik tidak ada menariknya. Tapi sungguh, saya begitu menikmati suara becak motor khas sini yang sering lewat di depan rumah, suasana pasar yang riuh sejak pagi -yang tidak semua bahan pangan yang saya butuhkan ada- dan melahap jajanan sederhana yang kurang variatif.

Di satu sisi, saya bersyukur, saya suka menulis dan berjiwa rumahan. Tak masalah bagi saya untuk lebih banyak tinggal di rumah dan melakukan aktivitas yang saya suka.

“Asalkan ada sinyal buat internetan, ke mana aja bolehlah..” kata saya ke suami dulu, sebagai “syarat” ikut dengannya. Hahaha… Lagipula, daerah yang kami tinggali masih termasuk wilayah kampung halaman saya sendiri. *Yaahh, jelas aja betah!

dok. AFR

dok. AFR

Di sini, waktu luang yang berlimpah jadi cobaan tersendiri. Milih produktif atau malah males-malesan? 😀 Ini sebenarnya bahaya buat kesehatan jiwa orang-orang usia produktif (baca: saya). Di sini semuanya cenderung santai, lamban, tanpa beban, bebas stress, tanpa target, dan tanpa segala macam keruwetan khas kota besar. Coba, mana pernah di sini macet? Mana ada di sini pegawai-pegawai yang jalan cepat takut terlambat? Pantes aja saya yang phlegmatis nyaman-nyaman aja tinggal di tempat kayak gini ya? Hahaha…

Dari sisi ekonomi, tinggal di tempat yang serba terbatas begitu juga punya berkah tersendiri. Jadi jarang jajan yang aneh-aneh dan mahal-mahal, misalnya, sushi, pizza, fried chicken. Otomatis kan bisa berhemat. Kalau mau apa-apa tinggal masak sendiri. Kalau bosen dan pengen jajan, yah, pilihannya paling di seputaran ayam penyet, sate Padang, sate Madura, bakso, mie sop, mie ayam, soto, nasi goreng, mie goreng, dan segala rupa sajian khas rumah makan Minang dan Mandailing yang bercitarasa pedas. Tapi tetap aja, berat badan stabil naiknya, karena pas balik ke Medan sajian khas wisata kuliner kota itu sudah menanti untuk dilahap. 😀

Untuk menyiasati kebosanan dan kejenuhan bekerja, suami suka mengajak saya jalan-jalan. Di situlah salah satu kecocokan kami; jalan-jalan ke mana saja bisa sembari menikmati hidup anugerahNya. Alhamdulillah, saya dikaruniai suami yang nggak ngoyo bekerja, sehingga sering ada waktu buat plesiran. Dan Alhamdulillah, ada saja rizki untuk itu. Biasanya, kami berwisata ke tempat-tempat yang ada di sekitar kota kecil ini saja. Di sini panorama alam a la pantai, pegunungan, dan sungai terhampar di mana-mana. Komplit! Kalau rindu suasana kota besar, cukup bertandang ke kota Padang Sidempuan yang ditempuh selama 1,5 jam atau Bukittinggi yang berwaktu tempuh 5 jam via jalan darat. Biasanya ke sana dibarengi keinginan untuk makan di restoran cepat saji. Hahaha…

dok. AFR

dok. AFR

Sesekali kami plesir agak jauh, sampai ke luar pulau. Biasanya sekalian kalau ada acara yang terkait pekerjaan suami atau sekadar acara keluarga. Jadi meski tinggal di daerah, langkahnya jauh juga ke mana-mana. Hehehe… Seperti perjalanan terakhir kami tempo hari, antara akhir Januari sampai pertengahan Februari. Itu bisa dikatakan sebagai plesiran silaturrahim. Berkunjung ke beberapa tempat, mulai dari Danau Toba di Parapat, Bukittinggi, Padang, sampai ke Jakarta, Bogor, dan Bandung, untuk temu kangen dengan keluarga besar saya dan suami. Menariknya, ada beberapa kerabat yang baru saya temui setelah kenal sekian lama saya tahu sebagai tante atau kakak ipar. Baru saat itulah kami berkesempatan saling bertatap muka dalam balutan suasana ceria. Alhamdulillah

Demikianlah hidup yang saya dan suami jalani di daerah. Suka dukanya tergantung persepsi masing-masing. Semua tempat adalah menarik, kalau kita mau membuka mata dan menyelami sisi menariknya.

 

***

 

Ibu, Cinta Tanpa Akhir


 Hari Ibu-KEB

***

“Kalau sayang anak, jangan dimanjakan.” Begitu selalu nasihat Umak pada kami, anak-anaknya. Aku, si bungsu, mencamkan betul kata-katanya ini. Meski kata orang sebagai anak bungsu seharusnya aku paling dimanja, tapi perlakuan Umak padaku sama saja dengan kakak-kakakku yang lain. Aku belajar mengurus diriku sendiri; mandi, makan, berpakaian, sejak usiaku masih balita. Saat SD, kira-kira mulai kelas 3, aku mulai membantu mencuci piring -paling tidak piringku sendiri- dan melakukan apapun tanpa bantuan sebisaku, seperti membuat susu sendiri, mencuci kaus kaki, menyiapkan buku-buku pelajaran, atau apapun yang bisa kulakukan sendiri. Umak memang sengaja tak memanfaatkan jasa asisten rumah tangga (ART), kecuali untuk mencuci dan menyeterika pakaian. Jadi aku dan kelima abang dan kakak-kakakku, sudah terbiasa mandiri sejak kecil, sehingga tak mengalami kesulitan jika harus menginap atau pergi ke mana-mana.

Sering ketika aku sedang mengobrol dengan Umak, aku  berseloroh karena sekarang Umak memakai jasa ART ketika kami anak-anaknya sudah menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing. “Kenapa nggak dari dulu?” tanyaku sambil nyengir. Biasanya Umak hanya tertawa tanpa jawaban. Lalu aku akan membayangkan jika seandainya dulu Umak sudah mempekerjakan seorang ART untuk membantunya mengurus keenam anaknya ini, mungkin aku, abang dan kakak-kakakku takkan bisa mandiri seperti sekarang. Kalau saja Umak bukanlah sosok yang tegas menyuruhku bangun pagi meski di hari Minggu, barangkali aku bahkan tak terampil merapikan tempat tidurku sendiri. Aku ingat, ketika baru lulus SMP, aku sudah mengurus berkas-berkasku sendiri untuk mendaftar di SMU idamanku, di saat calon siswa lainnya masih diantar oleh Ayah atau Ibunya. Kala itu, aku merasa sangat dewasa. Continue reading

“Ayah, Dimanakah Nyawa Itu Berada?”

Image

Aku mulai tahu bagaimana rasanya kehilangan. Ketika seseorang yang selama ini dekat dengan kita, lalu tiba-tiba hilang. Aku kerap bertanya, bagaimana rasanya mati? Bagaimana sakitnya saat ruh tercerabut dari jasad? Aku belum bisa membayangkan kalau itu terjadi pada diriku. Kadang saat memikirkannya, aku merasa asing dengan diriku sendiri. Tiba-tiba aku merasa gamang karena ruhku terasa melayang-layang di atas tubuhku. Rasanya sungguh aneh.

Aku pernah bertanya pada Ayah, dimanakah nyawa itu berada?
“Apa jantung itu nyawa, Ayah?”
Ayah menjawab, “Bisa dibilang begitu.”
“Apa paru-paru itu nyawa, Ayah?”
Ayah masih menjawab, “Bisa dibilang begitu.”
“Apa otak itu nyawa, Ayah?”
Ayah tetap menjawab, “Bisa dibilang begitu, Nak..” Continue reading

Tiga Dekade dan Doa-doa yang Melangit

 Kembali, sebuah refleksi.

Setiap dekade terisi oleh peristiwa-peristiwa besar. Tiga ribu enam ratus lima puluh hari, lebih kurangnya. Tiga dekade, berarti sepuluh ribu sembilan ratus lima puluh hari, kurang lebihnya. Saya suka bingung diam-diam. Bagaimana saya bisa melahap waktu yang sedemikian banyak tanpa terasa?

Tak usah lah lagi dikalikan dengan jam, jam lalu ke detik. Membaca angka itu saja sudah membuat saya cukup kenyang. Cukup, karena menganggap jumlah hari sebegitu banyak baru mewakili pertengahan jatah usia rerata manusia. Saya tidak tahu berapa besar deviasinya. Saya hanya bisa mengira, menebak, menaksir. Dan tak usah juga sedemikian serius berkutat pada perhitungan statistik. Tokh, hanya Tuhan yang tahu.

Waktu. Sebenarnya tak perlu terlalu melotot melihat pergerakan jarum jam dinding, jam tangan, jam meja, jam gadang. Salah-salah, kita akan tersedot dalam perasaan gelisah akan pekerjaan dan keinginan yang tak sudah-sudah. Jarum-jarum yang tak peduli. Konsisten bergerak tanpa aba-aba dan kecuali. Ngeri kalau diresap. Betapa waktu yang sebegitu banyak tampaknya, bisa habis begitu saja, tanpa pernah kembali. Betapa waktulah sejatinya, yang membuat kita tumbuh dan berkembang. Semakin besar, semakin matang. Semakin arif, semakin bijak. Begitu semestinya. Continue reading

Menjadi Pemalu Itu Berkah

Image

ITU aku. Ya, gadis kecil berpipi gembil berbaju putih-putih itu adalah orang yang sama yang mengetik tulisan ini. Tapi dulu. Dulu sekali. Hmmm…sudah 24 tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di TK. Itu fotoku saat kegiatan latihan manasik haji di asrama haji Medan. Lihatlah, betapa pemalunya gayaku. Masing-masing murid seingatku memang difoto sendiri-sendiri untuk kenang-kenangan. Dan saat giliranku, aku tak tahu harus bergaya bagaimana. Jadi yang terpotret hanya gaya antara -kurasa- ingin melindungi wajahku dari panas matahari sekaligus gaya diam tanpa senyum karena malu.

Saat kecil, aku memang pendiam dan pemalu sekali. Sebenarnya berbeda sekali dengan diriku di rumah. Kalau di tengah keluarga, aku termasuk anak yang cukup cerewet, suka bertanya ini itu. Wajarlah, anak seusia itu. Tapi begitu sampai di sekolah, aku langsung menjelma jadi anak yang pendiam seribu bahasa. Aku hanya duduk diam mendengarkan instruksi guru untuk melakukan ini atau itu. Memang ada kalanya aku mengobrol dengan teman-teman, tapi lebih banyak aku yang diam mendengarkan. Kata teman-temanku, suaraku saat berbicara hampir tak terdengar saking pelannya. Bermain pun hanya ikut-ikutan dan lebih sering sendiri. Wah, pendiam dan pemalu tingkat tinggi tampaknya. HahahaContinue reading