Usiamu Baru 30 dan Kau Sudah Pergi…

Image

Kalau ternyata esok kita tak pernah lagi bisa bersua

Bahkan dalam persemayamanmu

Foto ini akan tetap abadi

Menggambar wajahmu, melukis senyummu

Merangkum kenangan tentang kebersamaan kita dahulu

Mengurainya menjadi doa-doa

yang mengantarmu menuju tempat peristirahatan terakhirmu

 

Berbahagialah…

Karena duka lara itu telah sirna

Tersenyumlah…

Karena Allah Mahatahu yang terbaik untukmu

 

Selamat jalan, sahabat…

Sampai jumpa di keabadian kelak…

 

***

>> Teruntuk sahabatku sayang, Citra Mustika. Satu saja tanyaku, mengapa kau tak menungguku? Ah… 

Rindu Nirwana (2)

Begini ternyata rasanya kehilangan.

Di satu sisi, hatiku -mau tak mau- menerima kenyataan kalau ia sudah tiada. Namun di sisi hati yang lain, ada perasaan kalau ia masih ada, masih bernyawa, masih bernafas, di suatu tempat yang aku tak tahu dimana. Maksudku, aku tak harus tahu ia ada dimana tapi yang penting aku merasa ia masih ada; bernafas, berjalan, tersenyum, berbicara sepertiku.

“Ia hanya sedang ke luar kota mungkin? Dan bukankah selama ini pun kami sudah berjauhan dan jarang berkomunikasi? Lalu kenapa aku harus merasa kehilangan ketika ia sudah benar-benar tiada?”

Setidaknya perasaan “semu” itu bisa membuatku lebih baik. Tak harus selalu menangis kala mengingatnya. Bahkan aku sudah mulai bisa mengingat kekonyolan-kekonyolan maupun kegembiraan-kegembiraan serta hal-hal menyenangkan lain ketika ia masih ada. Kehilangan itu telah bertransformasi ke dalam untaian-untaian doa yang tak putus untuknya, juga untuk keluarga yang ditinggalkannya. Kehilangan itu perlahan menjelma sebuah kekuatan baru, semangat baru, yang senantiasa membisiki hatiku agar selalu mengingatNya. Kediamannya kini adalah sesuatu yang dirindukan. Rindu…rindu padanya, rindu jannahNya…

Ah, abangku sayang… Tentu engkau masih ada, tapi bukan di sini. Bukan di tempatku berpijak. Engkau hanya lebih dulu melanjutkan perjalanan ke persinggahan berikutnya. Kakimu telah selangkah lebih maju. Dan aku, bersama orang-orang yang masih berpijak di bumi yang sama, masih menunggu giliran yang entah kapan…

***

>> Teriring doa untuk Ibunda agar senantiasa tabah dan semakin tabah.

*Umak, sudahlah…jangan menangis lagi. Anak lelakimu sudah tenang di sisiNya. Insya Allah.. Berdoa saja agar suatu saat nanti kita semua dapat berkumpul kembali di akhiratNya… (amin…)

Rindu Nirwana

Semalam kita bersua
Dalam mimpiku, kau tersenyum demikian manisnya
Wajahmu…duhai, teduhnya
Ingin kumemelukmu
Buncahkan rasa rindu
Tapi apalah daya
Kau lalu pergi
Meninggalkanku sembari tetap tersenyum
Menaiki tangga, mungkin menuju nirwana

Kuingat-ingat, tak ada selembar gambar pun
yang mengabadikan aku dan kau, Bang
Aneh kurasa
Inginku berpose riang bersamamu
Kita saling merangkul, tersenyum lebar
Sambil menikmati desiran angin di pantai

Tapi yang kupandang kini
Hanya selembar gambar duka
Di kala kukecup wajahmu yang membeku dingin
Dalam tubuh berbalut kafan

Lalu semata berbait-bait doa yang dapat kukirimkan khusus untukmu
Harap Tuhan menyampaikan salam rinduku yang acap kali hadir tak tentu waktu
Kala rindu itu datang, maukah kau mengetuk lagi pintu mimpiku?

Tak apa jika tak ada gambar kenangan kita
Aku akan terus berdoa..
Semoga, Bang…
Semoga kelak kita ‘kan kembali bersua

***

Lelaki di Pembaringan

Sesosok lelaki tertidur di pembaringan

Kepalanya berbalut sorban

Kedua matanya rapat terpejam

Helai-helai rambut tipis merimbuni dagunya

Sesungging senyum menghiasi bibirnya

Tubuhnya berbalut kain putih seluruhnya, senada sorban

Kulihat-lihat dan kupandang-pandang lama

Duhai, betapa tampan wajahnya

Laksana saudagar Arab dari Sahara

Kuamat-amati dan kucermat-cermati lagi dengan seksama

Ah, itu kan wajahmu, Bang? Itu wajahmu!

Bahkan ketampanan dan sinar ramah wajahmu tak lekang oleh sebab kematian

 

*Ketika rindu padamu kembali buncah dan air bening itu menderas lagi

Monolog Surat Putih (1)

Surat. Kita pernah akrab dengan kata itu ya, Bang? Surat. Kira-kira dua puluh tahun yang lalu. Saat aku masih duduk di bangku SD. Aku lupa persisnya kelas berapa. Pastinya, saat aku sudah cukup lancar membaca dan menulis. Hmmm…mungkin kelas 2 atau kelas 3. Kala itu, aku rajin menulis surat untukmu, Bang. Surat yang kutulis sendiri dengan tanganku. Aku juga lupa saat itu aku menulisnya dengan pensil atau pena. Yang pasti, aku dengan begitu yakinnya menulis kata-kata dalam surat itu sesuai tata cara penulisan yang baru kupelajari di sekolah. Aku menuliskan tempat dan tanggalnya di sudut kanan atas. Lalu salam pembuka berikut isinya. Tak lupa juga penutup. Tapi aku (lagi-lagi) lupa apakah aku menorehkan tandatangan kecilku atau tidak. Hmmm…kurasa iya, atau paling tidak ada namaku di situ.

Begini contoh suratnya (seingatku):

                                                                                                                                                                                                Medan, 7 April 1992

 

Assalamualaikum bang. Apa kabar?

 Bla bla bla bla bla bla

Bla bla bla bla bla bla

Bla bla bla bla bla bla

Bla bla bla bla bla bla

Tapi untuk tandatangan atau tanda namaku itu, aku lupa bagaimana menuliskannya. Apakah hanya “Adek” atau ada kata-kata “Dari” atau entahlah. Yang kuingat adalah aku begitu bersungguh-sungguh menuliskannya di atas selembar kertas yang kusobek dari buku tulis atau kertas HVS. Continue reading

Tentang Arti Kehilangan (4)

SAYA dan suami memilih keluar ruang ICU untuk menunggu Papa dan Umak. Di kursi ruang tunggu itu, perasaan saya masih mengambang. Saya khawatir akan Papa dan Umak. Bagaimana reaksi mereka? Duhai…ingin rasanya semua cepat berakhir.

Tak lama, saya melihat Papa, Umak dan saudara yang lain bergegas masuk ruang ICU. Buru-buru saya dan suami bangkit untuk menyusul mereka ke dalam. Tapi saya memilih untuk melihat dari sudut yang agak jauh. Saya belum sanggup melihat air muka Papa dan Umak.

Dari tempat saya dan suami berdiri, di sana, kakak saya tampak memeluk Umak. Lalu berdua, mereka bertangisan. Dalam keheningan duka itu, mereka semua yang ada di dekat Bang Iwan, bertangisan dan saling memeluk. Saya rasakan genggaman tangan suami yang semakin erat. Ia terus berusaha menguatkan hati saya.

Tak lama, saya mendekat juga. Saya cermati wajah Papa. Beliau berdiri di dekat ranjang, melihat anak lelakinya yang telah terbujur diam itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Beliau sentuh wajah Bang Iwan. Lalu berdoa dalam bisik rapalan yang khidmat. Saya menunggu jatuhnya tetes-tetes air mata itu, namun tak kunjung nampak. Papa sama sekali tak menangis. Beliau hanya mencermati keadaan anak lelakinya itu, membisikkan doa untuknya, lalu berkata;

“Aku maafkan kamu, anakku. Kamu anak yang sholeh…” Continue reading

Tentang Arti Kehilangan (3)

SELASA, hari kedua. Ada sebersit harapan tentang perkembangan kondisi Bang Iwan. Paru-paru dan jantungnya mulai dapat bekerja secara otonom, tak lagi dibantu oleh mesin (alat medis). Keluarga kakak ipar dan keluarga saya bergantian menjaga di rumah sakit, sekaligus menemani kakak ipar yang setia menunggu di sana. Saya dan suami kembali ke sana pada siang hingga malam hari. Jam besuk sore selama 2 jam (pukul 17.00 – 19.00 WIB) itu kami manfaatkan untuk menyapa Bang Iwan dengan membisikinya zikir dan bacaan Alquran. Saya pun membacakan lagi surah Ar-Rahman untuknya. Sesekali tampak air matanya menetes serta mulut dan kakinya bergerak-gerak, seolah ingin merespon sapaan kami. Matanya masih setengah terpejam.

Saya lihat monitor yang sesekali berbunyi nyaring, seperti alarm. Tekanan darahnya masih tinggi. Berkisar antara 180 – 200. Ternyata banyaknya pembesuk memengaruhi tekanan darahnya. Terlalu banyak stimulus rupanya membuatnya gelisah sehingga membuat tekanan darahnya sulit untuk kembali stabil. Akhirnya dokter memutuskan untuk mengistirahatkannya selama beberapa waktu. Ia “ditidurkan” agar kondisi tekanan darahnya stabil untuk kemudian “dibangunkan” kembali beberapa hari ke depan. Jika ternyata kondisinya membaik, operasi kedua dapat dilakukan.

Melihat kondisi itu, kami pun sepakat untuk membatasi pembesuk yang ingin melihat langsung kondisi Bang Iwan. Cukup keluarga dekat saja yang boleh masuk selama jam-jam besuk di pagi, siang dan sore harinya. Continue reading