Serba-serbi Pouch Kosmetik Minimalis

img1424503386186

Compact powder warna beige

 

Heyho, kamu kamu perempuan-perempuan cantik di mana aja! ๐Ÿ˜€

Tumben nih saya ikutan lomba blog yang berbau-bau dandan gini. Padahal saya aslinya ga terlalu suka dandan. Dari jaman puber sampe udah nikah gini, yang namanya dandan masih alakadarnya. Haha. Kalo urusan dandan, adek ipar saya yang mahasiswi itu jadi guru saya kadang-kadang. Mestinya kan kebalik ya. Hihihi. Tapi emang dasar nggak pernah dicontohin Umak atau kakak-kakak saya soal dandan, jadinya pengetahuan dan wawasan ala kecantikan gitu masih di bawah standar. Sekali-sekali suka juga sih liat tutorial soal cara make ini, cara make itu. Tapi nggak pernah bener-bener diaplikasikan. ๐Ÿ˜€ Kecuali pernah sekali, saya ke kondangan pake eye shadow model smokey eyes. Pas diliat-liat, trus pas minta pendapat adek ipar, katanya sih oke. Weehh..berarti mayan bakat juga saya buat dandan ya. ๐Ÿ˜€

Continue reading

Menggantung Mimpi di Benua Biru

IMPIAN saya banyak. Sungguh banyak. Saya adalah pemimpi sejati, yang bila impian-impiannya dituliskan, akan berderet panjang. Bila saya menulis impian menjadi penulis terkenal yang karya-karyanya selalu best seller, ya, itu sudah masuk ke kotak impian saya, tanpa perlu saya jabarkan lagi. Menjadi psikolog andal dan mampu mengelola biro psikologi warisan ayah sampai sukses? Tentu. Itu sudah mulai dilakukan, meski jalannya lambat. Heheโ€ฆ Maklum, saya masih belajar. Tapi yang satu ini, adalah impian yang perlu saya ceritakan. Satu impian yang memengaruhi munculnya impian yang lain.

Mungkin sejak saya kecanduan membaca tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, benua Eropa jadi makin terlihat bening di mata saya. Sebuah benua yang sudah saya impi-impikan sejak zaman sekolah dulu. Ada suatu saat yang kalau mengingatnya, saya suka senyum-senyum sendiri. Waktu kelas 2 SMA dulu, saya suka ke perpustakaan sekolah. Di sana, ada satu buku yang begitu menarik perhatian saya. Buku ensiklopedia tentang Venezia atau Venice, kota gondola di Italia. Mengamati gambar-gambar indahnya nan romantis itu, hati dan pikiran saya terbius. Duh, kapan ya, bisa jalan-jalan ke sana? Saking terhipnotisnya dengan gambar-gambar apik di buku itu, saya sampai mencipta sebuah puisi romantis, khusus untuk Venezia. ๐Ÿ˜€ Continue reading

Menyusur Potensi di Pesisir Pantai Natal nan Perawan


ย 01

***

ANDA pernah berkunjung ke Natal? Saya sudah, dua kali. Mungkin bagi orang-orang yang belum pernah ke sana, berkunjung ke Natal adalah sebuah kemewahan. Tak usah anda, bahkan orang yang sudah lama tinggal di Panyabungan, ibukota kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang saya tanyai, masih ada yang mengaku belum pernah ke sana. Wah, bagaimana bisa? Panyabungan tidaklah jauh dari Natal. Cukup lebih kurang 4 jam perjalanan darat, maka kita akan segera menemukan nirwana tersembunyi di sana.

Mungkin yang dimaksud sebagai kemewahan itu karena kurang nyamannya perjalanan ke sana. Memang, perlu niat yang sungguh-sungguh untuk mencapai Natal. Tak berlebihan, karena infrastrukturnya memang tampak belum memadai. Lubang menganga tersebar di mana-mana hampir di sepanjang jalan. Menaiki kendaraan, anda sudah seperti berakrobat ria. Dijamin, anda takkan bisa duduk santai. Kalaupun ada jalan mulus, tak sampai berkilo-kilo meter. Jalanan mulus dan rusak berselang-seling. Rasa pegal di sekujur badan boleh terasa, tapi lihatlah pemandangan setelah sampai. Anda mungkin jadi malas pulang, lebih karena terhipnotis keindahannya.

06

Bahkan sebelum sampai Natal pun, anda sudah disuguhi banyak titik yang menyajikan pemandangan indah. Areal persawahan hijau yang dialiri sungai jernih, persis seperti yang biasa anda lihat di lukisan-lukisan. Sungainya bisa dikunjungi tanpa karcis. Salah satu sungainya bernama Aek Singali. Turun dari kendaraan, anda bebas mandi-mandi di sungai berbatu yang berair deras nan jernih. Sejuk dan menyenangkan sekali.

Atau anda ingin mandi air panas? Ada. Aek Milas Sibanggor, namanya. Mandi air panas belerang di sana asyiknya pada sore atau malam hari. Saat udara tengah dingin-dinginnya, begitu kata orang-orang yang pernah ke sana. Atau kalau hanya ingin sekadar singgah, membeli cemilan, menyeruput teh atau kopi sambil memandang pemandangan kota Panyabungan dari ketinggian? Bisa. Dataran tinggi seperti Puncak Pass itu bernama Sopotinjak, kira-kira 1,5 sampai 2 jam dari Panyabungan. Bukan itu saja. Di sepanjang jalan, anda akan menemukan pesona alam pegunungan yang indah tak putus-putus. Apalagi bila langit sedang biru cerah dihiasi awan. Wow!

Objek-objek wisata alam gratis tadi bisa dianggap sebagai penghibur dan pengalih perhatian dari kurang nyamannya perjalanan anda karena jalan rusak. Mungkin rusaknya jalan bisa menguntungkan. Gerak kendaraan yang melambat bisa anda manfaatkan untuk memotret spot-spot yang asyik. Atau berhenti saja sekalian untuk melepas penat. Dan hiruplah udara segar alami dari alam hijau di sekitar. Pelan-pelan, semangat anda untuk menempuh sisa perjalanan akan terisi kembali.

08

Kira-kira dua jam dari Sopotinjak, anda baru bisa menikmati pemandangan indah pantai Natal, yang bila anda amati tak kalah indah dengan pantai-pantai di Bali atau di wilayah nusantara lain yang terkenal indah dengan pantainya. Melewati kota kecamatannya, anda akan menyusur jalan yang bersebelahan dengan pantai. Syukurlah jalan di sana sudah mulus. Tumbuhan semak belukar dan pepohonan kelapa yang berbaris-baris mengantarai jalan mulus itu dengan pantai. Pantai yang pertama kali anda lewati itu belum seberapa indahnya. Berkendaralah terus sampai hampir satu jam lagi dari pusat kota. Berhentilah di salah satu jalan kecil di sebelah kiri menuju pantai yang tersembunyi itu, dan temukanlah pantai bersih berpasir putih yang sepi serasa pantai pribadi. Kesempatan itu asyik sekali dimanfaatkan untuk berenang atau sekadar bermain-main membasahi tubuh. Wah! Inilah kemewahan yang sesungguhnya!

Karena pantai itu sepi dari manusia, praktis tak ada sekadar warung, tempat singgah untuk membeli minuman dan makanan. Anda harus membawa sendiri kebutuhan berlibur seperti tikar, makanan, minuman, kalau perlu alat barbeque untuk membakar hasil laut segar yang anda beli di pasar kecamatan. Makan ikan bakar sehabis berenang di pantai? Hmmm…nikmatnya!

Oh ya, tak lengkap memang jalan-jalan ke pantai kalau tak singgah ke pasar ikan untuk membeli hasil lautnya yang beragam. Ada bermacam-macam ikan, udang, kepiting, dan lainnya. Bahkan ada lobster, tapi dijual di rumah penduduk. Biasanya lobster yang dijual penduduk nelayan ini jumlahnya terbatas karena sebagian besar untuk diekspor. Ya, disayangkan memang, hasil laut berlimpah itu lebih banyak dinikmati warga asing daripada kita sendiri. Mungkinkah itu dikarenakan insfrastruktur yang buruk sehingga para toke itu enggan mendistribusikan hasil lautnya sampai ke Panyabungan dan daerah lain? Atau daya beli masyarakat yang rendah karena berbagai faktor? Maklum, harga hasil laut berkualitas memang sering kali selangit. Daya beli masyarakat acap kali tak sanggup mengimbanginya.

09

Tapi apapun itu, Natal tetaplah bagian dari kabupaten Mandailing Natal yang potensi alamnya luar biasa bila dikembangkan dengan serius. Sayangnya, pemerintah daerah seolah tak peduli. Entahlah apa sebab mengapa pemerintah daerah tak juga membenahi kecamatan potensial itu. Saya tak pula mengerti birokrasi. Sebagai awam, saya hanya bisa menyayangkan keadaan. Sudah berbelas tahun Madina ini terbentuk, pembangunannya tak jua merata, bahkan nyaris dikatakan stagnan. Itu yang saya amati setelah beberapa tahun di sini. Padahal daerahnya amat potensial untuk dikembangkan.

Seharusnya dengan potensi alam yang begitu besar, kabupaten Madina bisa memperoleh pendapatan daerah yang besar pula untuk mengembangkan sendiri daerahnya. Terutama infrastruktur jalan. Saya sering kali berpikir tak sudah-sudah, bila membandingkan provinsi Sumatera Barat sebagai provinsi tetangga, yang pembangunan infrastrukturnya mulus tanpa hambatan. Jalan-jalan di provinsi itu nyaris tak mengenal kata rusak atau berlubang, sampai ke gang-gangnya. Padahal yang saya amati, potensi daerahnya tak jauh beda dengan yang di Sumatera Utara, terutama kabupaten Madina sebagai yang terdekat. Malah bisa lebih dari Sumatera Barat, mengingat adanya pertambangan emas yang kian marak. Lalu, ke mana semua pendapatan daerah itu digunakan?

Isu korupsi, kolusi dan nepotisme memang selalu menjadi momok di daerah ini. Sikap masa bodoh pemerintah daerah untuk mengembangkan aset daerahnya sendiri menjadi kendala yang tak pernah mencapai kata akhir. Tampaknya pemerintah daerah kurang berusaha untuk menggaet investor swasta guna mengembangkan daerah yang dipimpinnya. Ditambah lagi ketidakpedulian sebagian masyarakat untuk setidaknya menjaga sumber daya alam di sekitarnya, yang tampak dari masih kurangnya kebersihan di lokasi-lokasi objek wisata.

10

Sudah saatnya pemerintah membenahi objek-objek wisata itu dengan serius. Salah satunya dengan memberlakukan tarif khusus yang terjangkau untuk mempekerjakan petugas kebersihan demi terjaganya keindahan tempat-tempat wisata di sana. Sedikit demi sedikit, pemerintah daerah bekerjasama dengan masyarakat menambah hal-hal yang diperlukan untuk pengembangannya, seperti membuka warung makan yang menyajikan hasil laut, penyediaan sarana toilet umum dan tempat ibadah, serta pemenuhan fasilitas lain yang selama ini sulit ditemukan di lokasi pantai.

Bila sarana-sarana penting tadi sudah dipenuhi, bukan mustahil masyarakat menjadikan pantai Natal sebagai tujuan wisata favorit, dan bukan tidak mungkin juga menarik minat wisatawan dari luar daerah. Lebih jauh lagi, penanaman saham investor swasta bukan lagi hal yang mustahil. Dengan demikian, pendapatan daerah dari sektor pariwisata dapat meningkat, sehingga diharapkan pembangunan infrastrukturnya dapat segera dibenahi. Kalau infrastrukturnya sudah baik, maka harapan untuk memajukan kabupaten Madina akan semakin terbuka lebar. Bukankah itu yang sejatinya diharapkan seluruh masyarakat?

This slideshow requires JavaScript.

Kontes Blog #3TahunWB – Warung Blogger Peduli Potensi Daerah

***

>> Semua foto adalah dokumentasi pribadi (AFR).

Cemilan Bergizi a la Pungky dan Galaksi

blog Pungky

Ini galaksiku. Galaksi Pungky.

Tumben tadi malem BW. BW-nya nggak ke mana-mana juga sih, cuma gara-gara tertarik pas liat salah satu link dari twitter-nya @Warung_Blogger. Sampe di laman postingan yang dibaca, trus ngelirik ke side bar kanan, eeehh.. ada postingan menarik! Judulnya; Sosok Mak Pungky. Pungky? Pungky mana nih? Pungky Prayitno kah? Pungky yang tinggal di Galaksi itu kah? Atau Diana Pungky? Tau kan Diana Pungky? Itu loh, pemeran Jinny di sitkom Jin dan Jun..eh, Jinny Oh Jinny..*Malah dibahas. Ketauan jadulnya.

Jadi saya klik aja judulnya itu. Sambil dalem hati ngarep kalo itu si Pungky, cewek Galaksi yang pake baju ala Jinny, eh..Pungky yang katanya emak-emak muda yang masuk 10 finalis Srikandi Blogger 2014 ituh! Pas diliat, eeehh..ternyata beneeerr, itu si Pungkyyyy..Pungky yang saya kenal sebagai emak muda, cantik dan kreatif! Hwuiiihh..ada yang ngebahas gitu ya. Ckckck. Bakalan jadi artis nih.

Trus dengan semangatnya, saya share tulisan itu. Sambil nggak lupa mensyong si Pungky. Iya, kebetulan dia jadi temen saya di FB. Kebetulan aja sihโ€ฆ Namanya mosting status hampir tengah malem, dan si emak muda, cantik dan kreatif itu pasti udah tidur. Atau apalah kesibukannya ama Jiwo, anaknya. Apa dia lagi sibuk ngedongengin Jiwo ya? Tapi ah, sudahlah. Tak apa. Pagi tadi status saya itu baru dilirik si emak.

Singkat cerita, saya baru nyadar kalo kedudulan saya belum berubah, masih tetep aja itu dudul nangkring asoy di kepala. Saya baru tau kalo tulisan yang saya share itu adalah tulisan buat ikutan GA-nya dia, si Pungky itu. Pantesan isinya oke banget ngegambarin si Pungky. -_____-

Hyahahahaha.. Trus saya malah dipaksa-paksa ama si emak muda, cantik, dan kreatif itu buat ikutan juga. Yaaahh, niat cuma mau nge-share dan ikutan seneng ada yang bela-belain nulis tentang dia, malah diajak nyebur buat nulis tentang dia juga. Hihihihiโ€ฆ.

Tapi sebenernya apa yang saya lakukan tadi malem itu, ngeshare sesuatu tentang Pungky yang cihuy, emang murni dari alam bawah sadar kali ya. Saya ikutan seneng dan setuju waktu ada orang nulis yang oke-oke tentang Pungky. Trus pengen orang banyak juga tau tentang betapa okenya si Pungky. Iya, di mata saya, Pungky itu emang keren. Dari dulu, sejak pertama kita bertemu..eeehh..maksudnya, dari mulai saya tau dan sedikit kenal sosoknya di Kompasiana, sekitar 4 tahun yang lalu. Waktu itu dia lebih muda 8 tahun dari saya. *Dulu ama sekarang kalo soal beda umur sama aja kali, Nis.. -___-

Dan waktu itu dia udah suka nulis yang ajaib-ajaib, bercitarasa muda, energetik, ceria, lincah, lompat-lompat, pake pom-pom. Pokoknya asiklah baca tulisannya itu. Dia bukan termasuk generasi alay, pastinya, yang obrolannya cuma di seputar cinta, cowok, pacar, jomblo, dan sebangsanya. Dia berbeda, unik, sebelas dua belas sama geng Spasi-nya yang penuh idealisme kaum muda.

Tapi entah kenapa, di saat tulisan-tulisannya sedang asik-asiknya dibaca, dia menghilang dari jagat maya. Sempet nanya dalem hati, โ€œKe mana ya, si Pungky? Kok lama nggak keliatan? Mana utangnya belum dibayar..โ€ *sambil ngelus-ngelus helm abang becak motor..

Iiiihh..cakeupnyaaaa.. *ngarep receh

Iiiihh..cakeupnyaaaa.. *ngarep receh

Ya sudahlah. Biasa itu kalo di dunia maya. Setiap orang bebas datang dan pergi sesuka hati. Saya aja yang nggak pergi-pergi, nunggu diusir. Hahahahaโ€ฆ Sampe akhirnya, di pengujung tahun 2013 lalu, si Pungky nongol lagi dengan status baru: sudah menikah dan punya anak! Whoaaaaaa..ini bener-bener kejutan! *udah kayak judul buku Ndigun, ya? #kode minta dua buku.

Trus dia gabung di Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB). Nggak beda jauh jarak gabungnya sama saya. Dan baru di situlah saya tau blognya yang unyu itu. Isinya asik-asik, lucu-lucu, nggak beda jauhlah ama orangnya.. #eeaaa Iya, baca postingan-postingannya di situ bisa bikin ngakak sendiri, minimal mesem-mesem. Enak aja gitu bacanya. Ngalir kayak aer. Pede ama gaya tulisannya sendiri. Bandingin sama blog saya yang gaya tulisannya masih labil ini. *modus biar pengunjung baca postingan yang lain jugak*.

Ibarat makanan, Galaksi Pungky itu rasanya..hmmm..kayak makan mie sop ayam sama bakso goreng kesukaan saya. Kalo masih laper, tambahin sate Padang. Trus minumnya jus wortel atau cukup teh manis anget aja. Nah, gitu tuh rasanya pas baca blognya. Bikin laper emang.. *krucuk..krucuk..* Ibarat cemilan, menunya ringan, santai, tapi sungguh asyik dinikmati. Bikin kenyang pula. *mulai distorsi antara tulisan sama makanan* Abis bacanya, pikiran jadi seger lagi dan penuh optimisme menatap masa depan nan cerah. Dan nggak jarang juga loh abis baca tulisannya jadi mikir serius. Nah loh? Kok bisa? Ya begitulah kalo si Pungky udah nulis. Dia bisa nyelipin makna dalem nan inspiratif di balik tulisan-tulisannya yang ringan itu. Padahal kurang cengengesan apa coba dia? Narsis pula. Ckckck.

Prestasinya juga udah segambreng. Sering nongol di media-media, udah nulis buku berjamaah yang cihuy, fotografer dan kerja di bidang social media pulak. Plus punya rumah tangga yang semoga selalu sakinah, mawaddah, warahmah..Kurang apa lagi si Pungky? Eh, ini ngebahas Pungky-nya atau blog-nya siih?

Ah, begitulah. Blog-nya Pungky adalah gambaran Pungky itu sendiri. Meski belum pernah ketemuan, saya yakin, orangnya seasyik blog-nya. Nggak heran kalo blognya dia namain Galaksi Pungky. Dia dengan galaksinya yang apa adanya, penuh warna, penuh cinta, dan kebersahajaan yang tulus. Iya kan, Pung? ๐Ÿ˜€

Akhir kata, met ultah buat blognya ya, Pung..Semoga terus semangat nulis, jadi inspirasi, cepet nyelesein skripsi, dan jadi emak yang baik buat Jiwo..aamiin.. ๐Ÿ™‚

Salam emak muda, cantik dan kreatif! ๐Ÿ˜€

***

>> Titip salam buat Kangmas ama Mamak Tiri yang jadi juri ya, Pung.. *kedip-kedip ngarep* :)))

GA Pungky

Being Smart; Do What You Love, Love What You Do

Bukan. Ini bukan lagi baca buku serieus, tapi baca buku menu. Nggak ada foto lain soalnya.. :P

Bukan. Ini bukan lagi baca buku serieus, tapi baca buku menu. Nggak ada foto lain soalnya.. ๐Ÿ˜›

***

SAYA sempat berada di zaman ketika kesan smart itu ada pada orang-orang yang berkacamata, sebagai tanda suka membaca. Apalagi kalau kacamatanya berminus tebal seperti pantat botol. Wah, bisa dipastikan kesan smart itu akan bertambah-tambah, mengundang decak kagum. Keren! Sampai-sampai saya dulu ingin sekali berkacamata. Ya karena kesan smart dan keren itu tadi. Haha! Tapi dasar nasib, keinginan saya tak didukung ibu yang sehari-harinya suka menghidangkan menu sayuran dan jus wortel. Jadilah, mata saya tak pernah kenal dengan kacamata minus.

ย  Continue reading