Apa Jadinya Hidup Ini Tanpa Rumah Makan Padang?

Haha! Itu komen salah seorang teman saya di FB, mas Mukti Ali, waktu saya meng-upload foto sebuah rumah makan sederhana yang membuat saya langsung jatuh cinta. Sungguh sebuah komen yang membuat saya merenung dalam-dalam. #eeaaak Iya ya, apa jadinya hidup ini tanpa rumah makan Padang?Hmmm..

Coba, rumah makan dari daerah mana lagi yang bisa menyaingi persebaran menu kuah santan dan aneka sambal secara massif di seantero Indonesia –bahkan sampai ke luar negeri- selain rumah makan dari Sumatera Barat ini? Dan uniknya, menu yang tersaji (hampir) selalu cocok di lidah siapa saja. Sampai-sampai salah satu menu andalannya, rendang, pernah dinobatkan jadi makanan paling enak sedunia. Fakta yang menjadi kabar gembira untuk kita semua. Dan saya cuma bisa bilang “Huwooow! Sungguh pemenang kuliner tiada tanding!” 😀 Continue reading

Hmmm…Nikmatnya Jamur Asam Siala Pedas

SAYA surprise juga waktu kemarin mengunggah foto masakan olahan jamur resep Umak saya di facebook. Ternyata banyak yang pengen tahu resepnya. Kalau cara membuat jamur crispy sih sudah biasa ya. Saya yang malah surprise waktu coba bikin jamur crispy bermodalkan resep dari internet. Ternyata saya bisa juga masak jamur crispy sendiri. Haha! Selama ini kalau memasak gorengan yang crispy, kriuk-nya selalu ga bertahan lama.

Dari hasil browsing, baru saya tahu kalau menggoreng jamur (atau apapun seperti cumi-cumi, udang, ayam, dll) biar renyah seperti yang banyak dijual itu, harus menggunakan banyak jenis tepung. Tepung terigu, tepung maizena, dan tepung bumbu. Ada pula tahapan melumuri jamur dengan kocokan telur dan beberapa jenis rempah halus. Pokoknya waktu membuat jamur crispy itu, dapur saya penuh wadah dan serakan tepung! Heboh pokoknya! 😀

Kriuk...kriuk...nyam!

Kriuk…kriuk…nyam!

Syukurlah, rasa yang didapat sepadan. Enak pake banget! Pengen bikin lagi tapi sayangnya di tempat saya ini jamur tiram seperti itu termasuk langka. Pas cuma sekali itu saja saya menemukan itu di pasar. Itupun kata penjualnya kebetulan dia beli dari Padang Sidimpuan yang lebih “kota”. Hehehe… Karena jarang ada, saya beli 2 bungkus sekaligus. Satu saya goreng crispy, satu bungkus lagi saya masak Jamur Asam Siala Pedas. Hmmm…kayak apa sih rasanya?

Ya rasanya asam-asam pedas. Hehehe… Segar dan nikmat disantap saat musim hujan begini. Bahan dasarnya pasti kebanyakan sudah tahu ya. Ada cabai merah halus, bawang merah, lengkuas, jahe, kunyit dan asam siala. Nah, asam ini yang bikin rasanya maknyus. Saya kurang tahu namanya kalau di daerah lain, kecuali dapat info dari teman kalau dalam bahasa Sunda, asam siala ini disebut honje. Yang jelas, saya suka sekali kalau masak asam itu pakai asam siala ini. Buah asam yang bentuknya seperti buah sawit ini memang segar rasa asamnya.

Tak hanya olahan jamur, ikan mas gulai asam atau arsik ikan mas pun enak sekali dimasak dengan asam ini. Dibanding memakai asam potong atau asam belimbing, asam siala ini lebih cocok untuk memasak segala jenis gulai asam. Kalau kata Umak saya, masakan jadi lebih harum! Hehehe… Tapi kalau ternyata di daerah lain sulit mendapatkannya, tak apa juga pakai asam yang lain. Yang penting bukan asam jeruk ya.. 😀

Ini nih yang namanya asam siala..

Ini nih yang namanya asam siala..

Ada bahan khusus untuk memasak Jamur Asam Siala Pedas ini. Umak saya selalu tak lupa bilang, masukkan juga terong sebagai indikator apakah jamur itu jenis yang beracun atau tidak. Kalau terongnya masih keras padahal jamurnya sudah masak/lembut, berarti jamurnya beracun. Tapi kalau terongnya lembut setelah dimasak dengan jamur, berarti aman dikonsumsi.

Yah saya pikir tak heran kalau Umak saya bilang begitu. Bisa jadi karena zaman dulu belum ada budidaya jamur tiram yang aman dikonsumsi dan dipasarkan secara luas seperti sekarang. Tapi keberadaan terong itu justru jadi suatu keharusan yang membuat masakan jamur ini jadi lebih menggugah selera. Hehehe… kebetulan saya memang pecinta terong. Terong digoreng, dibakar, dikukus, atau dimasak seperti ini, hmmm…buat saya sama nikmatnya!

Penampakan setelah jadi..huehehe..

Penampakan setelah jadi..huehehe..

Nah, daripada kepanjangan ngobrol, ini nih resep lengkapnya…

Bahan-bahan:

Jamur tiram       1 bungkus kemasan (+/- 500 gr)

Terong hijau bulat           5 buah (atau sesuai selera, belah dua)

Bawang merah                  8 siung

Lengkuas             1 ruas jari

Jahe                       1 ruas jari

Kunyit                   ½ ruas jari

Asam siala           6 – 8 buah, digeprak

Cabai merah halus           1 – 2 sdm (atau sesuai selera)

Cabai merah bulat           4 buah

Tomat                   1 buah

Garam                  secukupnya

Air                    +/- 700 ml

Cara membuat:

Cuci bersih jamur tiram, tiriskan, lalu sisihkan. Haluskan bawang merah, lengkuas, jahe, dan kunyit, sisihkan. Iris panjang cabai merah bulat dan tomat atau iris sesuai selera. Panaskan air di wajan. Banyaknya air disesuaikan dengan banyaknya bahan yang nanti dimasukkan. Bila butuh lebih dari takaran yang ditentukan, boleh ditambah.

Masukkan semua bahan; bawang merah, lengkuas, jahe dan kunyit yang sudah dihaluskan, cabai merah halus, irisan cabai merah, asam siala. Tunggu hingga agak mendidih, lalu masukkan terong dan jamur. Taburkan garam dan cicip sedikit untuk mendapatkan rasa yang pas. Sesekali diaduk hingga matang. Masukkan irisan tomat setelah terong dan jamur cukup matang/lembut. Setelah terong dan jamur dirasa lembut, angkat dan sajikan hangat-hangat.

Hmmm…bagaimana? Tak sabar ingin mencoba? Yuk, kita ke dapur! 🙂

***

Kulfi, si Manis Menggoda dari India

Kulfi sebagai dessert :-D (dok. AFR)

Kulfi sebagai dessert.. 😀 (dok. AFR)

JANGAN harap ada foto-foto Preity Zinta, Aishwarya Rai, atau Katrina Kaif dan sebangsanya di sini. Mereka sih bukan manis, tapi cantiiikk sekaliii 😀 Lagian, kalau mau bahas artis India, saya bukan ahlinya. Saya cuma tertarik ngebahas kulinernya negeri Kajol itu. Weiiizz..teteeeuupp yaa..kalo soal makanan paling antusias. Hahaha…

Ini bukan mau ngebahas martabak atau roti cane-nya yang pasti udah banyak yang tahu tentang betapa nikmatnya makan 2 jenis makanan itu sebagai camilan sore hari (camilan??). Ini mau cerita dikit soal makanan -atau minuman ya?- favorit saya dari jaman masih imut. Es krim. *Lha trus, apa uniknya?* Hmmm…saya cerita dari awal dulu ya. Biar tulisan ini terasa cukup panjang buat diposting di blog. Hihihi…

Pada suatu siang yang cerah, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di restoran mungil ini. Eeeuuhh..bukan lebay sih. Masalahnya, itu restoran tiap hari saya lewatin pas pulang sekolah dari SMAN 1 Medan, belasan tahun yang lalu. Dan baru saya kunjungin pertama kalinya beberapa minggu yang lalu. Haha! Padahal orang-orang dari dulu udah ribut ngobrolin restoran yang satu itu. Katanya sih, enak!

Lama ngelupain restoran itu, ternyata takdir membuat saya termasuk jadi daftar pengunjung yang beruntung (halah) untuk ikut mencicipi nikmatnya menu yang ada di sana. Gara-garanya ini nih, orang yang di sebelah saya ini *lirik suami. Suami saya memang suka sekali nasi briyani, nasi kebuli, dan nasi-nasi lain yang berwarna dan berbumbu rempah. Kalau saya sih, kurang suka. Kadang nasi yang terlalu berbumbu rempah itu membuat eneg. Jadi, ketika tiba-tiba suami lagi pengen-pengennya makan nasi briyani saat kami berkendara menyusuri kota Medan, kami pun berhenti di depan satu ruko yang lantai bawahnya dijadikan restoran India bernama Cahaya Baru – North and South Indian Food. Letak restoran ini di Jl. T. Cik Ditiro, kampung Madras (d/h kampung keling, daerah yang banyak didiami warga keturunan India yang berasal dari Madras, India Selatan). Restoran ini tak jauh dari Kuil Shri Mariamman di Jl. Zainul Arifin yang kesohor itu. Dari kuil itu, jaraknya sekitar 500 meter.

Samosa isi kentang yang..hmmm...bikin laper! (dok. AFR)

Samosa isi kentang yang..hmmm…bikin laper! (dok. AFR)

Sesampainya di Cahaya Baru, nuansa India yang kental langsung terasa. Ada kuntum-kuntum bebungaan di atas pot besar dan lebar berisi air yang ditaruh di beranda. Seingat saya pot seperti itu sering terlihat sebagai properti di film India 😀 Begitu masuk, berbagai hiasan dinding ala India terpajang di setiap sisinya, menyambut tetamu yang datang. Restoran ini tampak tertutup dan hanya memiliki beberapa meja. Tak banyak pelanggan yang berkunjung. Memang, tempat ini bukan seperti tempat makan lain di mana pengunjung yang datang rela mengantre demi memanjakan perut.

Tak lama setelah kami duduk, pelayan pun datang. Jangan harap yang datang adalah lelaki berwajah Salman Khan -karena menyebut Shahrukh Khan sudah terlalu mainstream– atau Hritik Rhosan. Tampilan wajah pelayan-pelayan di sini tak ada nuansa India-nya sama sekali. Hehehe.. Selain para pelayan pria itu, ada satu perempuan berjilbab yang terkadang tampak mondar-mandir dari meja kasir, ke belakang bar, sampai ke bagian dapur. Semua pelayan yang berjumlah kurang dari 5 orang itu bergantian posisi sebagai pramusaji atau kasir. Tak terlalu sibuk, karena sampai saya datang untuk yang kedua kalinya ke situ, pengunjung hanya memenuhi dua atau tiga meja saja.

Tapi jangan salah. Tak ramai, bukan berarti restoran ini tak oke. Lihat saja stiker Trans 7 di dekat pintu masuknya, tanda kalau tempat ini sudah pernah diliput televisi nasional. Belum lagi di media-media lainnya. Reputasinya memang baik. Itu kemudian terlihat dari pesanan makanan yang disajikan.

Kalau membaca buku menunya, mungkin kening kita akan sedikit berkerut ketika membaca nama-nama menu yang ditawarkan. Kalau tak melihat gambarnya atau bertanya pada pelayan, kita tak bakal tahu seperti apa bentuk makanan bernama asing itu. Saya dan suami pun akhirnya memilih menu yang sebelumnya sudah pernah dicoba ditambah beberapa menu eksperimen. Nasi briyani, samosa, satu lagi entah apa namanya -tampak seperti kebab ala India- dan…Kulfi. saya ingin mencoba kulfi karena melihat gambarnya. Kalaulah itu disebut es krim.. – ya, sebut saja es krim biar gampang ya..haha.. – sungguh, kulfi adalah es krim yang menarik karena berbentuk unik. Berupa es krim batangan yang dipotong kotak-kotak.

"Ane" yang lagi sibuk di balik meja bar..  (dok. AFR)

Ngeliat ini keinget film India ga? 😀 (dok. AFR)

Saya penasaran bagaimana rasanya kulfi itu. Sesampainya pesanan itu di atas meja, lidah saya tak sabar ingin mencoba. Ternyata…hmmm…enak! Susunya terasa sekali. Di atas es potong itu ada taburan semacam rempah (cardamom seeds) yang menyatu dengan es krim, yang membuat rasanya semakin unik dan membikin ketagihan. Saya menyantap es krim itu tanpa jeda hingga kandas. Wah…ternyata sangat mengenyangkan *ya iyalah, jeung…sebelumnya kan udah makan nasi briyani dan samosa. Hahaha…

Jadi waktu untuk kedua kalinya saya dan suami berkunjung ke sana lagi, Kulfi menjadi pesanan wajib. Bedanya, kalau pertama kali datang es krim itu jadi dessert, maka untuk kunjungan yang berikutnya, menu itu jadi hidangan appetizer. Hahaha…ga sabaarr karena udah kangen rasanyaa.. 😀

Puas menyantap menu restoran ini, jangan kaget kalau petugas kasirnya “mencegat”  kita di dekat pintu agar mengambil sejumput jintan untuk dikunyah. Ini supaya tidak bau mulut, katanya. Ada 2 macam jintan, yang original dan yang manis. Terserah mau pilih yang mana. Saya tentu memilih jintan manis. Hehe.. Hmmm…unik juga ya. Saya kurang tahu apa di restoran India lain juga begini. Sesi mengunyah jintan sambil berjalan keluar restoran itu jadi pengalaman unik tersendiri.

Terus, gimana? Ya udah itu aja sih. Huehehe.. Kalau penasaran sama rasanya, ya sila datang ke mari. Buat saya sih, kulfi sama samosa itu menu wajib pesan. Kalau datang pas lagi laper berat, ya plus nasi briyani lah. Kalo nasi briyaninya rasanya kebanyakan, ya bagi dua dong sama temannya. Hehe.. Karenanya, dilarang datang menjomblo alias ga bawa teman atau pasangan. Selain biar makannya ga sambil bengong, juga biar ada partner buat nyicipin sekaligus ngabisin menunya yang unik-unik. Yah, biar lebih afdol, makannya sambil ngobrolin artis atau lagu India yang lagi ngehits juga boleh.. 😀

Gimana? Jadi penasaran sama si manis ini ga? Buat Nurul Fauziah yang jadi pencetus ide dibuatnya tulisan ini, udah ga penasaran lagi kan? 😀

Kulfi sebagai appetizer.. :D (dok. AFR)

Kulfi sebagai appetizer.. 😀 (dok. AFR)

***

>> Btw ya, ternyata varian kulfi ini macem-macem loh. Yuk, sila di-browsing.. 🙂

Kuliner Unyu Bernama Sate Kelinci

 

Coba ya, makanan unyu apa yang lain yang bisa ngalahin unyunya sate yang berbahan daging kelinci? Kelinci. Iya, Kelinciii..yang berbulu lebat, halus, jinak, lucu, imut, suka makan kangkung sama wortel, dan…unyu!

Huwaaa..kelinci kok dimakan sih? Kan kasiaaann…

Itu tanggapan pertama saya waktu pertama kali tau tentang kuliner baru yang terbuat dari daging kelinci. Kuliner ini sebenernya nggak baru-baru amat. Udah mulai tren sejak beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya cuma ngucap dalam hati, “Ah, nggak mau ah makan sate kelinci. Gimana rasanya ya hewan berbulu itu kalo dimakan? Eeuuhh..”.

Sekilas, pikiran saya menyamakan kelinci dengan kucing, yang sama-sama berbulu halus dan lucu. Gimana ceritanya kalo makhluk-makhluk itu dimakan? *Nah kan, sekarang asosiasinya mulai membuat mual*. Tapi ya jelas, kelinci sama kucing bedalah meski sama-sama diawali dengan huruf “K”. Hehehe… Yang satu herbivora, yang satu karnivora. Kriteria hewan yang halal dimakan dalam Islam antara lain adalah bukan hewan buas, tidak hidup di dua alam; air dan darat (amfibi), dan disembelih dengan mengucapkan nama Allah. Atas dasar itu, maka kelinci boleh dimakan sekalipun ia adalah makhluk yang menggemaskan.

Jadilah, sepulangnya dari De Ranch, saya, suami dan sepupu saya Kiki, mencari tempat makan sate kelinci yang enak hasil browsing di internet. Di sepanjang jalan raya Lembang itu, tempat makan yang khusus menyediakan sate kelinci memang banyak. Kami cuma mengandalkan rekomendasi dari hasil pencarian di internet aja. Lalu didapatlah tempat makan bernama Sate Kelinci Pak Sapri. Dari hasil googling, Sate Kelinci Pak Sapri ini memang memenuhi laman pertama. Kalau sudah banyak yang merekomendasikan begitu, biasanya kan kualitas dan rasanya sudah terjamin.

Dari De Ranch, kita akan melewati Lembang Floating Market (yang sayangnya belum sempat dikunjungi. Hiks…) Terus saja jalan melewati deretan sate kelinci yang ada di sepanjang jalan raya Lembang sampai kilometer 12,8 No. 99, tempat Sate Kelinci Pak Sapri berada. Syukurlah, tempat itu nggak sulit ditemukan. Tempat makan dan lahan parkirnya cukup luas. Sebelum kami, sudah ada beberapa mobil yang tampak di sana.

(dok. AFR)

(dok. AFR)

Menunya ternyata nggak cuma sate kelinci loh. Ada gulai kelinci dan goreng kelinci juga. Buat yang “alergi” alias nggak tega makan daging kelinci, tenaaanngg…ada juga sate ayam, sate kambing dan sate daging sapi kok. Saya yang penasaran sama sate kelinci (meski sebenernya nggak tega juga..hahaha..) pesen satu porsi sate kelinci. Suami dan Kiki sama-sama pesen…apa itu ya? Paha kelinci pedas? Ah iya, kurang lebih gitu namanya. Paha kelinci pedas. Pas dicoba, wuiihh…pedesnya maknyuuuussshhh…alias pedes beneran, BroSis! Tapi enaaakk.. Lupaaa kalo lagi makan daging kelinci. Ahahaha…

Dan sate kelincinya? Wooww..enaaakk..! Dagingnya ternyata empuk sekalih. Lebih empuk daripada daging ayam. Enak, tapi saya tetep aja makannya pelan-pelan, menghayati sambil ngebayangin kelinci unyu itu lagi ngeliat saya manja. #halah. 😀

Potongan-potongan daging kelinci itu pun sukses masuk ke perut saya, jadi bagian diri saya. #halah Kalo ditanya, mau nggak saya ditawarin sate kelinci lagi? Hmmmm…hmmmmmmm…sebaiknya saya pikir-pikir dulu, ya. Selagi masih ada ayam, kambing, atau sapi, saya kayaknya lebih milih makan yang ketiga macem daging itu daripada daging si unyu kelinci. Biarpun enak maknyus tiada tara, tapi saya pengennya nggak tergoda makan daging kelinci lagi ah. Kasiaaaann.. Etapi ini berlaku cuma buat saya loh. Buat yang lain ya terserah aja. Toh, daging kelinci halal dimakan. Hehehe…

Buat yang penasaran, yuuuukk…kapan-kapan nyobain makan di Sate Kelinci Pak Sapri atau di mana aja ada sate kelinci. Dan rasakan sensasinya! 🙂

***

Mencicip Nikmatnya Gulai Kepala Ikan ala RM Keluarga

Akhirnya nyampe sini juga.. :)

Akhirnya nyampe sini juga.. 🙂

SEPERTI tekad saya di tulisan kemarin, saya ingin mencicip gulai kepala ikan di RM Keluarga, Teluk Kabung, Bungus. Waktu jalan ke lokasi Jembatan Akar di Bayang Utara maupun ke Bukit Langkisau di Painan, kita pasti akan melewati rumah makan ini. Dari arah Padang, lokasinya di sebelah kiri. Waktu menuju Jembatan Akar, saya dan suami sudah sibuk mengamati setiap rumah makan yang dilewati selama perjalanan. Syukurlah, sekitar 30 menit dari rumah makan sebelumnya -tempat kami makan siang- di daerah Teluk Bayur, kami menemukan rumah makan ini. Bangunan dan halaman parkirnya yang luas persis dengan foto-foto di postingan Pak Junanto. Cuma beda warna catnya saaja. Hehe…

Maka pada esok harinya, setelah kunjungan wisata ke Jembatan Akar dan Bukit Langkisau itu, kami berangkat menuju RM Keluarga. Saya bersemangat sekali. Betapa tidak, perjalanan ke sana saja sudah menarik, karena akan melewati pelabuhan Teluk Bayur yang pada siang itu tampak indah sekali. Langit dan lautnya biru. Berbagai macam kapal, besar dan kecil, berseliweran dari dan menuju pelabuhan. Apalagi kalau kita sudah jalan menanjak dan memandang dari atas. Wow! seperti lukisan saja.

Sebelah kepala ikan kakap merah ini seukuran satu piring.. :D

Sebelah kepala ikan kakap merah ini seukuran satu piring.. 😀

Dari pusat kota Padang, kira-kira butuh waktu 1 jam ke RM Keluarga itu. Tak terlalu jauhlah. Kami sampai di sana sekira pukul 12. Rasanya senang sekali ketika akhirnya menginjak tempat makan yang selama beberapa tahun terakhir membuat saya penasaran kalau mengingat Padang. Haha!

Kami langsung memesan 2 porsi gulai kepala ikan. Syukurlah masih ada, karena kabarnya, gulai kepala ikan di situ cepat sekali habisnya. Tak sampai jam 2 siang, pengunjung yang mau makan kepala ikan bisa gigit jari, dan mau tak mau hanya menikmati sajian khas rumah makan Padang yang juga tersedia di sana. Benar saja. Saat kami sampai, sudah ada yang memesan gulai kepala ikan berporsi-porsi. Untuk dibawa ke Jakarta, katanya. Wah! luar biasa berarti terkenalnya gulai kepala ikan ini. Memang, sepupu suami dan teman saya yang di Padang saja merekomendasikan rumah makan ini untuk makan gulai kepala ikan yang terenak. Juga orang-orang itu, siapa saja yang kami tanyai sebelum ke tempat ini. Saya makin penasaran. Sedahsyat apa sih rasanya?

Di sini juga ada sajian khas rumah makan Padang..

Di sini juga ada sajian khas rumah makan Padang..

Tak sabar menanti pesanan, saya dekati stelingnya. Satu kuali besar yang berisi kepala-kepala ikan kakap merah baru keluar dari dapur. Mengepul dan menguarkan aroma yang menerbitkan liur. Saya dekati saja lelaki yang bertugas menaruh kepala-kepala ikan itu di piring.

“Boleh saya foto ya, Pak?” saya meminta izin dulu sebelum memotret.

“Oo, ya, silakan saja,” katanya tersenyum ramah.

Saya pun mengambil beberapa gambar sambil terpukau dengan besarnya kepala ikan yang diangkat dari kuali itu. Piringnya saja lebar begitu. Wah!

Selesai menjepret, saya kembali ke kursi. Tak berapa lama, 2 porsi gulai kepala ikan yang kami pesan pun datang. Waaw…besar sekali! Saya tak yakin bisa menghabiskan seporsi ini sendiri. Suami saya pun akhirnya merasa begitu, setelah sebelumnya ia yakin bisa menghabiskan seporsi untuk dirinya sendiri. 😀

Ini dia!

Ini dia!

Kepala ikan itu begitu padat dagingnya. Padahal itu adalah kepala ikan yang sudah dibelah dua. Aromanya…hmmm…memang berbeda dengan gulai kepala ikan biasa. Apalagi ada daun ruku-ruku yang membuat tampilannya berbeda dari yang lain. Makannya dengan nasi panas dan telur dadar gembung. Alhamdulillah…mantapnyaaa…

Lewat zuhur, acara makan pun selesai. Kami hanya sanggup menghabiskan seporsi, sementara seporsi lagi dibungkus untuk dibawa pulang, dinikmati bersama keluarga di Bukittinggi. Kami menambah satu porsi lagi untuk diberikan ke sepupu suami sebagai oleh-oleh karena akan berkunjung ke rumahnya. Pada saat akan pulang, gulai kepala ikan itu ternyata sudah habis. Wow, cepat sekali! Saat ditanya ke uni di meja kasir, jumlah kepala ikannya setiap hari memang sangat terbatas. Hanya 20 kg, yang berarti hanya tersedia 40 potong kepala ikan. Wah, syukurlah kami datang tepat waktu.

Lengkap sudah rasanya kalau sudah berkunjung ke sana. Malah ada niatan kalau kapan-kapan ke Padang lagi, kunjungan ke RM Keluarga ini dijadikan sebagai kunjungan wajib wisata kuliner kami. Yah, semoga saja bisa kembali lagi suatu hari… 🙂

Abis makan, ya pose dululah ya..sebagai kenang-kenangan udah pernah ke sini..hihih..

Indonesia bagoooss..eh, gulai kepala ikannya enaaakk.. 😀

***

>> Semua foto adalah dokumentasi pribadi (AFR).

Yuk, Masak Lobster!

masih hidup dan berlumur pasir laut.

Lobster yang masih hidup dan berlumur pasir laut.

PERTAMA kali membawa pulang lobster hidup dari Natal, saya sempat bingung, mau diapakan ini lobster. Apa dimasak seperti mengolah udang biasa? Atau ada cara memasak lain yang khusus? Saya biasa mengolah udang dengan disambal, digulai atau digoreng tepung. Pernah juga mencicip sup udang atau udang bakar. Semuanya enak. Tinggal pilih yang sesuai selera.

Setelah berdiskusi dengan suami (hyaahh..kayak ngediskusiin apa gitu ya.. 😀 ) ternyata mengolah lobster jadi makanan yang gurih nikmat itu ternyata nggak ribet. Cukup digoreng saja. Iya, digoreng polos tanpa dikasih garam atau jeruk nipis.

Karena lobsternya adalah lobster hidup, mengolahnya tentu tak sulit, kata penjualnya. Malah kalau tega, itu lobster digoreng hidup-hidup. Hwuiiihh..saya nggak sesadis itu juga. Hahaha… Karena masih segar, hasil laut apapun memang sudah enak dengan cuma digoreng atau dibakar begitu saja tanpa tambahan bumbu. Kita tinggal menyiapkan lalapan dan sambal kecap cocolannya saja sebagai pelengkap menu dengan nasi hangat. Huaaahh…sudah terbayang nikmatnya!

Kalau sudah kena air tawar begini, lobster pasir akan mati.

Kalau sudah kena air tawar begini, lobster pasir akan mati.

Lobster yang dari Natal ini adalah jenis lobster pasir, yang akan tetap hidup selama pasir laut masih menempel di tubuhnya. Jadi mau ditaruh di dalam kardus dengan sedikit ventilasi udara pun, si lobster akan tetap hidup. Cara mengemas lobster ini pun simpel saja. Tinggal bungkus dengan koran lalu masukkan ke dalam kardus yang sesuai besar tubuhnya. Beri lubang kecil, sudah. Selama perjalanan pulang yang 4 jam itu, si lobster aman-aman saja, paling gerak-gerak sedikit karena dia juga ikutan pegal waktu melewati jalan jelek. 😀

Saat ingin memasaknya, buka kemasannya dan rendam lobster dalam air biasa atau dikucur dengan air keran. Lobster mungkin akan melakukan gerakan-gerakan yang mengejutkan. Menggelepar-gelepar beberapa saat sebelum benar-benar mati. Ini bagian paling heboh sebelum menggorengnya. Tunggu saja sampai lobster benar-benar diam dan tak bergerak ketika disentuh.

Sungutnya berguna sebagai pegangan ketika menggorengnya.

Sungut besarnya berguna sebagai pegangan ketika menggorengnya.

Saya biasanya mengabadikan setiap momen bersama si lobster ini, berhubung saya jarang ketemu. 😀 Jadi saya siapkan kamera untuk memotret tubuhnya yang besar dan berwarna-warni cantik, sejak dia masih hidup sampai dia sudah jadi santapan. Ketika lobster sudah diam tak bergerak dan pasir-pasir itu luruh dari seluruh permukaan tubuhnya, itu adalah momen ketakjuban saya akan ciptaan Ilahi. Subhanallah…Masya Allah…betapa indah ciptaanNya itu. Ah, saya pasti keliatan lebay, tapi begitulah. Saya begitu menyukai kulit kerasnya yang berwarna cemerlang itu.

Sambil menunggunya mati (haiihh..sadis!) kita siapkan penggorengan dan minyak yang cukup banyak untuk menggoreng si lobster. Sungut besarnya yang panjang itu tak perlu dipotong. Itu sebagai alat bantu untuk membolak-balik tubuh lobster ketika di dalam penggorengan. Selama menggoreng, siap-siap kena ciprat minyak panas, ya. Hehehe… Ini adalah tahapan heboh kedua yang mungkin saja si lobster belum benar-benar mati sehingga kembali menggelepar-gelepar di dalam minyak panas. Atau karena reaksi minyak panas waktu dimasukkan lobster yang masih basah sehabis direndam tadi. Huwoow!

Dan ta daa…warna-warni kulit lobster sekejap berubah jadi oranye, sama seperti warna udang biasa kalau sudah dimasak. Menggorengnya tak perlu waktu lama. Cukup 10-15 menit saja. Kalau sudah, angkat lobster dan taruh di wadah yang lebar.

sudah masak!

Lobsternya sudah masak!

Untuk sambal kecapnya, itu terserah anda saja. Saya biasanya menyiapkan bahan-bahan berikut dengan takaran yang suka-suka. Hehehe…

Bawang putih                          3 siung

Bawang merah                        2 siung

Daun sop/seledri                   secukupnya

Tomat                                        1 buah

Cabe rawit                                secukupnya

Cabe merah giling                 sesuai selera

Kecap manis                            sesuai selera

Garam                                        secukupnya

Gula putih                                 secukupnya

Jeruk nipis                                1 irisan

Bawang putih dan bawang merah diiris halus setelah dimemarkan terlebih dahulu. Daun sop/seledri, tomat dan cabe rawit diiris lalu dicampurkan dengan irisan bawang merah dan bawang putih tadi beserta cabe merah giling, kecap manis, garam, gula putih dan perasan jeruk nipis. Aduk semua bahan, icip-icip rasanya, dan jadilah sambal kecap a la saya. Haha!

Lobster dan sambal kecap..waahh..nikmatnya!

Lobster dan sambal kecap..waahh..nikmatnya!

Seekor lobster seberat ½ kg ini cukup untuk dimakan berdua. Makannya seperti makan kepiting. Bagian kepalanya yang keras (cangkang) dan tajam jangan langsung dibuang. Itu bisa dibuka dengan tang yang biasa untuk membuka cangkang kepiting. Di dalamnya masih ada isi yang nikmat disantap. Ah, yang sudah pernah makan kepiting pasti tahulah, ya. Hehehe…

Hokeh…sekian resep sederhana masak lobster a la saya. Tentunya cara pengolahannya disesuaikan dengan selera. Bisa disup, digulai atau dibakar. Hmmm…nyam! Selamat makan… 🙂

***

 

>> Semua foto adalah dokumentasi pribadi (AFR).