Liburan Asyik a la Dusun Bambu

KALAU mau jujur ya, sebenarnya tempat wisata ini termasuk mainstream juga untuk ukuran Lembang dan sekitarnya. Ada area persawahan, ada danau buatan, ada saung-saung, ada restoran sunda, dan ada shuttle car yang akan membawa pengunjung ke area utama. Dibilang biasa sih nggak, karena masing-masing tempat wisata yang seperti ini punya daya tariknya tersendiri.

Alam yang indah, sudah pasti. Alam indah yang dikelola secara kreatif oleh pihak developernya. Serba artifisial sih sebenarnya, tapi sungguh disulap menjadi surga wisata yang indah. Sama sekali tak salah jika itu untuk kepentingan pariwisata. Toh, masyarakat juga sangat terhibur dengan adanya objek-objek wisata serupa itu. Coba, mana ada lokasi wisata seperti itu di kota besar? Adanya tempat-tempat wisata bernuansa kampung dan alami itulah yang selalu dirindukan pengunjung dari kota yang senantiasa padat dan sibuk. Rehat sejenak menikmati santap siang sambil ditemani angin semilir yang sejuk di tepian danau, uughh…siapa yang tak mau? Continue reading

Assalamu’alaikum, Bandung!

DSC_0128

KUMAHA damang? Pangestu? 😀

Kota yang satu ini bisa dibilang cukup sering saya kunjungi dalam 2 tahun terakhir dibandingkan kota-kota lain di pulau Jawa. Kadang bertandang untuk acara keluarga, dan lebih banyak untuk menemani suami yang ikut seminar atau workshop. Meski cukup sering, pesona Bandung dengan ragam kuliner dan tujuan wisata ala perkotaannya tak pernah membosankan buat saya. Di Bandung, saya justru suka nge-mall. Haha. Padahal sebenarnya saya ingin juga jalan ke museum atau tempat-tempat bersejarah yang ada di sana. Tapi apa daya. Terkadang karena waktu yang terbatas dan tak adanya teman sepenjelajahan yang berminat sama, membuat saya belum berjodoh dengan tempat-tempat itu. Paling-paling saya berkeliling kota Bandung dan melihat taman-taman kotanya yang sudah disulap menjadi lebih bagus oleh walikotanya, Ridwan Kamil.

Tak jauh beda dengan Jakarta, mall-mall di Bandung pun menawarkan keunikan konsep tempat sekaligus kenyamanan berbelanja. Waktu ke Bandung di akhir Januari 2015 kemarin, saya dan suami menginap di salah satu hotel di Jl. Cihampelas. Letak hotelnya strategis, berada tak jauh dengan Cihampelas Walk (CiWalk) yang kata sepupu saya yang warga Bandung sudah disulap jadi pusat perbelanjaan yang lebih bagus dan keren. Continue reading

Ondee…Tagalak Den, Kapuyuak!*

IMG_0409

KECOA yang ini emang gokil abis! Lucu dan menggemaskan. Haha! Kapuyuak, bahasa Minangnya kecoa, dijadiin nama usaha distro kaos-kaos plesetan nan lucu yang berlokasi di Bukittinggi. Pastinya didominasi bahasa Minang dong. Samaa kayak di Dagadu-Jogja, Joger-Bali, atau Bah! dan Tau Ko Medan yang dari Medan. Mungkin ada juga di daerah lainnya ya, yang belum saya tau.

Saya sebenernya udah tau lama. Itu karena temen suami yang suka banget ke situ kalo pas lagi di Bukittinggi. Kirain cuma toko kaos biasa untuk orang-orang yang berjiwa muda 😀 Tapi pas kemaren waktu ke Bukittinggi lagi, saya jadi pengen masuk dan liat-liat waktu temen suami yang lainnya, pengen beli di situ. Saya liat, kok rame juga ya. Kebanyakan para abegeh. Aura-auranya udah aura-aura jiwa muda aja nih. Haha! Emang bener. Pas masuk dan baca tulisan-tulisan di kaos-kaosnya yang dipajang itu, yak ampuunn…lucuuu pake bingiittzz! #halah

Trus saya kesoran (bahasa Medan, artinya keasyikan. Pokonya bahasa di tulisan ini campur sarilah..hahaha..) ngeliat-ngeliat dan ngubek-ngubek semua kaos, jaket, sandal, yang ada di situ. Cuma baca-baca tulisannya, ngakak-ngakak sampe puas, trus pulang deh.. *dijewer sama yang punya toko*

Tapi jangan dikira saya ngerti semua kata-kata di kaos-kaosnya itu ya. Kadang-kadang saya bisik-bisik sama suami, nanya artinya. Hihihi… Maklum, denai kan indak urang awak do, jadi indak mangarti baso Minang sadonyo… *lhaaa…katanya ga bisa bahasa Minang?* Oh, yang barusan itu? Hasil contekan kok.. 😀

Jadi ada saatnya saya begitu pede ngakak pas baca satu tulisan, dan syukurlah apa yang dimaksud tulisan itu sama dengan yang saya tangkap. Hahaha… Tapi ada saatnya juga saya mesti nanya satu dua kata yang ga ngerti, baru deh ngakaknya belakangan. *Iyeee..telaatt..huh!

Kaos si pecinta makanan pedas :-D

Salah satu yang dibeli. Tas si pecinta makanan pedas 😀

Ehem. Jadi, toko ini letaknya strategis. Ga jauh dari jam gadang. Cukup jalan kaki dari jam gadang ke arah…eeerr…utara, selatan, timur atau barat ya? Pokoknya, dari jam gadang, ngelewatin monumen Bung Hatta, trus nyebrang ke sarangnya di Simpang Kangkuang Jl. Sudirman no. 19 D dan sarang keduanya di Jl. Panorama no. 4. Iya, mereka nyebut tokonya sarang, sarang kecoa. Hahaha… Antara sarang 1 dan sarang 2 ga jauh. Cuma sekitar 100 meter. Dan dua-duanya ruameee. Apalagi pas weekend kemaren kan. Weehh..yang jaga toko sampe keliatan banget capeknya karena ngelayanin pembeli yang segitu banyak.

Setelah lumayan lama milih-milih, akhirnya saya dan suami nemu juga kaos yang dirasa cocok. Ada beberapa pilihan lain sebenernya, tapi sayang, ukurannya ga ada. Abis. Hiks… Eh ya, tentang penyebutan ukuran kaos ini juga jadi hal lucu yang ga abis-abis. Ukurannya bukan S, M, L, XL, atau XXL. Tapi Ketek (K), Manangah (M), Gadang (G), Gadang Bana (GB), dan Gadang Ba Kalabiahan (GBK). 😀 Harganya juga terjangkau. Produknya kebanyakan masih di kisaran puluhan ribu rupiah per item.

Sebenarnya ada juga sih kaos-kaos bertuliskan plesetan gitu di pasar ateh, tapi ga banyak. Kalo soal lucunya, sebelas dua belas. Hehe… kalo mau kaos plesetan yang banyak pilihan kata dan jenis item-nya, ya di Kapuyuak ini. Yang dijual ga cuma kaos lagi. Ada jaket, topi, tas, sandal dan beberapa jenis aksesoris. Asyik kan? Jadi buat kamoeh-kamoeh yang lagi ke Bukittinggi, jangan lupa mampir di mari. Itung-itung nambah-nambahin koleksi kaos bergambar jam gadang, rumah bagonjong dan bertuliskan “Bukittinggi” yang dibeli di pasar ateh atau di sekitar jam gadang. 😀

Asal jangan lupa ya, biar milih-milih barangnya sambil ngakak-ngakak seru, jangan lupa ajak pemuda setempat..eh, sodara, temen, atau tanya langsung sama sesama pengunjung yang kira-kira ngerti buat nerjemahin kata-kata Minangnya. Hahaha… Kalo tanya ama pramuniaganya ga bakal full diladeni kayaknya. Yaiyalah…pengunjungnya kan ga cuma kamoeh??! 😀

***

*Yak ampuunn…ngakak saya, Kapuyuak!

>>  Sebelumnya bisa kenalan lebih dekat dengan Kapuyuak ini atau pesan online di:

Kapuyuak (website)

Kaos Kapuyuak (facebook)

@kapuyuakkloting (twitter)

 ***

[Jelajah Sumbar] Jejak Romansa di Danau Kembar

DSC_0362

SEBENARNYA tak banyak yang bisa diceritakan dari kota Solok. Kotanya sama saja seperti kota-kota lain pada umumnya. Saat pagi kami sampai di sana, kota itu masih sepi, belum banyak yang beraktivitas. Kami pun menuju tempat sarapan yang direkomendasikan teman seperjalanan yang rumah orangtuanya akan kami tuju selesai sarapan.

Pilihan tempat sarapan itu ada banyak sebenarnya; lontong, sop, bubur kacang hijau, dan bubur entah apa namanya lagi. Selain itu juga ada goreng pisang, bakwan, risol dan kerupuk-kerupuk pelengkap hidangan. Semua anggota rombongan memilih lontong, cuma saya yang tidak. Saya lebih memilih sop karena teringat makanan berkuah ala Minang yang tak bersantan biasanya lezat. Inginnya soto sebenarnya, tapi ternyata tak tersedia. Tak salah dugaan saya. Sopnya lumayan enak dan rasanya ringan. Tak terlalu berbumbu dan enak dinikmati di pagi yang cukup dingin itu. Ditambah beberapa goreng bakwan, hmmm…sedaplah.

Kebun sayur mayur

Kebun sayur mayur

Selesai sarapan, kami pun menuju rumah teman kami tadi, yang ternyata tak jauh dari situ. Beramah tamah sejenak dengan empunya rumah, kami pun dipersilakan untuk beristirahat. Aahh…syukurlaah. Karena sedari tadi saya sudah menahan kantuk. Kami disediakan tiga kamar untuk masing-masing keluarga. Ya, rumahnya memang besar dan punya banyak kamar. Wajarlah, karena rumah itu menyatu dengan rumah bersalin milik ayahnya. Hehehe…

Siangnya, sehabis tidur nyenyak dan bersiap-siap, kami dijamu di rumah makan Salero Kampuang. Ada beberapa menu unik yang jarang saya temukan di rumah makan-rumah makan Padang lainnya. Ada pepes teri dan terong jengkol sambal hijau. Rasanya nikmat! Tapi pastinya saya ga makan jengkolnya dong..huehehe…meski pengen.. #eh

Siap bersantap, kami pun bergerak menuju objek wisata yang jauhnya kira-kira 1,5 jam dari Solok. Tempat yang termasuk list sebagai tempat yang paling ingin saya kunjungi di ranah Minang. Danau Kembar, yang terdiri dari Danau Atas dan Danau Bawah. Kami menuju salah satu danau itu, yang dalam perjalanan kami belum tahu apakah itu Danau Atas atau Danau Bawah. 😀

10670094_909962289032707_5761560143612668820_n

Yang paling menarik selama perjalanan itu adalah pemandangan di kanan-kirinya. Sawah, pebukitan, begitu luas dipandang dari ketinggian. Indah sekali. Tapi jangan ditanya tentang jalan yang dilalui. Berkelok-kelok dan di salah satu sisinya jurang menganga. Syukurlah jalannya mulus, sehingga tanpa terasa -karena sambil bercakap-cakap juga- kami sampai di satu pertigaan. Kami berbelok ke kiri dan tak lama kami sampai di jalan masuk ke danau di sebelah kanan.

Dan ta daaa…inilah Danau Kembar itu, yang baru salah satunya kami temui. 😀 Menurut orang-orang di sana, danau kembar pertama yang kami temui itu namanya Danau Atas, meski letak geografisnya berada di bawah atau lebih rendah daripada Danau Bawah yang letak geografisnya lebih tinggi atau ada di atas. Eerrr…membingungkan ya? Tapi begitulah. Yang jelas, kami sudah berada di Danau Atas sekarang. Hehehe…

10376166_909962202366049_2733452439638847834_n

Danau itu punya dermaga, yang sore itu cukup ramai. Kebanyakan adalah para remaja yang asyik berfoto-foto. Kameranya bukan sembarang kamera. Mereka berganti-gantian memotret dengan kamera DSLR yang bukan memakai lensa standar. Wuiihh…keren juga para abege ini, pikir saya. Di ujung dermaga, tertambat sebuah perahu. Ternyata itu perahu yang biasa membawa wisatawan untuk berkeliling danau. Biayanya Rp 10.000,- per orang. Saya sebenarnya ingin, tapi lebih memilih jalan-jalan dan memotret di sekitar danau ini saja. Jadilah, kawan-kawan dan keluarganya ikut tur dengan perahu sementara saya dan suami berkeliling sambil memotret.

Sore itu, Danau Atas memang menarik. Apalagi bagi saya yang baru pertama kali mengunjunginya. Udara di sana ternyata dingin. Anginnya kencang, sehingga kamera HP yang saya gunakan untuk memotret bergoyang-goyang diembus angin.

10636278_909962449032691_4493013426195000500_n

Ada satu spot sebenarnya yang saya ingin sekali berpose di situ. Ini karena foto salah satu teman di facebook, uni Fitri Yenti, yang mengunggah fotonya dengan seorang temannya di depan sebuah villa yang cantik. Bisa dikatakan, mungkin foto itulah yang membuat saya punya impian untuk datang ke tempat ini. Latar belakang fotonya itu membangkitkan imajinasi. Indah sekali. Serasa berada di Eropa. 😀 Maka ketika saya menemukan wujud villa itu, saya begitu girangnya! Akhirnya saya bisa berfoto dengan latar belakang yang sama dengan teman saya tadi. Haha… Alhamdulillah…satu mimpi sederhana yang terwujud.. 🙂

Akhirnyaaa bisa foto di sini jugaakk.. :D

Akhirnyaaa bisa foto di sini jugaakk.. 😀

Puas memandangi dan mengabadikan keindahan Danau Atas, kami pun bersiap untuk menuju kembarannya, Danau Bawah. Hari sudah pukul 5 sore. Senja mulai membayang. Sempat ragu arahnya ke mana karena tak ada penunjuk jalan, kami pun bertanya pada orang-orang sekitar. Tapi sudah beberapa orang yang ditanya, semuanya memberi arah yang bagi kami tak jelas. Kami sempat berputar balik beberapa kali. Ini juga karena teman kami yang orang Solok itu belum pernah ke sana. Hahaha… Setelah dipikir-pikir, ya sudahlah. Kami menyerah untuk tak menemui dulu kembarannya. Apalagi kata seorang teman saya waktu ditelepon, waktu tempuh ke sana hampir satu jam. Mau dipaksakan juga bakal dapat apa? Hari sudah gelap dan keindahan danau takkan teraba. Jadilah, Danau Bawah kami nobatkan sebagai si danau yang hilang. Hahaha…

1505345_909962602366009_7628925783720167350_n

“Ah, lagian bentuk danau di mana-mana sama aja kan? Air yang dikelilingi daratan. Haha…” kata saya menghibur diri waktu kami berbelok ke jalan pulang ke Solok.

“Ada bedanya sih, Nis. Kalau di Danau Bawah nggak terlalu rame dan nggak banyak sampah,” kata teman saya yang asal Solok itu di telepon.

Saya langsung teringat akan banyaknya sampah yang berserakan di sekitar Danau Atas tadi. Waduh! Iya juga. Haahh…kapan-kapan lagilah main ke sana. Tapi teteepp..ke Danau Atas adalah pengalaman mengesankan yang takkan terlupakan. Apalagi objek fotonya ciamik semua! 😀

10689985_909962629032673_6780469909854966029_n

***

[Jelajah Sumbar] Rindu Menjejak di Danau Singkarak

DSC_0358

SAYA hanya bisa memendam keinginan ketika orang-orang menyebut Danau Singkarak dan Danau Kembar. Kapan ya bisa ke sana? Begitu selalu tanya saya dalam hati. Keinginan yang sangat mungkin diwujudkan sebenarnya, mengingat saya dan suami cukup sering pulang ke kampung halamannya di Bukittinggi. Lanjut sedikit ke arah Solok, kami akan menemui dua danau itu. Begitu yang saya tahu dari pengalaman orang-orang yang sudah berkunjung ke sana.

Ke Bukittinggi dan Kotogadang, khususnya, memang selalu jadi sebuah kerinduan. Tapi kadangkala kaki ingin melangkah lebih jauh. Kalau perlu keliling Sumatera Barat sampai ke pulau-pulaunya yang sampai sekarang masih jadi impian. Pulau Sikuai, Pulau Pagang, Pulau Pasumpahan, dan entah pulau apa lagi yang hanya dari mendengar cerita orang-orang, sudah membersitkan selera untuk bertandang. Saya pernah melihat dalam foto, sebuah pantai yang saya pikir cuma ada di suatu tempat antah berantah, ternyata berlokasi di Sumatera Barat. Indah sekali. Tapi tampaknya memang butuh waktu khusus untuk ke sana. Tak mungkin dalam waktu dekat. Jadi biarlah itu tetap menjadi impian untuk diwujudkan kapan-kapan.

Maka, saat libur tanggal merah 1 Muharram 1436 H kemarin (tanggal merah kadangkala terasa spesial karena suami yang bekerja di RS tak mengenal kata libur kecuali waktu-waktu tertentu), saya, suami dan sejumlah kawan beserta keluarganya memutuskan untuk relaksasi sejenak dengan pergi ke Solok. Awalnya sempat ragu karena khawatir akan kecapaian. Maklum, memilih Solok sebagai destinasi berarti menambah waktu tempuh beberapa jam. Tapi karena keinginan kuat untuk menjelajahi kota-kota lain selain Bukittinggi, Padang Panjang atau Padang, kami pun berangkat di Sabtu (25/10) dini hari.

Jalan lintas Sumatera (jalinsum) yang sepi ternyata membuat jarak yang biasanya ditempuh selama 5 jam, menjadi hanya 4 jam saja. Entahlah seperti apa mengebutnya supir yang membawa kami dalam keadaan tidur itu. Haha… Subuh, kami telah sampai di Bukittinggi. Menyegarkan diri dengan salat sejenak di salah satu masjidnya, membuat kami lebih menikmati perjalanan yang katanya akan ditempuh 2 jam lagi. Memandang alam dan kehidupan di luar jendela tentu menjadi hiburan tersendiri yang membuat perjalanan jadi tak membosankan. Jalanan Sumbar yang mulus sepanjang roda berputar, membuat badan tak terasa lelahnya. Sungguh asyik memang berwisata dengan sarana infrastruktur yang memadai.

Tanpa terasa, setelah melewati beberapa kampung dan kecamatan, sampailah kami di permulaan penampakan sebuah danau. Danau yang selama ini jadi makin terkenal karena event Tour de Singkarak-nya. Apa lagi kalau bukan Danau Singkarak.

11012_908991325796470_1152352595723702006_n

“Kalo aku sih udah bosan lewat sini dari kecil. Singkaraak aja yang dilihat sepanjang jalan ini,” celetuk seorang kawan, yang rumah orangtuanya jadi tujuan kami setiba di Solok nanti. Haha…berarti sama seperti saya dan suami yang setiap jalan bolak-balik Panyabungan-Medan selalu melewati Danau Toba, meski lebih sering tak terlihat karena malam hari. Walau celetukannya benar-benar terdengar bosan -tapi dengan nada bercanda- ia dengan senang hati memotret beberapa view yang menurut saya bagus. Kebetulan ia duduk di sisi yang lebih dekat ke danau, jadi luas pandang memotretnya bisa lebih bagus.

Sementara dalam hati, saya begitu senangnya. Akhirnya, bisa melihat langsung Danau Singkarak, meski tak sempat bermain-main di airnya yang tampak bersih dan jernih. Beberapa titik terlihat begitu menggiurkan untuk jadi objek foto, tapi waktu tak memungkinkan untuk sekadar berhenti dan menceburkan kaki sambil memotret sekelilingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 dan kami belum sarapan. Kalau saya memaksakan diri, bisa-bisa kawan serombongan telat sarapan sampai di Solok. 😀

Danau yang membentang di dua kabupaten; kabupaten Tanah Datar dan kabupaten Solok ini menemani hampir di sepanjang jalan mendekati kota Solok. Betul kata kawan tadi. Danau ini begitu jauhnya dikelilingi sampai-sampai saya menduga, siapa saja yang bolak-balik melewatinya akan merasa bosan. Ah, kalau saya mana bosan. Namanya juga baru pertama kali. 😀

Tak lama lepas dari “perangkap” Danau Singkarak, kami pun melalui jalan lurus dan mulus, yang di kanan-kirinya areal persawahan luas membentang sejauh mata memandang. Ah, inilah tipikal bumi Sumatera Barat yang tersohor rapi dan indah itu, sehingga acap kali dijadikan inspirasi lukisan dan setting kisah-kisah dalam roman klasik. Rumah bagonjong nun jauh di sana, yang tampak menyembul di antara hijaunya padi menciptakan ciri khas alam tersendiri. Pemandangan yang hampir selalu ada di setiap areal persawahan yang saya temui.

Lalu sampailah kami di kota Solok. Kota yang sudah lama dirindu untuk dikunjungi. Bagaimana rupa kotanya? Nanti sajalah saya sambung ya… 🙂

DSC_0359

***

Asyiknya Mandi Hujan di Aek Sijorni

DSC_0351

SEBENARNYA lucu juga. Seumur-umur, baru sekarang saya main ke tempat ini, setelah beberapa tahun belakangan sering bolak-balik cuma sekadar lewat. Kalau dari tempat saya di Panyabungan sih ga jauh. Cuma berjarak tempuh hampir satu jam. Lokasinya pertengahan antara Panyabungan dengan Padang Sidempuan. Jadi kalo saya mau main ke Pasid city (bahasa keren ala anak gaul Padang Sidempuan untuk nyebutin kotanya.. 😀 ) atau mau jalan rutin ke Gunung Tua, tempat kerja kedua suami, atau mau ngunjungin keluarga di Medan -yang biasanya sebulan sekali- maka wajib ngelewatin tempat wisata yang kesohor ini. Iya, kesohor di kalangan warga sini dan sekitarnyalah. Hehehe…

Nah, herannya, saya baru Kamis (23/10) kemarin ke sana. Iya, baru kemarin itu. Itu juga karena rencana dadakan suami dan teman-teman kerjanya di RS. Gitu tuh asiknya kerja di daerah. Selesai kerja, bisa jalan-jalan ala wisata alam sorenya. Soalnya deket inii.. 😀 Kalo saya sih, paling sukaaa.. Maka reaksi saya ga diragukan lagi. Antusias. Apalagi itu tempat yang dari dulu pengen dikunjungin tapi entah kenapa selalu terkendala karena ngeliat ramenya pengunjung atau kondisi cuaca yang ga memungkinkan untuk main di sana.

Ehem. Dari tadi sebenarnya saya belum jelas ngobrolin tempat apa ya..haha.. Baiklaahh.. Saya tarik nafas dulu yaa…hmmffh… *bengek*

Aek Sijorni namanya. Dalam bahasa Mandailing, Aek berarti air, sungai, sementara Sijorni berarti jernih. Jadilah, air yang jernih. Letaknya di desa Aek Libung, kecamatan Sayur Matinggi, kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Wuiihh..komplit! Iyalah…siapa tau ada yang beneran pengen ke sini kan. Biar ga nyasar gitu. Hehehe…

Asiknya, tempat wisata ini dapat dijangkau ketika melintas di jalan lintas sumatera (jalinsum). Tapi jangan dikira sungai berair coklat yang mengalir di tepi jalan itu adalah Aek Sijorni-nya ya. Hehe… Memang buat orang-orang yang belum pernah ke sana, pasti udah heran duluan ngeliat penampakan sungai itu. Kok Aek Sijorni-nya ga jernih? Makanya liat dulu dong. Hehe.. Di atas sungai itu ada tiga jembatan gantung yang masing-masing berjarak sekian puluh meter. Tiap-tiap jembatan gantung itu menuju arah air terjun yang mengalir deras di balik semak belukar sana. Kami memilih jembatan gantung kedua (kalau ga salah). Sebelumnya bayar biaya retribusinya dulu yaa. Iya, retribusi atau apalah itu namanya. Soalnya ga pake loket, ga pake karcis. Hehehe… Ga mahaall. Cuma tiga ribu perak per orang.

Selesai urusan bayar membayar, selanjutnya siapkan nyali untuk menyeberang jembatan gantung. Haha… Menuju Aek Sijorni ini memang butuh uji nyali dulu. Yang udah pernah ngelewatin jembatan gantung pasti udah tau ya gimana rasanya. 😀 Kalo naiknya rame-rame, itu jembatan bakal terasa goyang dangdut dikit. Sementara air sungai berair keruh mengalir tenang tapi menghanyutkan di bawahnya. Mana bawa bawaan lagi ya. Siplah. Tapi syukurlah, setelah kira-kira 100 meter (ini cuma kira-kira aja ya. Bisa lebih atau kurang.. 😀 ) sampailah kita di ujungnya. Dan perjalanan ala si Bolang pun dimulai.

This slideshow requires JavaScript.

Kita bakal melewati jalan setapak yang menaik, dikelilingi semak-semak. Kadangkala menyeberangi sungai kecil yang cuma ditopang sebatang kayu. Ha! Bener-bener ngebolang kan? 😀 Akan ada satu spot ketika kita menengok ke sebelah kanan, kelihatan warga situ yang lagi mandi, nyuci, bahkan…uugghh…buang air. Hahaha.. Tapi tenang, kita jalan terus kok. Hihi…Ga lama, mulai muncul pemandangan kolam dan pondok-pondok kecil. Lalu ada air terjun nan cantik yang menyelerakan di sebelah kanan. Lalu ada satu air terjun lagi di sebelah kiri. Lalu masih ada lagi air terjun di atasnya, yang kelihatan dari jauh. Iya, air terjunnya banyak! Bercabang tepatnya. Huwaahh..ngeliat pemandangan di sana itu pengen segera nyebuurr! Segeerrr! Aiihh..ternyata asik juga Aek Sijorni ini ya. Ke mana aku selama ini?? 😛

Sampe di sana, langit memang agak mendung. Saya dan rombongan menyewa dua pondokan yang cukup besar. Apalagi kalo ga buat makan siang. Hehe…Iya, karena makan siangnya menjelang sore, jadilah, bekal yang kami bawa segera dihidang dan dinikmati dengan lahap. Tak terkecuali mie goreng dan bakwan udang ala saya. Hmmm…wenaaakk… *malah promosi 😛

Habis makan, langit tiba-tiba gerimis dan tak lama turun hujan deras. Sempat duduk diem dulu nunggu hujan agak reda. Tapi ga lama. Ya justru di situ asiknyaa. Mandi di air terjun sambil diguyur hujan! Kapan lagi mandi hujan? Perasaan terakhir kali waktu kecil. Hehehe…

Air terjunnya sejuukk dan ga berubah keruh meski hujan deras. Asik sekali duduk di bawah guyurannya. Serasa dipijat. Hehe…Pokoknya ini pengalaman baru setelah sekian lama ga main di air terjun. Kalau biasanya air terjun itu langsung meluncur dari atas ketinggian, air terjunnya ini bertingkat dan terlihat landai tapi tak mengurangi deras airnya. Mungkin karena derasnya, bebatuan yang berada tepat di bawah guyurannya tak berlumut sehingga tak licin. Jadi kita bisa duduk atau tiduran sambil pose di situ. Eeaaa… 😀

Di sana juga ada kolam renangnya loh. Ada beberapa kolam renang malah. Tapi nampaknya sepi, entah karena ga lagi musim liburan atau karena kolamnya berlumut jadi licin. Airnya juga dari air terjun itu. Kalo gitu sih, mending main di air terjunnya langsung ya.. 😀 Memang, kalo lagi liburan, tempat ini ga pernah sepi. Semua spot air terjun bakal rame dengan pengunjung. Kami beruntung datang di sore kemarin saat hari kerja dan sudah menjelang sore. Air terjunnya jadi lumayan sepi.

Karena sudah semakin sore, kami cuma seru-seruan satu jam saja. Momen mengganti pakaian basah ke pakaian kering jadi ke-ngenes-an tersendiri. Haha..apa sebab? Kamar mandinya tak beratap sementara hujan masih turun, meski tak lagi deras. Jadi? Yaa jadi judulnya mengganti pakaian basah dengan pakaian semi basah. Hahaha… haduuhh..bisa-bisanya sih kamar mandinya ga beratap? Hiks.. kalo ga lagi hujan sih ga masalah. Lha kalo kayak gini?

Tapi ya gitu. Namanya juga tempat wisata di kampung, yang lebih banyak dikelola masyarakat sekitar. Belum lagi sampah-sampah yang masih suka dibuang sembarangan sehingga menumpuk di beberapa titik. Sayang seribu sayang. Lagi-lagi alam Indonesia raya yang indah dan menakjubkan ini tak diimbangi dengan kesadaran pemerintah dan masyarakatnya untuk menjaga dan mengelolanya menjadi objek wisata yang bisa dinikmati keindahannya sampai ke anak cucu kelak. Semoga saja Aek Sijorni tetap mengalir deras, bahkan semakin indah suatu saat kelak. Meski begitu, kapan-kapan saya pengen main di sana lagi. Satu jam tentu terasa kurang. Apalagi belum semua lahan luasnya terjelajahi. Maunya datang ke sana lagi pas langit lagi cerah dan saat pengunjung tak terlalu ramai. Waahh..asiknya!

DSC_0352

***

Yuk, Seru-seruan di De Ranch!

IMG_2569

Asik yaaa…serasa di manaaa gitu.. 🙂

 

 

SAYA baru tau ada tempat wisata yang namanya De Ranch ini. Keren ya namanya. Kirain di manaa gitu. Eehh..ternyata adanya di Lembang, deket Bandung. Pertama kali baca kayaknya di postingan emak KEB. Trus jadi pengen ke sana. Kapan yaa?? Hmmm…

Keinginan itu secara nggak disangka terkabul waktu saya ikut suami seminar di Bandung tanggal 9 Juni kemaren. Iya, saya emang ngikut-ngikut aja ke sana. Niatnya ya jalan-jalanlah. Huehehe… Lagian di sana juga ada sodara; Uda’, Nanguda dan Kiki, sepupu saya. Saya malah udah lupa soal De Ranch yang ada di deket-deket situ kalo suami saya nggak bilang, “Kita ke De Ranch, yuk!” Yang pastinya langsung saya sambut dengan antusias. 😀

Rabu (11/6), kami pergi bertiga bareng Kiki, yang jadwalnya sengaja dilonggarin buat nemenin kami berdua jalan selama di Bandung. *Hiks…tengkiu somad, Kiii..

Ke sana ternyata cuma butuh waktu satu jam-an. Ga terlalu jauh. Sampe di sana, orang-orang udah rame aja. Kayaknya para peserta seminar dan keluarganya pada ke sini nih. Hahaha…Nggak lah..nggak tau maksudnya. 😀

Berbekal tiket masuk murah meriah seharga Rp 5000,- per orang, kami bertiga pun langsung disambut suasana food court. Ada welcome drink-nya segala ternyata! Bisa milih susu atau yogurt, sesuai jumlah tiket yang ditukarkan. Susu dengan menukar 1 tiket, yogurt dengan 2 tiket. Rasanya? Susunya enak dan yogurt-nya lumayan. Hehe… Karena nyampenya pas jam makan siang, jadilah kami pesen makanan dulu sebelum keliling-keliling kepo tentang tempat ini. Suasananya asik. Kami pilih meja di luar, menghadap lapangan luas yang di situ bisa ngapain aja. Sambil makan tongseng kambing, sate daging sapi, iga bakar dan ngemil tahu berondong, siang itu rasanya maknyuuss sekalih!

IMG_2586

Udah gaya-gaya gitu, tangan Pak Odi keliatan, lupa di-crop. Haha!

Sambil makan, dari kejauhan nampak ada kuda yang bawain pengunjung yang pengen keliling-keliling. Niatnya saya pengen naik kuda juga habis makan nanti. Pilihannya ada yang naik kuda sendirian (tapi ada yang bantuin nuntun kudanya pastinya) atau naik delman yang bisa buat rame-rame.

Naik kuda dikenakan biaya Rp 25.000,-. Itu udah plus sewa rompi ama topi ala koboi. Wuiihh…kerenlah pokoknya. Haha! Yang naik juga nggak sembarang orang loh. Maksimal berat badan penunggangnya 80 kg. Hahaha…diskriminatif ya? Yaiyalah, kasian juga kali kudanya kalo bebannya terlalu berat. Dibawa keliling iniii… 😀 Kudanya juga bisa dipilih kok dan semuanya bagus-bagus. Bedanya cuma di ukuran badan kudanya aja. Saya milih kuda coklat yang ukuran badannya sedang. Liat yang lain ada yang naikin kuda yang lebih besar dan gagah, jadi pengen, tapi bisa lama kalo mesti nunggu dia keliling dulu. Ya udah, saya akhirnya pilih naik kuda yang dipawangi (emang ada pawang kuda? Huehehe…) bapak-bapak yang pas diwawancara singkat diketahui bernama Odi. Yah, biasalah..kadang-kadang saya suka sok kepo sama hal-hal dan orang-orang baru. Haha! Meski kuda yang dipegang Pak Odi ini nggak terlalu gagah, tapi lumayan lah ya, buat pose-pose ala koboi. 😀

Sambil naik kuda, bisa tuh foto selfie kalo pengen, atau foto-foto suasana sekitar yang waktu itu lagi rame. Selesai berkeliling, minta difotoin dulu di depan gerbang yang ada tulisan “De Ranch, Lembang”-nya atau di depan rumah kayu bernuansa koboi sebelum balik ke base. Asiklah pokonyah…hehehe…

sapi1

Antara seorang pemerah susu dengan seekor sapi betina yang pengen ikutan narsis.. :))

Abis berkuda, mari kita berkeliling. Ada trampolin, bola air (atau apa itu namanya? Yang kita ada di dalam bola mengapung di atas kolam), flying fox, panjat dinding, panahan dan memerah sapi! Kami bertiga ikut yang dua terakhir, karena yang lainnya dikhususkan untuk anak-anak. Hehehe… Yang pertama diikutin itu memerah sapi. Huwooww..gimana serunya ya?

Sebelumnya, bayar tiket Rp 20.000,- per orang dulu di loket. Dan bersiaplah bertemu para sapi yang gendut-gendut dan sehat itu. 😀 Sebelumnya kenalan dulu dong sama sapi-sapinya. Foto-foto dulu kek atau narsis bareng sapinya. Intinya pedekate dulu sebelum si sapi diperah. Hahaha… Itu penting, Kawan..biar nanti kamu nggak ditendang waktu merah susunya. 😀

Tapi tenaanngg, kita nggak memerah sapi sendirian kok. Ada Pak Junep, yang hari itu nemenin saya memerah sapi. Ternyata kaki si sapi diiket dulu ke tiang biar aman. Jangan lupa minta sepatu boot biar kaki dan celana nggak kotor, trus siapin ember dan ta daaa…susu sapi siap diperah!

Ternyata itu puting sapinya diolesin pelumas semacam lotion dulu sama Pak Junep sebelum diperah. Cara merahnya? Tarik kuat dari pangkal ke ujung puting sapi dan air susu murni pun meluncur ke dalam ember. Susah-susah gampang loh merahnya ini. Kalo nariknya nggak kuat, ya susu yang keluar juga dikit. Nggak usah sungkan-sungkan nariknya karena si sapi nggak bakal kesakitan.

“Susunya ini kalo langsung diminum, enak!” kata Pak Junep. Waahh..saya langsung penasaran gimana rasanya. Nggak pake lama, Pak Junep terus ngambil gelas plastik, ngisi gelas itu dengan susu yang diperahnya sendiri dan gelas berisi susu itu dikasih ke saya. Huwaahh! Sempet agak gimanaa gitu waktu ngebayangin nyoba minum itu. Tapi pas dicoba, hmmmm..beneran enak! Ya kayak susu kemasan yang berkotak biru itu. Berarti produk kemasan itu beneran asli susunya. Hehehe… Pak Junep malah atraksi; minum susu sapi langsung dari…sapinya! Woohoo…kereeenn..akhirnyaa bisa nonton atraksi begini secara live yaaa..haha!

Atlet panahan De Ranch.. :D

Atlet panahan De Ranch.. 😀

Puas memerah sapi dan minum susu segar, kami menuju zona berikutnya. Panahan! Ih, penasaran loh kalo liat orang-orang panahan. Pengen nyobaaa… Jadilah kami pesan tiket seharga Rp 20.000,- per orang. Kalo diliat sih tempatnya kurang meyakinkan karena sasaran panahnya udah bolong-bolong karena ketusuk ratusan (atau ribuan?) panah. Nggak diganti-ganti kayaknya..hahaha.. Busur dan panahnya juga biasa aja, nggak kayak busur dan panah punya atlet panahan itu. Yaiyyalah..namanya juga semacam permainan gitu. Hehehe… Pas dicoba, eng ing eeenngg..ternyata berat juga narik anak panahnyaa.. Perlu fokus dan kekuatan menahan napas. Sekali saya meleset. Yang kedua, kena! Meski nggak di tengah. Itu juga karena diajarin sama instrukturnya. Huehehehe…lumayanlah ya. Seenggaknya pernah nyobain yang namanya panahan. 😀

Selesai panahan, langit yang dari tadi agak mendung jadi makin mendung. Sebagian pengunjung mulai beranjak pulang. Begitu juga kami. Sampai di mobil, hujan turun deras. Tapi itu nggak menyurutkan niat kami untuk menuju destinasi berikutnya. Sate kelinci! Gimana rasanya? Hmmm…dilanjutin nanti ya! 😀

This slideshow requires JavaScript.

***

>> Semua foto adalah dokumentasi pribadi, dijepret oleh AFR dan Kiki.. 😀