Nak, Untukmu Kuciptakan Puisi

cropped-img_0515-e1418830325426.jpg

 

Langkah-langkahku sudah jauh terjejak, Nak

Bisakah kau ikuti?

Masih adakah jejak-jejakku di sepanjang jalan yang kau lalui?

Tersesatkah dirimu, Nak?

Apakah hujan atau desir angin yang kencang menjadi penghalang kau segera sampai ke tempatku menanti?

Minta saja tolong pada Tuhan

Agar ia mengutus malaikatNya untuk menuntunmu sampai ke rahimku

 

Tenang saja, Nak

Aku akan tetap menunggumu

Hati-hati di jalan, Nak

Genggam erat panduan malaikatmu

Agar mudah langkahmu menemuiku

 

 

~ Pada waktu yang entah kapan sebelum kehadiranmu di pelukan ~

 

 

Shafa Asked, “Where Are Your Kids?”

DSC_0611

Suasana Subuh yang dirindukan di Masjid Nabawi

 

GADIS kecil bermata biru bening, kutemui di salah satu shaf di Masjid Nabawi. Kepalanya yang mungil mengenakan jilbab. Cantik sekali. Masya Allah…aku terkagum-kagum melihat ciptaanNya yang luar biasa di depanku ini. Selama ini aku hanya melihat profil wajah seperti miliknya itu di internet, di page foto-foto bayi yang dijadikan model. Indah, Yaa Mushawwir..

Ia bersama ibunya. Tampaknya bukan perempuan Arab.

“America,” jawabnya sambil tersenyum saat aku bertanya asalnya. Oh, jadi gadis cilik ini seorang Amerika. Lagi-lagi aku dibuat takjub akan kemahabesaranNya. Betapa Islam telah mempertemukan aku dengan saudara-saudariku seiman dari seluruh dunia di rumahNya yang mulia. Dalam balutan gamis dan hijab lebar, ibu sang gadis tampak anggun. Tak tampak wajah baratnya. Aku sempat menduga-duga warna rambutnya yang pirang. Senyuman demi senyuman yang tersungging menjadi penyambung ukhuwah. Dengan bermodalkan bahasa Inggris yang pas-pasan, aku berkomunikasi dengan ibunya. Continue reading

4 Tahun Sudah, Teruslah Menulis Mimpi

dreams

TAK terasa, 4 tahun sudah blog ini ikut nimbrung di jagat maya. Empat tahun yang mungkin lebih banyak absennya daripada update-nya. Hehehe…Tahun ini bolosnya sampai 6 bulan. Sejak akhir April kemarin, saya memilih untuk tak ngeblog dulu. Karena di beberapa bulan terakhir ada hal super penting yang dianugerahkan Allah pada saya. Saya akhirnya mengandung, berbadan dua, hamil! Alhamdulillah.. Saya anggap itu tak hanya anugerah dari Allah karena doa saya dan suami semata, tapi juga doa dari kedua orangtua kami, saudara-saudara kami, teman-teman kami, sahabat-sahabat kami, dan orang-orang lain yang kami mungkin tak tahu kalau diam-diam rajin mendoakan kami *anggap aja ini kege-eran 😀 *

Rasanya baru saja saya posting soal penantian anugerah ini waktu event GA-nya Mak Evrina tahun lalu. Saat menulis itu, jujur, perasaan saya seperti mengambang. Antara percaya tak percaya atas kekuasaan Sang Maha yang katanya bisa menjadikan segala sesuatu menjadi mungkin sesuai kehendakNya. Astaghfirullah.. Tapi begitulah. Mungkin saya waktu itu sedang berada di titik kepasrahan yang lebih cenderung ke pesimisme. Nyaris pesimis akan diberi anugerah itu dalam waktu dekat. Saya memang percaya bahwa suatu hari nanti Allah akan memberikannya juga. Tapi entah kapan. Rasanya jadi seperti sedang berjalan di lorong panjang yang tak sampai-sampai ke tujuan. Demikianlah.

Hingga akhirnya Allah menjawab keraguan itu di tahun ini, di tahun yang sama saat saya dan suami mengawalinya dengan berumrah ke Baitullah. Masyaa Allah.. Subhanallah.. Rasanya memang ajaib, sampai-sampai saya tak berminat untuk melakukan hal lain lagi selain menjalani kehamilan ini saja. Entah karena faktor hormon juga ya, apa-apa jadi malas. 😀 Saya tak menyesal bila sempat menolak tawaran pekerjaan yang kalau di saat biasa pasti terlihat menggiurkan dan langsung saya sambut dengan antusias. Penolakan halus nan spontan yang begitu saja keluar demi mengingat ada janin, makhluk mungil yang sedang hidup dan bertumbuh di rahim saya. Saya tak mau capek dulu karena disibukkan oleh beban pekerjaan. Apalagi saat itu sedang hamil muda, trimester I yang masih rawan-rawannya. Saya tak mau kejadian 2 kali keguguran terulang lagi. Cukuplah saya banyak bersantai menikmati hari demi hari bersama calon buah hati saya saja. 🙂

Di tahun 2015 ini, satu mimpi tak lama lagi akan mewujud nyata menurut kehendakNya. Alhamdulillah..

Sempat terlintas untuk kembali menulis, dan benar ya, kalau sudah lama tak menulis rasanya pikiran dan jari jemari ini kaku luar biasa. Baru kali ini saya merasa agak lebih santai dan mengalir. Itu juga karena dipicu membaca tulisan teman-teman blogger yang setiap hari tampak selalu bersemangat untuk berbagi. Saat membaca tulisan-tulisan mereka, tiba-tiba saya kangen menulis, tiba-tiba saya rindu blog saya yang sederhana ini. Lalu teringat tanggal 20 Oktober tak cuma peringatan setahun pemerintahan Jokowi-JK, tapi juga ultah Menulis Mimpi, yang sampai sekarang belum pernah bikin Give Away 😀 Baru berisi curhatan dan info alakadar yang semoga bermanfaat buat yang sengaja atau tak sengaja mampir baca. Belum serius-serius amat a la seleblog atau blogger profesional.

Buat saya itu tak jadi masalah. Mau menjadikan personal blog cuma jadi diary atau buat lahan pekerjaan, ya sah-sah saja. Yang penting enjoy dalam menjalaninya. Tak perlu memaksakan diri agar jadi seperti blogger lain yang sudah mapan kalau memang passion kita jadi blogger bukan untuk itu. Eeuuu..ini bukan pembenaran buat sikap saya yang masih nyantai-nyantai ini sih. Tapi sekadar penghibur pengingat (buat saya) supaya lebih memilih untuk jadi diri sendiri agar senantiasa nyaman dengan apa yang dilakukan. Buat saya yang masih blogger angin sepoi-sepoi ini, yang perlu saya seriusi dan lakukan secara kontinyu hanyalah menulis konten yang bermanfaat. Kalau bisa menambah ilmu soal teknis untuk mempercantik blog tentu akan lebih baik. Belajar tentang info grafis, misalnya. Atau apalah ilmu yang sebenarnya bisa didapat dengan mudah di komunitas blog semacam KEB. Dengan terus menulis, apapun gaya atau ciri khas penulisannya, saya yakin akan berbuah manis juga pada akhirnya. Segala macam berkah dan hal baik itu pasti dianugerahkan sesuai kapasitas dan kebutuhan hambaNya, plus tujuan menulisnya untuk apa.

Dan jadilah, tulisan ini sebagai penghibur dan kado buat blog saya sendiri. 😀 Apapun isi Menulis Mimpi ini, semoga bermanfaat sampai kapanpun bagi siapa saja pembacanya. Terima kasih buat yang selama ini rajin berkunjung dan dengan sukarela mem-follow. Maafkan bila saya bukan teman blogger yang baik, yang rajin mengunjungi balik blog teman-teman sekalian. Tapi percayalah, saya ikut senang bila ada berkah dan hal-hal baik yang menghampiri teman-teman. Setidaknya, saya bisa terus mencamkan sesuatu, bahwa takkan pernah ada namanya rugi dengan berbagi.

Salam hangat saya di ultah Menulis Mimpi yang ke-4!

Tetap semangat bermimpi dan berbagi! 🙂

***

Berani Lebih Asertif Tanpa Rasa Bersalah

SAYA masih ingat betul kata-kata seorang teman saya waktu kuliah.

“Jadi orang jangan terlalu baik, Nis..”

Hah? Terlalu baik? Waktu itu tentu saja saya bingung dengan ucapannya. Bukankah baik untuk selalu berusaha berbuat baik?

“Iya, tapi jangan jadi terlalu baik,” tegasnya lagi.

“Ada saatnya kamu bilang tidak setuju atau tidak suka dengan suatu hal. Jangan nerima aja,” katanya lagi.

Hmmm…saat itu saya cuma mendengarkan saja, tanpa mengerti benar dengan apa yang disampaikannya itu.

Sekali-sekali, saya ingat lagi kata-katanya itu. Terutama waktu saya merasa dimanfaatkan teman sehingga mau disuruh ini itu, padahal dia sendiri bisa melakukannya. Atau saat saya diam saja saat teman yang lain berkata sinis pada saya. Bisa dibilang mem-bully dengan mempermalukan saya di depan teman-teman yang lain. Sudah mirip adegan sinetron mungkin. 😀 Oh ya, tentang bully mem-bully ini, seingat saya, saya pernah mengalaminya beberapa kali. Sejak SD. Yah, dulu memang saya termasuk anak yang kurang percaya diri, pendiam dan pemalu dalam segala hal. Kalaupun ada teman yang mengejek saya, saya diam saja. Paling sampai di rumah menangis dan curhat di buku harian. Hehehe..

Saya tak pernah mengadukan bullying itu pada siapapun, termasuk kedua orangtua saya. Saya menyimpannya sendiri, menangisi, lalu mengobati “luka”nya perlahan-lahan. Entah kenapa, saya seperti tak berdaya untuk melawan atau sekadar membalas perlakuan yang tidak menyenangkan itu. Senjata saya cuma menangis diam-diam dan curhat di buku harian. Hikmahnya, buku harian saya jadi penuh dan saya jadi suka menulis. 😀

Seiring waktu, apalagi sejak saya kuliah di Psikologi, saya mulai merasa ada sikap saya yang tidak beres. Saya selalu menerima perlakuan buruk orang lain dan selalu berusaha menyenangkan mereka tanpa peduli perasaan saya sendiri. Kalau ada sesuatu yang tidak sesuai, saya yang lebih dulu merasa bersalah. Aiihh..karakter seperti apa ini? Nggak banget! Mau-maunya dijajah orang lain.

Saya kemudian banyak membaca buku, mencari tahu tentang yang tidak beres itu, lalu menemukan satu kata; ASERTIF (perilaku asertif), yaitu suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain (sumber).

Ooh, ternyata ini sumber masalahnya. Selama ini saya kurang asertif. Kurang mampu menyatakan diri secara jujur dan terbuka sehingga saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan tanpa orang lain merasa keberatan. Win-win solution, istilahnya. Tapi kata tinggallah kata. Saya memang mulai akrab dengan kata asertif itu tapi belum mampu sepenuhnya mengubah diri menjadi lebih asertif. Bagi orang yang kurang percaya diri, memang butuh keberanian lebih untuk menjadi asertif dan keluar dari zona nyaman.

Lama kemudian, setelah saya tamat kuliah dan menyandang gelar psikolog, pelan-pelan saya merasa mulai #BeraniLebih asertif. Awalnya pasti tidak mudah, karena saya harus mulai membiasakan diri menghadapi reaksi yang kadang tak suka dengan perubahan sikap saya. Tapi biarlah. Toh, saya juga ingin bahagia dan nyaman dengan diri sendiri. Dalam hati saya terus bertekad, saya harus terus berusaha menaklukkan diri saya sendiri dengan belajar lebih asertif. Karena menjadi pribadi yang bahagia adalah hak saya juga, kan? 🙂

***

 Akun social media:

Annisa Fitri Rangkuti (facebook)

@annisa_rangkuti (twitter)

lightofwomen

Suatu Pagi Bersama Dee Lestari

DSC_0590

SAYA ingat sekali. Ketika mahasiswi dulu, saya dipinjami buku Supernova; Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh karena penasaran dengan isinya. Kala itu buku ini jadi perbincangan dan ah, sebagai orang yang mengaku suka membaca, akan aneh rasanya kalau ketinggalan membaca buku ini. Rasa penasaran ingin membacanya juga karena ingin tahu cerita di balik imajinasi seorang penulis yang juga personil grup penyanyi trio yang nge-hits di zamannya ini; Dee Lestari.

Jujur, saya tak habis membaca seri pertama Supernova itu. Saya baru sampai sepertiga buku ketika saya memutuskan untuk berhenti membaca. Mungkin karena saya kurang suka hal-hal berbau fiksi ilmiah. Setelahnya, saya tak pernah lagi membaca karya-karya Dee. Saya hanya tahu perkembangan karyanya lewat media massa atau trailer film yang diadaptasi dari karyanya. Dari jauh, saya mengagumi transformasinya dari seorang penyanyi tulen menjadi seorang penulis best seller nasional. Ia ternyata konsisten dengan pilihan hidupnya saat ini. Bukan seperti pesohor-pesohor lain yang hanya mengandalkan kesempatan mumpung nama tenar. Karya-karyanya kini sudah teruji. Buktinya, beberapa teman dan saudara saya pernah bercerita dengan seru kala mengisahkan Seri Supernova, Rectoverso, Perahu kertas, atau karyanya yang lain. Mereka jatuh cinta pada Kugy, Leia, Bodhi, Elektra, Zarah, Alfa atau tokoh-tokoh lain yang masih terdengar asing di telinga saya.

DSC_0594

Diam-diam, saya penasaran, tapi rasa penasaran saya itu belum terwujud nyata sampai ketika ada kesempatan dari komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB) untuk belajar menulis dari Dee! Wah, ini benar-benar kabar baik! Lagipula, ini adalah coaching clinic yang sudah lama saya impi-impikan. Saya ingin belajar langsung dari seorang penulis best seller tentang teknik menulis yang baik, tips menulis kreatif, atau apapun itu yang bisa menjadi pelengkap ilmu menulis saya yang masih alakadarnya ini. Kesempatan seperti ini tentu langka bagi saya yang aslinya tinggal di daerah. Maka, meski sedang dihadang oleh berkas-berkas laporan pekerjaan yang harus saya selesaikan dalam waktu seminggu, saya tetap menyempatkan diri untuk menghadiri acara ini.

Sampai di Hotel Santika Dyandra Premiere pada Minggu, 22 Maret itu, saya sempat kebingungan mencari lokasi. Beberapa kali ke hotel ini, saya selalu tersesat sehingga harus bertanya pada petugas hotel yang lewat. Ternyata memang tidak mudah menemukan Benteng Restaurant, tempat berlangsungnya acara. Jalan yang cukup berliku harus ditempuh sampai ke tujuan. Tapi entahlah. Mungkin sebenarnya mudah saja. Saya saja yang agak susah mapping. Haha!

Tiba di ruangan yang ditunjuk, saya melihat 3 orang gadis yang tampaknya ingin sekali ikut acara ini. Mereka memohon pada kru Bentang Pustaka (yang belakangan saya tahu adalah Mbak Avee, CP acara ini) agar diizinkan duduk sebagai peserta. Melihat respon Mbak Avee yang menggeleng dengan senyuman, ketiga gadis tadi dengan berat hati meninggalkan tempat sambil kecewa. Seketika, saya merasa beruntung diberi kesempatan ini. Tanpa undangan, saya takkan bisa duduk menikmati sajian hangat yang langsung dihidangkan oleh seorang Dee.

DSC_0598

Ternyata belum semua kursi tampak penuh. Saya mengenali beberapa teman yang sudah lebih dulu hadir. Semuanya dari KEB. Windi Teguh, Nurul Fauziah, Lia Cerya, dan seorang lagi yang duduk di sebelah saya yang bernama Pertiwi Soraya. Waktu memang sudah menunjukkan pukul 9 lebih, lewat dari waktu yang dijadwalkan. Sambil menunggu itu, kami berlima lalu berinisiatif untuk berfoto-foto dulu. Dengan bermodal banner acara dan jepretan dari Mas-mas kru Bentang Pustaka, kami pun berfoto ceria. Haha. Di tengah-tengah sesi foto, seorang sosok masuk. Windi yang langsung mengenalinya. Ika Natassa! Jadilah, kami bergantian untuk foto bersama. Meski saya belum mengenali sosoknya, saya tetap ikut-ikutan foto berdua. Haha! Parah memang kudet-nya saya ini. Ckckck… *Maafkan saya, mbak Ika.. 😀

Tak lama menunggu, MC langsung membuka acara dengan ice breaking yang maknyus. Putri sukses membuat semua peserta tersenyum dan tak sabar lagi menantikan Dee Lestari. Suaranya yang ceria dan kata-katanya yang penuh humor memang mencairkan suasana, hingga tanpa sadar, sosok Dee Lestari sudah berdiri di tengah formasi meja yang berbentuk letter U. Tampilan Dee langsung menghipnotis saya. Kesan pertama yang muncul adalah; cantik! Saya suka gaya busananya yang didominasi warna ungu plum itu. Dengan cardigan, rok panjang, sandal wedges, rambut terurai dan riasan wajah minimalis, ia tampak santai dan tampil elegan dengan caranya sendiri. Keren!

DSC_0588

Bersama penulis Ika Natassa.. 🙂

Dee langsung sukses membuat perhatian peserta yang berjumlah 14 orang itu terfokus padanya. Segera saja ia menggantikan posisi Putri di depan, membuka inti acara dengan suaranya yang enak didengar. Ia mengawalinya dengan kuis berhadiah 2 buku, yang pertanyaannya hanya bisa dijawab dengan yakin oleh para pengagum karyanya sejak lama. Hehe… Sesi berikutnya adalah sesi inti, di mana ia meminta para peserta mengajukan pertanyaan yang sebelumnya sudah dikirim lewat e-mail lalu menuliskannya di flip chart yang tersedia. Ada 2 sesi untuk pertanyaan ini diselingi coffee break. Sepanjang 2 sesi yang kalau ditotal 3 jam itu, ia tak membuat konsentrasi lenyap karena penyampaiannya yang menarik dan hidup. Setiap peserta tampak tekun mendengar, mencatat, atau sibuk me-live tweet. Untuk sesi pertama, ia memberi kesempatan untuk 5 penanya terlebih dahulu. Selesai menuliskan pertanyaan, ia mulai mengulas pertanyaan satu per satu.

DSC_0591

Ada banyak kutipan dan cerita yang sarat makna saat ia menguraikan satu per satu jawabannya itu. Tentang bagaimana ketika masih SD, ia bertekad untuk dapat melihat buku yang bertuliskan namanya ada di rak-rak toko buku. Impian terpendam yang baru terealisasi puluhan tahun kemudian. Ia sebenarnya sudah memulai langkah menuju impiannya itu sejak jauh-jauh hari, bahkan setelah ia lebih dikenal sebagai penyanyi. Ia sering mengirimkan karya-karyanya ke majalah-majalah remaja atau mengikutkannya ke dalam lomba dan akhirnya mengejutkan dunia perbukuan tanah air dengan karya fenomenalnya, Supernova; Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, yang terbit pada tahun 2000. Tentang betapa kagumnya ia pada karya-karya Sapardi Djoko Damono, Ayu Utami dan Rattawut Lapcharoensap. Dan tentang teknik menulis yang mungkin sudah umum disampaikan para penulis andal namun mampu ia uraikan secara menarik dengan caranya sendiri.

Ada satu kutipan menarik yang disampaikan Dee berikut ini:

“Temukan rasa gatal yang tak kunjung usai.”

Rasa gatal yang ia maksud sebagai passion, yang membuat seorang penulis takkan pernah kehabisan ide dan inspirasi untuk terus berkarya. Rasa gatal yang bisa berbeda-beda pada tiap orang. Rasa gatalnya yang beranjak dari spiritualitas ketika menulis seri Supernova, yang mungkin kadarnya sama seperti Djenar Maesa Ayu yang menggaruk rasa gatalnya di ranah seksualitas.

DSC_0587

Emak2 KEB. 😀 ki-ka: saya, Windi Teguh, Lia Cerya, Pertiwi Soraya dan Nurul Fauziah.

Karenanya, mendengar Dee berbicara tentang bidang yang ia tekuni sekarang adalah sebuah kemewahan yang belum tentu terbeli oleh semua orang yang memiliki passion yang sama. Maka saya merasa bersyukur dan berterima kasih padanya karena sudah berbagi ilmu menulis yang aplikatif untuk semua genre kepenulisan, asalkan punya niat awal dan tekad yang kuat serta menyusun langkah detail dan terukur untuk mewujudkan impian menjadi penulis profesional dengan karya-karya nyata yang bermanfaat bagi semua orang.

Selesai penyampaian materi adalah sesi yang ditunggu-tunggu. Book signing! Ia tampak begitu sabar melayani setiap peserta yang membawa setumpuk buku-buku karya Dee dari rumah bahkan meminta plus untuk berfoto bersama. Saya sendiri bahkan meminta foto berdua sampai 2 kali. Haha! Sambil berfoto-foto, beberapa nama disebut penyelenggara dari Bentang Pustaka. Ada yang menang live tweet berhadiah kaos Gelombang, dan satu orang pemenang yang berhadiah makan siang bersama Dee Lestari dan Ika Natassa. Untuk yang terakhir, Windi Teguh dari KEB, seorang pengagum berat Dee yang memang pantas menang. 🙂

Setelah itu, kami semua berfoto bersama. Sebuah penutup yang manis untuk suatu kegiatan yang berjalan sukses. Buku seri Supernova terbaru berjudul Gelombang yang bertorehkan tandatangan dan nama Dee pun menjadi sumber motivasi baru bagi saya, yang diharapkan bisa mengingatkan saya pada tujuan awal untuk menulis, dan agar saya berusaha konsisten menerapkan langkah-langkah yang sudah diajarkannya. Yang jelas, kebersamaan dalam waktu yang singkat itu berbuah rasa penasaran untuk membaca karya-karya Dee Lestari. Mungkin, barangkali, bisa jadi, saya telah menjelma menjadi pengagum berikutnya.. 🙂

IMG-20150322-WA0006

Aseeekk.. 😀

***

Terima kasih, Dee..

Terima kasih, Bentang Pustaka..

Terima kasih, KEB..

🙂

Menjadi Tua

dok. AFR

dok. AFR

 

 

PAGI ini, mari kita bicara tentang menjadi tua. Menurut pengamatanku, menjadi tua adalah saat di mana organ-organ tubuhku menjadi kurang daya. Pergerakanku menjadi lambat, hampir-hampir harus selalu memakai tongkat.

Menjadi tua adalah ketika gurat-gurat kecantikan itu mengeriput secara alamiah. Secara kasat mata, diriku takkan sedap lagi dipandang. Tentu sudah kalah jauh dengan para gadis belia yang masih rupawan.

Menjadi tua adalah saat helai-helai putihku semakin lebat, sehingga harus semakin kututup rapat.

Menjadi tua adalah tentang mengenang berjuta kejadian yang telah lewat. Menangisi atau menertawainya, sama saja. Semua kenangan itu takkan pernah mampir lagi di depan mata.

Menjadi tua adalah saat hari-hari bersahabat sepi. Terhibur hanya saat para sahabat dan kerabat sesekali datang menemani. Mungkin saat itu pasanganmu sudah mati. Beruntung bagi yang menjadi tua bersama. Tapi tetap saja. Apa yang menarik dari pembicaraan dua orang tua yang acap terperangkap sunyi?

Menjadi tua adalah titik akhir perjalanan. Tuhan menandainya dengan rasa cemas karena akan menutup buku kehidupan yang entah kapan.

Tapi begitulah. Menjadi tua adalah keniscayaan, yang mungkin hanya bisa dinikmati dengan menyeruput secangkir susu cokelat hangat dan biskuit di pagi hari. Di bawah pohon mangga, bersama sahabat-sahabat yang tersisa.

***

>> Momen indah pagi ini. Melihat Ayah dan sahabat-sahabat lansianya asyik bercengkerama di halaman rumah.. Long life, Old Men! 🙂

Tentang Tanggal Lahir Kamu yang Sulit Dilupakan

KAMU? Iyaaa..kamuuu.. 😀

Saya patut bersyukur. Allah menganugerahi saya satu hal yang mungkin nggak semua orang punya. Hmmm…mungkin ada banyak juga orang yang punya hal satu ini, tapi itu lebih karena kecerdasannya yang super. Inget hampir semua hal. Kalo saya sih, aslinya pelupa. Haha. Tapi kenapa untuk yang satu ini saya suka inget ya? Mungkin saya sangat menghayati kuliah tentang “Memory” pas jaman kuliah Psikologi dulu. Yang kalo sesuatu itu diulang-ulang (rehearsal), akan masuk ke Long Term Memory dan nempel di ingatan untuk waktu yang lama, bahkan selamanya. Atau…apa karena saya termasuk tipe romantis melankolis? 😀

Apapun itu, baiknya saya bocorin aja soal anugerah yang satu itu, ya. *udah kayak anugerah blogger Indonesia aja.. (emang ada?) 😀 *. Continue reading