Apa Jadinya Hidup Ini Tanpa Rumah Makan Padang?

Haha! Itu komen salah seorang teman saya di FB, mas Mukti Ali, waktu saya meng-upload foto sebuah rumah makan sederhana yang membuat saya langsung jatuh cinta. Sungguh sebuah komen yang membuat saya merenung dalam-dalam. #eeaaak Iya ya, apa jadinya hidup ini tanpa rumah makan Padang?Hmmm..

Coba, rumah makan dari daerah mana lagi yang bisa menyaingi persebaran menu kuah santan dan aneka sambal secara massif di seantero Indonesia –bahkan sampai ke luar negeri- selain rumah makan dari Sumatera Barat ini? Dan uniknya, menu yang tersaji (hampir) selalu cocok di lidah siapa saja. Sampai-sampai salah satu menu andalannya, rendang, pernah dinobatkan jadi makanan paling enak sedunia. Fakta yang menjadi kabar gembira untuk kita semua. Dan saya cuma bisa bilang “Huwooow! Sungguh pemenang kuliner tiada tanding!” 😀

Tapi sebenarnya lihat-lihat rumah makan Padang-nya juga. Tak semua rumah makan Padang menu-menunya asli dimasak oleh orang Minang dan terasa lezat di lidah. Kenapa harus orang Minang yang memasaknya? Entahlah. Anggap saja itu teori non empiris dari saya, sebagaimana saya yang haqqul yaqin kalau Mie Aceh itu cuma enak kalau dimasak oleh orang Aceh dan masakan Mandailing itu baru lezat kalau dimasak oleh orang-orang yang bermarga Mandailing. Haha!

Harap diingat, nama besar sebuah rumah makan Padang belum tentu menjamin kualitas rasanya yang asli enak. Sepanjang hidup saya dalam mencicip rumah makan-rumah makan Padang ini, tak semuanya berkesan di lidah, meski itu rumah makan Padang yang sudah bernama besar sekalipun. Entahlah. Paling-paling saya kembali pada kesimpulan kalau kelezatan makanan itu relatif. Sebaliknya, rumah makan Padang yang dari luar tampak sederhana belum tentu menyajikan rasa yang sederhana pula.

Siang kemarin contohnya. Saya tak menyangka kalau rumah makan “Saiyo” yang sederhana ini memiliki rasa kuliner yang mengesankan di lidah. Awalnya saya pikir pasti rasanya biasa saja, sebagaimana rumah makan Padang lain. Ada ayam gulai, rendang, ayam panggang, ikan goreng sambal, sayur gori/nangka muda, dan sebagainya. Biasanya saya tak selalu antusias kalau diajak ke rumah makan Padang. Yaiyalah…suami saya kan orang Bukittinggi dan mama mertua saya suka menyajikan menu a la rumah makan Padang hampir setiap harinya di rumah kalau kami pulang ke Medan. Kurang lebih yaah..sudah agak bosan sebenarnya. Hehehe…

Sambil melihat menu dari balik steling, saya sudah ambil ancang-ancang untuk memilih menu yang “aman”; ayam bakar. Sebagaimana biasanya di rumah makan Padang, piring-piring lauk yang dibawa bertingkat-tingkat di lengan pelayan itu segera terhidang begitu kami duduk. Dari sekian macam menu, tersajilah dua potong besar ikan yang tampaknya di-asam padeh (asam pedas). Waktu tahu itu ikan patin, saya langsung bersemangat. Itu salah satu ikan favorit saya yang selalu enak kalau diasam padeh. Biasanya mama mertua saya yang suka memasaknya. Maka jadilah, demi menuntaskan kerinduan pada ikan patin, saya mengambil sepotong.

Pas sampai di lidah…hmmm…maknyus tak terkira. Nikmatnyaaa.. Saya cicip juga dendeng balado yang dipilih suami. Dendeng bukan sembarang dendeng. Dendengnya berupa sepotong besar daging empuk dengan sambalnya yang merah berminyak menggugah selera. Ditambah terung sambal hijau dan kerupuk emping kesukaan saya, lengkaplah sudah nuansa “surgawi” pada makan siang kali ini. Saya sampai bertambah…hmmm…dua kali! Meski nasi tambahnya hanya setengah sendok nasi. Itupun karena masih ingat berat badan dan tak ingin terlalu kenyang. Hahaha.. Kalau perut ini mau dituruti, waaahh…bisa-bisa saya tak berhenti makan sebelum nasi di “cambong”nya itu habis!

Di rumah makan Padang, memang tak perlu banyak sekali aneka lauk yang dinikmati di satu piring. Cukup satu, dua atau tiga menu saja dan ditambah kerupuk, maka cukuplah. Saya termasuk yang agak sulit menikmati lauk di rumah makan Padang kalau tak benar-benar pas di lidah. Kalaupun nasi dan lauk di piring saya habis, itu karena sayang kalau bersisa. Haha… Kalaupun enak sewaktu makannya, tapi seringkali tak berkesan sehingga ingin kembali makan di sana. Nikmatnya hanya sampai di lidah, begitu kira-kira.

Dari sekian banyak rumah makan Padang yang pernah saya kunjungi, saya cuma punya beberapa nama rumah makan Padang yang nikmatnya sampai ke hati. 😀 Artinya, saya tak bakalan bosan kalau sering diajak ke situ. Berikut ini daftarnya:

  1. Rumah Makan “Nasi Kapau Uni Emi”, Medan

Dibanding rumah makan besar lain yang banyak di kota Medan, bagi saya, ini juaranya. Setiap pulang ke Medan, saya dan keluarga suka makan di sini. Menu langganan saya selalu dan belum berubah; Gulai kikil, ayam pop goreng, dan sesekali bebek cabai hijau (itiak lado mudo). Jangan lupa kerupuk jangeknya yang cihuy. Itu saja sudah mantap!

  1. Rumah Makan “Lamun Ombak”, Padang

Ini rumah makan yang terkenal di Padang. Saya memang baru sekali ke sini, waktu ke Padang, Maret tahun lalu. Meskipun baru sekali, tapi udang sambalnya cukup bikin kangen. Kalau ke Padang, inginnya sih balik lagi ke sini.

  1. Rumah Makan “Keluarga”, Teluk Kabung, Bungus

Rumah makan spesial yang satu ini sudah saya tuliskan di artikel tersendiri. “Perjuangan” menemukan rumah makan ini karena gulai kepala ikan kakapnya yang bikin penasaran, menyisakan kerinduan untuk kembali ke sana. Lokasi rumah makan ini melewati Teluk Bayur, tak seberapa jauh dari Padang. Ah, lengkapnya sila baca di sini saja ya. 🙂

dok. AFR

dok. AFR

  1. Rumah Makan “Saiyo”, Bagan Siapi-Api

Nah, ini dia rumah makan yang menu ikan patin dan dendeng baladonya saya ceritakan di atas. Siang kemarin saya dan suami ke sini atas rekomendasi seorang teman. Setelah beberapa kali berkunjung ke kota ini, akhirnya menemukan rumah makan Padang yang memenuhi standar lezat lidah saya. Haha! Tampilan boleh sederhana, tapi soal rasa boleh diadu..hehe.. *Omong-omong, tahu kan ya, Bagan Siapi-Api itu di provinsi mana? 😀

dok. AFR

dok. AFR

Yak! Cukup empat rumah makan Padang itu saja yang berada di top list. Karena baru keempat rumah makan itu yang kesannya menempel kuat di sanubari. *halah* 😀 Selebihnya, enak juga kok. Sebutlah RM Garuda-Medan, RM Simpang Raya-Bukittinggi, Nasi Kapau Uni Lis-Bukittinggi, RM Bu Mus-Bandung, dsb. Saya belum sebut semuanya. Lupa, karena saking sudah banyaknya rumah makan Padang yang saya cicip di mana-mana. Hahaha. Iyalah, kalau lidah sedang bosan atau tak cocok dengan rasa makanan daerah tujuan, apa lagi yang dicari selain rumah makan Padang? 😀

Itu pilihan rumah makan Padang saya. Kalau kamu? 😉

18 thoughts on “Apa Jadinya Hidup Ini Tanpa Rumah Makan Padang?

  1. aarrkkk…aku pertama kali kenal nasi padnag itu tahun 2010 pas ngajar di Malang,nah,pas di Batam,mulailah kenal, suamiku suka banget soalnya hahaha. kalau di Batam kami seringya cobain warung2 nasi padang, yang paling endes warung deket rumah, RM Padang yang lumayan itu salera basamo. kalo pulang pasti jadwal makasinya kesini2 aja hahahaha….pingin banget makan nasi padang di PAdang,pingin tau aja rasanya^^

  2. bener mbaaa…RM Padang itu enak tiada tara.. iya sih ga semuanya… tp menurutku yg enak itu y di sumatra baratnya sana :D… aku baru 2x k Bukittinggi…jd referensi RM Padang yg enaknya blm banyak..Dibanding Lamun Ombak sih, aku lebih suka RM Pak dato :D.. Lebih berasa bumbu2nya… Mungkin jg krn Lmun ombak kbnyakan ikan, dan aku ga suka ikan ;p

    • Hahah..iyaa..RM sederhana sih cuma namanya aja yg sederhanaa, mas Choirul..harganya mewah..hihihi..RM sederhana kan cabangnya ada di mana2, jd aku pernah nyoba sekali di Rantauprapat, beberapa jam dari Medan. Rasanya biasa aja sih. Buatku sih ga bikin pengen makan di sana lagi. Tapi entah ya kalo yg di Jakarta..mungkin lebih enak.. 🙂

    • Oh ya..kalo di Padang emang gada RM padang, mas..hihi..sama kayak satenya, gada dibilang sate padang..hehe..Nasi Kapau itu ya termasuk RM padang juga, karena menunya kan serba kuah santan dan sambal2an khas kuliner Sumatera Barat 🙂

  3. Tanpa rumah makan padang, bagaikan pelangi yg kehilangan satu warnanya…aseg..
    Daku jg suka bgd mak. Di jombang ada sih yg lumayan. Tp mash enak yg di malang.
    Tfs ya mak 🙂

    • Hahaha..jadi mejikuhibini aja tanpa “u” ya, mbak Inda.. 😀 iya, makan di RM padang itu tergantung selera masing2 sih ya..ga bisa disamain kadang..

      Makasih juga udah mampir, mbak.. 🙂

  4. Belum pernah makan di rumah makan padang yang disebutin di atas, paling keren di Jakarta tuh menurut aku: Sari Raso, Sari Bundo, Sederhana ……huaaaaah jadi ngiler 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s