Liburan Asyik a la Dusun Bambu

KALAU mau jujur ya, sebenarnya tempat wisata ini termasuk mainstream juga untuk ukuran Lembang dan sekitarnya. Ada area persawahan, ada danau buatan, ada saung-saung, ada restoran sunda, dan ada shuttle car yang akan membawa pengunjung ke area utama. Dibilang biasa sih nggak, karena masing-masing tempat wisata yang seperti ini punya daya tariknya tersendiri.

Alam yang indah, sudah pasti. Alam indah yang dikelola secara kreatif oleh pihak developernya. Serba artifisial sih sebenarnya, tapi sungguh disulap menjadi surga wisata yang indah. Sama sekali tak salah jika itu untuk kepentingan pariwisata. Toh, masyarakat juga sangat terhibur dengan adanya objek-objek wisata serupa itu. Coba, mana ada lokasi wisata seperti itu di kota besar? Adanya tempat-tempat wisata bernuansa kampung dan alami itulah yang selalu dirindukan pengunjung dari kota yang senantiasa padat dan sibuk. Rehat sejenak menikmati santap siang sambil ditemani angin semilir yang sejuk di tepian danau, uughh…siapa yang tak mau?

Mungkin alasan itu juga yang membuat Nanguda mengajak saya dan suami ke Dusun Bambu, salah satu tempat wisata yang tergolong baru di Lembang. Selain karena sama-sama belum pernah dan sama-sama penasaran juga sih. Hehehe… Berangkat pukul 10 pagi, kami baru sampai menjelang Zuhur, setelah sebelumnya ke sentra oleh-oleh sejenak. Di perjalanan, sempat diiringi hujan pula. Jalanan yang menanjak dan berbelok-belok itu terasa panjang kala kami belum juga menjumpai objek wisata itu.

Jalan masuk dari gerbang utama menuju parkiran

Jalan masuk dari gerbang utama menuju parkiran

“Memang tempatnya jauh,” kata Kiki, sepupu saya, sambil menyetir.

Ya, tempatnya memang terasa jauh di kala perut sudah minta jatah makan siang. Hehe.. Di pertengahan jalan, saya melihat restoran Sapu Lidi dan Kampung Daun yang sudah lebih dulu nge-hits itu. Saya lupa apakah saya sudah pernah ke Sapu Lidi. Tapi ke Kampung Daun jelas belum, karena seingat saya sepupu saya yang lain mempromosikannya waktu itu dan saya cuma bisa ngiler. Pas saya lihat foto-fotonya di sana, memang bagus tempatnya. Asri.

Lewat dua restoran itu, beberapa kali papan petunjuk menginformasikan lokasi Dusun Bambu yang tak jauh lagi. Mulai dari beberapa kilometer sampai beberapa ratus meter saja. Tiba-tiba saya tertawa kecil karena mengingat pengalaman yang sama waktu menuju restoran Pringsewu, dalam perjalanan menuju Yogyakarta dari Bandung, di tahun 2003 lalu. Dari jarak berpuluh kilometer, sudah banyak plang yang menginformasikan lokasi Pring Sewu sekian kilometer lagi, sekian kilometer lagi, begitu terus. Sukses membuat orang-orang penasaran. Pokoknya sepuluh jempol buat teknik marketingnya. 😀

Maka Dusun Bambu inipun tampaknya menggunakan teknik marketing yang sama. Setelah penantian panjang a la orang yang merindukan makan siang *halah*, akhirnya kami sampai juga di Dusun Bambu, Family Leisure Park. Dari pintu masuknya ternyata masih cukup jauh ke area parkir. Bikin penasaran saja. Haha. Oh ya, sebelum masuk ke area parkir, pengunjung dikenakan tiket masuk -kalau tidak salah ingat-  Rp 15.000,- per orang (anak kurang dari 3 tahun gratis) dan mobil Rp 10.000,-. Begitu sampai di area parkirnya, wah…ternyata pengunjung sudah ramai! Kami sendiri nyaris tidak dapat tempat parkir. Alhamdulillah, masih tersisa satu di ujung. Dan syukurlah, hujan yang tadi mengguyur tinggal menyisakan gerimis yang turun satu-satu.

Batang-batang bambu yang tersusun secara artistik di pintu gerbangnya

Batang-batang bambu yang tersusun secara artistik di pintu gerbangnya

Lalu di mana tempat indah dan menariknya? Oh, barulah saya tahu kalau tempat ini juga memakai shuttle car ketika melihat antrean orang-orang di dekat situ. Namanya wara-wiri. Mobil jenis Daihatsu Luxio yang disulap jadi kendaraan antar jemput pengunjung dari tempat parkir sampai ke dalam area utama. Sesuai namanya, mobil-mobil berhias warna-warni ini wara-wiri setiap beberapa menit. Mungkin di hari itu nyaris tanpa jeda karena melihat ramainya pengunjung. Mobil sejenis ini pernah saya lihat juga di Kawah Putih Ciwidey. Bedanya, wara-wiri terkesan lebih lucu dan menarik! 😀

Di sebelah shuttle car itu, ada area persawahan buatan yang luasnya lumayan. Dibilang buatan rasanya kurang tepat juga karena padinya asli. Hihihi. Ada saung, pancuran dan sungai kecilnya juga. Spot ini asyik buat dijadikan latar belakang foto. Saya dan suami tak mau ketinggalan. Mencoba bergaya di dekat pancuran. Halah…padahal di kampung tempat tinggal kami juga banyak yang seperti ini. Hahaha… Bedanya, yang ini pematangnya terkesan lebih bersih. Yaiyalah, neng…ini untuk objek wisataaa.. 😀 Dari area persawahan ini kita juga bisa jalan kaki ke area utama di dalam. Tapi kami memilih menunggu wara-wiri saja. Pengen aja ngerasain serunya naik wara-wiri. *padahal bilang aja lagi males jalan kaki. Hihihi…(jangan ditiru!)

Sesampainya wara-wiri ke area utama yang berpusat di Pasar Khatulistiwa (yang tragisnya saya justru belum masuk ke siniii..hiks..), kami disambut karya seni bambu yang artistik. Karya seni ini juga ada di dekat shuttle car di bawah tadi. Batang-batang bambu yang disusun sedemikian rupa hingga menghasilkan bangunan serupa menara. Bolehlah untuk dijadikan background foto (lagi). 😀

Ini dia yang namanya Wara-wiri ^^

Ini dia yang namanya Wara-wiri ^^

Terus, ada apa aja sih di Dusun Bambu?

Di sana ternyata ada restoran yang menyediakan menu buffet sampai jam 3 sore. Namanya Restoran Burangrang. Untuk bisa menikmati buffet, biaya per orangnya Rp 150.000,- Harga yang lumayan mahal untuk bisa menikmati beragam makanan a la hotel berbintang. Di atas restoran itulah Pasar Khatulistiwa yang menjual aneka sayuran dan buah segar serta beragam souvenir. Di sekeliling Pasar Khatulistiwa itu, ada semacam food court yang menjual beragam kuliner khas Sunda. Makan di food court dan beberapa tempat lain di sekitarnya ini memakai sistem voucher yang bila tidak habis dipakai, bisa di-refund.

Kami baru tahu penggunaan voucher ini waktu ingin mencicip sosis bakar yang stannya ada di jalan menuju restoran Burangrang. Jangan ditanya rasa sosis bakarnya. Hmmmm…maknyuuss, sodara-sodara! Ini beda dengan sosis kemasan itu! 😀 Selain sosis bakar, ada juga jagung bakar, dan beberapa penganan kecil lain yang saya lupa apa saja.

Sebelum ke restoran Burangrang itu, kami sebenarnya ingin makan di Saung Purbasari, berupa deretan pondok-pondok bambu yang berfungsi sebagai tempat makan yang berlokasi di tepi danau. Tapi ternyata saung-saung apik ini sudah penuh dan kami harus menunggu giliran selama 2 jam! Aiihh…tak mungkin kami menunggu selama itu di saat perut sudah lapar. Maka restoran Burangrang dengan menu buffet-nya pun jadi pilihan. Untuk ini, saya dan suami ditraktir. Asik! 😀

Ada live music a la Sunda-nya juga

Ada live music a la Sunda-nya juga

Di dalam restoran, saya hampir kalap waktu melihat sajian menunya. Waahh..semua tampak lezat di saat perut lapar berat begini. Tapi saya berusaha untuk tetap lapar dengan elegan. Hehehe.. Mencomot satu-satu buah potong dan kuenya dulu. Hmmm…enak! Lalu saya ambil pasta, daging steak, kentang goreng, dan macam-macam lagi sampai saya lupa saking beraneka ragamnya. Semua dalam porsi kecil. Kelihatan sekali mau mencicip semuanya. Hahaha… Iyalah, menu buffet sayang untuk dilewatkan. Setelah menu a la barat, barulah mendekat ke meja yang menyajikan mie kocok Bandung dan lumpia. Huwaahh…serius enak iniii. Tumis daging bulgoginya juga enaakk, karena ditumis langsung di tempat sehingga disajikan panas-panas. Pokoknya semua enak! Alhamdulillah, rasanya sesuai dengan harganya. 🙂

Setelah kenyang dan waktu sudah menunjukkan pukul 15 teng -yang menandakan waktu menu buffet-nya sudah habis dan selanjutnya pemesanan makanan dengan cara biasa- kami berlima (saya, suami, udak, nanguda, Kiki) turun ke bawah, memandangi danau yang tampak bagus sekali bila diabadikan. Maka sesi selanjutnya teteeepp…foto-foto! 😀 Di danau itu, ada Sampan Sangkuriang yang bisa dinaiki. Juga, balon air raksasa. Sayang, saya tak sempat menikmati. Selain sudah sore, pengunjung yang mengantre sudah banyak.

Ada statue men yang menyapa pengunjung dengan musiknya. Diajak foto bareng juga bisa :-D

Ada statue men yang menyapa pengunjung dengan musiknya. Diajak foto bareng juga bisa 😀

Saya telat tahu. Ternyata di Dusun Bambu ini yang ada bukan cuma Restoran Burangrang, Pasar Khatulistiwa, Saung Purbasari dan Sampan Sangkuriang saja. Ada banyaaak lagi area yang bisa dikunjungi. Ada Lutung Kasarung, Camping Ground, Tegal Pangulinan, Balad Lodaya dan Kampung Layung yang merupakan area cottage a la dusun dengan fasilitas kota. Weh! Sayang, saya tak sempat melihatnya. Mungkin harus kembali lain kali. Hiks.. Untuk review lengkap area-area yang belum saya kunjungi itu, bisa dibaca di sini.

Cukup puas menikmati Restoran Burangrang, Saung Purbasari, dan sekitarnya, sekira pukul 4 kami sudah bergerak pulang. Saya sebenarnya ingin ke Lutung Kasarung itu, yang berupa kapsul-kapsul yang terbungkus ranting-ranting pohon yang unik sekali. Tapi yaah, mesti sudah mengantre wara-wiri. Jalanan yang ramai sepulang dari Lembang -maklum, karena saat itu hari Sabtu- membuat kami baru sampai di pusat kota hampir pukul 6 sore. Malam itu adalah malam terakhir kunjungan kami ke Bandung. Esoknya, kami sudah harus sampai bandara pada pukul 7 pagi. Untuk kunjungan kali ini, Cihampelas Walk dan Dusun Bambu-nya terasa sangat berkesan. Semoga kapan-kapan ke Bandung lagi bisa mengunjungi tempat lainnya ya.. aamiin.. 🙂

Tenang dan damai, ditemani angin sejuk semilir..weh!

Tenang dan damai, ditemani angin sejuk semilir..weh!

***

Foto-foto ekstranya nih! 😀

This slideshow requires JavaScript.

 

Dusun Bambu

Jl. Kolonel Masturi Km. 11, Situ Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat 40551, Indonesia
Telepon:+62 22 82782020

7 thoughts on “Liburan Asyik a la Dusun Bambu

  1. pingin baget kesini,perta makli lihat pas ramadhan tahun lalu,beberapa ustadz tausiyah disini..sejuk,damai rasanya. Pinginnya nginep di situ tuh,samping danau,seru kali ya hahaha

    • Wah..pernah masuk tipi ya? Aku aja baru tahu kemaren itu, mbak..hahaha..katanya sih emang baru buka setahun ini..

      Yang di tepi danau itu cuma buat tempat makan, mbak..cottage-nya ada di area lain. Tapi iya..gelar tiker di tepi danau itu aja sampe pagi kayaknya asik ya.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s