Menggantung Mimpi di Benua Biru

IMPIAN saya banyak. Sungguh banyak. Saya adalah pemimpi sejati, yang bila impian-impiannya dituliskan, akan berderet panjang. Bila saya menulis impian menjadi penulis terkenal yang karya-karyanya selalu best seller, ya, itu sudah masuk ke kotak impian saya, tanpa perlu saya jabarkan lagi. Menjadi psikolog andal dan mampu mengelola biro psikologi warisan ayah sampai sukses? Tentu. Itu sudah mulai dilakukan, meski jalannya lambat. Hehe… Maklum, saya masih belajar. Tapi yang satu ini, adalah impian yang perlu saya ceritakan. Satu impian yang memengaruhi munculnya impian yang lain.

Mungkin sejak saya kecanduan membaca tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, benua Eropa jadi makin terlihat bening di mata saya. Sebuah benua yang sudah saya impi-impikan sejak zaman sekolah dulu. Ada suatu saat yang kalau mengingatnya, saya suka senyum-senyum sendiri. Waktu kelas 2 SMA dulu, saya suka ke perpustakaan sekolah. Di sana, ada satu buku yang begitu menarik perhatian saya. Buku ensiklopedia tentang Venezia atau Venice, kota gondola di Italia. Mengamati gambar-gambar indahnya nan romantis itu, hati dan pikiran saya terbius. Duh, kapan ya, bisa jalan-jalan ke sana? Saking terhipnotisnya dengan gambar-gambar apik di buku itu, saya sampai mencipta sebuah puisi romantis, khusus untuk Venezia. πŸ˜€

Impian ke Venezia lalu menular ke seluruh negara di Eropa. Indahnya bunga tulip di Belanda, Asyiknya main ski di Swiss, menikmati suasana kerajaan di Inggris, menikmati indahnya Paris dari ketinggian menara Eiffel, dan wisata sejarah perang dunia di Jerman. Ah ya, juga eksotisnya museum dan bangunan-bangunan bersejarah di Roma, Wina, Praha, Yunani, dan menelusuri jejak-jejak kejayaan Islam di Spanyol. Lalu terbetiklah sebuah impian besar; saya mau ke Eropa! Benua biru yang menyimpan misteri, kekelaman sekaligus kejayaannya. Benua dingin yang tampak angkuh, namun tetap saja menerbitkan rasa ingin berkunjung bagi siapa saja yang baru bisa melihatnya dari selembar foto.

Maka, seperti Ikal, saya pun bermimpi bisa bersekolah di sana. Ya, mengambil kuliah magister atau doktoral. Impian yang agaknya hanya bisa diraih lewat beasiswa. Soal beasiswa-beasiswaan ini, saya selalu kagum sekaligus menaruh iri pada mereka yang bersekolah di sana lewat jalur beasiswa. Apalagi bisa tinggal sementara di sana dengan pasangan atau keluarga. Waahh..rasanya seru dan asyik sekali! Membayangkan diri ini bisa kuliah lagi dengan ditemani suami. Wow!

Maka dari keinginan sekadar mengunjungi Eropa, berkembang menjadi keinginan untuk bisa mencicip rasa pendidikan di sana. Sampai-sampai saya sudah menentukan ingin berkuliah di mana. Universitaat Leipzig (Leipzig University), Jerman. Universitas tertua kedua di Jerman setelah Ruprecht Karl Universitaat Heidelberg. Tempat pertama kalinya laboratorium Psikologi didirikan. Kalau disandingkan dengan kenyataan saat ini, impian itu terasa begitu jauh, hampir-hampir mustahil. Bagaimana tidak? Saya bukanlah staf pengajar di universitas tertentu. Empat tahun yang lalu, saya sudah memutuskan untuk berhenti menjadi akademisi. Namun tetap saja, saya berkeyakinan, entah bagaimanapun caranya, saya akan bisa menimba ilmu di sana.

Tapi tentu, saya harus realistis juga, bukan? Impian seperti itu perlu dukungan penuh keluarga. Itupun akan mungkin terjadi kalau saya dan suami bisa bersama-sama di sana. Kalau tidak, yah..mau tak mau, benua Eropa dengan Jerman-nya selamanya hanya cocok dijadikan tempat wisata. Apalah artinya sekolah tinggi tapi berjauhan dengan keluarga yang ujung-ujungnya bisa membuat hubungan tak lagi dekat dan harmonis? Maka jadilah, alternatif lain adalah bersekolah di Indonesia saja. Yang penting kembali lagi ke dunia akademik. Bermanfaat bagi sesama lewat ilmu yang berguna tentu lebih utama. πŸ™‚

Belum banyak ancang-ancang dan persiapan yang saya lakukan untuk bisa mewujudkan impian bersekolah lagi itu. Saya pun tak muluk-muluk dan terobsesi untuk mewujudkannya sesegera mungkin. Tapi jalan ke sana agaknya mulai nampak titik terangnya ketika seorang teman menawarkan posisi sebagai staf pengajar di salah satu universitas di Medan. Universitas itu berencana akan membuka program studi Psikologi, yang pastinya membutuhkan cukup banyak staf pengajar. Tawaran itu langsung saya terima. Siapa tahu, mungkin dari situlah jalan awal saya menuju impian.

Impian saya itu memang besar, yang hanya bisa diwujudkan dengan niat dan tekad yang besar. Tapi ada satu impian lain yang menjadi prioritas saat ini; menambah anggota keluarga agar kebahagiaan berumahtangga semakin lengkap. Sempat dua kali mengalami keguguran, Alhamdulillah tak membuat saya patah semangat. Saya patut bersyukur, dianugerahi suami dan keluarga yang senantiasa mendukung penuh dan percaya bahwa di suatu saat yang telah ditentukanNya nanti, saya akan bisa menjadi seorang ibu. Dengan kekuatan cinta dan doa merekalah saya tetap bisa tegar menghadapi berbagai prasangka, gunjingan, sindiran, dan segala hal tak mengenakkan lainnya, yang justru datang dari orang lain. Saya hanya anggap itu sebagai ujian kesabaran bagi kami. Di saat pasangan yang lain diuji dengan kesulitan finansial atau hubungan yang tidak harmonis dengan mertua, Alhamdulillah, saya dan suami β€œdiuji” dengan kecukupan rezeki (yang semoga halal dan berkah) dan keluarga besar yang harmonis.

Rezeki yang akhirnya mengantarkan kami ke tanah suci untuk berumrah, demi memohon ampunan dan ridhoNya. Di sanalah segala keluh kesah dan gundah gulana diadukan. Di sanalah pada akhirnya ketenteraman hati dan kebahagiaan sejati itu ditemukan. Di sanalah saya sebagai manusia yang lemah ini sadar, betapa agung dan dahsyat cinta Allah untuk para hambaNya. Bahwa semua adalah atas kehendakNya. Tidak ada seorang makhluk pun yang kuasa untuk mengubah takdir yang sudah termaktub di Lauh Mahfuzh. Tugas manusia hanyalah menjalani takdirnya dengan terus berusaha dan tanpa putus berdoa. Di sanalah segala permasalahan di dunia seolah tanpa arti. Hanya ada cintaNya yang senantiasa melingkupi. Sembari bertawakkal, saya dan suami pun tak putus berusaha dan berdoa. Kami yakin, impian yang satu ini akan segera terwujud, sesuai kehendakNya.

Yang pasti, saya akan terus memelihara impian-impian besar saya itu. Dengan menuliskan ini, setidaknya saya sudah selangkah lebih maju untuk berusaha mewujudkannya. Menuliskan impian agar terus terpatri di dalam pikiran. Yakin bahwa semuanya kelak akan terwujud, satu demi satu, di saat yang tepat. Bila bukan hari ini, mungkin nanti. Bilapun tampak tak terwujud, akan digantiNya dengan yang lebih baik. Saya hanya perlu percaya, bahwa Allah adalah Sang Maha Pengabul Doa.

***

Postingan ini diikutsertakan dalamΒ #evrinaspGiveaway: WujudkanΒ Impian Mu

GA.Evrina

10 thoughts on “Menggantung Mimpi di Benua Biru

  1. Pingback: Daftar Peserta #evrinaspGiveaway | Evrina Budiastuti

  2. aamiin yra, aih mak germany, mak saya juga mau kuliah lagi, tapi kayanya di dalam negeri aja, saya belum sanggup kalau jauh dari keluarga juga. semoga cita2nya tercapai ya. aamiin. terimakasih atas partisipasinya

  3. impianku malah pengen keliling dunia mba… ini semua gara2 suami yg dari bayi udh kliling dunia krn mertua diplomat… Dan stelah nikah aku ikut kecipratan walopun blm sebanyak dia yg dikunjungi..Tapi dari situ, jd pgn pergi lagi stiap thn k tempat2 yg blm pernah didatangi… πŸ˜€

    Semuakan berawl dari mimpi ya… yakin pasti bisa kalo memang selalu diusahakan dan diniatin πŸ™‚

    • Waaa..asiknyaaa..udah ke mana aja, maak? Itu cerita2 di artikel2nya asik2 tuh kayaknya..ntar aku mampir ya, mak..

      Iyaa..semua kalo udah diniatin in syaa Allah tercapai kan ya..aamiin.. πŸ™‚

  4. Pingback: 4 Tahun Sudah, Teruslah Menulis Mimpi | Menulis Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s