Ziarah di Ramahnya Kota Madinah

DSC_0605

Birunya langit menambah keindahan arsitektur Masjid Nabawi

BENAR kata orang-orang. Pengalaman selama di tanah suci, terkadang tak sanggup untuk diceritakan. Lebih indah untuk disimpan sendiri, diresapi di dalam hati, dikenang dalam ingatan, sambil terus bertasbih memujiNya.

Sedari kemarin, tangan saya terasa kaku untuk menulis tentang pengalaman selama seminggu di sana. Padahal saya ingin berbagi. Belum sampai 3 alinea, saya terhenti. Rasanya pengalaman-pengalaman sakral itu jadi terasa agak kurang nilainya jika diejawantahkan dalam tulisan, pun obrolan. Entahlah. Mungkin memang begitu. Jadi akhirnya saya tak ingin memaksakan diri. Kalaupun ada yang ingin saya tulis, hanya berupa penggalan-penggalan kisah yang bisa dengan ringan dibagi, antara lain berupa cerita saat city tour di kota Madinah, Makkah dan Jeddah. Sekadar ziarah ke beberapa tempat yang pernah dibangun atau dilalui Rasulullah SAW dan para sahabat, serta beberapa informasi yang semoga bermanfaat.

Baiklah. Saya akan mulai dengan berbagi sedikit tentang masjid Nabawi, masjid kedua yang dibangun Rasulullah Muhammad SAW di kota Madinah. Saya suka sekali berada di masjid ini. Auranya yang ramah, lembut dan menenteramkan mengingatkan saya akan kisah kaum Anshor yang menolong Rasulullah dan kaum muhajirin yang hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Aura masjid dan kota ini secara keseluruhan adalah gambaran Kaum Penolong itu, kaum Anshor. Terngiang syair yang dilantunkan kaum Anshor saat menyambut Rasululullah SAW dan pengikutnya yang baru saja sampai di gerbang kota.

Thala’al badru ‘alainaa

Min tsaniyyatil wadaa’

Wajabasyyukru ‘alainaa

Ma da’aa lillahi daa’

 

DSC_0624

Payung-payung besar khas Masjid Nabawi

Makam Rasululullah dan dua sahabatnya, Abu Bakar bin Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA berada di sebuah bangunan beratap hijau (green dome). Di dekat situlah Raudhah, salah satu tempat mustajab untuk berdoa, yang terletak antara rumah Nabi (sekarang makamnya) dengan mimbarnya. Tempatnya dialasi dengan karpet yang didominasi warna hijau, sebagai penanda batas Raudhah.

Waktu untuk para perempuan ke sana memang terbatas, ada jam-jam tertentu; waktu Dhuha dan selesai salat Isya. Semua jamaah perempuan dari seluruh dunia yang ingin berkunjung ke Raudhah harus bergiliran masuk. Bayangkan saja, ada ribuan jamaah yang ingin masuk, salat dan berdoa di tempat yang hanya berukuran sekitar 144 meter persegi. Meski sempat berdesak-desakan, tapi dengan keyakinan dan doa, in syaa Allah yang berniat akan kesampaian juga salat dan berdoa di sana.

Tak perlu saya jabarkan bagaimana perjuangan saya dan teman-teman serombongan masuk ke sana di saat bulan Maulid Nabi itu. Subhanallah…luar biasa. Yang terbayang saat di sana adalah sosok Rasululullah yang terasa begitu dekat. Mengundang keharuan begitu mengingat perjuangannya menyebarkan ajaran Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamiin ke seluruh penjuru negeri, hingga rela dibenci dan dijauhi. Rasulullah yang lembut, yang santun, yang sabar. Sang manusia mulia yang masih memikirkan umat di akhir hayatnya. Ah, takkan ada lagi manusia yang seperti kekasih Allah itu sampai akhir zaman kelak.

DSC_0621

Salah satu bagian dalam Masjid Nabawi dengan arsitekturnya yang memukau

Maka, beribadah di masjidnya memberi kesan tersendiri. Lihatlah bagaimana berbondong-bondongnya manusia dari segala penjuru, bergegas memasuki masjid begitu azan terdengar. Dan itu terjadi 5 kali dalam sehari. Buat saya, itu pemandangan yang luar biasa. Belum pernah saya berada di tempat di mana orang-orang mengayunkan langkah dengan begitu ringan ke rumahNya, selain di kota suci ini. Pastilah itu karena bunyi hadits Rasulullah yang menyatakan;

“Satu kali salat di masjidku ini, lebih besar pahalanya dari seribu kali salat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram. Dan satu kali salat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu kali salat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad)

Tapi sesungguhnya, tanpa mengingat-ingat ganjaran pahalanya pun, berada di masjid Nabawi berlama-lama sungguh menyenangkan. Keindahan arsitekturnya yang menawan, ciri khas payung-payung besarnya yang memukau, dan…air zamzamnya yang bebas diminum seberapa pun banyaknya. Memang, zam zam kini tak hanya ada di Makkah, tapi juga sudah dialirkan ke Madinah sehingga para jamaah yang beribadah di masjid Nabawi juga bisa mereguk kesegarannya. Alhamdulillah…

Waktu subuh adalah waktu yang menurut saya paling nikmat. Sehabis beribadah dan jalan kembali ke hotel bersama suami untuk sarapan, saya suka melihat-lihat sekitar sembari mengamati perubahan warna di langit Madinah. Semilir angin dingin yang berembus mengingatkan suhu udara yang saat itu berkisar belasan derajat celcius. Pagi pertama dan kedua, saya bertahan tidak mengenakan jaket. Merasa cukup dengan pakaian tertutup yang saya kenakan. Tapi pada pagi berikutnya, saya menyerah. Ternyata kulit tropis saya belum mampu menahan udara dingin dengan hanya berlapiskan baju.

DSC_0623

Dispenser berisi air zam zam. Jamaah dapat minum air zam zam sepuasnya kapan saja di Masjid Nabawi

Hari ke-2 di Madinah, kami diajak tur keliling kota, berziarah ke tempat-tempat bersejarah di zaman Rasulullah SAW. Ada Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud, kompleks pemakaman Baqi (di mana isteri-isteri Rasulullah dimakamkan, kecuali Khadijah RA yang dimakamkan di pemakaman Ma’la, Makkah), percetakan mushaf Al Quran, sampai ke kebun kurma. Tak semua tempat bisa disambangi langsung, hanya dilewati saja. Malah kami tak jadi ke tempat percetakan mushaf Al Quran, karena waktu yang sudah dekat ke waktu Zuhur. Tapi setidaknya kami sempat turun dan mengabadikan Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun Rasululullah SAW di Madinah. Disunnahkan juga untuk shalat sunat di masjid ini. Kemudian di Jabal Uhud, tempat perang Uhud yang mensyahidkan banyak sahabat Nabi. Salah satu yang menjadi syuhada adalah pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib.

Tempat terakhir yang dikunjungi sebelum kembali ke masjid Nabawi untuk salat Zuhur adalah kebun kurma. Bagian depannya adalah toko yang menjual beragam jenis kurma, kacang-kacangan, cokelat, minyak zaitun, dan panganan lain yang biasa juga dijadikan oleh-oleh. Di sini, kita boleh mencicip kurma dan cokelat, asalkan permisi dulu pada penjualnya sambil bertanya, “Halal?” Baru setelah ia menjawab “Halal..” kita boleh memakannya. Ini aturan tak tertulis yang berlandaskan sopan santun saja 🙂 Untuk bertanya harga, jangan khawatir tak bisa berbahasa Arab. Mayoritas pedagang di sana bisa sedikit-sedikit berbahasa Indonesia. Bahkan ada beberapa penjualnya memang orang Indonesia. Ketika di sana, saya teringat dengan pesan Umak saya.

“Kalau beli kurma, cukup beli kurma Nabi yang jarang dijual di sini,” kata Umak sambil menyebut salah satu pasar di Medan yang biasa menjual barang-barang dari tanah suci.

Kamipun membeli beberapa kilo kurma Nabi untuk dijadikan oleh-oleh. Sebagai alat pembayaran, tentu saja memakai mata uang Riyal. Tapi asyiknya, uang rupiah juga laku di sana. Sediakan saja uang seratusan ribu, karena mereka lebih suka uang dengan nominal segitu. Dengan kalkulator, ia akan menghitung sesuai kurs yang berlaku saat itu. Malah kurs-nya lebih bagus di sana daripada bila mata uang mereka dibeli di Indonesia. Bila di tanah air 1 riyal = Rp 3.700,-, maka di sana 1 riyal bisa dihargai Rp 3.400,- Lebih untung membawa mata uang rupiah berarti. 😀

Suasana pasar kaki lima di sekitar Masjid Nabawi

Suasana pasar kaki lima di sekitar Masjid Nabawi

Memang, tujuan ke sana adalah untuk beribadah. Tapi berbelanja bukan juga hal yang dilarang selama tak berlebihan. Selain mall yang satu atap dengan hotel, di sekitar masjid Nabawi banyak pedagang-pedagang kaki lima yang menjual beragam makanan, souvenir dan barang-barang lain yang biasa dijadikan oleh-oleh. Atas saran seorang teman, saya dan suami berbelanja hanya di Madinah, karena di Makkah, harganya bisa lebih mahal, padahal barang yang dijual juga berasal dari Madinah. Lumayanlah, kami membeli beberapa jenis panganan dan souvenir untuk oleh-oleh. Secukupnya saja.

Tak terasa, rutinitas beribadah di masjid Nabawi harus diakhiri. Sebuah kunjungan yang terasa sangat singkat. Dalam 3 hari saja, sudah banyak kenangan manis yang tertinggal di sana. Entah kapan saya bisa kembali mengunjungi kota suci yang ramah ini. Tapi perjalanan sesungguhnya baru akan dimulai. Berumrah di Masjidil Haram. Maka pada Selasa, ba’da Zuhur (6/1) kami bertolak ke Makkah dalam keadaan sudah berihram untuk kemudian mengambil miqat di masjid Bir ‘Ali, kira-kira setengah jam dari Madinah. Selesai shalat sunat ihram di masjid itu dan berniat umrah, kami pun bertalbiyah menuju rumahNya yang mulia.

Labbaik Allaahumma labbaiik..

Aku penuhi panggilanMu, Ya Allah…

Suasana Subuh yang dirindukan di Masjid Nabawi

Suasana Subuh yang dirindukan di Masjid Nabawi

***

16 thoughts on “Ziarah di Ramahnya Kota Madinah

    • Aamiin yaa robbal ‘alamiin..yakin aja suatu saat nanti bisa juga ke sana ya, mas Ahmed.. 🙂

      Iya, saya juga baru denger ada penjual bakso di Jeddah..tp ga ke sana sih..karena taunya udah telat.. 😀 Btw saya malah suka makanan ala Arab di sana. Kalo bakso sih, di sini juga banyak kan..hehe..

  1. merindiiiingg..
    baru ini baca catatan orang ke Baitulloh, selebihnya cuman dari mulut aja.
    Mudah-mudahan bisa kembali ke sana, ya Mbak Nisa.
    Mudah2an aku jg bisa ke sana. Aamiin..

    Bawa ruthob nggak mbak nisaaaaaa? kurma yang belum mateng ituuu ^^

    • Aamiin Ya Allah..iyaa, pengen ke sana lagiii..semoga mbak Nisa bisa ke sana juga yaa..yakin aja, mbak..aamiin.. 🙂

      Ehehe..kurma muda? Udah langsung dimakan di sana. Tp cm dikit, ternyata yg banyak itu pas musimnya di bulan Agustus..pas haji dong berarti..yg dibawa pulang ya yg udah kemasan dlm bentuk bubuk, mbak..diminum pake madu plus air hangat.. *komplit ya sampe pake tutorial 😁

  2. Assalamu’alaikum….
    Lama ditunggu oleh2 nya !! Baru sekarang di-share.
    Enak sekali baca tulisan ini, foto2 nya juga ok.

    Ahh…Madinatul munawwarah, kota yang paling dicintai Rasulullah…

    Nisa, salam buat Rizka ya….

    Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s