Ke Tanah Suci, Mau Apa?

Transit di KLIA

Transit di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) (dok. AFR)

“Tak ada sesuatu yang lebih nikmat di dunia ini selain salat di Masjidil Haram.”

Kata-kata saudara saya yang kala itu baru pulang dari menunaikan ibadah haji masih terus terngiang di pendengaran saya. Saya tertegun ketika mendengar kalimat yang terasa sakral dan seperti jauh di awang-awang itu. Duhai, benarkah tak ada kenikmatan lain di dunia ini selain bersembah sujud padaNya di Masjidil Haram?

Saya suka travelling, dan bercita-cita bila suatu saat nanti saya bisa menginjakkan kaki di Eropa, benua yang saya impi-impikan untuk saya kunjungi. Sampai kini, keinginan itu belum terwujud. Tapi saya percaya, suatu saat nanti saya akan sampai juga di sana. Entah bagaimanapun caranya. Banyak hal, cukup dengan bermodal keyakinan kuat, akan tercapai. Sedari dulu, saya hanya bermodalkan keyakinan itu untuk mencapai sesuatu. Keyakinan yang kuat itu pada akhirnya akan mendorong timbulnya usaha yang maksimal untuk berhasil mencapainya. Ah, saya kira semua orang yang punya impian juga punya rumus yang sama.

Jadi kala suami mengajak saya untuk berumrah ke tanah suci sejak awal tahun 2014 lalu, saya mengiyakan saja. Alhamdulillah… Meski kala itu, mimpi ke Eropa masih mendominasi. Tapi saya penasaran juga dengan yang dinamakan tanah suci itu; Makkah dan Madinah. Seperti apa rasanya di sana? Jangan ditanya tentang bagaimana manasik atau tata cara ibadah umrahnya. Pengetahuan saya kala itu masih nol besar. Saya hanya tahu kalimat talbiyah yang syahdu ini;

Labbaik Allaahumma labbaik..

Labbaika laa syariika laka labbaik..

Innal hamda wanni’mata laka wal mulk..

Laa syariika lak..

Wawasan saya mulai terbuka ketika suami membelikan buku-buku tentang ibadah haji dan umrah. Dan ya, saya baru tahu bedanya haji dan umrah setelah membaca buku-buku itu. Seingat saya, saya pernah belajar tentang haji dan umrah saat sekolah dulu, malah sudah manasik waktu TK. Tapi yang namanya pengetahuan selintas lalu yang hanya untuk modal lulus ujian (atau ingatan saya yang lemot?), tata cara rukun Islam kelima itu pun menguap entah ke mana segera setelah lulus.

Syukurlah, sekarang banyak sekali bahan bacaan yang membantu saya untuk kembali memperkenalkan apa itu haji, apa itu umrah. Ditambah lagi panduan dari orangtua dan kerabat yang sudah lebih dulu berhaji atau berumrah, sehingga lebih memudahkan pemahaman.

Ketika mendaftar umrah, perasaan saya belum semenggebu suami. Saya memang ikut sibuk memikirkan mau mendaftar ke biro travel apa, tapi jauh di dalam hati saya, saya agak khawatir bila pergi ke tanah suci. Saya langsung sadar kalau sebagai manusia, saya banyak dosa. Saya jadi bergidik waktu mendengar cerita orang-orang, kalau di sana, ucapan dan perbuatan kita akan dibalas langsung oleh Allah. Kebiasaan selama ini akan semakin dinampakkan Allah di rumah sucinya. Perbuatan baik dibalas dengan yang baik, perbuatan buruk dibalas dengan…yah, hal yang buruk juga. Ditegur langsung, begitu.

Banyak cerita-cerita “ajaib” yang saya dengar sejak dulu tentang tanah suci. Baik dari pengalaman orangtua, kerabat, atau siapa saja yang bercerita tentang pengalamannya selama di sana, yang kesemuanya bermuara pada satu kalimat; betapa Mahakuasanya Allah, Tuhan semesta alam. Cerita-cerita itu lalu diakhiri dengan pesan moral; berhati-hatilah selama di tanah suci. Jaga mulut, jaga pikiran, jaga hati. Di sana, tidak boleh sembarangan omong, tidak boleh sembarangan laku, tidak boleh sesukanya bersikap. Lebih baik senantiasa berzikir, ingat padaNya. Subhanallah

Lalu entah kenapa, mungkin otak saya salah menafsirkan pesan dari kisah-kisah itu. Bertandang ke tanah haramNya jadi penuh kekhawatiran. Pengalaman apa yang akan menyambut saya di sana? Baikkah? Burukkah? Meski tentu terus saya coba tepiskan dengan beristighfar. Sebelum ke sana, saya berdoa mohon diluruskan niat agar ke sana semata-mata untuk memenuhi panggilanNya yang agung. Lillaahi ta’aala. Alhamdulillah, pelan-pelan hati saya mulai terasa nyaman. Kerinduan pada Makkah dan Madinah mulai muncul dan bertumbuh.

Jalan berliku menuju Ka'bah.. (dok. AFR)

Jalan berliku menuju Ka’bah.. (dok. AFR)

Setelah menjalani empat kali manasik dari biro travel yang kami pilih waktu itu, tibalah hari keberangkatan pada tanggal 14 Desember 2014. Tepat di hari ulang tahun pernikahan kami. Pikiran kami kala itu, ini akan jadi kado terindah untuk pernikahan kami yang menginjak usia 6 tahun. Namun siapa nyana, sesampainya di bandara, kami dan belasan calon jamaah umrah lainnya dinyatakan gagal berangkat. Dalih empunya biro travel yang sedianya akan menjadi pendamping perjalanan kami, visa kami ber-14 para calon jamaah belum selesai. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya. Pakaian sudah berseragam rapi, tinggal check in, menuju ruang tunggu untuk menanti keberangkatan, ternyata dinyatakan tak jadi berangkat. Buyarlah semua impian.

Beberapa jamaah mulai ribut. Tak terima dengan perlakuan biro travel yang terkesan sesukanya, membatalkan keberangkatan tepat di hari H. Cukup ramai juga kericuhan saat itu sampai-sampai mengundang perhatian petugas dan pengunjung bandara lainnya. Masalah itu sempat mengundang minat para awak media cetak dan elektronik untuk menguber beritanya. Akhirnya pada siang itu, kantor duty manager Angkasa Pura II bandara Kualanamu menjadi saksi tercapainya kesepakatan antara pemilik travel dengan para calon jamaah yang gagal berangkat bahwa biaya perjalanan umrah akan diganti dua kali lipat dalam waktu yang ditentukan, dengan jaminan sebuah mobil Avanza milik owner biro travel.

Di dalam kekalutan itu, saya menangis, tak kuasa menahan campur aduknya perasaan di dalam dada. Sedih sekali rasanya. Saya mohon ampun dan berdoa agar Allah berkenan memudahkan perjalanan kami ke tanah suci. Baru pada keesokan harinya, para calon jamaah lainnya mengadakan pertemuan dengan pihak biro travel di kantornya. Tercapailah kesepakatan baru bahwa seluruh jamaah yang pada tanggal 14 Desember 2014 gagal berangkat, akan diberangkatkan pada 17 Desember 2014. Saya dan suami yang sudah merasa tak nyaman dengan perlakuan biro travel itu (karena sudah beberapa kali sebelumnya ada pengunduran jadwal), akhirnya memilih mundur. Keputusan itu pun setelah ditimbang juga oleh kedua orangtua kami.

Kami patut bersyukur, paspor kami segera dikembalikan pada tanggal 16 Desember. Meski dana umrah yang sudah telanjur disetor belum dikembalikan, tapi kami percaya pada Allah yang Mahakaya. Selepas kejadian itu, kami tetap bertekad untuk berangkat ke tanah suci dalam waktu dekat. Keinginan untuk berumrah memang sudah mengkristal, khususnya di hati saya. Apalagi sejak kejadian di bandara itu suami menasihati saya;

“Allah itu Mahabaik, Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jangan berpikiran kalau Allah akan membalas dendam pada perbuatan dosa hambaNya di tanah suci. Allah tidak pernah menganiaya hambaNya. Kita yang sering menzalimi diri sendiri. Kita datang ke sana pasti membawa dosa. Karenanya kita ke sana untuk memohon ampun, agar kita bisa memperbaiki diri dan menjadi manusia yang lebih baik. Berprasangka baiklah kepada Allah…“

Kata-katanya begitu dalam menghunjam. Tanpa terasa, air mata saya menetes menyadari kesalahan pikir yang selama ini diam-diam meruwetkan otak saya. Astaghfirullah… Sejatinya saya bersyukur, Allah memanggil saya ke tanah sucinya yang senantiasa dirindukan jutaan umat muslim di seluruh dunia.

Alhamdulillah, kami akhirnya memutuskan untuk memilih satu nama travel yang sudah terpercaya kualitasnya dalam melayani para jamaah umrah. Kejadian gagal berangkat tempo hari kami jadikan pelajaran agar berhati-hati dalam memilih biro travel umrah, yang saat ini makin banyak yang bermasalah. Umumnya travel-travel bermasalah itu karena tidak mengantongi izin dari Kementerian Agama (Kemenag) sehingga menyulitkan mereka dalam memproses visa para calon jamaah.

Harga yang lebih murah belum tentu selalu jadi patokan primanya kualitas pelayanan dan fasilitas yang ditawarkan. Sejak peristiwa itu, saya sering mendapat informasi kalau biaya umrah yang terkesan lebih murah bukan jaminan tak akan ada lagi biaya yang keluar sesampainya di tanah suci. Sering terjadi, sesampainya di sana, para jamaah dikenakan biaya tambahan untuk transportasi dan akomodasinya, yang kalau dihitung-hitung sama besarnya dengan biro travel yang menawarkan biaya yang terkesan lebih mahal. Jadi, kejelian dalam memilih biro travel, niat tulus dan doa memohon kemudahan dalam perjalanan ke tanah suci mutlak diperlukan. Meski tak bisa dinafikan, rezeki masing-masing orang bisa berbeda meski usaha dan doanya sudah maksimal. Semuanya, Allah jua yang menentukan. Yang perlu diingat selalu memang kalimat “klise” ini; di balik setiap peristiwa, pasti ada hikmahnya. Demikian juga kami. Alhamdulillah, selalu ada kebaikan dan keberkahan di balik setiap musibah yang menimpa. Setidaknya, niat saya ke tanah suci semakin kuat. Kerinduan pada Ka’bah semakin membuncah.

Sabtu pagi, 3 Januari 2015, akhirnya saya dan suami berangkat juga ke tanah suci bersama 17 anggota rombongan lainnya. Kami dilepas dengan senyum dan haru dari keluarga kami. Sementara rasa bahagia memenuhi dada, tak sabar rasanya sampai di sana.

Ketika sudah duduk di pesawat, terngiang lagi pesan Ayah saya sebelum berangkat.

“Dek, kamu yang pergi ini harus lillaahi ta’aala. Jangan karena yang lain-lain. Karena Allah semata. Itu saja.”

***

16 thoughts on “Ke Tanah Suci, Mau Apa?

    • Berarti kayak saya juga itu, mbak..suami yg lebih punya keinginan kuat. Gapapa, mbak..perasaannya ga usah dipaksakan, biarkan aja mengalir.. Kalau diajak suami ya ikut aja, sambil berdoa pada Allah..in syaa Allah nanti panggilan itu akan datang dgn sendirinya.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s