Mimpi-mimpi yang Terkabul

20 OKTOBER. Bukan saja menjadi tanggal pelantikan presiden RI setiap 5 tahun sekali. Pada tanggal itu, blog Menulis Mimpi ini juga berulang tahun. Sayangnya, saya baru sadar saat melihat notifikasi dan belum ada tulisan spesial ultah di hari itu. Haha…bisa ya, tanggal ultah sendiri lupa? ๐Ÿ˜› Tahun ini adalah tahun ketiga Menulis Mimpi menjejakkan kata di dunia maya. Usia yang cukup panjang bagi sebuah blog yang tak rutin diisi. Heheโ€ฆ Pada tahun lalu saya sempat berniat untuk mengadakan giveaway kecil-kecilan. Tapi batal, bahkan seiprit pun tak ada. Masalahnya, saya tak rutin mengisi blog. Belum jadi blogger professional, kira-kira begitu. Menulis masih sebagai sarana mencurahkan pikiran dan (sesekali) isi hati. Yang lebih banyak tergantung pada mood. Karena kalau sedang tidak mood, isi tulisan saya pasti acakadut dan tak mungkin di-publish. Jadi saya pikir, nanti sajalah kalau blog ini sudah lebih matang usia dan isinya.

Menulis Mimpi. Sesuai namanya, ini memang rumah saya menulis semua mimpi, keinginan, cita-cita, harapan, baik yang sudah terwujud maupun yang belum teraih. Kalau saya lebih suka menggunakan kata โ€œmimpiโ€ daripada โ€œimpianโ€, yah..itu faktor subjektif. Hehe.. Dua kata itu saya gunakan pertama kali waktu saya masih sangat aktif sebagai kompasianer 3 tahun yang lalu. Persis beberapa bulan sebelum saya berkeinginan untuk mengisi laman-laman blog pribadi. Saat itu saya merasa membutuhkan ruang tersendiri untuk menumpahkan semua mimpi, impian, atau apapun namanya itu. Ruang yang lebih banyak menceritakan tentang diri pribadi, yang tak mungkin dipublikasikan di social blog.

Sampai kini, postingan di ruang ini belum banyak. Baru sekitar 60-an. Tapi saya berani menjamin, semua kisah yang tertulis di dalamnya adalah murni dari hati dan pikiran yang lebih bebas berkelana ke alam mimpi, lebih bebas berekspresi, lebih bebas mengikuti kata hati. Entah kenapa, saya merasa gaya bahasa saya berubah lebih dinamis dan ekspresif ketika menulis di blog ini. Berbeda kalau saya menulis di social blog, yang saya rasa haruslah lebih berwibawa layaknya gaya seorang akademisi. Di sana, saya memang menjadi diri sendiri, tapi tak sepenuhnya. Di ruang ini, saya merasa lebih bisa mengemukakan segalanya โ€œsemaukuโ€. Ah, mungkin itu perasaan saya saja. Buktinya, kali ini gaya tulisan saya sama saja dengan yang di social blog. Terasa lebih jaim! Haha!

Tapi jaim saya kali ini bukan tanpa alasan. Karena saya ingin menyampaikan sebuah perenungan. Dalam diam dan hening saya, terkadang saya suka berpikir tentang Tuhan Yang Maha Penyayang, Tuhan Yang Maha Mendengar, Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Mengabulkan Doa. Pernah tidak terlintas dalam pikiran kita, bahwa apa yang kita capai sampai hari ini adalah buah dari usaha dan doa-doa kita yang melangit, menembus batas kemustahilan.

Mungkin adakalanya kita tak merasa berdoa khusus padaNYA, tapi keinginan atau harapan yang terasa selintas lalu itu benar-benar didengarkan untuk kemudian dikabulkan Tuhan. Mungkin hanya berupa hal remeh temeh, seperti ingin makan sate tapi sedang tak punya uang lebih atau malas keluar karena hujan. Tiba-tiba saja ada saudara atau teman yang datang ke rumah membawakan sate yang dibeli di tempat penjual sate langganan kita. Atau kita berharap siang ini cuaca cukup terik agar pakaian yang kita jemur bisa kering setelah kemarin hujan sepanjang hari. Atau sekadar berharap angkutan umum segera lewat sementara malam sudah menjelang dan kita sedang sendirian menanti.

Kita cenderung hanya menaruh perhatian pada mimpi-mimpi besar yang kita lantunkan dalam setiap doa. Memang, tak semuanya, atau belum semuanya tercapai sesuai harapan kita, tapi bila kita mensyukuri setiap momen kecil yang sebenarnya berharga itu, maka hidup akan terasa lebih bermakna. Semuanya akan terasa sebagai pijakan-pijakan kecil untuk mencapai mimpi yang lebih besar.

Saya patut bersyukur. Di tahun ini, dua mimpi besar saya sudah terkabul. Jalan-jalan ke luar negeri (dimulai dari yang dekat dulu.. ๐Ÿ˜€ ) dan menerbitkan buku pertama biografi ayah, yang berjudul โ€œAku dan Ayahโ€. Dan di akhir tahun, in syaa Allah akan ada satu mimpi lagi yang bakal terwujud, yang semoga akan menjadi jalan bagi mimpi-mimpi lain untuk menemukan โ€œpanggungโ€nya. Semoga Allah memudahkan. Aamiin Yaa robbalโ€™alamiin..

Dan begitulah. Saya akan terus menanam mimpi-mimpi. Menyirami dan melihatnya tumbuh semakin besar, hingga menembus batas cakrawala. Saya yakin, cepat atau lambat mimpi-mimpi itu akan menjadi nyata. Entah bagaimanapun caranya. Setidaknya saya merasa tenang. Tuhan sudah memeluk mimpi-mimpi itu tepat ketika doa saya terlantun. Bahkan adakalanya mimpi-mimpi itu diganti dengan yang lebih baik. Ya, Tuhan memang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkanโ€ฆ ๐Ÿ™‚

***

8 thoughts on “Mimpi-mimpi yang Terkabul

    • Bener tu, mak..saya baru nyadar betapa udara yg dengan santainya kita hirup setiap saat itu mahal harganya. Baru terasa waktu hidung mampet. Rasanya menderitaa.. ๐Ÿ˜ฆ

      Btw makasih udah mampir ya, mak..semoga bermanfaat ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s