Menulis Setiap Hari, Untuk Apa?

Setajam apapun pisau, ia akan tumpul bila tak terus diasah.

 

Saya merasakan betul perubahan saya dalam hal menulis ini. Bila biasanya semangat menulis saya begitu menggelora, menggairahkan, memantik semangat setiap harinya, akhir-akhir ini tidak lagi demikian. Bila sebelumnya ide-ide begitu deras mengaliri kepala, aksara menjadi sahabat pagi, siang, malam untuk mengisi kepala, kini, tak lagi demikian. Hati saya kerap bertanya sebenarnya, ada apakah gerangan? Apa yang membuat saya kehilangan semangat? Apa yang membuat saya tak lagi menjadikan huruf-huruf yang terangkai menjadi kata-kata itu sebagai napas hidup? Yang bila saja tak dilakukan sehari dua hari, bisa membuat tubuh saya tak nyaman, pikiran saya gelisah. Oh, aksara! Mengapa aku dan kau tanpa sadar telah membentang jarak?

Ingin saja rasanya langsung menyalahkan waktu dan kesempatan yang sering kali tak berpihak.

“Duh, tak sempat!”

“Tak ada waktu!”

“Ah, nanti sajalah…Toh, masih ada hari esok..”

“Tak ada ide. Blank!”

“Bosan. Idenya mainstream. Itu-itu saja..”

Segunung alasan tetaplah menjadi alasan. Saya memilih mengamini alasan-alasan itu tanpa sekalipun coba menyelami diri sendiri, tentang sebab sejati kehilangan gairah menulis ini. Ketika mengakui alasan sebenarnya jauh di lubuk hati, saya masih mencoba menyangkal. Ah, betapa munafiknya manusia! Padahal, setitik kesombongan tengah tumbuh menjadi bibit yang menjerumuskan. Saya merasa sudah bisa menulis. Untuk apa lagi latihan menulis setiap hari?

Ya, untuk apa lagi menulis kalau kemarin-kemarin tulisan-tulisan saya sudah ada yang nangkring di media cetak, sudah ada yang jadi buku? Lalu, buat apa terus menulis? Toh, paling sekali duduk saya bakal bisa menyelesaikan satu tulisan bermutu. Lagipula, menulis kala perlu sajalah. Saat ada waktu senggang dan ada yang ingin disampaikan lewat tulisan.

Sayangnya, menurut para dedengkot di bidang penulisan, menulis setiap hari, bagi penulis professional sekalipun, tetaplah perlu. Menulis apa saja, meski sebaris dua baris kalimat. Meski berupa status atau kicauan. Meski hanya beberapa kata, tapi kalau itu dimaksudkan untuk terus melatih keterampilan menulis, ya akan sangat berguna. Mau menulis apapun, kapanpun dan di manapun, tak akan ada ruginya.

Nah, ini ilmu yang sering saya hiraukan. Padahal saya ngakunya ingin jadi penulis betulan, penulis profesional. Kalau tak rajin latihan menulis, kapan mahirnya? Biasanya saya bakal termotivasi lagi kalau melihat prestasi teman-teman yang sering menang lomba ini itu, atau cuma bisa sirik demi melihat tulisan-tulisan mereka yang sudah nampang di berbagai media cetak nasional. Wah!

Maka, tak ada jalan lain selain menikmati prosesnya. Menikmati setiap ide remeh temeh yang sering berlompatan dari kepala namun urung ditangkap. Bahkan sebenarnya tak ada yang namanya “ide remeh temeh”. Semuanya adalah ide besar dan penting untuk kemajuan proses menulis. Terdengar klise, tapi benar, kan?

Sambil menulis ini, semangat saya perlahan muncul kembali. Ah, syukurlah! Semangat kembali menulis!

***

10 thoughts on “Menulis Setiap Hari, Untuk Apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s