Tentang Ayah, Serangkaian Kata di Balik Cerita

Aku dan Ayah_web

OKTOBER 2011, adalah mula ketika saya membuat blog pribadi ini, blog yang salah satu ceritanya tengah anda baca ini. Niat awal saya hanyalah untuk mem-posting draft naskah novel biografi tentang ayah saya agar makin semangat menyelesaikannya. Draft yang awalnya dikerjakan pada bulan Januari 2011, saat saya mengikuti event Kampung Fiksi J50K (target menulis cerita 50.000 kata di bulan Januari). Sekali saya posting di Kompasiana dengan judul “[J50K] Tentang Ayah” dan diganjar masuk kotak headline. Tapi entah kenapa, saya tak memublikasikan tulisan berikutnya. Pada akhirnya, naskah itu tak sampai target 50.000 kata dan berbulan-bulan setelahnya, saya hanya meneruskannya sesekali.

Pada akhirnya saya merasa perlu mem-postingnya di blog pribadi, dengan maksud agar termotivasi. Sekali, dua kali, lima kali, sampai delapan belas kali draft itu ditayangkan di blog ini. Lalu saya mulai kehabisan ide. Komentar-komentar yang masuk memang terus memberikan semangat, tapi apa daya, saya mentok di konsep penulisannya. Ide-ide cerita bisa saja berkeliaran di kepala, tapi bagaimana saya menuliskannya? Bagaimana gaya yang cocok untuk menceritakannya? Apakah semua ide itu ditumpahkan saja ke dalam satu buku? Apa benang merahnya kalau ingin menyajikannya dalam bentuk biografi berbumbu fiksi?

Semua pertanyaan itu dan pertanyaan-pertanyaan ikutannya berebutan ingin segera dijawab. Saya kebingungan, sampai merasa harus menjauh sejenak. Bisa dibilang, hampir 3 tahun sudah naskah itu dianggurkan begitu saja. Sesekali dilirik tanpa semangat ingin meneruskannya. Bahkan sempat terbersit niat untuk menyerah. Mengubur mimpi indah yang ingin dipersembahkan untuk ayah. Saya memang menjauh, tapi impian itu terus saja menghantui. Benar-benar seperti hantu karena sampai terasa jadi beban. Apapun yang saya tulis di blog dalam rentang waktu itu, sering kali dibayang-bayangi, “Kenapa tidak melanjutkan naskah ‘tentang ayah’? Kapan mau diselesaikan?”. Begitulah. Apa hendak dikata. Mungkin karena saya telanjur “bersumpah” kalau saya tidak akan menerbitkan buku bertema lain jika buku untuk ayah itu belum terbit. Aiihh, sebegitunyakah ketika ingin menerbitkan karya khusus ini?

Lama kelamaan, saya dan naskah itu ibarat saudara jauh yang asing satu sama lain. Lama tak bersua. Perlu waktu yang tak sebentar bagi saya untuk kembali membangkitkan semangat dan meneruskannya. Mau tak mau, saya mesti dipaksa bangun dari tidur yang panjang. Dan itu, mau tak mau pula, harus dari diri saya sendiri. Meski seribu motivator dikerahkan untuk menyemangati, tapi kalau saya tak jua mau bergerak, tak ada guna.

November 2013 adalah titik baliknya. Karena sesuatu hal, saya berniat tak ingin menulis lagi di social blog Kompasiana sampai batas waktu yang tak ditentukan. Baru April kemarin saya mulai menulis di sana lagi meski masih bisa dihitung jari. Seorang sahabat tiba-tiba memberikan pesan semangat agar saya meneruskan niat yang sekian lama tertunda itu. Ya, mungkin inilah saat yang tepat, pikir saya. Saya jadi bisa lebih fokus menyelesaikan naskah itu tanpa berpikir tentang postingan blog. Maka jadilah, meski tersendat-sendat dan serasa banyak diselingi urusan harian (dan saya yang mesti ikut ke mana-mana dengan suami), akhirnya naskah itu purna juga di bulan Maret kemarin.

Bukan sesederhana itu ternyata perjalanan penulisannya. Dalam rentang waktu yang 4 bulan itu, rasa malas, tidak percaya diri, dan menunda-nunda penyelesaiannya kerap menyertai. Beberapa cerita harus dirombak. Banyak juga cerita yang diubah dari draft awalnya di blog ini. Syukurlah suami selalu men-support dan sering mengingatkan tentang tujuan saya menulis naskah itu.

“Niatkan saja karena Allah dan untuk membahagiakan orangtua. Tak usah berpikir untuk menghasilkan karya sempurna dulu. Kalau berpikir begitu, kapan selesainya?” begitu nasihatnya. Menyejukkan sekaligus memecut semangat. Tapi yang paling jadi pelecut adalah kata-katanya yang ini.

“Selesaikan sekarang atau tidak sama sekali. Kalau pada akhirnya naskah itu lama baru selesai tapi ayah sudah tidak ada, apa gunanya? Soal umur tidak ada yang tahu.” Tajam. Menusuk ruang kesadaran. Lalu tanpa sengaja dada saya sesak oleh kekhawatiran, yang berbuah bulir-bulir air mata. Saya merasa berpacu dengan waktu. Janji hati ini harus ditunaikan. Harus!

Aku dan Ayah-01

Di lain waktu, dorongan kakak saya yang secara tidak langsung ikut membangkitkan semangat. Pelan-pelan, saya kumpulkan konsentrasi untuk mengerjakan naskah itu. Beberapa kali saya menelepon ayah untuk mengkonfirmasi dan melengkapi cerita-cerita yang dirasa masih menggantung. Beberapa di antaranya terpaksa tidak dimasukkan ke dalam naskah. Inilah masalah sebenarnya. Saya kebanjiran data, cerita, sehingga tak tahu data dan cerita itu harus diapakan. Mau memasukkan seluruhnya ke dalam satu buku? Kok rasanya seperti menjejalkan bermacam makanan sekaligus ke dalam mulut. Meski enak, tapi sungguh tak dapat dinikmati. Saya kembali berpikir tentang konsep buku ini.

“Itu untuk buku selanjutnya. Bikin aja berseri.” Lagi-lagi suami memberi solusi. Tapi…buku berseri? Sanggupkah saya? Bikin satu saja lamanya minta ampun begini, keluh saya. Tapi setelah berdiskusi tentang bagaimana konsep terbaiknya, saya pun menarik kesimpulan, bahwa ternyata impian saya ini bukan main-main. Ini sebuah proyek besar! Yang akan saya dedikasikan untuk ayah dan seluruh keluarga besar saya. Jikapun kelak karya ini dinikmati juga oleh orang-orang di luar lingkaran keluarga besar saya, itu adalah bonus.

Sejenak saya tertegun. Saya tak menyangka bila konsep penulisan memoar tentang ayah ini akan berubah seiring waktu. Sungguh, betapa sulitnya mendokumentasikan perjalanan hidup seseorang berikut remah-remah yang jadi pemanis ceritanya ke dalam sebuah buku. Padahal ayah saya bukanlah tokoh yang sarat prestasi dan dikenal banyak orang, kecuali bagi orang-orang yang mengenalnya sebagai suami, sebagai ayah, sebagai kakek, sebagai dosen, sebagai orang yang bukan pejabat atau sosialita. Ayah saya hanyalah sesosok bersahaja yang senantiasa merasa cukup dengan hidupnya. Ayah saya hanyalah seseorang yang tak bermimpi tinggi, atau setidaknya bersikap menerima ketika asanya tak mampu meraih mimpinya yang tinggi. Ayah saya hanyalah lelaki biasa, pemimpin keluarga, yang bangga dan bahagia dengan istri, anak-anak dan cucu-cucunya. Setidaknya itu yang tampak dari senyum dan binar di matanya.

Justru itulah saya merasa tertantang untuk menuliskan kisah hidupnya yang normal dan biasa-biasa itu ke dalam sebuah buku. Kalau biasanya novel biografi selalu sarat cerita tentang keberhasilan, prestasi, pengalaman, dan pelbagai kehebatan lain tentang sosok yang dikisahkannya, saya hanya ingin menceritakan ayah saya apa adanya. Karena saya berkeyakinan, kisah setiap manusia adalah indah, unik dan menarik. Tak harus menunggu sukses dan terkenal dulu untuk mengisahkannya ke dalam sebuah buku. Tak harus menunggu seorang penulis terkenal tiba-tiba datang lalu menulis kisah hidup kita yang inspiratif. Tak harus begitu.

Untuk ayah saya, cukuplah saya sebagai salah seorang anak perempuannya yang gemar menulis, yang menuliskan kisahnya. Dengan harapan agar kelak cucu, cicit dan keturunan-keturunannya dapat mengenalnya barang selintas lewat kisah yang terangkaikan dalam sebuah (atau kelak beberapa) buku. Tak hanya memandangi fotonya lalu sekadar tahu, “Oh, itu kakekku”, “Oh, itu kakek buyutku”. Tapi ada kisah- kisah menarik dan sisi lain dalam hidupnya yang semoga bisa jadi inspirasi, penyemangat, sekaligus penghibur bagi mereka dan siapapun nanti yang membacanya. Kalaupun ada bumbu, itu hanyalah penyedap kisah agar enak dinikmati tanpa mengubah esensinya. Kalaupun bumbunya terasa kurang, yah..itu semata kekurangan saya sebagai penulis (buku) pemula yang masih terus belajar. 😀

Jujur, saya belum jago soal menulis buku, apalagi menulis novel, meskipun novel itu berdasarkan kisah nyata. Buku Aku dan Ayah ini pada akhirnya terasa sebagai sebuah kenekadan, yang semata lahir karena ingin memberikan sebuah kebanggaan bagi ayahanda bahwa nama dan kisahnya, pernah tertulis dalam sebuah buku. Bila sepanjang sejarah akademik saya tak pernah memberikan kebanggaan berupa nilai-nilai terbaik, saya ingin “menebus”nya dengan ini. Meski tak berkata apa-apa, saya tahu, ayah mengharapkan saya dan kakak-kakak saya lulus kuliah dengan prestasi Cum Laude, tapi tak pernah kesampaian. Meski saya dan kakak-kakak pernah jadi juara kelas (dan untuk saya frekuensinya kurang dari 3 jari) saya merasa itu belum cukup. Saya sendiri juga tak punya prestasi lain yang bisa dibanggakan di bidang non akademik. Hanya inilah yang saya bisa. Menulis. Dan menulis kisah tentang ayah adalah pengalaman belajar tentang menulis dan tentang kehidupan itu sendiri.

Ayah memang tak berkata apa-apa. Sekali dua ia pernah berkata bangga pada anak-anaknya, yang ia sampaikan sembari menepuk pundak. Tapi justru karena itulah saya ingin memberi lebih. Anak-anak lain membahagiakan orangtuanya dengan serentetan keberhasilan, dan saya memilih cara saya sendiri, dengan menulis. Dan saya tak hanya ingin sekadar menulis, tapi juga ingin bertumbuh bersama kisah-kisah di dalamnya. Sebagai motivasi, inspirasi, dan penghibur yang abadi.

Alhamdulillah, keinginan itu terwujud juga pada akhirnya… 🙂

 

***

>> Bagi yang ingin memesan bukunya, sila kontak saya via dm twitter: @annisa_rangkuti atau e-mail ke: annisa_rangkuti@yahoo.com

      Terima kasih.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s