Ternyata Einstein Juga Disleksia

APA sulitnya membaca? Mungkin begitu pikiran anda yang dikaruniai Tuhan kemampuan membaca lancar sejak awal usia sekolah. Bersyukurlah. Anda tak perlu repot-repot mesti mengenali huruf dengan seksama, sampai kadang-kadang membuat anda stress. Anda juga tak perlu di-bully teman-teman karena ketidakmampuan yang sering kali dianggap remeh itu. Guru-guru anda juga tak perlu bersikap tak sabar menghadapi anda, dan melabel anda bodoh, pemalas, dan segala ucapan yang merendahkan harga diri. Anda tak perlu sampai sakit hati karena anda tinggal kelas, lantas sekolah kemudian mengeluarkan anda tanpa kompromi.

Di sepanjang perjalanan pergi dan pulang ke rumah, anda hanya menemukan diri anda kebingungan dengan lautan tulisan yang seolah-olah menyerbu pikiran dari berbagai sisi. Belum lagi marka jalan yang…uugh…sama sekali tak anda pahami; mana kanan, mana kiri, di mana harus berhenti, dan berbagai simbol aneh yang sungguh tak masuk di akal. Anda kesal karena harus membawa seorang teman untuk menjelaskan atau harus repot-repot mencari polisi lalu lintas atau bertanya hal-hal memalukan soal marka jalan pada orang-orang yang lewat.

Sampai di rumah, bahkan anda tak bisa menikmati hidup sepenuhnya. Mendapat omelan dari orangtua yang sama tak pahamnya dengan anda tentang kenapa nilai ujian selalu jelek. Menonton TV yang kadang-kadang juga penuh tulisan yang tak anda pahami. Bahkan film asing itu begitu tak bersahabat. Kenapa ia tidak di-dubbing saja? Untuk apa ada subtitle?

Begitulah. Bisa anda bayangkan bagaimana sejatinya kehidupan seorang pengidap disleksia. Dunia bahkan bisa lebih kejam daripada itu terhadap mereka. Ini memang perlu perhatian serius, kalau tidak mau para pengidap disleksia itu menjadi manusia-manusia yang terasing dari dunianya karena merasa tak berguna. Padahal, bisa saja mereka punya potensi untuk mengubah dunia dan menjadi orang-orang hebat di bidang yang diminatinya.

Anda mungkin terkejut kala mendapati orang-orang hebat nan terkenal yang ternyata juga pengidap disleksia. Sebutlah Albert Einstein, Thomas Alva Edison, George Washington, Winston Churchill, Leonardo Da Vinci, Mozart, Pablo Picasso, Steven Spielberg, Tom Cruise, Orlando Bloom, dan banyak lagi tokoh terkenal lainnya. Beberapa di antara mereka memang harus mengalami hal yang terjadi pada masa sekolah; drop out. Tapi apa jadinya mereka kemudian? Kecerdasan dan potensi diri yang mereka gali dengan sungguh-sungguh menjadikan mereka orang-orang inspiratif dan sukses yang bersinar di bidangnya masing-masing.

Karenanya, sangat penting untuk mendeteksi gangguan belajar berupa disleksia ini sedini mungkin. Orangtua dan guru harus aware dengan kondisi setiap anak yang membutuhkan penanganan khusus. Kalau perlu, pindahkan anak yang sebelumnya bersekolah di sekolah umum biasa ke sekolah inklusi, yang membaurkan anak-anak normal dan anak-anak berkebutuhan khusus di dalam satu lingkungan sekolah, sehingga kemajuan hasil belajarnya diharapkan dapat meningkat secara signifikan. Guru dalam hal ini pun perlu menerapkan cara pengajaran dan evaluasi khusus dengan lebih banyak memberi porsi ujian lisan daripada tulisan pada anak-anak disleksia. Jikapun memungkinkan, menyekolahkan anak dengan metode home schooling dapat membantu.

Anak-anak disleksia ini membutuhkan peran terapis secara terus menerus untuk membantu mereka mengoptimalkan kemampuan membacanya. Tak hanya terapis, tapi juga perlu peran serta aktif orangtua di rumah. Memang, sama seperti autisme, disleksia tidak dapat disembuhkan secara total, hanya saja hambatan membaca yang ditimbulkannya dapat diminimalisir dengan pemberian stimulasi secara terus menerus. Alih-alih selalu berfokus pada kemampuan membaca dan akademiknya, anak-anak disleksia perlu dikembangkan minat dan bakatnya. Beri mereka ruang untuk melatih bakatnya agar mereka pun mampu meraih prestasi yang membanggakan dirinya. Ini penting untuk meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri anak. Kelak ketika memasuki dunia kerja, mereka mampu hidup di atas kakinya sendiri dan mengejutkan dunia dengan prestasi-prestasinya.

β€œMemang, aku punya masalah dalam membaca, tapi aku bisa menjadi pelukis hebat seperti Picasso, sutradara terkenal seperti Spielberg, penemu cerdas seperti Edison, atau komposer musik kenamaan seperti Mozart, bahkan jadi penerus si jenius Einstein!”

***

6 thoughts on “Ternyata Einstein Juga Disleksia

  1. terapisnya harus bener2 sabaaaaaaarrrr banget hehe,gemes banget nerapi anak abk, tapi kalau ada hasilnya meskipun bisa hanya bisa membedakan huruf d dan b itu sungguh luar biasa,tapi kalau nggak ketemu sehari,nggak di review sm orangtua di rumah,alamat lupa lagi hehehe….dulu waktu PKL di kampung idiot di Ponorogo (tau kampung idiot dari tv,akhirnya survey,aku,miss rochma dan 12 teman nekat PKL disana 2 bulanan) selama 2 bulan itu nangani anak2 dengan kesulitan belajar,dan selama 2 bulan nerapi setiap hari, perkembangannya hanya 20%,sedihh banget,kurang perhatian dari orangtua,fasilitas penerangan yang kurang memadai (tempatnya di kaki gunung soalnya hehe),jadi kayaknya main2 aja gitu,g ada yang nerusin nerapi…orangtua g bisa baca tulis juga,gurunya kurang,pokoknya miris banget deh kak….

    yang kedua,pernah nerapi juga di sekolah daerah kota di malang,kalau disini lumayanlah soalnya sekolah inklusi, pendekatannya juga ke orangtua,jadi ada kerjasama antara orangtua dan pihak sekolah..tapi masalahnya di kenaikan kelas, anak2 dengan kesulitan belajar biasanya tanpa pertimbangan langsung dinaikkan kelas, loh kok naik kelas,kan belum bisa baca dan tulis???iya,naik kelas, terus lulus dan nggak ada lagi siswa khusus. huhuhuhu…sedih kan???mirislah pokoknya kak….berungtunglah bagi anak2 khusus seperti ini kalau orangtuanya bener2 peduli dan perhatian ^^.

    panjag jugaaaa hehehe…

    • hehehe..panjaaanngg..tapi keren sih pengalamannya, mbak Hanna..udah pernah ditulis belum? πŸ™‚

      yg di kampung idiot emang mesti ekstra sabar ya, mbak..karena emang taraf kecerdasan anak2 di sana kan di bawah rata2..jd emang ya fokusnya ke peningkatan skill hidup supaya bisa mandiri aja..soal akademik begitu ga terlalu jd perhatian lagi kali ya, karena emang kapasitasnya terbatas untuk nerima pelajaran..ditambah lg ortu yg kondisinya juga sama & guru yg kurang memadai..komplitlah..

      Tapi apa yg terbaik menurut kita belum tentu yg terbaik buat mereka kan? Mungkin mereka nyaman2 aja dgn kondisi begitu, toh, mereka tinggal di kampung yg kalau kebutuhan sehari2 aja udah terpenuhi rasanya udah cukup. Standar kita dan orang2 seperti itu sering kali berbeda..

      kadang2 letak ketidakberuntungannya cuma karena sistem pendidikan yg tdk berpihak pada mereka. kayak cerita mbak soal sekolah inklusi itu..anak2 diluluskan tapi ga bawa ilmu apa2 dari sekolahnya..itu lebih prihatin lg.. 😦

  2. Selalu ada kesempatan yang sama untuk bisa sukses bahkan pada penderita disleksia, keren mereka yang membantu therapy para penderita disleksia karena mereka memiliki extra kesabaran yang berkali-kali lipat.

    By the way, saya kadang juga suka bingung lho bedain kana-kiri, entah kenapa.

    • wah..mbak juga susah bedain kanan-kiri ya? hmmm..mungkin karena kurang fokus aja kali, mbak..buktinya kan bisa ngeblog..hehehe.. πŸ™‚

      iyaa..jadi terapis anak2 yang berkebutuhan khusus seperti ini butuh kesabaran ekstra ya..

    • wah..ternyata mbak Ade disleksia ya? itu emang diagnosa dari dokter/psikolog, mbak? berarti mbak udah ngalamin yang namanya terapi ya..

      tapi hebat, mbak produktif sekali menulisnya..jadi pengen tau nih pengalamannya sebagai dyslexic..

      makasih udah mampir baca, mbak Ade..salam hangat.. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s