Anak Anda Disleksia?

 

Bagaimana reaksi anda jika anak anda yang berusia sekolah belum bisa membaca? Bahkan mengenal huruf pun masih sulit? Sebelum melabelnya sebagai anak yang bodoh atau malas belajar, ada baiknya anda instrospeksi dulu bagaimana stimulasi yang anda berikan padanya. Adakah anda mengajarinya mengenal huruf di rumah? Adakah anda mengajaknya belajar membaca tulisan apapun yang anda temui saat berjalan-jalan? Kalau sudah, bagaimana reaksinya? Apakah anak anda bisa mengeja sendiri tulisan itu atau ia sering kali salah eja? Atau justru hanya diam dan tampak bingung sambil sibuk mereka-reka huruf apa yang dilihatnya itu?

Di sekolah, lihat juga bagaimana cara guru mengajarnya. Apakah dengan cara yang mudah dan menyenangkan? Atau anda bisa juga bertanya pada gurunya, apakah ia mampu mengikuti apa yang diajarkan? Anda bisa mengecek kemampuan belajarnya dengan teman-teman sekelasnya. Apakah ia mudah menangkap dan mengikuti instruksi guru ketika menuliskan huruf dan kata di papan tulis? Atau anak anda lebih banyak diam sambil tampaknya berusaha keras untuk memahami huruf-huruf yang terpampang di depan matanya, sementara teman-temannya sudah bersahut-sahutan riuh sekali untuk menyebutkan huruf atau kata yang ditunjuk guru. Atau ia mengalami kesulitan dalam menyebutkan urutan hari dalam seminggu? Perhatikan juga tulisannya, rapikah atau berantakan seperti cakar ayam?

Perhatikan juga kala ia di rumah. Kalau anak anda mampu bercerita tentang banyak hal dengan baik, mampu mengerjakan yang anda minta, mampu membuat pesawat terbang dari lego, atau paham jalan cerita film kartun yang ia tonton ketika anda tanya, bisa dipastikan kalau ia bukan anak yang bodoh. Bisa jadi kecerdasannya justru berada di atas rata-rata. Lalu apa yang membuatnya tidak bisa membaca?

Kalau semuanya sudah ditelusuri dan diketahui tidak ada masalah dengan stimulasi dan lingkungan belajarnya, anda patut curiga kalau anak anda mengalami disleksia, yaitu salah satu gangguan belajar (learning disorder) di mana anak mengalami kesulitan dalam hal mengeja dan membaca. Dua jenis gangguan lain, disgrafia (kesulitan dalam menulis) dan diskalkulia (kesulitan dalam berhitung matematika) bisa muncul seiring (atau tidak) dengan disleksia.

Istilah disleksia (dyslexia) berasal dari kata Yunani. “Dys” berarti gangguan pada, dan “lexis” berarti kata. Jadi, dyslexia adalah gangguan yang menyebabkan masalah pada kemampuan membaca atau mengeja, atau disebut juga sebagai kesulitan belajar spesifik (Asosiasi Disleksia Indonesia). Menurut definisi dari International Dyslexia Association, disleksia adalah suatu ketidakmampuan belajar yang bersifat neurologis, yang ditandai dengan adanya kesulitan mengenali kata secara tepat dan/atau lancar serta kemampuan mengeja dan decoding yang buruk. Kesulitan ini biasanya merupakan dampak dari terjadinya defisit pada komponen fonologis (bunyi) dari bahasa. Kesulitan ini muncul tidak terduga, tidak berkaitan dengan kemampuan kognitif lainnya dan bukan karena instruksi pembelajaran di kelas yang tidak efektif. Juga bukan disebabkan adanya masalah penglihatan atau pendengaran, atau IQ yang rendah.

Disleksia adalah satu dari 3 gangguan belajar yang spesifik (specific learning disorder) yang termasuk dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder V (DSM V). Ada beberapa kriteria menurut DSM V tentang 3 gangguan belajar spesifik (disleksia, disgrafia, diskalkulia) ini, yang muncul minimal selama 6 bulan.

–          Ketidakakuratan atau lambat membaca (membaca satu kata dengan lambat dan salah, sering kali menebak kata, sulit menyuarakan kata).

–          Kesulitan dalam memahami apa yang dibaca (mampu membaca namun tidak memahami kesinambungan antar kata dan arti).

–          Kesulitan dalam mengeja (menambah, mengurangi huruf, mengganti huruf vokal dan konsonan).

–          Kesulitan dalam menulis (membuat kesalahan dalam tata bahasa, susunan kalimat, kurang mampu mengorganisasi tulisan, tulisan sulit dimengerti).

–          Kesulitan dalam menguasai angka, mengolah/mengkalkulasi angka/hitungan.

–          Kesulitan dalam penalaran matematika (sulit mengaplikasikan konsep matematika, menyelesaikan soal-soal kuantitatif).

Lebih jauh, kemampuan yang ditampilkan dalam hal membaca, menulis dan matematika ini berada di bawah kemampuan normal anak seusianya. Maka tak heran jika kesulitan ini memengaruhi prestasi akademik, meskipun hasil tes IQ menunjukkan taraf kecerdasan anak berada pada level rata-rata atau di atas rata-rata. Biasanya kesulitan ini mulai terdeteksi saat anak berada di usia sekolah (7 tahun), karena pada usia itu anak dianggap sudah matang untuk menerima pelajaran akademik. Meski demikian, mungkin karena pengaruh tren yang menyekolahkan anak sejak usia dini, ada saja orangtua yang gelisah menanyakan, mengapa anaknya yang berusia 4 atau 5 tahun belum bisa mengenal huruf atau membaca.

Gangguan disleksia ini bersifat genetik (keturunan), karena ditemukan pada 23% – 65% anak dari orangtua yang disleksia, juga pada 40% dari saudara kandung. Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki lebih banyak mengalami disleksia daripada perempuan dengan perbandingan 3:2. Secara internasional, diperkirakan 3% – 10% anak di dunia mengalami disleksia. Pada negara-negara berbahasa Inggris, persentase perkiraan ini meningkat hingga 17,5%. Apa sebab? Karena bahasa Inggris adalah bahasa yang sangat inkonsisten. Hubungan antara kata dan suara dalam bahasa Inggris lebih sulit diperkirakan dibandingkan dengan bahasa Indonesia, misalnya. Huruf dan kata yang dituliskan dalam bahasa Inggris berbeda pelafalannya, sehingga semakin menyulitkan para pengidap disleksia. Gangguan ini pun tidak terbatas pada bahasa yang bersifat alfabetis, tapi juga terjadi pada individu yang bahasa sehari-harinya bersifat logografis seperti bahasa Cina. Karakter dalam bahasa Cina memiliki elemen fonologis yang dapat menimbulkan masalah pada membaca dan menulis.

Di dunia akademik, anak-anak yang mengalami disleksia kerap dianggap malas belajar, kurang konsentrasi, sehingga label “anak bodoh”, “anak malas”, “tidak fokus”, kerap dilekatkan pada mereka. Ini jelas berpengaruh pada kondisi psikologisnya, yang ujung-ujungnya dapat memengaruhi tingkat kepercayaan diri anak. Anak menjadi minder, tak mau sekolah, atau menutup diri dari pergaulan karena sering kali diejek atau di-bully karena kekurangannya yang justru tidak bisa ia pahami. Bila guru dan orangtua tidak aware dengan keadaan ini dan tidak segera membawanya ke psikolog atau ahli-ahli lain yang berkompeten dengan masalah ini (seperti, dokter anak), dikhawatirkan anak selamanya akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri dan bukan tidak mungkin dapat menimbulkan gangguan psikologis lain seperti, kecemasan sampai depresi. Tentu hal ini tidak diinginkan setiap orangtua, bukan?

***

>> Tulisan ini berdasarkan hasil workshop dyslexia dalam rangka Lustrum III Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara, Medan, dengan tajuk “Assessment, Diagnose & Treatment Child with Dyslexia” pada sabtu, 10 Mei 2014, yang menampilkan psikolog Belanda yang mengkhususkan diri pada disleksia sebagai pemateri, Elisabeth Borleff, M.Sc, Psychologist.

 

12 thoughts on “Anak Anda Disleksia?

  1. murid terakhirku *ngajar tahun lalu* juga mengalami triple dis kak, ada cairan di kepalanya jd sampai sekarang sering cek up ke singapore soalnya dipasag selang untuk buang cairan itu. akibatnya ya kena triple dis, lingkungan sekolah kurang sabar dan paham tentang anak2 khusus seperti ini, jadi kalo rusuh di kelas *kebetulan anaknya aktif* misalnya ganggu teman2nya,jln2 dari meja 1 ke meja lain, ngambil pensil teman, bahkan sampai mencium pipi teman cewek. langsung deh wali kelas tlp aku,sampai jam 3 sore beljr di ruang BK…kasihan kak, ortunya kurang mengerti juga,entah sibuk sama bisnisnya jadi sering sama suster, pulang sekolah ja 3 langsung terapi sampai maghrib….

    ini anak seringggggggggg banget dibully sama teman2nya apalagi guru 😦 ,peran utama ortu sangat penting banget, apalagi memilih sekolah bt anak khusus seperti ini, jangan sampai salah pilih sekolah, alih2 pilih sekolah mahal demi sesuatu, yang jadi korban kan anaknya…lebih baik pilih sekolah inklusi yang ada shadownya atau sekolah khusus, buat yang parah lo ya…:) makasih kak sharingnya,mau cuap2 buanyak tapi lupa kalo ini dikolom komentar hahahaha

    • hehehe..gapapa, mbaak..mau curhat panjang di kolom komentar kan boleh2 aja..makasih sharingnya, mbak.. 🙂

      btw aku jadi penasaran, anaknya itu kelas berapa, mbak? udah pernah tes IQ belum? soalnya, sepemahamanku, anak2 yg mengidap disleksia, disgrafia atau diskalkulia itu adalah anak2 yg IQ-nya rata2, di atas rata2, atau bahkan jenius. Penyebab disleksia ini karena defisit di area fonologis otak. Memang, adanya masalah di otak (cairan penyakit) juga bisa menyebabkan timbulnya masalah2 belajar dan perilaku, tapi yg membedakannya dengan disleksia atau bukan ya kecerdasannya itu tadi. Mereka yg mengidap disleksia biasanya anak2 yg fisiknya normal, bukan karena adanya penyakit laian selain defisit di area fonologis td, dan defisitnya itu disebabkan oleh kelainan kromosom. jadi bersifat genetik juga. apa anak yg mbak tangani itu orangtua (atau salah satu orangtuanya) atau saudara2 kandungnya ada yg juga disleksia? itu yg perlu dipastikan dulu sebelum melabel mereka disleksia. Penyebab dia kurang mampu membaca, menulis atau berhitung menurutku lebih karena ada semacam brain injury. Efek2 lain yg timbul seperti hiperaktif, kurang paham norma sosial (mis, nyium anak cewek) lebih karena pola asuh orangtuanya yg kurang tepat dan memadai. kasihan memang, kalau si anak sudah berpenyakit di kepalanya, ditambah pula dgn orangtua yg kurang peduli.. 😦

      juga dibully oleh teman2 dan guru itu, ya dampak dari ketidakmampuannya yg tidak dipahami oleh lingkungannya. dia butuh penanganan khusus memang, mbak..lebih bagus kalau interaksi dan komunikasi dgn orangtuanya diperbaiki, disekolahkan di sekolah yg memahami anak2 sepertinya, kalau perlu home schooling aja..

      kurasa begitu, mbak..semoga berkenan yaa.. 🙂

    • sayangnya disleksia sama seperti autisme, tidak bisa disembuhkan, mbak Indah..hanya saja dapat diminimalisir dengan terus memberinya terapi. karena fungsi berbahasa mereka sudah berbeda dgn orang normal. minimal mereka mengandalkan ingatan dan kecerdasannya untuk (secara logika) bisa memahami yang diajarkan. setidaknya kita cuma bisa mengoptimalkan kemampuannya. karenanya anak2 khusus seperti ini perlu dikembangkan minat dan bakatnya agar bisa menjadi penyeimbang kekurangannya itu, mbak..nanti saya jelaskan lagi di artikel sambungannya ya, mbak..

      makasih udah mampir baca, mbak.. 🙂

  2. baca komennya mbak HM Zwan: kok guru juga ikut membully sih? bukannya seharusnya guru justru mengingatkan para murid bahwa bully itu tindakan yg tercela? anak saya juga beberapa kali ‘dibully’ pas saya bicara sama gurunya, masak dibilang: yah, memang resiko anak pendiam bu……
    anak saya memang cenderung pendiam dan susah berinteraksi tapi masak gara2 itu jadi boleh dibully… Eh, maaf mak, curhatnya OOT 🙂

  3. bagus banget tulisannya, mak. Anak saya, 4 tahun, juga belum bisa membaca. Tp sy msh biasa aja krn kan diagnosa disleksia itu kan berlaku kalau sudah 7 tahun ke atas tp blm bisa membaca:)

    • alhamdulillah..makasih, maak..hehe..

      iyaa, umur 4 tahun sih belum bisa membaca ya wajar, mak..saya aja dulu baru bisa baca kelas 1 SD (6 tahun)..hehehe..betul, mak..karena kematangan anak untuk pelajaran akademik itu 6 atau 7 tahun ke atas..di bawah itu sih seharusnya ga usah dijejali sama pelajaran akademik..tapi zaman sekarang anak TK malah udah diajarin baca ya.. 😦

  4. sedih disaat menjadi disleksia tanpa mreka tanggap.. dibilang bodo… ga dewasa cengengesan.. cuma bisa gambar… bahkan guru menghardik dengan kata2 tajam dan menakutinya bahwa dia tidak akan naik kelas.. dan menjadi orang gagal . bahkan orang tua :’)

    • Wah..punya pengalaman khusus tentang disleksia ya? Iyaa..dari cerita2 yang saya baca tentang pengidap disleksia pun kebanyakan mereka sulit dimengerti lingkungan, tapi biasanya orang2 disleksia itu cerdas loh! Buktinya banyak tokoh dunia yang sebenarnya mengalami disleksia juga kan. Yang penting kita tetap PD dengan apa yang kita punya. Bahkan kekurangan juga sebenarnya adalah anugerah dari Sang Maha 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s