Tuhan, Aku Pulang…

IMG_1048

DIA nyata ada, tapi kita masih sering meragukanNya. Apa karena DIA yang tak kasat mata? Apakah masih perlu mata kita yang terbatas ini untuk melihatNya? Bukankah mata yang bercokol di kepala bagian depan kita itu adalah ciptaanNya? MilikNya? Yang kalau semakin jauh kita telusuri, juga adalah bagian dari diriNya?

Sering kali saya mendapati sebuah kejadian, ketika saya dalam posisi sulit dan terjepit, dan saya memohon padaNya diam-diam disertai sedikit bulir-bulir keraguan, tapi DIA tetap dengan senang hati membukakan pintu menuju keluar. Atau saat saya dalam kepasrahan yang sangat karena tak tahu lagi harus bagaimana, sampai saya menangis hampir putus asa, DIA lalu merangkul dan menenangkan hati saya. Menegaskan kalau semuanya akan baik-baik saja. Dan benar, keadaan langsung berubah dan semuanya baik-baik saja.

Atau ketika semangat hidup mulai mengendur, karena tak tentu arah tujuan, dan saya memilih diam, pasif, dan tak berbuat apa-apa, DIA dengan caranya yang lembut dan perlahan sekali, menegur saya lewat kisah-kisah yang menginspirasi, dari yang saya tonton di televisi, dari yang saya baca lewat media online, buku, majalah, koran, atau apa saja. Dan saya kembali tersadarkan. Bahwa setiap hari hidup di dunia ini adalah perjuangan yang tanpa henti, sampai mati.

Begitulah. Jalan menujuNya terasa demikian sulit, namun juga mudah sebenarnya. Selama masih ada belenggu berupa nafsu duniawi, maka jalan yang kita lalui akan berselimut kabut tebal, berdebu, disertai mendung pula. Yang Mahasuci hanya akan dapat dilihat oleh makhlukNya yang juga senang menyucikan diri. Kita takkan bisa bersih sepenuhnya, selain karena izin dan rahmatNya. Tapi kita diberi kesempatan setiap detik, setiap waktu, untuk bersuci lagi, bersuci lagi, dan bersuci lagi.

Saya suka sedih sendiri ketika menonton, membaca atau mendengar berita tentang orang-orang yang menyedihkan akhir hidupnya. Dibunuh, overdosis, mati mengenaskan karena bunuh diri atau mati mendadak ketika sedang maksiat. Ada satu berita yang -entah kenapa- selalu teringat di benak saya. Saya membaca kolom kecil di harian lokal waktu itu, beberapa tahun yang lalu. Kolom itu memberitakan seorang pejabat daerah yang mati mendadak di sebuah ranjang kamar hotel bersama seorang wanita yang diketahui bukan istrinya. Tubuhnya tanpa busana ketika ditemukan tewas, diduga terkena serangan jantung. Berita terparahnya, dia saat itu terdaftar sebagai salah seorang calon jamaah haji yang akan berangkat di tahun itu. Astaghfirullah…SubhanallahNa’udzubillah

Hati saya nyeri membacanya. Mungkin karena saking mengenaskannya berita itu menurut saya, melebihi berita-berita mengenaskan orang-orang yang dibunuh karena dendam kesumat atau kecelakaan tragis di jalan raya, berita itu masih terekam kuat di pikiran saya.

dok. AFR

dok. AFR

Atau tak usahlah jauh-jauh. Cerita sepupu saya sendiri yang meninggal sendirian, tanpa ada satupun anggota keluarga di sampingnya, di sebuah penjara. Ia terjerat kasus narkoba waktu itu. Dari cerita yang diam-diam saya dengar, dia sudah terjangkit virus HIV lalu mati pelan-pelan. Innaalillaah..  hati saya terasa seperti ditusuk-tusuk. Betapa tidak? Sepupu saya itu sempat tinggal beberapa tahun di rumah saya, berharap perilakunya akan berubah dan bisa terlepas dari jerat narkoba dengan menciptakan situasi lingkungan yang kondusif. Tapi begitulah. Yang namanya sudah terjebak dunia hitam akan sulit keluar. Ia sempat dianggap sudah kembali sehat, tak terpengaruh teman-teman narkobanya lagi, ketika ia kembali tinggal dengan keluarganya. Namun ternyata ia masih berjalan di rel yang sama, tanpa orangtuanya sadari. Ia terjebak semakin jauh, semakin dalam, hingga berakhir di penjara. Tragis.

Kita memang tak bisa menebak akhir hidup seseorang, bahkan akhir hidup kita sendiri. Yang kita lihat berakhir baik atau wajar-wajar saja, tetap menyisakan ketidaktahuan kita akan keputusan Allah di akhiratNya kelak. Karena perbuatan baik dan buruk selama hidup tetap hanya Allah yang Mahatahu. Kita hanya bisa berupaya dan berdoa agar akhir hidup kita baik saat kembali ke haribaanNya. Saya juga punya masa lalu kelam -yang tak usahlah saya ceritakan. Setiap orang punya, saya rasa. Bersyukurlah kita, bila diberi kesempatan melakukan kesalahan lalu menyadari kesalahan itu dan masih diberi kesempatan untuk berubah. Orang-orang yang seperti itu akan lebih mudah menangkap hikmah dan makna kehidupan yang sejati.

Berangkat dari pengalaman saya dulu, saya sangat bersyukur ketika menyadari kalau Allah Mahabaik, Maha Melindungi, masih sudi mengembalikan saya ke jalan yang -semoga- diridhoi-Nya. Saya bergidik ketika menyadari kalau orang lain yang berbuat sama seperti saya dulu, tak diberi kesempatan kedua, pulang ke haribaan-Nya dalam keadaan belum siap dengan bekal akhirat. Seketika saya menyadari kalau Allah sungguh telah memberi anugerah yang besar berupa kesempatan untuk berubah. Kita semua, yang masih hidup hari ini, punya kesempatan. Masih ada aliran air yang mengajak kita untuk bersuci lagi, bersuci lagi, bersuci lagi. Setiap detik, setiap waktu, setiap saat selama kita masih mengembuskan napas. Semoga terus demikian adanya sampai kelak sang malaikat maut menjemput. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin..

***

4 thoughts on “Tuhan, Aku Pulang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s