Menjelajah Surga di Sumatera Utara

Danau Toba, Parapat.

Danau Toba, Parapat. (dok. AFR)

***

Sebelumnya, mari berdoa untuk para korban erupsi Gunung Sinabung di Tanah Karo, Sumatera Utara. Semoga seluruh masyarakat yang terpaksa mengungsi tetap sabar dan kelak menuai hikmah dari muntahan debu vulkaniknya. Aamiin.. Sungguh, Gunung Sinabung sebelum erupsi beberapa waktu lalu adalah sebuah elemen lukisan alam Tanah Karo yang indah. Pesonanya selalu menarik para wisatawan domestik maupun mancanegara untuk sekadar memandang atau mendakinya. Saya yakin, selalu ada berkah di balik musibah.

***

Tulisan ini terinspirasi tulisan seorang kawan, yang mengulas hasil perjalanannya ke Kawah Putih di Simalungun, Sumatera Utara. Hah? Kawah Putih ada di Sumatera Utara? Bukankah cuma ada di Jawa Barat? Mengetahui itu, ada semacam letupan rasa bangga sebagai warga Sumatera Utara.

Ya, sesungguhnya, Sumatera Utara (Sumut) itu adalah surga. Saya meyakini hal itu. Hanya karena selama ini Sumut lebih banyak dipimpin dan dikelola oleh orang-orang yang kurang berintegritas untuk membangun daerahnya, ditambah dengan kebanyakan masyarakat yang kurang menghargai potensi wisata alam di sekitarnya, keindahan surgawinya tak tampak secara utuh. Cobalah ke Danau Toba. Anda akan menemukan surga di sana. Surga ketenangan yang tiada dua. Bisa dinikmati dari berbagai sisi. Ibarat seorang model dengan lekuk dan pesona yang paripurna. Saya tak pernah bosan menikmatinya, meski hanya sekadar lewat.

Pantai Natal, Mandailing Natal (dok. AFR)

Pantai Natal, Mandailing Natal (dok. AFR)

Itu masih tempat yang paling umum dikenal dunia. Cobalah sekali-sekali ke tempat yang saya ketahui saja. Pantai Natal di pesisir barat Sumatera Utara, misalnya. Keindahannya tak kalah dibandingkan Bali. Masih perawan pula. Atau ke sisi lainnya yang dekat dengan Sibolga. Pulau Poncan. Lumayan lah untuk mengistirahatkan diri sejenak serasa di pulau pribadi. Atau ke Simalem, Tanah Karo. Ini baru sekadar angan-angan bagi saya, karena belum pernah menginjakkan kaki ke sana. Tapi aura “mistis” tentang keindahannya yang menghipnotis, sudah bisa saya rasakan dari cerita-cerita orang-orang yang pernah ke sana. Mungkin semacam ilusi, tapi saya yakin benar adanya.

Atau ke air terjun tersembunyi yang ada di gugusan pulau di pesisir barat sana. Atau danau Siais yang keindahannya masih rahasia, atau tempat-tempat lain yang tampaknya remeh; hanya berupa aliran sungai jernih, tempat pemandian air panas, persawahan yang hijau-subur-makmur, latar bukit barisan yang mempercantik lukisan alam, namun jika dikelola menjadi objek wisata, akan terasa benar perbedaannya.

Namun jika tinggallah jika. Objek-objek wisata yang potensial itu sampai saat ini masih saja belum “naik panggung”. Kalah oleh objek-objek pariwisata yang sudah secara gencar dipamerkan provinsi-provinsi lain. Jawa Barat, misalnya. Provinsi ini bagi saya selalu memesona. Setiap sudutnya adalah keindahan. Sampai-sampai bila melihat foto hamparan kebun teh atau dataran tinggi, saya selalu menduga itu adalah pemandangan khas Jawa Barat. Surga alam yang tampak biasa-biasa saja bisa disulap jadi nirwana kelas tinggi. Padahal, ada kalanya sebenarnya tampak biasa saja.

Selamat datang di Pulau Poncan!

Selamat datang di Pulau Poncan! (dok. AFR)

Saya punya ekspektasi lebih ketika pada pengujung Oktober kemarin, saya dan keluarga besar mengadakan pertemuan -acara silaturrahim- di Bandung. Selain plesir di sekitaran Bandung,  agendanya adalah mengunjungi objek wisata Kawah Putih di Ciwidey. Wah! Saya berseru girang ketika mengetahui akan ke sana. Sudah lama saya memimpikan berkunjung ke kawah yang sering dijadikan setting fotografi, video klip atau adegan film itu. Seperti berada di dunia antah berantah yang eksotis, begitu selalu pikir saya.

Maka jadilah. Pada hari Sabtu (19/10), kami bergerak ke sana dengan menggunakan sebuah bus dan dua mobil pribadi. Sepanjang perjalanan, saya sudah tak sabar ingin melihat langsung bagaimana rupa Kawah Putih yang kesohor itu. Saat sudah tiba di lokasi, pengunjung ternyata sedang ramai-ramainya. Maklum, akhir pekan, dan anak-anak sekolah sedang menikmati jeda sejenak setelah ujian tengah semester. Dari deretan bus-bus dan kendaraan pribadi itu, bisa dikira berapa banyak wisatawan yang tengah menikmati alam di kawah sana.

This slideshow requires JavaScript.

Sesampainya di tempat parkir, masih ada jarak sekitar 10 menit perjalanan yang ditempuh dengan angkot khusus yang mengangkut wisatawan menuju ke kawasan kawah. Sebelumnya para pengunjung diberikan (atau membeli ya? Maklum, soalnya saya dapat jatahnya dari anggota rombongan lainnya) masker agar nantinya tak banyak menghirup uap sulfur yang bisa membahayakan kesehatan. Setelah itu, barulah mengantre untuk menaiki angkot.

Tiba di lokasi, ada semacam ruang terbuka sebelum kita menuruni tangga. Pengunjung ramai sekali, baik turun maupun naik. Beberapa anak tangga ke bawah, barulah terlihat kawah putih yang fenomenal itu. Indah! Saya sempatkan dulu berfoto bersama suami sebelum terus turun mendekati kawah. Semakin turun, semakin nyata ramainya pengunjung. Sejauh mata memandang, yang tampak adalah kawah biru muda yang menguarkan uap putih dengan ratusan (atau ribuan?) manusia yang seolah berebut tempat untuk mengabadikan gambar. Setiap spot rasanya sudah ada yang mem-booking. Saya dan keluarga memilih spot yang terdekat saja untuk berfoto.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara petugas dari pengeras suara, bahwa pengunjung dianjurkan hanya selama 15 menit saja berada di lokasi itu, karena uap sulfurnya yang bisa merangsang timbulnya rasa mual dan pusing. Sayang, kami tak sampai jauh menjelajahi kawasan wisata itu, karena areanya yang cukup luas. Lagipula, mulai terasa efek uap sulfurnya karena saat berfoto melepas masker. Anggota keluarga yang lain sudah lebih dulu kembali ke atas. Tapi saya dan suami masih ingin menjelajah ke titik lain. Ternyata ada gua tertutup di sebelah kiri sebelum tangga. Kami berbelok sejenak untuk sekadar melihat dan berfoto. Karena sudah mulai sedikit mual, berfoto tetap menggunakan masker. Dan, ya sudah. Kami kembali ke atas dengan membawa oleh-oleh beberapa foto yang dirasa lumayan.

Sesampainya di atas, saya masih berpikir-pikir tentang Kawah Putih yang baru saya lihat. Kesan eksotis, hmmm..lumayan dapat. Kesan indah, hmmm…dapat juga. Kesan yang membuat saya ingin ke sana lagi? Hmmm…tidak terlalu. Entahlah. Mungkin karena ramainya pengunjung, sehingga kesyahduan dan eksotisme tempat itu tertutup. Saya bayangkan kalau sedang sepi. Pasti itu akan menarik sekali. Saya bebas mengambil spot untuk objek fotografi di mana saja. Tapi namanya objek wisata yang sudah dipromosikan ke mana-mana, ya jelas saja ramai. Kalau mau sepi, bikin sendiri. 😀

Di atas anak tangga, saya melihat seorang bapak yang dari segi fisik ada kekurangan tampaknya. Si Bapak memainkan kecapi di sebuah saung, bermaksud menarik perhatian pengunjung. Sebuah wadah diletakkan tak jauh dari tempatnya. Saya intip, isinya lembar-lembar uang. Ooh..cara “mengamen” yang elegan, pikir saya. Setelah menaruh sejumlah uang di wadah tadi, saya memotret si Bapak dari berbagai sisi.

Saya dan suami pun bergantian berpose bersama si Bapak. Musik khas Parahyangan yang dimainkannya terdengar nyaman di telinga. Mengiringi kami ke “halte” angkot. Sambil menanti, saya dan suami berpose di tulisan “Kawah Putih”, dijepret Nanguda. Tak lama kemudian, angkot pun tiba, dan saya kembali ke parkiran dengan pikiran; mungkin itulah hikmahnya banyak objek wisata di Sumut tak terlalu diekspos dan dikelola secara profesional. Agar tetap alami dan tak terlalu banyak mengundang pengunjung. Membiarkan keindahannya senantiasa jadi rahasia sampai orang-orang menemukannya sendiri. Begitukah?

Yang jelas, saya jadi ingin sekali ke Kawah Putih Tinggi Raja di Simalungun itu. Dilihat dari fotonya, buat saya, Kawah Putih ala Sumut itu juara!

 ***

>> Sila menikmati foto-foto Kawah Tinggi Raja lainnya di tulisan Rahmad Agus Koto ini. Dijamin ngileeerr… 😀

>> Tulisan terkait: Suatu Ketika di Ciwidey..

24 thoughts on “Menjelajah Surga di Sumatera Utara

  1. hayhay.. sumpah ya, buagus banget Nisa….!! Pengen kesana!! Februari akhir, mertua ke sumatra utara, kisaran danau toba untuk tugas kerjanya. andai bisa ikut, ajak aku jalan-jalan *ngeces gak berhenti-berhenti*

  2. pertama kali lihat kawah putih di medan itu ya dari teman ngajar kak,cantikkk banget kayak yg di ulas teman di K itu….kirain dimana,eh ternyata di medan….keren,doain bisa nyampe medan ya kak 😀

  3. Ke Kawah putih ciwidey, beli oleh2 khas sana? Itu tuh strawberry, sepertinya ada semacam pasar oleh2 di halte angkot pas pulang dari kawah putih..

    Wuaah pengin banget wisata ke spot2 surga di Sumut itu, amiin ah mudah2an bisa kesana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s