Sayonara Singapura!

jalan di travellator sambil cuci mata.. :D

jalan di travellator sambil cuci mata.. ๐Ÿ˜€

***

2 Januari 2014.

Malam sudah menjelang. Langit Singapura pukul 7 masih terang, sama dengan langit Indonesia Barat pukul 6 sore. Saatnya berangkat ke bandara. Lebih baik cepat sampai dan menunggu di sana daripada mesti tergesa-gesa mengejar batas waktu check in dan boarding. Pergi ke bandara berarti harus berpisah dengan Udak, Nanguda dan Kiki. Tak terbilang rasa terima kasih untuk mereka, keluarga kecil nan bahagia dan sejahtera, yang telah mengajak saya dan suami memanfaatkan waktu liburan akhir tahun untuk mencecap kesenangan di negeri Singa.

Ingin rasanya ikut lagi untuk trip liburan berikutnya ke negeri-negeri lain. Tapi nanti sajalah. Menabung dulu agar kelak bisa menjejakkan kaki di Malaysia, Korea Selatan, Paris, Belanda, Belgia dan beberapa negara Eropa lainnya, yang merupakan rencana perjalanan Nanguda beberapa bulan ke depan. Dalam hati saya selalu bergumam, sungguh asyik pekerjaan Nanguda ini. Memiliki biro travel dan ikut serta mendampingi turis-turis berlibur ke berbagai negara. Bekerja sambil jalan-jalan. Wah!

Sembari mengobrol di lobby, tak berapa lama taksi yang kami pesan pun datang. Tibalah saatnya untuk melambaikan salam perpisahan. Semoga bisa berjumpa lagi kapan-kapan. Taksi pun melaju, meninggalkan hotel dan menyusur jalanan Singapura. Ketika melewati Marina Bay, ingin sekali mengabadikannya saat malam, tapi ah, tempat itu sedang tampak biasa saja. Lelampu dan permainan laser warna-warninya belum seatraktif seperti yang sering tampak di foto-foto.

Kami bertiga menikmati perjalanan dalam diam. Supir taksi yang membawa kami kali ini tampak tak banyak bicara. Usianya paruh baya. Saya mencoba berbasa-basi, sekalian practice English, pikir saya. Tapi sang supir hanya menjawab sekadarnya dan cenderung cuek. Saya jadi malas untuk melanjutkan percakapan. Mungkin itu adalah gambaran segelintir masyarakat Singapura, acuh tak acuh terhadap orang yang semestinya dilayani dengan baik dan ramah. Tapi kalau dikatakan segelintir, saya rasa tidak juga. Beberapa kali saya temui orang-orang yang berlagak tak acuh saat memberikan pelayanan.

Gate D32 masih kosong melompong..

Gate D32 masih kosong melompong..

Pertama kali saat sarapan di hotel. Sang pelayan yang berwajah India membereskan piring-piring di depan kami -bahkan ada yang sebenarnya belum selesai- tanpa permisi dan tanpa senyum manis. Malah dengan wajah keras yang membuat saya geleng-geleng kepala. โ€œKenapa nggak ditanya dulu ya, sudah selesai apa belum?โ€

Saya kira cuma si pelayan yang satu itu saja. Tapi esoknya saya temui hal yang serupa dengan orang yang berbeda. Ada memang satu pelayan -tampaknya chief-nya- wanita paruh baya yang tampak mengobrol ramah dengan Nanguda. Mungkin itu pun lebih karena Nanguda sering membawa turisnya ke hotel itu untuk menginap, jadi sudah saling kenal.

Tak jauh beda dengan pelayan di salah satu restoran di Universal Studios. Saya meminta tolong untuk diambilkan paperbag, membungkus sisa kentang dan ayam yang masih lumayan banyak. Makanan itu tentu masih bisa dinikmati nanti. Sang pelayan hanya mengangguk sedikit tanpa tersenyum, lalu pergi mengambilkan apa yang saya minta. Ekspresinya tak berubah setelah saya mengucapkan terima kasih. Ia melanjutkan saja pekerjaannya.

Dan terakhir, supir taksi ini. Ah, sudahlah. Kalau bicara keramahan pelayanan, Indonesia memang juaranya saya kira. Apalagi kalau melayani turis-turis asing. Terkadang anak bangsa sendiri seperti dianaktirikan. Tak jauh beda dengan mental penjilat. Hahah.. Itu kesimpulan yang saya ambil dari cerita Nanguda tentang pengalamannya berlibur ke Bali. Beberapa kali ia mendapat perlakuan kurang mengenakkan justru dari saudara sebangsa dan setanah air. Memangnya hanya turis asing dan orang Indonesia berpenampilan borjuis saja yang bisa menginap di hotel berbintang? Ah, saya jadi โ€œpongahโ€ sambil prihatin.

Taksi yang kami tumpangi sudah sampai di Terminal 1. Setelah bertanya kepada petugas bandara, kami menuju counter maskapai. Ternyata pelayanan check in belum dibuka. Lihat jam, memang kami agak cepat sampai. Tapi antrean sudah panjang. Kami langsung ikut antrean di counter maskapai yang menuju beberapa kota di Indonesia itu, bersama orang-orang Indonesia dan beberapa bule. Terdengar percakapan antara pria Indonesia dengan wanita bule, yang ujungnya lebih kurang seperti ini.

 

โ€œI wanna go to Bali, not Indonesia,โ€ kata si bule.

โ€œBali is in Indonesia,โ€ sahut si orang Indonesia.

 

Pesawat yang bakal ditumpangi..

Hei, pesawatnya sudah menanti!

ย Beberapa orang tampak menoleh dan tersenyum mendengar percakapan itu, termasuk saya dan suami. Haiihh..hari gini. Masih ada bule yang belum paham kalau Bali adalah bagian dari Indonesia. Mungkin dulu dia belum tamat Geografi. Kalau sebelum-sebelumnya saya hanya mendengar cerita yang seperti ini dari orang lain, kali ini saya mendengarnya langsung. Ini sebenarnya mengesalkan sekaligus menggelikan. Sampai-sampai saya curiga, apa atlas dunia yang dipelajari bule-bule itu berbeda dengan yang kita pelajari di sekolah dulu? Mungkin di atlas mereka ada batas wilayah antara Bali dan propinsi-propinsi lain di sekelilingnya. Semestinya si bule mengenali dulu negara yang akan dia kunjungi.

Akhirnya counter dibuka dan setelah check in bagasi, kami mencari tempat makan yang enak dengan harga terjangkau. Pilihan jatuh ke KFC, yang kami yakini sudah pasti enak dan ada logo halalnya. Tetap saja saya kurang bisa menikmati karena lidah saya masih sakit. Tapi rasa ayam goreng renyah dengan saus bulgogi itu sungguh menggugah selera. Saya tahankan rasa sakit di lidah demi menikmatinya. Haha!

Setelah makan, kami berkeliling sebentar sebelum menuju Gate D32. Berhenti sebentar di toilet. Saya yang menunggu suami di luar, tertarik melihat keran air minum yang ada di sana. Wah, ini belum saya coba! Saya sempat ragu karena belum tahu bagaimana menggunakannya. Apanya yang ditekan? Untunglah ada beberapa orang yang minum dari keran itu sehingga saya bisa tahu bagian mana yang mesti ditekan agar air keluar. Setelah tahu dan melihat sekeliling -haha!- saya dekati keran itu, tekan โ€œtombolโ€nya, dengan mulut menganga yang bersiap-siap menampung kucuran air. Sukses! Hmmm, enak sekali airnya. Dingin menyejukkan. Sayang, tak ada botol air untuk menyimpannya.

Ada sensasi tersendiri ketika mencoba minum dari keran itu. Itu sudah lama ingin saya lakukan. Saya punya mimpi sederhana bahwa suatu saat, saya bisa minum dari keran, seperti yang sering saya lihat di film-film barat itu. Ya, terserahlah kalau mau bilang norak. Hahahaโ€ฆ Yang jelas mimpi saya itu sudah tercapai. Dan selanjutnya ingin minum dengan cara yang sama di negara yang berbeda. Aamiin.. Kecuali Indonesia tentunya. ๐Ÿ˜€

Salah satu penumpang yang ngakunya ngantuk berat..ternyata masih sempet2nya begaya.. :))

Salah satu penumpang yang ngakunya ngantuk berat..ternyata masih sempet2nya begaya.. :))

Sesampainya di Gate D32, ternyata belum buka. Jadilah, saya dan penumpang lainnya menunggu di luar, duduk di troli atau berselonjor di karpetnya yang khas. Rasa lelah dan ngantuk mulai terasa. Ingin sekali rasanya segera sampai di Medan dan tidur dengan nyaman di rumah.

Singkat cerita, akhirnya pintu Gate dibuka. Tak berapa lama kemudian kami sudah terbang menuju Medan dalam waktu 1 jam 25 menit. Sampai di Bandara Kuala Namu hampir pukul 12 malam. Bandara sudah sepi dan ternyata penerbangan kami adalah yang terakhir. Lucunya, antrean di Imigrasi tak lagi setertib di Singapura. Beberapa orang merangsek maju tanpa memerhatikan antrean. Kalau sudah begini, barulah terasa benar kalau sudah sampai di Indonesia. Haha! Payah, ketertiban cuma berlaku sementara di negeri orang. Itupun karena takut ditegur atau didenda.

Selesai mengklaim bagasi, syukurlah sudah ada yang menjemput. Mama mertua, adik ipar dan supir rupanya sudah menunggu sejak tadi. Kami pun melalui jalanan dari Deli Serdang ke kota Medan yang sudah lumayan sepi. Satu jam lebih kami baru sampai di rumah. Sambil terkantuk-kantuk, saya merasa takjub dengan apa yang sudah dilalui di hari itu. Beberapa jam sebelumnya kami masih seru-seruan di Universal Studios. Lalu malam ini, kami sudah tiba kembali di rumah dengan kasur yang sudah menanti. Demikianlah. Mau liburan ke mana saja, capeknya baru terasa setelah kembali ke rumah. Badan saya? sudah remuk redam dihajar lelah dan sakit campak yang masih meraja. Duh!

***

8 thoughts on “Sayonara Singapura!

    • haah? serius kuraangg? hihih..maunya sih banyak serinya, mbak..tapi ngepostnya ntar udah ga pas momennya lagi..aku kan agak jarang nulis..hihihi..

      hahahah..orang jutek emang nyebelin, mbaakk.. ๐Ÿ˜†

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s