Singapura dan Mimpi yang Terwujud

Siap menikmati hari-hari seru di Singapura..

Siap menikmati hari-hari seru di Singapura..

Jalan-jalan ke luar negeri adalah salah satu mimpi saya. Terutama ke Mekkah dan benua Eropa sana. Saya yakin sekali, suatu saat saya akan menginjak juga tanah yang bernama-nama asing itu. Rasanya wow sekali ketika membayangkan berjalan-jalan menikmati negeri-negeri lain. Menambah pengalaman dan wawasan langsung dari negara yang kita kunjungi. Menjelajah setiap sudut yang pernah dilalui orang-orang yang sudah lebih dulu ke sana dan bercerita dengan semangat sampai membuat iri.

Saya ingat, waktu itu kelas 2 SMU. Saya ditawari oleh salah seorang guru kesenian saya untuk ikut study tour ke Australia. Entah berapa hari waktu itu. Awalnya saya kegeeran karena ditawari, merasa tawaran itu semacam beasiswa. Tapi kemudian saya baru tahu kalau study tour itu berbiaya, dan biayanya tidak sedikit. Saya langsung merasa hampa. Tak mungkin saya meminta uang berjuta-juta pada orangtua untuk membiayai perjalanan saya ke sana. Dalam keluarga saya tidak ada kamus berlibur ke luar negeri. Berlibur hanya ke kampung halaman di Tapanuli dan Mandailing Natal serta sesekali ke Pulau Jawa. Itupun karena banyak keluarga dan kerabat di sana.

IMG_1507

Sayang, ga sempet ke bangunan di belakang itu..

Ya sudah, tawaran kesempatan ke luar negeri itu menguap begitu saja. Akhirnya hanya teman-teman saya yang dari keluarga menengah ke atas saja yang ikut rombongan, yang memang biasa berlibur ke luar negeri bersama keluarga. Ngenes ya? Hehe…tapi tak apa. Mimpi berkunjung ke negeri orang itu tetap dipelihara sampai nanti akan ada saatnya yang terbaik untuk ke sana.

Tak disangka, saat terbaik itu terwujud nyata di akhir tahun 2013 lalu. Ceritanya, sejak bulan-bulan sebelumnya, saya dan suami diajak adik Papa saya yang punya usaha Biro Jasa Travel di Bandung. Kami ditawari ikut tour ke Singapura pada Oktober 2013 lalu. Tapi karena suami saya sedang tidak bisa karena pekerjaan, kami dengan berat hati menolak ajakan itu. Sebulan kemudian, istri adik Papa yang saya panggil Nanguda itu menawari untuk yang kedua kalinya. Kali ini dalam rangka liburan akhir tahun, 31 Desember 2013 sampai 2 Januari 2014. Syukurlah itu memang tanggal-tanggal libur. Alhamdulillah, pikir saya. Akhirnya datang juga kesempatan ke Singapura.

IMG_1508

Saking ramenya ga nemu tempat strategis selain di sini.. πŸ˜€

Liburan akhir tahun berarti juga peak season. Wew. Ditambah lagi kurs dollar Singapura yang sedang meroket, hingga menyentuh angka Rp 9.700,- per S$ 1. Tapi tak apalah. Sesekali berlibur dengan biaya lumayan mahal. Toh, ini juga ikut tour travel-nya saudara sendiri, jadi lebih nyaman dan fleksibel.

Rencana terancam gagal ketika tiba-tiba saya terserang gejala penyakit campak jelang hari keberangkatan. Badan pegal-pegal di sekujur badan, demam, kulit kemerah-merahan. Wah, pokoknya sangat tidak nyaman! Mana itu mulai terjadi waktu saya dan suami sedang dalam perjalanan dari Panyabungan ke Medan. Dan keberangkatan ke Singapura hari lusanya. Ya sudah, sesampainya di Medan saya segera mengonsumsi obat medis maupun tradisional agar penyakit itu segera sembuh. Ibaratnya, harus bisa mengalahkan rasa sakit demi jalan-jalan kali ini. Sayang kan kalau gagal berangkat terus tiketnya hangus.

Akhirnya Allah berkenan mengurangi sakit saya saat hari H keberangkatan. Demam sudah berkurang, meski masih panas dingin, dan pegal-pegal dapat diatasi. Awal terasa pegal-pegal itu, duh, tak terbayang sakitnya. Sudah seperti orangtua. Sempat dikira kolesterol saya yang naik. Hehe… Prasangka itu baru terbantahkan dengan diagnosa Mama mertua saya ketika melihat muka dan mata saya yang merah. Juga bercak-bercak merah di sekitar tangan dan kaki. β€œAh, krumut ini,” katanya. Krumut? Apaan tuh? Seumur-umur saya belum pernah merasakan sakit yang seperti ini.

IMG_1510

Gedung Gardens By the Bay dari kejauhan.

Ternyata krumut itu sama dengan campak. Walah, kayak sakit anak kecil, ya. Tapi begitulah. Katanya -entah kata dokter atau hanya dari pengalaman orang-orang- kita wajib menderita penyakit ini sekali seumur hidup. Dan saya baru merasakannya sekarang. Di saat saya mau liburan. Huhuhu.

Tapi dasar semangatnya mau liburan lagi tinggi, kena campak tak jadi kendala, asalkan merasa badan bisa kuat jalan seru selama 3 hari 2 malam di sana. Tak lupa juga minum obat teratur. Syukurlah saat pemeriksaan paspor di Imigrasi tak jadi kendala. Kabarnya, kalau ketahuan menderita penyakit menular, tak bakal diizinkan terbang.

Dari bandara Kuala Namu, Deli Serdang, ke bandara Changi di Singapura memakan waktu 1 jam 25 menit. Di dalam pesawat, rasa penasaran seperti apa bandara Changi yang tersohor itu terus membayangi. Rasa tak nyaman karena mulut terasa kering dan badan belum fit benar terkalahkan dengan antusiasme ketika pesawat akhirnya mendarat dengan selamat.

Inilah saatnya menginjakkan kaki di negeri Singa. Wow. Bandaranya memang lebih wah daripada bandara Soekarno-Hatta dan Kuala Namu sekalipun, meski ada beberapa bagian yang agaknya ditiru oleh bandara Kuala Namu. Kami terus berjalan menyusuri bandara sampai ke bagian Imigrasi. Belum sampai ke ujung, Udak -panggilan untuk adik Papa- dan Nanguda serta temannya satu keluarga menyambut kami. Pesawat mereka dari Bandung sudah lebih dulu mendarat. Memang sebelumnya sudah janjian untuk saling menunggu di dekat Imigrasi. Setelah melewati segala prosedur di Imigrasi dan mengambil bagasi, kami ke luar dan ternyata sudah disambut oleh driver dari rental minibus yang akan membawa kami berjalan-jalan selama di Singapura.

IMG_1512

Serasa jadi model..eh..

Here we go! Keindahan, kerapian, dan ketertiban kota Singapura segera terhampar di depan mata. Saya begitu menikmati saat-saat mobil-mobil keren melintas di samping kiri kanan minibus yang kami tumpangi. Taman-taman kota yang indah dan rapi. Gedung-gedung pencakar langit yang memukau. Lalu lintas yang nyaris tanpa bunyi klakson. Sebuah kota megapolitan yang sempurna. Barangkali beginilah gambaran secara umum kalau di negeri orang, pikir saya.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Merlion Park, di Marina Bay. Turis sedang ramai-ramainya. Mayoritas adalah Chinese dan bule-bule kulit putih. Tak terbayangkan malamnya seramai apa, karena acara menyambut tahun baru akan digelar di situ.

Saya pandangi Merlion, si singa mangap. Akhirnya aku ketemu kamu, Merlion… Haha… Selama ini cuma bisa memandangi foto-fotonya saja sambil berdoa suatu saat akan melihatnya secara langsung. Dan hari itu adalah jawaban Tuhan. Betapa senangnya! Meski langit kelabu dan gerimis turun malu-malu, saya tetap excited untuk mengambil foto di tempat ini. Selesai berfoto ria di Merlion Park, kami ke Gardens By the Bay. Tempat apa itu? Ah, nanti sajalah diceritakan, ya. Enaknya itu ditulis di postingan tersendiri.

IMG_1516

Katanya ini es krim paling enak. S$1.50. Saya pilih rasa chocomint. Agak nyesel karena ternyata rasa duren lebih enak.. :))

Well, sebenarnya yang ingin saya sampaikan cuma satu; jangan pernah berhenti bermimpi. Karena suatu saat, dengan usaha dan keyakinan, insya Allah kita akan sampai juga di tujuan. Bisa besok, lusa, nanti atau entah kapan saat yang terbaik menurutNya.

Singapura adalah awal pijakan kaki saya di negeri orang. Mungkin tak berarti apa-apa bagi orang-orang yang sudah sering ke sana atau bagi orang-orang yang sering berplesir ke negeri-negeri yang jauh. Tapi buat saya, pijakan awal berarti mula dari rangkaian kejutan yang akan diberikan Tuhan lagi di saat yang tepat. Maybe Mecca or Europe will be the next amazing trip? Who knows?

Β ***

26 thoughts on “Singapura dan Mimpi yang Terwujud

    • ehehehe..saya juga baru tau kalo itu es krim femes, mak Diana..padahal rasanya biasa aja sih sebenernya ya..kayak es krim di resto fountain.. πŸ˜€ bentuk es krim dan roti warna-warninya aja yg bikin beda paling.. πŸ˜€

    • hihihi..betuuuull, mbak Indrii..sampe sana kok ya malah banding2in dgn negara sendiri ya, trus kangen Indonesia..hahaha..apalagi pas liat air terjun di cloud forest yg gada apa2nya dibanding air terjun alami di Indonesia..merasa bisa ngeledek negeri orang jadinya..eh.. :))

  1. wiiih, asyiknya πŸ˜€ Enak kan ya bisa jalan kaki dengan nyaman kemana-mana kalo di Sing itu… Seandainya suatu saat nanti Jakarta bisa kayak gitu juga, demikian juga dengan berbagai kota besar/kecil di sini, senengnya… Selamat menikmati jalan2 dan semoga semua mimpi jalan2nya kemana-manapun juga segera terwujud. πŸ˜€

    • tapi kakiku gempor berat, mbaak..hihihi..ketauan ga biasa jalan, jogging ato treadmill.. πŸ˜€

      iyaa, seandainya kota2 di Indonesia kayak gitu juga..asik bgt pastinya..

      makasih doanya, mbak Gee..smoga abis ini bisa jalan kemana2 lagi..aamiin.. πŸ™‚

  2. Wah, seru jalan2nya, mbak Annisa… Pengen banget ke LN bareng istri karena selama ini selalu sendiri dan itu pun tugas liputan 😦

    Ada rekomendasi penginapan murah di SG, gak mbak? hehe

    • ehehe..seruu, mas Nurul..mungkin karna baru pertama kali..ahahaha..
      iya juga ya, ke LN karna tugas pasti beda rasanya dengan yang cuma liburan..hehe..smoga kapan2 bisa ngajak istrinya ya..aamiin.. πŸ™‚

      tentang penginapan murah saya kurang tau, mas..mesti nanya ke sodara saya yg punya travel itu dulu..yg kemaren liburan itu kebetulan saya di salah satu hotel di kawasan Orchard Road..etapi di Lucky Plaza Orchard Road katanya lumayan juga..recommended karna relatif terjangkau di daerah strategis..

    • hihih..iyaa, mbak Hanna..asik juga punya sodara pengusaha travel..mau ke mana2 udah ada guide-nya..tinggal dananya aja nih yg dipikirin.. πŸ˜€

      yakin aja, mbaak..suatu saat bisa ke sana..atau jangan2 malah ke tempat yg lebih jauh dan keren.. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s