Being Smart; Do What You Love, Love What You Do

Bukan. Ini bukan lagi baca buku serieus, tapi baca buku menu. Nggak ada foto lain soalnya.. :P

Bukan. Ini bukan lagi baca buku serieus, tapi baca buku menu. Nggak ada foto lain soalnya.. 😛

***

SAYA sempat berada di zaman ketika kesan smart itu ada pada orang-orang yang berkacamata, sebagai tanda suka membaca. Apalagi kalau kacamatanya berminus tebal seperti pantat botol. Wah, bisa dipastikan kesan smart itu akan bertambah-tambah, mengundang decak kagum. Keren! Sampai-sampai saya dulu ingin sekali berkacamata. Ya karena kesan smart dan keren itu tadi. Haha! Tapi dasar nasib, keinginan saya tak didukung ibu yang sehari-harinya suka menghidangkan menu sayuran dan jus wortel. Jadilah, mata saya tak pernah kenal dengan kacamata minus.

 

Seiring maraknya penggunaan smartphone, kesan smart buat saya tak lagi terpaku pada penggunaan kacamata minus (karena penyebab mata minus bisa banyak, Kawan..). Tapi lebih pada kemampuan seseorang untuk mengenali potensi dirinya, termasuk kelebihan dan kekurangannya. Memang apa perlunya untuk kenal potensi diri sendiri? Jelas perlu, dong. Zaman sekarang, kalau hanya mengandalkan gelar akademik tapi tanpa memiliki keterampilan apa-apa, maka siap-siap tenggelam ditelan masa. Persaingan manusia modern semakin kompetitif, sehingga dibutuhkan otak-otak pintar nan kreatif untuk bisa terus eksis dan unggul di bidangnya. 

 

Anda pernah dengar kalimat ini? “Zaman sekarang, selain pinter, tapi juga harus pinter-pinter”. Nah, pinter-pinter yang dimaksud adalah pandai melihat peluang dan diselaraskan dengan kemampuan diri. Ternyata untuk jadi pinter-pinter itu tak selalu mudah jalannya. Kadang, ide-ide kreatif yang bermunculan tak sampai dikembangkan hanya karena ide itu tak diterima dengan baik oleh lingkungan. Dalam merintis jalan, pasti ada saja orang-orang yang mencemooh, meremehkan, menjatuhkan, dan segala reaksi negatif lainnya. Itu tantangan awalnya. Tapi kalau kita sudah yakin dengan jalan yang kita pilih, tentunya segala reaksi negatif itu akan direspon sambil lalu. Justru semua itu adalah vitamin yang semakin menguatkan cinta dan dedikasi kita pada jalan hidup yang dipilih.

 

Pernah pada suatu masa, saya merasa terpaksa untuk memasukkan lamaran pekerjaan ke perusahaan-perusahaan dan instansi-instansi pemerintahan, hanya karena saya merasa itu sudah seharusnya dilakukan oleh seorang sarjana. Saya ikut mengantre untuk membuat kartu kuning, membuat surat lamaran, menyiapkan apa-apa saja untuk melamar, lalu memasukkan surat lamaran, untuk kemudian mengikuti seleksi calon karyawan. Dan anehnya, saya merasa biasa saja ketika saya tak berhasil lulus tes.

 

Kali lain, saya beberapa kali disodori lowongan pekerjaan oleh Abang, Om, atau siapa saja keluarga saya untuk melamar di instansi pemerintahan. Saya secara tegas menolak, hanya karena saya merasa itu bukan dunia saya. Dunia saya bukanlah duduk bekerja di kantor dengan jadwal ketat dan penghasilan tetap setiap bulannya. Saya tak pernah bercita-cita menjadi pegawai kantoran, meski rata-rata teman-teman saya sudah mapan dengan pekerjaan kantorannya sekarang. Saya menyukai dunia kreatif. Saya cinta menulis dan bermimpi suatu saat akan jadi penulis.

 

Saya sudah tahu bahwa suatu saat saya akan menggeluti dunia tulis menulis ini, bahkan sejak SMP. Pernah saya ditanya, kelak mau jadi apa? Tanpa ragu saya menjawab, “Jadi penulis”. Si penanya menatap saya heran begitu mengetahui betapa remehnya cita-cita saya tersebut. Mungkin yang ada di benaknya, pekerjaan penulis itu sama seperti menuliskan dikte pelajaran dari guru di sekolah, atau sekadar menulis daftar belanjaan. Kesukaan menulis saat itu hanya diwujudkan dalam bentuk menulis diary atau puisi-puisi dan cerita-cerita fiksi yang tak pernah terpublikasi. Aktivitas menulis sederhana ini kemudian terhenti ketika saya kuliah sampai ke jenjang S2 dan sempat bekerja sebagai dosen.

 

Tapi ternyata Tuhan memang Sang Pemeluk Mimpi, dan Mahatahu apa-apa yang tersembunyi di hati hambaNya. Ada saja cara Tuhan untuk mengembalikan saya ke rel, menemukan jalan pulang. Saya hampir lupa dengan passion saya itu, ketika akhirnya saat menikah, saya ikut suami ke daerah dan meninggalkan kegiatan mengajar. Karena tidak ada pekerjaan lain selain mengurus rumah, saya mulai menikmati waktu dengan berselancar di dunia maya. Saat itulah untuk pertama kalinya saya kenal dunia blogging dan ikut ngeblog.

 

Ketika pertama kali saya ngeblog pada tahun 2009 itu, saya sempat diremehkan. “Ngapain ngeblog?” begitu pikir orang-orang yang memang tak kenal dan tak suka dunia blogging. Saya sempat ragu, tapi kemudian rasa rindu setelah sekian lama tak menulis mengalahkan segalanya. Seiring berjalannya waktu, saya mulai menunjukkan beberapa prestasi yang saya hasilkan dari dunia menulis ini, hingga akhirnya mampu meredam sikap skeptis orang-orang yang pernah meremehkan passion saya itu.

 

Meski dunia menulis adalah hasrat terpendam yang coba terus digali dan dikembangkan, bukan berarti dengan demikian saya meninggalkan begitu saja pekerjaan resmi saya di dunia Psikologi. Saya masih merasa bertanggungjawab dengan gelar akademik yang sudah saya raih. Dan saya bersyukur, passion saya ini ternyata berguna juga untuk pekerjaan Psikolog. Selain sebagai media untuk berekspresi, keterampilan menulis sangat membantu saya saat menulis laporan psikologis klien. Senang sekali bila akhirnya saya bisa mempertemukan pekerjaan berdasarkan gelar akademik dengan minat pada bidang lain, yang sampai saat ini keduanya saya jalankan beriringan dan masih terus berproses. Saya sadar betul, di kedua bidang itu, saya belumlah apa-apa. Tapi saya sudah sangat senang dan merasa smart karena telah berani memilih jalan hidup saya sendiri dan berkeyakinan akan menuai hasil yang baik pada akhirnya.  

 

 Dalam menentukan langkah, saya bersandar pada prinsip ini:

 “Hidup hanya sekali. Untuk apa menghabiskan waktu melakukan hal yang sesungguhnya bukan diri kita?”

Dan memegang teguh kutipan-kutipan berenergi ini:

Do what you love, Love what you do”

                                                              Anonymous-

 “Dua jalan bercabang di dalam hutan, dan aku…

Kupilih jalan yang jarang ditempuh,

Dan perbedaannya besar sungguh…”

                                Paulo Coelho-

 

***

Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Ultah Blog Emak Gaoel

banner lomba

2 thoughts on “Being Smart; Do What You Love, Love What You Do

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s