“Ayah, Dimanakah Nyawa Itu Berada?”

Image

Aku mulai tahu bagaimana rasanya kehilangan. Ketika seseorang yang selama ini dekat dengan kita, lalu tiba-tiba hilang. Aku kerap bertanya, bagaimana rasanya mati? Bagaimana sakitnya saat ruh tercerabut dari jasad? Aku belum bisa membayangkan kalau itu terjadi pada diriku. Kadang saat memikirkannya, aku merasa asing dengan diriku sendiri. Tiba-tiba aku merasa gamang karena ruhku terasa melayang-layang di atas tubuhku. Rasanya sungguh aneh.

Aku pernah bertanya pada Ayah, dimanakah nyawa itu berada?
“Apa jantung itu nyawa, Ayah?”
Ayah menjawab, “Bisa dibilang begitu.”
“Apa paru-paru itu nyawa, Ayah?”
Ayah masih menjawab, “Bisa dibilang begitu.”
“Apa otak itu nyawa, Ayah?”
Ayah tetap menjawab, “Bisa dibilang begitu, Nak..”

Aku mulai bingung bagaimana wujud nyawa itu. Mengapa ia tak terlihat, tak teraba, dan serba tak pasti. Aku penasaran. Nyawa berarti ada dimana-mana di tubuhku ini. Sesuatu yang abstrak sekaligus absurd bagi pikiran anak sekecil aku dulu.

Lalu aku mulai paham sedikit demi sedikit. Berarti aku harus menjaga otak, jantung dan paru-paruku agar nyawa itu tetap ada di tubuhku. Juga harus menjaga bagian tubuh yang lainnya agar tak sakit, agar aku tak kehilangan nyawa.

Maka ketika salah seorang saudaraku sakit di bagian kepalanya, aku langsung merasa kalau waktunya tak lama lagi. Sakitnya bukan sakit kepala biasa. Tak cukup disembuhkan dengan parasetamol merek apapun. Darah di otaknya menyembur dari pembuluhnya. Mengacaukan sistem saraf yang selama ini terjalin baik di kepalanya. Aku bayangkan jika aku adalah dia. Bagaimana rasanya? Apa yang ia pikirkan? Masih bisakah ia berpikir? Masih bisakah ia mengingat? Masih bisakah ia bermimpi dengan kepala dan tubuh yang terpenjara selang-selang?

Tak lama kemudian, ia pergi dalam tidur panjangnya. Mungkin ia masih bisa berpikir, namun dengan cara berpikir orang-orang yang ada di dimensi lain. Mungkin ia masih bisa mengingat, terbukti dari kemunculannya yang tiba-tiba di dalam mimpiku. Mungkin ia masih bisa bermimpi, bermimpi indah di surga.

Lalu aku merasa kehilangan, karena hidupnya yang baru tak lagi memungkinkan kami untuk sekadar saling bertegur sapa, saling mengucap rindu. Hanya sekadar senyum, seulas senyum yang menyirat makna, yang kerap ditunjukkannya setiap kami bersua tak sengaja di alam mimpi.

“Hai, Dik. Apa kabarmu?”

Maka aku juga ingin mati muda*.

***

*) Karena bagiku, mati muda itu indah. Saat dunia dalam genggaman, saat itu pula Tuhan menginginkan kita kembali. Kita belum sempat menua, lemah, tak berdaya. Kita belum sempat merasa dijauhi, diasingkan, dilupakan. Kita pergi sekaligus berpulang justru saat kita diharapkan, dibutuhkan, dicintai. Keinginan yang kadang terasa gamang karena bekalku belumlah seberapa. Ah, siapalah hambaMu ini, Tuhan? Lancang benar berkeinginan yang demikian.Β  Β 

Β ***

3 thoughts on ““Ayah, Dimanakah Nyawa Itu Berada?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s