Kapan Main ke Jogja?

Image

BARU kali ini saya menulis tentang Yogyakarta, atau yang lebih akrab ditulis “Jogja”. Selain Bukittinggi, ini adalah kota favorit saya. Begitu banyak yang mencintai Jogja sedemikian rupa. Begitu pun saya, yang nyata-nyata tak berdarah Jawa sama sekali. Mungkin awalnya karena lagu “Yogyakarta” yang dinyanyikan KLa Project. Saya sudah sering mendengar lagu itu sejak saya SD. Saat kakak-kakak saya tumbuh sebagai remaja dan KLa Project sedang jaya-jayanya menjadi idola.

Lambat laun, saya pun jadi ikut-ikutan mengidolakan grup musik itu. Bukan hanya “Yogyakarta”-nya yang membuat saya jatuh cinta. Tapi puitisisasi (ah, kok mendadak meniru Vicky) lirik-lirik lagunya yang sungguh memesona. Saya pun jadi ikut-ikutan puitis. Mendadak suka puisi dan menulis. Begitulah kira-kira awalnya.

Image

Kecintaan itu semakin tumbuh setiap kali mendengar cerita-cerita tentang Jogja dari Ayah saya yang kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM). Lalu tak lama kemudian disusul seorang kakak saya yang mengambil jurusan dan kuliah di tempat yang sama. Ragam cerita yang sering mereka kisahkan. Tentang kebersahajaan, tentang keramahan penduduknya, tentang nyamannya kotanya, tentang lingkungannya yang kala itu benar-benar tampak sebagai kota pelajar. Pun tentang murahnya biaya hidup di sana. Sangat pas bagi siapa saja yang ingin meneruskan pendidikan dan hidup sebagai anak kos.

Setamat SMA, saya sempat bercita-cita meneruskan kuliah di sana. Tapi apa daya, keinginan saya tak didukung. Selain karena saya anak bungsu yang dianggap takkan bisa hidup mandiri di rantau sana (hahaha..), mungkin orangtua saya takut kesepian, karena kakak-kakak dan abang saya sudah menikah dan hidup mandiri bersama keluarganya masing-masing. Termasuk kakak saya yang juga kuliah di Jogja itu sampai menikah tak pernah lagi tinggal bersama keluarga di Medan. Asli jadi perantau. Kalau pulang setiap tahun dalam rangka liburan pasti ada, tapi berapalah lamanya hari libur? Begitulah seterusnya sampai ia menikah dan hidup di Jakarta.

Image

Betapapun cintanya saya pada Jogja, saya masih terhitung jari mampir ke sana. Pertama, tahun 1987, waktu saya masih berumur 4 tahun. Saya dan keluarga menempuh perjalanan darat dari kota kelahiran saya, Padang Sidempuan, sampai ke Jawa sana. Ini dalam rangka liburan dan bersilaturrahim dengan para kerabat, mengelilingi sebagian pulau Jawa. Mulai dari Jakarta, Bandung, Semarang, Jogja, hingga Madiun. Tapi bagaimanalah kesan sebagai anak kecil. Tak banyak yang diingat dari perjalanan panjang itu. Paling-paling saya hanya melihat foto-fotonya saja. foto di Candi Prambanan, di Candi Borobudur, dan di tempat lain yang saya belum tahu apa. Dari melihat foto-foto dan cerita-cerita itulah saya ingin kembali ke sana, suatu saat nanti.

Image

Keinginan itu baru terwujud di tahun 2003, saat saya libur semester di bangku kuliah. Itu pun tak lama, hanya 3 hari 2 malam saja. Belum puas rasanya menikmati Jogja. Apalagi di sana tak ada sanak saudara yang bisa disinggahi. Betul-betul sebagai turis domestik. Saat itu Jogja makin ramai. Tak terlalu banyak lagi pengendara sepeda seperti yang pernah diceritakan. Sepeda kayuh sudah banyak berganti dengan sepeda motor. Tapi tetap saja, waktu liburan di sana yang sedikit itu masih membuat saya penasaran untuk kembali lagi kapan-kapan.

Terakhir, adalah saat saya berkesempatan ke Solo, Maret 2013 silam, dalam rangka ikut suami yang jadi peserta seminar dan workshop. Itu lebih sebentar lagi. Hanya setengah hari. Hahaha..ampuunn..kapan asyiknya pelan-pelan menikmati Jogja, ya? 😀

Waktu itu saya, suami dan kedua mertua berangkat dari Solo tengah hari. Sampai di sana kira-kira jam 2 siang, dan langsung makan di soto Kadipiro (ini jenis soto favorit saya. Huaaahh..jadi pengen lagiii..). Sehabis makan siang, sesorean itu kami hanya sempat berkunjung ke sentra oleh-oleh di dekat Keraton, ke mall Ambarukmo, menikmati Malioboro dengan becak dan makan malam di Raminten (yang kemudian saya sesalkan makan di situ. Hehe…kayaknya lebih enak di angkringan biasa ya..). Bahkan saya tak sempat ke Tugu! Hiks..

Image

Kami sempat ke Klaten juga, menikmati pertunjukan Ramayana Ballet di Prambanan. Lepas itu, ya kembali lagi ke Solo. Mau menginap di Jogja, sayang. Kamar hotel sudah dipesan jauh-jauh hari untuk sekian hari di Solo. Yah, mau tak mau, saya kembali mimpi lagi untuk dapat menikmati Jogja sepenuh waktu dan hati.

Saya yakin, kesempatan ke sana masih banyak. Waktunya saja nanti yang mesti disesuaikan. Kapanpun itu, inginnya Jogja jangan berubah dulu. Saya masih penasaran dengan Alun-alun Kidul (Alkid), Keraton, Taman Sari, Kaliurang, dan makan di angkringan. Tapi maaf, saya nggak bisa makan gudeg-nya, karena manisnya luar biasa di lidah Sumatera saya. 😀

Dirgahayu, Jogja! Tetaplah menjadi “Never Ending Asia”! ^^

***

>> Ditulis dalam rangka ulang tahun Yogyakarta ke 257, yang jatuh pada setiap tanggal 7 Oktober.

12 thoughts on “Kapan Main ke Jogja?

  1. bagi saya yg lhr, besar di jogja, jogja yg skrg sdh banyak berubah mba annisa, jujur skrg ini saya gak betah berlama2 di jogja bkn lantaran penduduknya yg tak ramah lagi, bkn lantaran harga makanan yg tak murah lg, tp lbh pd suasana yg panas, padat dan sumpek sehingga mau ke mana2 rasanya sebentar2 sdh terjebak macet, tp ini pendapat pribadi lho atau mungkin krn sdh 14 thn saya meninggalkan kota ini dan menetap di tempat yg “sepi” dan pastinya tak macet seperti di jogja kali ya 🙂 tp diluar kemacetan tsb, jogja memang ngangenin koq mba, makanya mau tak mau ya saya mudik pasti ke jogja krn msh ada kedua org tua yg tinggal di jogja dan krn sumpek, macet, padat merayap kalo di jalanan macam malioboro itulah makanya kalo mudik saya banyakan di rumah hiks hiks, ya gimana wong mau jalan2 di malioboro aja yg hrsnya bisa ditempuh 10 mntan dr rumah ( kalo dulu) ehh hampir sejam baru sampai di parkirannya saja, apalagi kalo pas musim liburan…waduhhh gak kuku deh macetnya 😀 btw mba annisa malah sdh pernah ke Raminten ya?lha saya saja malah blm tuh mba 😀 pdhl kalo pas ke jogja sering jg lho lewat dpn Raminten, tp gak tau tuh gak pernah tertarik utk masuk atau mencoba masakan di sana, saya malah lbh antusias makan di angkringan atau lesehan di Alkid atau di Pakualaman mba 🙂 # melirik ke mas Ajie yg pernah lesehan bareng di Alkid

    • woohh..gitu ya, mbak Edi? lah..kasian ya saya..belum bener2 tau Jogja yg dulu kayak gimana ternyata udah banyak berubah..hehe..tapi emang iya sih, mbak..makin rame ya..yg pake sepeda udah jauh berkurang..padahal orang2 yg bersepeda kemana2 dan kebersahajaan kotanya itu yg jd salah satu daya tariknya ya..begitulah suatu tempat kalo udah kebanyakan warga pendatang ya, mbak..

      tapi tetep aja aku pengen ke sana lagi..hehehe..smoga kapan2.. 🙂

  2. Jogja memang istimewa mbak…separuh jiwaku ada disana (…lebaayyy )…Alhamdulillah tahun kemarin saya bisa beli rumah di Jogja walaupun harus jual tanah dikampung….hehehe ini bukti kecintaaan saya pada Jogja lho mbak.. 🙂

  3. jogja, kapan kesana lagi yah?
    saat masih SMP, ke jogja dengan keluarga. ya, menikmati wisata yang menarik sekali. lalu, dua kali setelah lulus kuliah buat cari kerja dan menginap di kos teman waktu SMA dulu. haiyyyaaa.. ini yang seru. jalan-jalan ala anak muda :)))
    terakhir, kesana ngantar siswaku rekreasi. seru sih, tapi kan dengan mengawasi anak-anak. :)))

    jogja memang bikin kangen 🙂

  4. Bener mbak…Ibu saya asli orang Jogja dan keluarga besar simbah masih disana semua…walaupun sebagian besar merantau…yg orang Jogja asli pergi yg pendatang malah pengen menetap…itu mbak Edi contohnya…kami beli rumah disana krn siapa tahu nanti salah satu anak kami sekolah disana mbak…biar sama dgn papanya yg alumni UGM…

    • wah..papa saya juga alumni UGM, mbak..tapi sayang, ga sampe beli rumah di sana..hehehe..pengeeenn bgt suatu saat nanti ke sana sama papa saya..biar bisa napak tilas perjalanannya waktu kuliah di sana dulu.. 🙂

      Iya ya, mbak…sekarang sudah lebih banyak pendatang agaknya ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s