Tiga Dekade dan Doa-doa yang Melangit

 Kembali, sebuah refleksi.

Setiap dekade terisi oleh peristiwa-peristiwa besar. Tiga ribu enam ratus lima puluh hari, lebih kurangnya. Tiga dekade, berarti sepuluh ribu sembilan ratus lima puluh hari, kurang lebihnya. Saya suka bingung diam-diam. Bagaimana saya bisa melahap waktu yang sedemikian banyak tanpa terasa?

Tak usah lah lagi dikalikan dengan jam, jam lalu ke detik. Membaca angka itu saja sudah membuat saya cukup kenyang. Cukup, karena menganggap jumlah hari sebegitu banyak baru mewakili pertengahan jatah usia rerata manusia. Saya tidak tahu berapa besar deviasinya. Saya hanya bisa mengira, menebak, menaksir. Dan tak usah juga sedemikian serius berkutat pada perhitungan statistik. Tokh, hanya Tuhan yang tahu.

Waktu. Sebenarnya tak perlu terlalu melotot melihat pergerakan jarum jam dinding, jam tangan, jam meja, jam gadang. Salah-salah, kita akan tersedot dalam perasaan gelisah akan pekerjaan dan keinginan yang tak sudah-sudah. Jarum-jarum yang tak peduli. Konsisten bergerak tanpa aba-aba dan kecuali. Ngeri kalau diresap. Betapa waktu yang sebegitu banyak tampaknya, bisa habis begitu saja, tanpa pernah kembali. Betapa waktulah sejatinya, yang membuat kita tumbuh dan berkembang. Semakin besar, semakin matang. Semakin arif, semakin bijak. Begitu semestinya.

Saya selalu terkesan pada setiap pergantian dekade usia. Ketika memasuki usia sebelas, saya merasa ngeri membayangkan dunia remaja. Yakin tak yakin bisa melewatinya tanpa meninggalkan krisis saat peralihan ke fase perkembangan selanjutnya. Saat usia beranjak ke dua puluh, saya lebih ngeri lagi. Was-was, apakah saya bisa memenuhi tugas-tugas perkembangan di dunianya orang-orang dewasa dini. Terbukti, saya cukup sukses menjalani periode remaja meski ada beberapa lubang yang mesti ditambal di periode selanjutnya. Dan terbukti pula, saya mampu menjalani kehidupan orang-orang dewasa dini meski dengan proses transisi yang cukup menguras emosi. Entah apa resepnya. Mungkin hanya sekadar menjalani saja.

Peristiwa-peristiwa, pengalaman-pengalaman, yang lalu terangkai dalam cerita-cerita. Segala macam jenjang pendidikan formal sudah dilalui dengan baik. Berbagai peristiwa hidup pun sudah pula dialami. Juga pertemuan dengan pasangan hidup. Hanya ada beberapa hal yang tak seperti jalan hidup kebanyakan orang, namun sungguh, saya menikmatinya. Saya anggap itu hanyalah bagian dari skenario indah yang dianugerahkan Tuhan, yang jalan cerita keseluruhannya berbeda antara satu dengan yang lain.

Bayangkan saja jika fase dan proses hidup yang dialami setiap manusia itu sama. Maka takkan ada lagi variasi cerita yang bisa dikisahkan lewat tulisan-tulisan, lewat lirik-lirik lagu, lewat inspirasi-inspirasi yang mengalir ke setiap ruang pikiran dan sanubari. Hidup menjadi basi. Kabar baiknya, hidupku bisa jadi inspirasimu. Dan hidupmu, bisa jadi inspirasiku. Indah, bukan?

Tiga dekade. Usia tiga puluh.

Semestinya semakin dewasa, arif, bijaksana, matang, dan segala hal-hal baik yang biasa didoakan saat pertambahan (angka) usia. Semakin baik, semakin bahagia, semakin berkah. Semakin sukses, semakin positif, semakin bermanfaat.

Tiga dekade. Usia tiga puluh.

Pijakan awal baru untuk menempuh satu dekade berikutnya. Semoga makin banyak harapan dan doa yang terkabul. Dan yang utama, semakin mencapai derajat manusia bermanfaat yang jalannya senantiasa dibimbing Ilahi. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

 ***

>> Teriring ucapan terima kasih untuk para sahabat dan kerabat yang telah menabur doa-doa di ladang harapan. Semoga para malaikat menjemputnya satu per satu dan membawanya ke langit, tempat berhimpunnya segala harap untuk kemudian dikabulkan Sang Maha Pengabul Doa. Aamiin..

5 thoughts on “Tiga Dekade dan Doa-doa yang Melangit

  1. Pingback: [Liebster Award] Sarana Kepo Para Blogger | Menulis Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s