Menjadi Pemalu Itu Berkah

Image

ITU aku. Ya, gadis kecil berpipi gembil berbaju putih-putih itu adalah orang yang sama yang mengetik tulisan ini. Tapi dulu. Dulu sekali. Hmmm…sudah 24 tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di TK. Itu fotoku saat kegiatan latihan manasik haji di asrama haji Medan. Lihatlah, betapa pemalunya gayaku. Masing-masing murid seingatku memang difoto sendiri-sendiri untuk kenang-kenangan. Dan saat giliranku, aku tak tahu harus bergaya bagaimana. Jadi yang terpotret hanya gaya antara -kurasa- ingin melindungi wajahku dari panas matahari sekaligus gaya diam tanpa senyum karena malu.

Saat kecil, aku memang pendiam dan pemalu sekali. Sebenarnya berbeda sekali dengan diriku di rumah. Kalau di tengah keluarga, aku termasuk anak yang cukup cerewet, suka bertanya ini itu. Wajarlah, anak seusia itu. Tapi begitu sampai di sekolah, aku langsung menjelma jadi anak yang pendiam seribu bahasa. Aku hanya duduk diam mendengarkan instruksi guru untuk melakukan ini atau itu. Memang ada kalanya aku mengobrol dengan teman-teman, tapi lebih banyak aku yang diam mendengarkan. Kata teman-temanku, suaraku saat berbicara hampir tak terdengar saking pelannya. Bermain pun hanya ikut-ikutan dan lebih sering sendiri. Wah, pendiam dan pemalu tingkat tinggi tampaknya. Hahaha

Masuk SD, keadaan tak berubah. Aku ingat sekali ketika suatu hari, aku diminta guruku di kelas 1 untuk maju ke depan kelas menulis kata yang dicontohkan. Berkali dipanggil, aku hanya bergeming, sama sekali tak beranjak dari kursi. Aku sebenarnya ingin sekali maju ke depan karena itu hanya soalan yang mudah. Aku paham apa yang diajarkan. Tapi sungguh, rasa malu yang luar biasa itu pada akhirnya menghalangiku untuk melakukan apa yang sebenarnya bisa kulakukan. Mungkin itu juga yang membuat prestasiku di sekolah biasa-biasa saja. Lebih karena kurang aktif di kelas sehingga tak tampak menonjol di mata guru-guru.

Karakter pendiam dan pemalu itu melekat hingga aku remaja. Aku hanya bisa mengobrol banyak dan bercanda dengan teman-teman yang sudah kukenal dekat. Memang aku termasuk siswi yang aktif dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di SD, SMP maupun SMU. Sedikit banyaknya kegiatan-kegiatan itu perlahan meningkatkan rasa percaya diriku. Tapi tetap saja, sifat tertutup (introvert) itu tak bisa diubah.

Aku memang memiliki beberapa teman dekat selama kurun waktu masa sekolah itu. Teman bermain dan belajar yang menyenangkan, juga teman curhat sesekali. Tapi aku justru lebih sering mendengarkan curhatnya daripada dia mendengarkan curhatku. Hahah..karena ya itu tadi. Aku merasa lebih nyaman jika aku menuliskan isi hati dan pikiranku di dalam buku diary. Sejak SMP kelas 1, aku sudah memiliki buku diary yang rutin kutulis setiap hari. Kalau sedang senang atau sedih, aku akan langsung mengambil diary itu dan menuliskan perasaanku di dalamnya. Sejujur-jujurnya. Bahkan tak perlu menunggu momen senang atau sedih. Kejadian biasa yang kualami setiap hari pun akan kutulis juga, sehingga tak heran diary itu cepat terisi penuh. Hehehe

Lambat laun, diary sudah menjadi sahabatku yang paling setia. Aku memang terkadang bercerita pada sahabatku di sekolah tentang suatu masalah, misalnya. Tapi tetap saja yang paling tahu masalahnya, tetaplah sang diary. Di situ aku bebas menceritakan sedetail mungkin apa yang kurasakan, apa yang kuinginkan. Tanpa ada rasa khawatir diary itu akan mengkhianati kepercayaanku.

Kebiasaan aktif menulis diary ini pun berlanjut hingga SMU, namun mulai jarang kulakukan saat kuliah, hingga akhirnya berhenti sama sekali. Hanya pada saat episode hidup yang ekstrim saja; sangat sedih atau sangat bahagia saja aku bercerita lagi padanya. Pada akhirnya aku mulai belajar bersikap terbuka pada orang lain. Mengungkapkan diriku apa adanya. Perlahan aku berubah jadi sosok yang cukup periang dan mudah menyesuaikan diri.

Rasa canggung yang dulu kerap muncul, kini sudah berkurang. Mungkin berubah seiring bertambahnya angka usia dan kematangan pribadiku. Sesekali sifat pemalu dan canggung itu muncul juga, tapi sudah bisa kukendalikan sehingga tak terlalu menjadi masalah. Malah aku sempat bekerja sebagai dosen selama 2 tahun. Padahal sebelumnya aku dikenal canggung jika berbicara di depan orang banyak. Tapi semuanya masih berproses.

Jika ingat masa kecilku yang pendiam dan pemalu itu, aku terkadang mengkhayalkan diriku yang mungkin akan lebih berprestasi jika tak menjadi sosok seperti itu. Tapi setelah kupikirkan lagi, mungkin itu cara Tuhan dalam menyayangi makhlukNya. Kalau aku ditakdirkan tumbuh “sesempurna” pribadi yang kubayangkan, mungkin aku akan jadi hambaNya yang sombong.

Aku justru selayaknya bersyukur dengan sifatku itu, karena dengan demikian aku merasa kecerdasan emosiku menjadi terasah karena lebih banyak diam mendengarkan daripada berbicara. Aku jadi lebih peka dengan perasaanku dan perasaan orang lain, sehingga aku sebagai pribadi cukup dapat diterima di lingkungan mana saja. Selain itu, aku dapat menemukan sebentuk kesenangan yang sedikit banyaknya memengaruhi hidupku ke depannya; menulis.

***

8 thoughts on “Menjadi Pemalu Itu Berkah

  1. toss mak Annisa 🙂 saya juga introvert, dulu saya sempat ngerasa ga suka jadi orang yg banyak diam, malu dan kaku.. tapi sekarang saya pede2 aja tuh.. tp bener sih mak semakin dewasa kita semakin bisa ngendaliin sifat kita supaya bisa menyesuaikan diri lebih baik 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s