Tentang Arti Kehilangan (4)

SAYA dan suami memilih keluar ruang ICU untuk menunggu Papa dan Umak. Di kursi ruang tunggu itu, perasaan saya masih mengambang. Saya khawatir akan Papa dan Umak. Bagaimana reaksi mereka? Duhai…ingin rasanya semua cepat berakhir.

Tak lama, saya melihat Papa, Umak dan saudara yang lain bergegas masuk ruang ICU. Buru-buru saya dan suami bangkit untuk menyusul mereka ke dalam. Tapi saya memilih untuk melihat dari sudut yang agak jauh. Saya belum sanggup melihat air muka Papa dan Umak.

Dari tempat saya dan suami berdiri, di sana, kakak saya tampak memeluk Umak. Lalu berdua, mereka bertangisan. Dalam keheningan duka itu, mereka semua yang ada di dekat Bang Iwan, bertangisan dan saling memeluk. Saya rasakan genggaman tangan suami yang semakin erat. Ia terus berusaha menguatkan hati saya.

Tak lama, saya mendekat juga. Saya cermati wajah Papa. Beliau berdiri di dekat ranjang, melihat anak lelakinya yang telah terbujur diam itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Beliau sentuh wajah Bang Iwan. Lalu berdoa dalam bisik rapalan yang khidmat. Saya menunggu jatuhnya tetes-tetes air mata itu, namun tak kunjung nampak. Papa sama sekali tak menangis. Beliau hanya mencermati keadaan anak lelakinya itu, membisikkan doa untuknya, lalu berkata;

“Aku maafkan kamu, anakku. Kamu anak yang sholeh…”

Sambil sesekali beliau mengusap wajah Bang Iwan.

Kami yang menangis. Kami yang mendengarnya yang semakin berurai air mata haru. Ya Allah…betapa tegarnya lelaki kebanggaanku ini…

Umak di sisi ranjang yang lain tampak tak henti menangis. Ya, Mak…tak apa. Adalah hakmu untuk meruahkan air mata saat ini, karena anak lelaki yang kau cintai telah berpulang ke haribaanNya…

Beliau pun mengucap hal yang sama;

“Anak sholeh anakku ini…anak sholeh dia…” Sambil tetap tak kuasa menahan rasa sesak yang membuncah.

Air mata rasanya menderas dan terus menderas. Hingga tiba saatnya selang-selang di tubuh Bang Iwan mesti dilepas. Istrinya, kakak ipar saya itu, yang melepas selang itu satu demi satu. Keharuan semakin memuncak. Sambil menangis, kakak ipar saya melakukannya dengan sekuat hatinya. Kami pandangi layar monitor. Semua angka-angka dan grafik-grafik di sana menunjukkan laju yang semakin melambat, menurun. Agaknya tak ingin kami larut dalam duka yang panjang -dan saya rasa memang begitu prosedurnya- perawat segera mematikan monitor. Lalu tinggal isak-isak yang mewarnai hening. Bang Iwan telah lelap dalam tidurnya yang panjang.

Semuanya lalu bergerak menuju kediaman Papa dan Umak. Persiapan menyambut jenazah harus segera dilakukan. Keluarga yang menunggu di rumah dihubungi agar segalanya segera dipersiapkan.

Di luar, hujan gerimis. Perlahan sekali membasahi bumi. Saya pernah mendengar kalau hujan yang seperti ini, tandanya ada orang yang meninggal. Agaknya itu benar. Aura langit malam pun seolah menyiratkan kesedihan.

Sesampainya di rumah, orang-orang sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Meja dan kursi sudah diatur sedemikian rupa. Tenda sedang dipasang. Tempat tidur untuk persemayaman telah pula ditaruh di tengah ruangan, menghadap kiblat. Saya membantu merapikan seprai dan alasnya sebelum saya pergi ke kamar, menenangkan diri dengan salat Isya.

Tak berapa lama, ambulan tiba, diiringi isak tangis keluarga dan tetangga yang sedari tadi menanti. Saya dengar itu dari dalam kamar, sembari berdoa agar hati saya dan keluarga, terutama Papa dan Umak, dikuatkan.

Selanjutnya adalah gambar orang-orang yang silih berganti datang bertakziah. Malam semakin larut, namun banyak yang masih duduk, memberi doa dan dukungan bagi kami, keluarga yang ditinggalkan. Esoknya, juga masih sama. Bahkan pelayat yang datang semakin ramai. Papan-papan bunga tanda turut berdukacita berjejer memenuhi jalan depan rumah. Semua datang dengan wajah tak menyangka, bahwa di usia semuda itu, Bang Iwan telah berpulang. Hari itu tepat saat libur lebaran usai dan pegawai kantoran telah kembali bekerja. Rekan-rekan kerja Bang Iwan datang silih berganti. Bahkan teman-teman lamanya, yang sejak tamat SMP tak bersua, juga datang menyampaikan rasa turut berdukacita.

Setelah jenazah dimandikan dan dikafani, tibalah saat yang paling mengharukan. Bergiliran kami menciumi wajahnya dan berdoa untuknya. Inilah saat dimana kami takkan pernah lagi melihat wajahnya yang senantiasa ramah. Sebelum Zuhur, jenazah pun dibawa ke masjid untuk disalatkan dan setelahnya dimakamkan di pemakaman yang tak begitu jauh dari rumah.

Berhari-hari setelahnya, pelayat masih terus berdatangan. Inilah mungkin salah satu kesan mendalam yang ditinggalkan almarhum. Ia, orang yang senantiasa membina silaturrahim. Maka saat ia pergi, semuanya merasa kehilangan.

***

10 thoughts on “Tentang Arti Kehilangan (4)

    • Terima kasih, mbak G..saya pun menuliskannya dengan penuh rasa haru, terkadang menetes juga air mata bila mengingatnya..semuanya masih berproses..berproses untuk bisa tetap mengenang Bang Iwan tanpa harus ada air mata lagi..cukup kebaikannya saja yg dikenang dan diteladani..

      Tuhan Mahatahu yang terbaik bagi umatNya..

      Salam, mbak..

  1. Dear Nisa, sangat terharu membaca “Tentang arti kehilangan” 1-4 dan turut merasakan kesedihan mendalam yang nisa rasakan. Kehilangan orang yang sangat kita cintai memang sangat sulit, hanya Tuhan yang mampu memberi kekuatan dan Bang Iwan diterima di tempat yang terbaik di sisiNya.

    • Rikhaaa..makasih sangat udah mampir baca yaa..maaaaff aku lama baru bales komennya ini..hiks..udah lama ga update dan log in soalnya.. 😦

      makasih juga buat doanya..amiinn..smoga dikabulkan Allah.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s