Tentang Arti Kehilangan (3)

SELASA, hari kedua. Ada sebersit harapan tentang perkembangan kondisi Bang Iwan. Paru-paru dan jantungnya mulai dapat bekerja secara otonom, tak lagi dibantu oleh mesin (alat medis). Keluarga kakak ipar dan keluarga saya bergantian menjaga di rumah sakit, sekaligus menemani kakak ipar yang setia menunggu di sana. Saya dan suami kembali ke sana pada siang hingga malam hari. Jam besuk sore selama 2 jam (pukul 17.00 – 19.00 WIB) itu kami manfaatkan untuk menyapa Bang Iwan dengan membisikinya zikir dan bacaan Alquran. Saya pun membacakan lagi surah Ar-Rahman untuknya. Sesekali tampak air matanya menetes serta mulut dan kakinya bergerak-gerak, seolah ingin merespon sapaan kami. Matanya masih setengah terpejam.

Saya lihat monitor yang sesekali berbunyi nyaring, seperti alarm. Tekanan darahnya masih tinggi. Berkisar antara 180 – 200. Ternyata banyaknya pembesuk memengaruhi tekanan darahnya. Terlalu banyak stimulus rupanya membuatnya gelisah sehingga membuat tekanan darahnya sulit untuk kembali stabil. Akhirnya dokter memutuskan untuk mengistirahatkannya selama beberapa waktu. Ia “ditidurkan” agar kondisi tekanan darahnya stabil untuk kemudian “dibangunkan” kembali beberapa hari ke depan. Jika ternyata kondisinya membaik, operasi kedua dapat dilakukan.

Melihat kondisi itu, kami pun sepakat untuk membatasi pembesuk yang ingin melihat langsung kondisi Bang Iwan. Cukup keluarga dekat saja yang boleh masuk selama jam-jam besuk di pagi, siang dan sore harinya.

Selama Bang Iwan “tidur” itu, kami mulai memikirkan upaya lain agar kondisi Bang Iwan terus membaik. Tercetuslah hal yang sama di benak kami; sedekah. Niat kami semakin kuat begitu mendengar pernyataan kakak ipar, bahwa beberapa hari sebelum 1 Syawal itu, Bang Iwan pernah bermimpi sambil mengigau bahwa ia merasa saat itu adalah malam lailatul qadar dan ia melihat barisan anak yatim di depan rumah. Maka segeralah dibuat rencana dan persiapan agar esok harinya, Rabu, diundanglah puluhan anak yatim kurang mampu ke rumah untuk mendoakan Bang Iwan sekaligus menyantuni mereka.

Alhamdulillah, esoknya, semua berjalan sesuai rencana. Segala persiapan sudah dilakukan demi menyambut anak yatim yang akan datang selepas Zuhur. Acara tausiyah yang disampaikan Ustaz dan doa yang diamini seluruh anak yatim itu, menguatkan hati kami bahwa masih ada harapan akan kesembuhan Bang Iwan.

Selepas acara, sebagian dari kami kembali ke rumah sakit. Saya dan suami memilih kembali ke sana sesudah Ashar, karena ada keperluan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Sebenarnya dalam rentang waktu seharian itu, ada sebersit pikiran yang melintas-lintas di benak saya; bahwa selepas acara mengundang anak yatim ini, akan ada sesuatu yang terjadi pada Bang Iwan. Selesai acara, maka selesailah sudah segalanya. Tunai sudah segala keinginannya. Entah mengapa saya berpikir seperti itu. Semacam firasatkah? Tapi saya berusaha mengenyahkan itu sambil terus berpikir positif bahwa semuanya akan membaik. Tak ada yang tak mungkin bagi Allah, Sang Mahakuasa.

Saya dan suami pun sampai di rumah sakit menjelang Maghrib. Waktu besuk hampir habis. Saya merasa tak mungkin lagi untuk membacakannya surah Ar-Rahman, mengingat saya juga belum salat Maghrib. Lagipula, di ruang ICU itu sedang ada istri dan kedua putra Bang Iwan. Ah, melihat kedua putranya yang dengan raut wajah sedih menatap Ayahnya yang tengah “tertidur”, saya tak sampai hati. Bila selama membesuk dua hari ini saya sanggup tak menangis di dekat Bang Iwan, maka di Maghrib itu, hati saya luluh melihat wajah-wajah sedih dan penuh harap dari kedua putranya. Saya tak kuasa menahan tangis. Membayangkan apabila takdir berkata mereka nanti akan menjadi yatim, seperti anak-anak yang tadi siang memenuhi rumah kami. Ya Allah… Saya lalu memilih keluar ruangan sambil mengusap air mata. Mereka tak boleh terlalu banyak melihat dan merasakan hawa kesedihan di sekitarnya.

Saya kemudian salat Maghrib. Setelah itu berbincang sebentar dengan sanak saudara di ruang tunggu ICU. Saya juga menyempatkan diri untuk mengobrol dengan kedua putra Bang Iwan. Selama ini saya jarang bertemu mereka dikarenakan domisili saya yang tak lagi di Medan dan dihalangi kesibukan masing-masing. Jarang ada kesempatan untuk sekadar mengobrol dan bermain bersama mereka. saya merasa ada perubahan pada diri mereka berdua. Ada sebentuk kematangan pribadi yang mulai tumbuh, padahal mereka masih berusia 10 dan 8 tahun. Itu terlihat dari cara bicara mereka yang semakin cerdas dan bijak. Mungkin mereka juga merasakan sesuatu perihal Ayah mereka. Entahlah. Yang jelas, saat itu saya dan mereka terasa begitu dekat.

Kira-kira pukul 20.00, saya dan suami pamit pulang. Lagipula kami belum makan malam. Sebelumnya si sulung, yang biasa dipanggil “Abang”, memilih ikut pulang juga bersama kakeknya (dari pihak Ibu), sementara si Adek dengan yakinnya memilih ikut menunggui di rumah sakit bersama Ibu, Nenek dan saudara-saudara yang lain.

Setelah berbasa basi sebentar dengan saudara-saudara yang kami temui di lantai bawah, kami pun bergerak pulang. Baru setengah jalan ketika handphone suami berbunyi, mengabarkan sesuatu yang membuat kami harus balik arah, kembali ke rumah sakit. Suara suami yang terdengar cemas menandakan sesuatu yang buruk tengah terjadi. Hati saya berdesir khawatir.

“Tensi Bang Iwan 50, Dek…” katanya lemah.

Selesai mengatakan itu, tiba-tiba petir menggelegar. Sungguh, petir benar-benar menggelegar. Padahal sebelumnya langit malam tak menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan. Ini benar-benar pertanda buruk. Dalam kekalutan, saya merasa pias. Seluruh keluarga yang berada di rumah juga dihubungi agar segera kembali ke rumah sakit. Termasuk Papa dan Umak, yang selama ini kami sarankan agar tetap tinggal di rumah untuk menjaga kesehatan mereka.

Turun dari mobil yang dikendarai adik ipar, saya dan suami dengan setengah berlari bergegas masuk, kembali ke ruang ICU di lantai 2. Di dalam ruangan itu, saya melihat kakak ipar, Ibunya, kedua kakak saya yang selama dua hari ini menunggu di rumah sakit dan entah siapa lagi, saya tak ingat. Hati saya ciut begitu melihat monitor yang menunjukkan tekanan darahnya yang menurun dan semakin menurun. Namun dadanya masih naik turun, tanda ia masih bernafas. Saya sentuh kaki dan tangan Bang Iwan. Dingin dan pucat. Ya Allah…saya menangis.

Suami mengajak saya menjauh. Dipeluknya saya sambil berbisik,

“Bang Iwan udah nggak ada, Dek…”

“Tapi kan nafasnya masih ada, Kak!” seru saya tak percaya.

“Itu cuma mesin…” suaranya pelan.

Saya benamkan wajah di pelukannya. Terisak-isak, saya berusaha menahan buncahan rasa yang menyedihkan ini.

“Abangku sayaaanngg…” kata-kata saya tenggelam dalam isak yang semakin dalam.

Innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun…

Sayup-sayup saya mendengar surah Yasin dilantunkan, diiringi suara-suara tangis pelan yang menyayat hati. Suasana sungguh mengharu biru.

Papa dan Umak belum datang. Saya tak sanggup membayangkan adegan selanjutnya. Sementara itu, semua bersepakat, selang-selang di tubuh Bang Iwan baru akan dilepas setelah Papa dan Umak tiba.

(bersambung…)

***

8 thoughts on “Tentang Arti Kehilangan (3)

  1. almarhum Bapak sy jg kena stroke mbak Nissa, meski saat itu stroke-nya akibat penyumbatan pembuluh darah bukan pecah, shg pasca serangan pertama itu kami punya waktu merawat beliau 5 th sblm akhirnya beliau berpulang….

  2. Pengalaman saya hampir sama persis dgn mbak Hesti. Kami sekeluarga punya kesempatan merawat almarhum Papi selama kurang lebih empat tahun sebelum beliau berpulang.

    • Hmmm..masih ada kesempatan untuk merawat beliau ya, mbak..may he rest in peace..amin..

      Kasus stroke abang saya ini termasuk jarang menimpa kaum muda..yah, pasti ada hikmahnya..ini jalan yg terbaik yg diberikan Tuhan..

      • Di keluarga saya, ada bbrp yg meninggal krn stroke. Dua tante saya dari ibu kasusnya sama spt kakak mbak Nissa ini.

        Yg satu komplikasi, tp pernah kena stroke yg kesekian kalinya dan sampai pecah pembuluh darah. Sempat koma juga, namun akhirnya sadar kembali setelah sempat diklaim meninggal oleh dokter. Tp setelah sadar, memang jadi ‘kacau’ syarafnya almarhumah. Tidak bisa berbicara dgn normal, almarhumah bak seorang bayi yg sdg cuap2x, meski memorinya bisa mengenali orang. Almarhumah masih sempat hidup bbrp tahun sebelum akhirnya berpulang.

        Sementara saudaranya persis spt abang mbak Nissa. Begitu terkena langsung koma dan hanya bertahan seminggu kalau gak salah ingat sebelum akhirnya berpulang….

        Ada juga satu paman saya dari ibu, lebih muda daripada saya. Dia pernah terkena stroke, hanya bersyukur puji Tuhan tidak parah shg bisa kembali normal. Dia terkenanya malah dibawah umur 30 thn.

    • wah..ternyata banyak sekali keluarga kita yang menderita stroke ya, mbak..pengalaman tante mbak yang sempat diklaim meninggal itu menarik..itulah kuasa Tuhan ya..tak ada yg mustahil bagiNya..

      kami -khususnya saya-, akhirnya berpikir begini; memang jalan yg terbaik, abang saya itu berpulang ke sisiNya..kami mungkin tak sanggup melihat penderitaan abang apabila ia sembuh..pasti ‘peninggalan’ stroke-nya itu parah..ya mungkin seperti tante mbak itu atau bahkan lebih parah..jadi memang setiap ujian itu sesuai kemampuan makhlukNya ya..

      makasih udah sharing, mbak..cerita mbak bisa menguatkan hati karena sesungguhnya kita tak sendiri..

      salam, mbak.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s