Tentang Ayah (17)

Giliran pertama, Rahmat. Kedua, Lokot. Ketiga, aku. Keempat, Monang. Kelima, Hasan. Semua susunan tak bisa diganggu gugat.

Setelah komat-kamit berdoa, Rahmat pun maju dengan sikap gagah berani. Kami memandangnya menyuruk memasuki lobang. Pelan tapi pasti. Sesaat terasa sangat menegangkan ketika kami melihat tak ada pergerakan lanjutan setelah setengah badannya masuk. Kami pun menarik nafas lega setelah akhirnya badannya berhasil masuk sepenuhnya. Tak adanya keributan di dalam pertanda ia pun sudah melewati pos tantangan β€œpenjaga”. Ini membuat kami optimis. Lokot pun seolah tak mau kalah. Ia berjalan cepat ke arah lobang dan dengan gerakan gesit, ia memasuki lobang seperti tikus. Badannya yang sedikit lebih kecil menguntungkannya.

Kemudian disusul aku, Monang dan Hasan. Kami semua berhasil masuk tanpa perlawanan dari penjaga. Dengan mengendap-endap, kami bertiga menuju tempat Rahmat dan Lokot di salah satu pojok, menunggu Diman. Sebuah meja dengan sebuah tas di atasnya cukup melindungi kami. Mata kami semua awas terhadap berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.

Aksi Tarzan yang sedang berteriak-teriak sambil berayun-ayun dari satu pohon besar ke pohon besar lainnya sempat membius mata kami. Inilah aksi yang ditunggu-tunggu. Takkan ada aktor lain yang bisa memainkannya selain Tarzan. Mata kami melotot dengan mulut menganga memandangi layar putih lebar yang memantulkan adegan-adegan Tarzan. Meski bagi kami film itu diputar terbalik, kami sangat menikmatinya.

Suara berisik dari arah lobang membuat kami tersadar jika sedang menunggu Diman. Kami mulai gelisah ia tak kunjung masuk. Tiba-tiba sesuatu yang kami takutkan terjadi. Seorang penjaga yang sedari tadi kami lihat sibuk mengutak-atik peralatan pemutar film mendadak tersadar ada suatu keanehan yang bergemirisik dari arah bawah. Ia lalu mendekati asal suara, berdiri diam tak jauh dari situ sambil menunggu. Kami mulai cemas. Kalau Diman ketahuan, kami pun akan tamat riwayatnya. Kami diam, menunggu apa yang akan dilakukan petugas pada Diman. Keringat dingin mulai mengucur. Ingin rasanya kami menyuruh Diman pergi saja. Tapi bagaimana pula caranya?

Kepala Diman sudah muncul dari lobang. Tapi tampaknya ia kesulitan melewatkan tubuhnya yang agak gempal itu. Ia mengerang sedikit, terus berusaha masuk tanpa menyadari seorang laki-laki bertampang sangar menunggunya muncul ke permukaan ubin sambil berkacak pinggang. Nafasku tertahan. Kupandangi kawan-kawan. Mereka tak kurang cemas juga sepertiku. Apa yang akan ia lakukan pada Diman?

Adegan selanjutnya sungguh membuatku ingin terkencing di celana. Pada akhirnya mata Diman dan petugas film itu saling beradu. Mereka diam, masing-masing dengan ekspresi tuan tanah dan jongosnya. Tanpa menunggu lama, Diman mulai bergerak mundur. Namun sungguh naas baginya. Tak sesenti pun tubuhnya bergeser ke belakang. Ia panik. Terus bergerak mirip meronta sambil menunduk. Mungkin saat itu ia berharap dirinya adalah keong gempal yang bisa langsung berlindung di balik cangkangnya.

Petugas itu mengeluarkan sumpah serapah sebentar lalu tanpa malu-malu membuka retsleting celananya. Adegan selanjutnya sungguh mengejutkan. Dari yang tersembul di balik celana itu, air meluncur mengucuri kepala Diman! Kurang ajar betul! Kami marah dengan nyali ciut. Diman berteriak sambil kepalanya menggeleng-geleng tak beraturan. Air kencing itu membuatnya mampu keluar lebih cepat.

Giliran kami yang tegang. Entah apa yang akan dilakukan petugas itu bila tahu kami adalah komplotan Diman. Tapi sebentuk pemikiran optimis bersinar di kepalaku. Stok air kencing petugas itu pasti sudah habis. Takkan mungkin ia akan mengencingi kami juga setelah tempo barusan itu. Setidaknya itu membuatku sedikit berlega hati. Biarlah bila pada akhirnya kami ketahuan lalu dimarahi, asal tidak dikencingi.

(bersambung…)

***

3 thoughts on “Tentang Ayah (17)

    • Duh, mbak Dellaaa..maaf ya, saya baru log in wp sekarang..heuheu..gapapa, mbak..ketinggalan..saya juga udah lama ga update ini..hikss..belum dipublish di sini aja sih.. πŸ™‚

      Makasih mbak udah mampir yaa..salam.. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s