Tentang Ayah (16)

Tak kusangka akan sesulit ini. Menggali tanah keras hanya dengan peralatan seadanya; sekop kecil dan kayu, bisa membuahkan bulir-bulir keringat sebesar jagung. Padahal malam begitu dingin. Tekad yang berbuah nekad. Aku dan Diman yang pertama menggali. Kami melakukannya dalam diam. Setelah tanah yang cukup keras itu agak longgar, barulah sekop kecil dan kayu sepanjang lengan itu kami estafetkan ke Lokot dan Monang. Disusul Hasan dan Rahmat. Giliran dua kawanku terakhir itu, kami semua bersorak dalam hati. Hanya sebuah sunggingan senyum yang menyiratkan hati kami yang gembira karena penggalian yang mirip penggalian harta karun itu hampir berhasil. Lobang yang digali sudah cukup besar. Dilihat dari dalam dan lebarnya, kira-kira cukuplah badan kami semua melewatinya.

Karena sudah jam 10 malam dan film “Tarzan” yang diputar di dalam sudah mau habis, maka kami putuskan untuk menyelinap besok saja. Lagi pun, kami sudah bau keringat. Tak enak lagi rasanya menonton jika badan terasa lengket semua. Seperti yang sudah dibicarakan siang tadi, kami menutupi lobang itu dengan daun-daun kering yang gugur di tanah belakang bioskop itu. Kami penuhi lobang itu sampai tak lagi kentara kalau di bawahnya ada sebuah lobang menganga.

***

Jam 19.30. Hampir Isya. Aku, Diman, Lokot, dan Monang berjingkat-jingkat ke belakang bioskop. Kami menuju pohon mangga, menunggu Hasan dan Rahmat yang belum datang. Dari tempatku, kulihat rumahku yang tampak lengang. Ayah dan Umak sedang pergi mengaji. Nampak juga bayangan Kak Nur yang sedang berjalan dari ruang tamu ke belakang. Dari sana, tak akan tampak sosok orang di pekarangan gelap belakang bioskop ini. Situasi aman terkendali. Tinggal menunggu dua cecunguk yang kurasa lama sekali muncul.

Hoi…na bia do si Hasan dohot si Rahmat on? 1 Jadinya ikut orang itu?” kataku pelan setengah gusar. Film Tarzan pasti akan mulai sebentar lagi, sementara kami anak-anak tanggung penasaran ini masih harus menerobos terowongan kecil demi menikmati putaran film gratis dari belakang bioskop.

“Kurasa bentar laginya itu. Mungkin dia nunggu Ayah Umaknya pigi ngaji,” Diman menyabarkan. Meski berusaha pelan, namun suaranya yang berat itu tetap terdengar keras di telinga kami. Serentak aku, Lokot dan Monang menaruh telunjuk di bibir. Kami lalu diam sambil mata memandang sekeliling, berjaga-jaga.

“Coba kau tengok lobang kita tu, Nang. Masih aman itu kan?” Monang segera bergerak setelah kuperintahkan. Diman menyusul. Aku dan Lokot masih di tempat, menunggu Hasan dan Rahmat tiba.

Untunglah tak menunggu lama. Dari arah depan kulihat dua kelebat manusia seukuranku bergerak mengendap-endap menuju kami. Tanpa banyak cakap, kuarahkan mereka ke posisi Monang dan Diman yang telah dengan perlahan menyingkirkan ranting-ranting berdaun yang menutupi lobang di bawahnya. Kami menjadi saksi yang berlaku khidmat.

Aku lalu menggerakkan bibir tanpa suara, mengisyaratkan kata-kata, “siapa duluan?”. Mata kami lalu bergantian mengirimkan sinyal-sinyal “kau ajalah duluan”. Tak ada yang mau. Ujungnya tolak-tolakan. Bah, kekmana mau jadi?

Songon dia do hamu? 2 Katanya mau nonton? Masak tak ada yang mau duluan?”

Kalo gitu, kaulah duluan, Mir. Kan kau ketuanya.” Hasan menawarkan solusi menang sepihak.

Bah! Siapa pula yang mengangkatku jadi ketua? Ada-ada aja kalian.” Aku mengelak. Diman dan Monang masih sibuk mengurusi lobang, memastikan kami semua dapat masuk dengan aman. Sementara aku, Lokot, Hasan dan Rahmat masing-masing bertahan agar tidak menjadi tumbal.

“Ya udahlah. Kalo nunggu kalian kayak gitu, nggak jadi-jadi kita nonton. Kita hompimpa aja lah.” Monang telah selesai dengan tugasnya lalu berdiri mendekat. Diman masih sibuk memandangi lobang yang seperti jalan tikus.

“Ayoklah kita hompimpa.” Aku mulai menjulurkan tangan kananku. Yang lain menyusul, kecuali Diman.

“Hei, Diman! Sini dulu kau! Kita hompimpa dulu baru giliran masuk,” bisik Lokot agak keras. Kami semua melotot ke arahnya karena takut ketahuan. Tak lama, terdengar bunyi “gedebuk” dari dalam. Kami terdiam dan saling pandang. Monang lalu menoyor kepala Lokot.

Sssttt…udahlah. Kita aja lah yang hompimpa. Biar si Diman belakangan.” Rahmat lalu mengajak kami agak menjauhi lobang. Hompimpa kami lakukan dengan cepat. Tak ada kata-kata “hompimpa alaium gambreng”. Semua dialog dari hati ke hati.

(bersambung…)

***

1 : “Hei…bagaimana si Hasan dan si Rahmat ini?”

2 : “Bagaimananya kalian?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s