Tentang Ayah (14)

Tak lama aku duduk di SMP, kami sekeluarga pindah ke Padang Sidempuan. Ayah memilih mengontrak rumah yang bersisian dengan Batang Ayumi, sungai yang mengular hampir ke  seluruh kota. Sungai itu beraliran deras dan jernih. Tampak asyik sekali berenang dan bermain-main di sana. Bunyi arusnya yang berisik senantiasa mengundang untuk menceburkan diri di dalamnya, atau paling tidak membasuh kaki dan merasakan kesejukannya mengaliri pori-pori. Selain sebagai arena bermain, sungai itu menjadi sumber air yang banyak manfaatnya bagi masyarakat yang hidup di daerah alirannya. Tak terkecuali kami. Aktivitas mencuci dan MCK pun selalu dilakukan di situ.

Tapi senikmat-nikmatnya aliran sungai Batang Ayumi, ada sebentuk kesenangan lain yang belum pernah kami cicip. Kesenangan itu berupa kotak hitam ajaib yang bernama televisi. Kami belum punya televisi. Begitu juga rata-rata warga kota lainnya. Televisi pada masa itu masih merupakan barang super mewah. Membelinya pun masih harus ke Medan dulu. Di kota kecil penghasil salak itu, yang punya hanyalah para pejabat atau orang-orang kaya yang biasanya berdagang kain. Hanya kalangan tertentu itu saja yang mengikuti perkembangan zaman. Itu pun karena uangnya banyak.

Untunglah ada pengusaha dan pemerintah daerah yang berbaik hati untuk melipur lara hati rakyat kecilnya. Dibangunlah sebuah tempat yang cukup besar di dekat rumahku. Tempat itu katanya untuk menonton, persis seperti orang-orang kaya dan pejabat itu menonton gambar orang-orang di layar kaca kecil itu di rumahnya. Bahkan layarnya jauh lebih besar. Gambar orang-orang di dalamnya pun melebihi ukuran orang normal. Bioskop namanya. Jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumahku. Rumahku dan bioskop itu hanya dibatasi sungai Batang Ayumi.

Biarpun dekat, sejak dibangun dan diresmikan beberapa tahun lalu, aku belum pernah masuk ke dalamnya. Penjaga sekaligus penjual tiket bioskop itu sangat ketat menjalankan aturan. Ia agaknya tahu usia orang-orang yang mau menonton di sana hanya dengan melihat ukuran tubuhnya. Hanya orang-orang dengan usia minimal 13 tahun saja lah yang boleh masuk.

Bila dilihatnya tak sesuai, maka tak segan-segan ia akan mengusir mentah-mentah. Menurutnya, mengusir penipu seperti itu termasuk amalan baik. Itu sebagai salah satu tugas mulianya dalam menjaga moral anak bangsa yang baru merdeka agar tak terjerumus ke lembah yang hina. Sebagai anak-anak yang bermoral baik, aku dan kawan-kawan pun mengikuti aturan itu. Kami menunggu saat yang tepat untuk bisa masuk ke sana. Saat usia kami genap 13 tahun.

Tapi sialnya aku. Ketika masa itu tiba, aku tetap saja dengan tubuhku yang kecil ini. Usia 13 tahun yang biasanya sudah masuk masa akil baligh seperti tak berarti apa-apa. Tak ayal lagi, penjaga pintu masuk sekaligus penjual tiket yang berbadan besar itu menghadangku ketika beberapa kawanku yang lain sukses menembus sensornya. Tinggallah aku dan beberapa orang kawan yang lebih kurang ukuran tubuhnya sama sepertiku. Mendapat perlakuan keji seperti itu, aku meradang juga.

“Kan kami udah 13 tahun, Bang. Filmnya pun untuk 13 tahun ke atas. Kenapa kami tak boleh masuk?” protesku pada Bang Yakub, si penjaga pintu masuk sekaligus penjual tiket.

Aahhh…tak ada itu. Biarpun kalian bilang umur kalian 13 tahun, tetap tak percaya aku. Mana ada orang umur 13 tahun badannya masih kayak anak SD. Kalian tak boleh masuk!” tegasnya.

“Tapi, Bang…Betul kok kami udah 13 tahun. Tanya aja sama guru kami di sekolah. Kami udah kelas 1 SMP, Bang”

“Kapan pula aku ketemu sama gurumu di sekolah? Ahh…kau ini ada-ada saja. Pokoknya sekali kubilang tak bisa ya tak bisa! Mau kuadukan ke bapak kalian kalo kalian ini memaksa masuk bioskop? Bagus kalian belajar aja sana di rumah!” Kali ini ia berkata sambil melotot. Suaranya yang menggelegar membuat nyali kami ciut juga. Setengah terpaksa kami keluar sambil bersungut-sungut. Kawan-kawanku yang diperbolehkan masuk menatap kami dengan pandangan kasihan. Huuhh…terlalu sekali si Abang galak itu. Lihat saja nanti, batinku kesal.

(bersambung…)

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s