Tentang Ayah (13)

Setamat dari SR, aku melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 1 Padang Sidempuan. Jaraknya agak lebih dekat dari kampungku ketimbang SR-ku dulu. Dua kilometer. Dan aku sudah terbiasa berjalan kaki selama 4 tahun terakhir aku di SR Padang Sidempuan, jadi tak lagi jadi masalah buatku menempuh perjalanan sejauh itu. Masalahnya hanyalah aku mulai tumbuh menjadi seorang yang pelapar. Aku pasti sedang terjangkit satu fenomena dalam perkembangan manusia yang diistilahkan orang-orang di kampungku sebagai “manaek godang”, yang berarti beranjak besar.

Bila sedang beranjak besar, tak heran bila perutmu cepat sekali lapar. Itu fenomena yang mencakup perkembangan biologis sekaligus psikologis yang kurasa cukup rumit. Bila disederhanakan, artinya menjadi: makanku tak cukup satu piring tiap kali makan. Kalaupun satu piring, piring itu penuh dengan porsi nasi yang lebih banyak daripada lauk pauknya. Nyaris seperti nasi tumpeng. Dan itu kuhabiskan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Kalau di rumah, itu tak menjadi masalah. Padi di sawah kami yang sepetak itu cukup untuk menghidupi kami sekeluarga, meskipun dengan lauk pauk yang ala kadarnya saja. Menjadi masalah jika aku mengalami lapar yang akut saat pulang sekolah. Bukannya aku tak diberi uang jajan oleh Ayah. Tapi uang jajanku tak cukup untuk mengganjal laparku selama perjalanan pulang ke rumah.

Rasa-rasanya, dari sejak aku lahir sampai sekarang umurku sudah 13 tahun, aku tak pernah diberi uang jajan lebih dari 25 rupiah. Malah kurasa itulah uang saku dengan jumlah terbesar yang pernah diberikan Ayah untukku. Aku pun tak bisa menuntut lebih. Anak Ayah yang sekolah bukan aku saja. Padahal terkadang ingin sekali rasanya aku jajan nasi goreng atau pecal di warung Uwak Jannah di kantin sekolah. Entah kenapa perutku rasanya seringkali lapar. Pisang rebus atau nasi sambal teri masakan Umak tiap pagi tak bertahan lama tinggal di lambungku. Cepat sekali dicerna. Sementara uang 25 rupiah untuk membeli nasi goreng atau pecal itu pastilah tak cukup. Uang segitu hanya bisa membeli dua potong pisang atau ubi goreng dan sebotol limun.

Aku pun mulai berpikir untuk menyiasati uang saku yang terbatas tapi dapat makan dengan perut kenyang. Ternyata, warung kopi Uwak Sormin jawabannya. Aku melewati warung kopi itu setiap hari sepulang sekolah. Warungnya ada di hampir setengah perjalananku ke rumah. Biasanya aku dan Lokot pulang bersama. Maka kuputuskan untuk mengajaknya mampir di warung itu untuk sekedar mengganjal perut. Aku tahu, ada makanan yang seharga 25 rupiah di situ. Menggantung di bagian depan dengan warna kekuningan.

“Pisangnya satu, Wak,” kataku mantap pada si penjaga warung. Uwak Sormin menoleh sejenak ke arahku sambil mengaduk kopi. Aku menunggu kopinya diserahkan ke si pemesan. Ia lalu mengambil satu buah pisang lilin yang matang dari bongkolnya.

“Ini,” katanya sambil mengangsurkan pisang sebuah itu ke tanganku.

“Bukan, Wak…Aku mau beli satu sisir.” Uwak Sormin lalu menarik ikatan pisang dari paku tempatnya bergantung tadi.

“Dua puluh lima,” katanya. Aku pun memberikan dua puluh lima rupiah satu-satunya milikku.

“Kau tak beli, Kot? Satu sisir ini buatku sendiri aja. Bisa habis samaku ini,”

Bah! Bisa kau habiskan pisang sebanyak itu sekali makan?” ujar Lokot tak percaya.

“Tak percaya kau lihat saja nanti. Pokoknya jangan marah kalau kau tak kubagi,” kataku sambil menenteng sesisir pisang itu ke arah pohon rambutan di samping warung. Lokot mengikutiku.

Di bawahnya, aku mulai melahap sebuah demi sebuah. Menghabiskannya seperti orang yang tak makan seminggu. Perutku yang kelaparan membuatku makan pisang seperti makan kacang saja. Lokot hanya menatapku. Mulutnya setengah terbuka kini. Matanya agak memelas sambil tangannya mengelus-elus perutnya. Bahasa tubuh meminta pisang barang sebiji.

“Ini buatmu,” kataku sambil memberikannya buah pisang terakhir. Perutku sudah kenyang. Aku bangkit dari dudukku. Kurasa meminta segelas kecil air putih takkan menjadi masalah bagi Uwak Sormin. Selesai minum, aku merasa bertenaga kembali untuk melanjutkan perjalanan ke rumah.

(bersambung…)

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s