Tentang Ayah (12)

Adapun sebab mengapa aku begitu menyukai olahraga tinju kelak, itu lebih dikarenakan permainan yang sering aku lakoni bersama teman-teman. Permainan serupa pertandingan tinju itu biasanya kami gelar di rerimbun pepohonan tak jauh dari sekolah. Pertandingan itu tak perlu persiapan matang. Cukup dengan kesepakatan antara teman-teman yang akan berlaga maka jadilah siang hari sepulang sekolah itu sebagai hari penentu kekuatan dan keperkasaan masing-masing kami, lelaki-lelaki ingusan yang akan beranjak remaja. Tempatnya sudah khusus kami tandai sebagai ring laganya, berupa sepetak tanah yang dikelilingi batang-batang mahoni di pinggir hutan sana.

Aku yang seringkali melihat kawan-kawanku berlaga, tak urung ikut ketularan juga. Padahal aku tahu Ayah pasti marah kalau mendapati bajuku lebih kotor dari biasanya atau muka dan tubuhku yang centang prenang. Tapi hasrat lelakiku yang ingin bertarung di medan laga siang ini tak lagi bisa dibendung. Rasanya pasti sangat lelaki ketika bergaya seperti jagoan kampung. Maka kusambut tantangan dari Muhammad, yang sifatnya sesungguhnya jauh dari teladan nama Nabi yang disandangnya itu.

Dia anak lelaki kebanyakan seperti di kampung kami. Suka berkelahi, mencuri jambu, mangga, rambutan milik tetangga, mengusili kawan-kawan, terutama yang perempuan dan selalu berdalih meskipun jelas-jelas kesalahannya terpampang di depan mata kami. Lagipun, dia tak pintar. Maka sirnalah bayangan keempat sifat utama Nabi itu jika memanggil nama atau melihat sosoknya.

Tapi soal bertinju, jangan tanya. Dia lebih sering menang daripada kalah. Lawannya yang terberat adalah Hamid. Jelas, karena tubuh Hamid lebih besar daripadanya. Aku pun tak berani menerima tantangan itu jika Hamid adalah lawanku. Meski begitu bukan berarti aku menyepelekan Muhammad. Tetap saja, ini adalah laga pertamaku. Tantangan yang kusambut demi solidaritas perkawanan di antara kami. Laga yang menaikkan derajatku tidak hanya sebagai pemandu sorak kala kawan-kawanku bertanding.

Lonceng berbunyi. Begitu keluar kelas, kami, segerombolan anak laki-laki kelas 4 SR langsung bergerak menuju tempat pertarungan. Sambil bersorak-sorak kami berlarian menuju ke sana. Perut lapar saat jam makan siang kami tahankan demi laga tinju yang seru ini.

Sampai di sana, kami menumpuk tas dan buku kami di bawah salah satu batang Mahoni. Ada pula yang menggantung tasnya di dahan pohon yang terjangkau tangan. Tumpukan tas dan buku itu dijaga oleh seorang kawan yang sehari-harinya berperan sebagai penonton, Soleh. Tak ada yang memaksanya untuk menjadi penjaga barang, tapi ia akan dengan senang hati menjaga barang-barang kami sambil berdiri menonton kawan-kawan lain berlaga. Terkadang aku juga ikut di sampingnya sambil bersorak-sorak menyemangati kawan yang dijagokan.

Untuk yang ikut bertanding, sebelumnya akan bersuit dulu untuk menentukan urutan pasangan. Aku yang hari itu mendapat kesempatan, bersuit mewakili pasangan lawan Amir – Muhammad. Tak kupungkiri, ada sebuncah kebanggaan karena mendapat kehormatan berlaga siang ini. Aku, si Amir, yang bertubuh pendek dan semok ini, diajak bertinju. Berarti aku cukup pantas dilihat sebagai lawan. Siapa yang menyangka? Sebentuk prestasi dalam dunia perkawanan.

Kami mendapat urutan kedua setelah pasangan Rahmat – Togar. Begitu pertandingan pasangan pertama ini dimulai, aku mulai memfokuskan mata dan pikiran pada jagoanku, Togar. Dia sudah sering menang. Maka aku menjadikannya teladan dalam laga hari ini. Aku pelajari betul teknik bertinjunya -ah, sesungguhnya pertandingan kami tak berarti menggunakan teknik apa-apa. Hanya mengarahkan pukulan ke lawan tanpa perhitungan- Tak berapa lama setelah pertandingan dinyatakan mulai oleh wasit, Rahmat berhasil meninju pipi kanan Togar. Togar tak gentar dan langsung balas meninju pipi kiri Rahmat. Lalu Rahmat balas meninju pipi kiri Togar, dan Togar tak mau kalah balas meninju pipi kanan Rahmat. Saling meninju masih di seputaran muka. Agak lama rasanya mereka berdua saling mendaratkan pukulan ke muka masing-masing.

Beberapa saat kemudian, baru kulihat Togar memukul bagian perut dan dibalas lagi oleh Rahmat di bagian yang sama. Lalu kembali lagi ke muka. Semua kulihat seperti dalam film gerak lambat. Tak ada teknik khusus yang bisa kurekam dalam otakku. Beberapa lama menonton film gerak lambat itu, tiba-tiba kulihat Togar rebah terkapar dan kesulitan berdiri ketika wasit dan beberapa kawan yang menonton menghitung mundur sepuluh angka. Togar telentang begitu saja sampai hitungan terakhir dan pasrah saat wasit mengangkat tangan kiri Rahmat dan menyatakannya sebagai  juara. Jagoanku kalah.

Tak bisa kubayangkan nasibku sebentar lagi saat menghadapi Muhammad. Aku merasa terhuyung duluan sebelum bertanding. Togar kalah, tapi belum tentu aku kalah, hibur hatiku. Aku pun maju ke ring dengan langkah pasti. Kufokuskan pikiran untuk mengalahkan Muhammad. Pertama-tama, dengan gaya Muhammad Ali idolaku, kakiku bergerak maju mundur dengan agak melompat, mirip ulat kepanasan. Sementara kulihat Muhammad masih tenang-tenang saja. Kedua tangannya sepertiku, terkepal siap meninju. Tinju pertama kuarahkan ke mukanya. Ia balas ke rahangku. Aku meringis kesakitan. Tapi segera kubalas dengan jeb ke rahangnya pula, ia balas ke mukaku. Aku balas ke arah perutnya, ia balas ke dadaku. Aku balas ke dadanya, ia balas ke perutku.

Beberapa kali tinju ke muka, rahang, dada dan perut, pelan tapi pasti, aku mulai merasa mual dan berputar-putar. Tubuh buntalku ternyata tak mampu menjadi bantalan bagi pukulan-pukulan yang mendarat dengan sesukanya. Hampir aku rebah tapi tetap kutahankan agar tak menyerah seperti Togar. Aku masih berusaha membalas pukulan-pukulan kawanku yang bertubuh kurus tapi lebih tinggi dariku itu. Oh, bagai melawan sebatang Mahoni. Ia tampak tak terlalu kesakitan sepertiku.

Beberapa kunang-kunang sudah mampir ke mataku ketika Muhammad, di antara sorak sorai penonton yang bersemangat itu, mendaratkan tinju ke dekat pelipisku. Aku rebah terkapar seperti Togar. Bedanya, ia telentang dan aku telungkup. Tak lagi sanggup kusahut urutan angka mundur yang diteriakkan wasit ke telingaku. Ingin aku rebah saja menahankan nyeri yang tiba-tiba menusuk dada, perut, dan mungkin juga membirukan wajahku.

Tapi aturannya jelas. Sehabis bertinju, kedua pihak harus bersalaman. Maka setelah wasit mengangkat tangan sang juara sebagai tanda kemenangan, dengan susah payah aku berusaha bangkit dan meraih uluran tangan Muhammad. Segera sesudah jabat tangan yang hangat itu,  suasana perasaan kami kembali sebagai kawan. Tinggal memikirkan bagaimana cara menghindarkan diri dari pertanyaan Ayah tentang asal muasal baju kotor dan muka serta badan yang sudah centang perenang itu.

(bersambung…)

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s