Tentang Ayah (11)

Namanya Baihaki Lubis. Kawanku yang satu ini termasuk bandal di sekolah. Sengaknya minta ampun. Kalau ditengok sekilas, nampak muka baiknya. Tapi lama-lama mengobrol dengannya, pasti bicaranya mulai bernada meremehkan sekaligus menyebalkan. Aku sebenarnya malas berlama-lama berbincang dengannya kalau sedang jam istirahat. Tapi entah kenapa kawan-kawanku yang lain mau saja mengekor waktu si Baihaki itu mengajak pergi ke belakang sekolah, di bawah pohon mahoni yang kokoh itu. Daripada tak ada kawan main, aku pun terpaksa ikut.

Sudah kuduga, pastilah dia punya sesuatu yang ingin dipamerkannya. Aku dan Rahmat memilih bersandar di batang mahoni di seberang Baihaki, Monang, Diman, Lokot dan Hasan. Setelah kami semua memandangnya, barulah dia buka bicara.

“Tadi aku habis jaga kede abangku,” katanya sambil merogohkan tangan ke dalam tasnya.

“Dan aku bawa ini untuk kalian.” Dia mengacungkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan putih. Segera kami condongkan badan lebih dekat ke arahnya. Jelaslah itu kotak yang sering kami lihat di dagangan para pengasong di jalan dan kede-kede. Kami semua berpandang-pandangan kecuali Baihaki.

“Apa maksud kau membawa ini? Ini kan tidak boleh!” seru Monang sengit. Baihaki hanya tersenyum-senyum. Aku dan kawan-kawan lain diam sambil terus memandangi kotak kecil yang dipegang Baihaki itu. Tampak jelas rasa ingin tahu yang besar di mata kawan-kawanku ini. Kecuali Monang.

“Udahlah. Tak perlu ribut kau, Monang. Ini, kukasih kau satu. Kau coba dulu baru cerita.” Baihaki menarik sebatang putih dari dalam kotak itu lalu menyodorkannya kepada Monang. Monang terang-terangan menolak.

Ah, kau sajalah. Aku tak ikut-ikutan,” tegasnya.

Baihaki lalu mengalihkan sodorannya pada Lokot. Tampak sekali Lokot begitu ingin menyambarnya, tapi ragu karena pandangan Monang yang tajam kepadanya.

Udahlah. Kau coba dulu, baru cerita. Jangan kayak si Monang. Belum apa-apa udah ribut dia,” ujar Baihaki sinis. Monang melengos lalu memilih menepi ke batang Mahoni tempatku dan Rahmat bersandar tadi.

Tangan Lokot maju mundur menerima rokok itu. Namun akhirnya diambilnya juga. Kami, yang mentalnya kurang lebih sama dengan Lokot, juga berlaku sama. Tampak ragu awalnya, namun saat Baihaki mengangsurkan rokoknya ke tangan kami, dengan cepat rokok itu kami pegang erat. Kami putar-putar wujud asli rokok itu. Saat memegangnya, aku merasa jantan seperti lelaki dewasa.

Kucoba menempelkannya ke bibir. Mendadak aku merasa kumis dan jenggotku telah tumbuh. Kawan-kawanku mengikut lakuku. Mereka mengapitnya di antara bibir. Tersenyum-senyum sambil membayangkan asap mengepul-ngepul dari ujungnya. Baihaki yang berlagak sebagai perokok profesional mengangsurkan korek api padaku. Sontak aku menggeleng.

“Sini, tengok aku,” katanya sambil menyulut sebatang rokok di bibirnya. Ujungnya segera saja merah menyala, menguarkan asap rokok yang sesungguhnya. Masih dengan lagaknya itu, Baihaki mengepulkan asap rokok dari mulutnya yang melancip. Mulut kami menganga ketika ia tenang sekali saat melakukan itu. Setelah isapan yang ke sekian, ia pun menawarkan korek api kepada kami. Tak ada yang berani. Tepatnya, tak ada yang tahu persis bagaimana caranya. Lebih tepatnya lagi, kami terlalu takut jika ketahuan guru.

Aahh..kalian ini. Kek gitu aja kelen takut. Sini kutunjukkan caranya.”

Si perokok kuntet itu pun mengambil rokok dari mulutku ke mulutnya, menyalakan korek api lalu membakar ujung batangnya. Nyala merah mengabukan ujung rokok itu ketika dengan sepenuh perasaan ia mengisapnya. Saat dihembuskan, berkepul-kepul asap memenuhi wajah kami yang rapat mengerubunginya.

“Nah, kek gitu. Cok kalian coba sendiri,” perintahnya diikuti Lokot. Dengan meniru gaya profesional Baihaki, Lokot berhasil menyalakan ujungnya dan mengisapnya. Namun tiba-tiba ia terbatuk-batuk hebat. Kami pun cemas dan mengusap-usap punggungnya. Mukanya merah padam. Dadanya yang kurus itu naik turun berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Baihaki malah tenang saja sambil tetap menghabiskan sisa rokok di tangannya.

“Ini gara-gara kau!” tuding Diman pada Baihaki. Yang dituding berlagak tak ambil pusing. Ia lirik Diman sedikit lalu bicara,

“Itu biasa, Man. Aku pun dulu kek gitu waktu baru-baru belajar. Tapi lama-lama bisa sendiri.”

Batuk Lokot perlahan mereda. Jarinya masih mengapit rokok yang masih menyala itu. Rahmat yang sedari tadi nampak penasaran mengambil rokok itu dari tangan Lokot. Diisapnya pelan lalu diembuskannya. Diisapnya lagi, diembuskannya lagi. Kami heran Rahmat tidak batuk-batuk seperti Lokot.

“Kau udah pernah nyoba ya?” tuduhku.

Nggak ah…baru kali ini,”

“Tapi kok langsung bisa?”

“Memang ada yang langsung bisa, Mir,” jelas Baihaki padaku.

“Kau cobalah.” Ragu-ragu, kuambil juga rokok yang menyala itu dari tangan Rahmat. Kuisap sedikit, aku batuk-batuk, tapi tak sehebat Lokot. Kuisap lagi. Batuk sedikit. Kuisap lagi. Aku mulai menikmatinya meski terasa pahit di mulutku.

“Nah, kau udah pande itu.” Puji Baihaki. Lalu bergilir Hasan dan Rahmat. Tiba giliran Rahmat, rokok yang sebatang itu habis dan Baihaki mengangsurkan lagi yang baru. Karena khusyuknya mencicipi rokok itu, kami hampir lupa kalau ada Monang yang sedang memperhatikan kami sejak tadi.

“Hei, Monang! Mau kau coba?” Baihaki menawarkan lagi.

Monang diam sambil mencabuti rumput yang tumbuh di bawah pijakan kakinya. Wajahnya berselimut gelisah. Sejurus kemudian ia bangkit dari jongkoknya lalu mendekati kami dan berkata ketus,

“Terserah kelen lah! Aku nggak ikut-ikutan!” lalu melangkah menuju pekarangan sekolah.

Mate ma hita anggo malapor ia tu guru,” * desisku. Lokot, Diman, Hasan dan Rahmat memandang aku dengan sorot cemas yang sama.

Nggak lah. Biarpun dia kek gitu, dia nggak berani melapor macam-macam ke guru,” Baihaki mencoba menenangkan. “Tenang aja kelen. Aku yang tanggung jawab.”

Pagi menjelang siang hari itu menjadi saksi. Itulah pelajaran penting yang kudapat dari Baihaki, temanku yang sengak itu. Setelah remaja, aku sempat berteman akrab dengan rokok sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti pada suatu waktu yang telah ditentukanNya.

(bersambung…)

***

* “Matilah kita kalau dia melapor pada guru”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s