Tentang Ayah (10)

Kakiku terasa gemetar. Terbayang apa yang akan dilakukan sesosok yang sebentar lagi pasti akan muncul dari balik pintu. Sudah lewat makan siang dan perutku melilit karena belum mengunyah secuil pun makanan sejak pulang sekolah tadi. Namun rasa takut yang sangat mengalahkan rasa laparku.

Tak lama, Ayah muncul membuka pintu. Kurasakan pundak kiriku dirangkul lebih erat. Kutatap Ayah dan Ayah terpelongo sebentar sebelum mempersilakan Bu Siregar masuk. Kakiku menyeret mengikuti langkah guru Bahasa Indonesiaku itu. Seperti akan masuk ke rumah orang yang tak kukenal.

Aku memilih duduk di sebelah Bu Siregar. Beliau lalu membuka pembicaraan mengenai keadaanku yang berbeda siang itu. Ayah sesekali melirik tajam sambil mengomentari. Aku memilih menunduk saja. Badanku lemas karena lapar dan takut.

Belum sempat disuguhi minuman apapun dari belakang, Bu Siregar segera pamit. Hari memang hampir sore. Tinggallah aku yang akan menanggung penderitaan karena ulahku sendiri. Aku menahan nafas sampai Ayah akhirnya bicara,

“Pintar kau sekarang ya. Main-main tak tengok-tengok. Lihat bibirmu itu. Udah macam baju aja sampe dijahit begitu. Untung bukan kepalamu yang pecah. Kalau sempat kepalamu yang kena, apa yang mau kau bilang lagi?” Aku menarik nafas tertahan demi mendengar repetan Ayah. Umak datang menghampiri dari dapur. Terkejut ia waktu melihat bibirku yang terjahit 3 jahitan.

“Inilah anakmu. Main-main tak hati-hati. Jatuh terus pecah bibirnya. Untung tadi masih ada gurunya yang bawa dia ke Siodari. Kalo nggak, macam mana pula?”

Umak ke dapur dan kembali membawa segelas air putih. Aih, tersentuh sedikit dengan bibir gelas itu saja sudah membuatku meringis. Melihat itu Ayah kembali melancarkan serangannya,

“Itulah. Rasakanlah sekarang akibatnya.” Ujarnya lalu pergi ke depan.

Napedo mangan ho, amang?* Umak bertanya sambil mengusap punggungku. Air mataku tertahan di kedua sudutnya. Umak bergegas ke dapur mengambilkan nasi dan lauk untukku. Sebelum aku disuapinya, dilembutkannya nasi itu terlebih dahulu dengan tangannya. Diremasnya nasi yang masih mengepul itu, dicampurnya dengan ikan goreng dan sayur daun ubi tumbuk lalu disuapkannya ke mulutku. Aku meringis-ringis menahan perih. Makanan seenak apapun rasanya hambar sekarang. Kali ke-tiga, aku menolak suapan Umak. Perih tak tertahankan. Air mataku sampai keluar. Oohh, amang…beginilah rasanya kalau bermain tak hati-hati. Sebersit penyesalan terbit dari hatiku.

Aku sebenarnya tak sengaja. Siang itu, ketika lonceng sudah didentangkan, seperti biasa aku berseru kegirangan bersama kawan-kawan. Ekspresi kegembiraan kanak-kanakku kutunjukkan dengan naik ke atas meja dan melompat-lompat heboh di atasnya. Bukan aku saja, ada beberapa kawanku yang melakukan hal serupa. Aksi kami termasuk nekad. Kami melompati meja yang satu ke meja yang lain dengan gerakan tangkas. Begitu berulang-ulang, berkeliling kelas.

Setelah beberapa lama, kawan-kawanku berhenti bermain, sementara aku masih asyik melompat-lompat dari meja yang satu ke meja yang lain. Sial bagiku. Togap si biang usil di kelas menggeser meja yang akan kujadikan landasan berikutnya tepat di saat aku sudah melakukan gerakan melompat. Lalu…ah, ngeri membayangkannya. Mukaku mendarat dengan kasar di lantai. Sesaat aku mati rasa. Belum kusadari bagaimana bentuk mukaku ketika bangkit ketika seorang kawan perempuanku berteriak sambil meringis ngeri melihatku. Kuraba bibirku yang mulai terasa perih. Ternyata darah sudah menetesi bajuku.

Di antara kerumunan teman-temanku itu masih sempat pula Togap dan kawan-kawannya menyoraki dan menertawai keadaanku. Marahku rasanya sampai ke ubun-ubun. Dia yang telah membuatku berdarah begini, malah dia pula yang senang tanpa rasa bersalah. Ingin rasanya aku membalas kelakuannya. Kawan-kawanku yang bersimpati segera berinisiatif mendudukkan aku di kursi lalu memanggilkan guru.

Begitulah. Hingga akhirnya Bu Siregar datang tergopoh-gopoh, memeriksa wajahku lalu segera membawaku ke balai pengobatan terdekat dari sekolah kami; Balai Pengobatan Siodari. Oleh mantri yang ada di situ lah bibirku yang sepotong ini dijahit setelah diobatinya terlebih dahulu. Lalu terjadilah seperti yang kuceritakan di atas tadi, yang berpuncak pada tidak bisanya aku menikmati masakan Umak yang lezat dalam keadaan perut lapar. Sungguh mengenaskan.

(bersambung…)

***

* “Belum makan kau, Nak?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s