Tentang Ayah (9)

Adegan kejar-kejaran itu berakhir waktu akan mendekati rumahku. Aku spontan memperlambat langkah. Kak Nur menjejeri langkahku dengan tangannya yang masih ingin menjewer. Aku menempelkan telunjuk ke bibir. Kak Nur menurut. Aku dan Kak Nur sekejap melupakan kejadian tadi. Kami bertelepati lagi.

Ahh…kok ke sini pulak kita lari? Gara-gara kau nya ini, Mir,” Kak Nur melotot padaku. Kami sudah berjalan beriringan sambil ngos-ngosan. Lokot berjalan lambat di belakang. Mukanya sudah seperti kepiting rebus kurang air. Sedikit gosong.

“Mau kek mana lagi, Kak? Ya udahlah. Kita jujur aja bilang sama Ayah. Tak guna kita sembunyi. Kalau tak kita bilang sekarang, bisa-bisa kita nginap pulak di rumah si Lokot. Makin marah lah Ayah,”

“Terserah kau lah. Pokoknya kau yang bilang,”

Kami lalu masuk pekarangan rumah. Sambil takut-takut, aku dan Kak Nur menjumpai Ayah yang sedang duduk di beranda. Udak sudah pulang rupanya.

Udah pulang Udak, Yah?” kataku berbasa-basi.

Udah tadi. Darimana kalian? Kok banyak kali keringat kalian Ayah tengok. Habis ngapain?” Ayah mengamati kami dengan mata tajamnya. Rautnya biasa saja, tapi aku dan Kak Nur merasa itu kalimat sindiran Ayah. Hati kami langsung menciut. Apa Ayah sudah tahu?

Kak Nur menyikutku. Aku berusaha bicara meskipun berat.

“Ma…maafkan kami, Yah. Ka…kami tak sengaja. Tadi kami bermain di lapangan,”

Wajah Ayah masih datar. Aku melanjutkan sebelum ekspresinya berubah.

“Tadi waktu giliranku, Kak Nur yang mendorong. Tapi mungkin Kak Nur kencang kali mendorongnya, padahal aku belum siap. Jadi oleng lah. Terus nabrak pohon. Kami pun tak sangka kalau jadinya terpatah dua,”

“Hmmm? Apanya yang patah?” Muka Ayah berubah. Dahinya berkerinyit. Mata tajamnya membuat mukaku terasa panas.

“Palang tengahnya itu, Yah. Maaf, Yah. Kami betul-betul tak sengaja. Maaf juga kalau selama ini kami diam-diam saja membawanya,” aku menunduk. Kak Nur juga.

Sejenak diam. Ayah tampak berpikir.

“Ayah tak mengerti ini. Palang tengah? Ada rupanya palang tengah di lapangan sana itu? Palang apa? Seingat Ayah tak ada di situ palang. Bawa apa kalian rupanya?”

“Ta…tapi…sepeda Yah. Sepeda Ayah,” Aku pun terkejut karena jawabanku yang mantap.

Ayah terpelongo.

“Sepeda? Sepeda Ayah? Patah? Kapan pulak kalian bawa itu?” Ayah membetulkan kacamatanya. Gerakannya mulai gusar.

“Sekarang dimana sepedanya?,” Ayah bangkit dari duduknya. Sebelum dijawab, Ayah sudah buru-buru ke belakang rumah.

Kami mengikutinya dengan debar jantung yang sudah tak karuan. Tapi nasi sudah menjadi bubur yang tak enak rasanya. Mau tak mau kami harus menelannya karena sudah telanjur. Bubur tak bisa lagi diubah menjadi nasi.

Sambil berkacak pinggang, Ayah memandangi sepedanya yang kami sandarkan di dinding belakang dapur. Palang tengah yang patah dan beberapa bagiannya yang penyok membuat sepeda itu terlihat begitu menyedihkan. Ayah diam saja. Mungkin karena saking tak kuasanya menahan kesedihan karena sepeda janda satu-satunya yang menjadi alat transportasi kemanapun dia pergi, harus tersandar tak berdaya di dinding kusam itu. Rasa bersalahku semakin menjadi-jadi. Kasihan Ayah. Tapi apa yang bisa kulakukan untuk menebusnya?

“Mir, kau ikut Ayah ke kota. Kita betulkan sepeda ini.” Kata Ayah tegas. Aku agak terperangah. Ayah tak sedikit pun menunjukkan amarahnya. Aku dan Kak Nur bertukar pandang. Sedikit lega. Ayah lalu menggiring sepeda bagian depan dan menyuruhku membawa bagian belakangnya. Rasanya apapun akan kulakukan untuk menebus kesalahan itu. Dengan tersenyum kecil aku menggiring bagian belakang sepeda dan mengikuti jejak Ayah. Di luar pekarangan, Lokot menahan senyumnya lalu menunduk hormat pada Ayahku. Ayah tetap dengan wibawanya, mengangguk pada Lokot lalu menggiring sepeda roda satunya dengan pandangan lurus ke depan. Ekspresi yang sama ketika sepeda itu masih utuh beroda dua.

Kala itu senja masih cukup jauh. Satu pemandangan unik bagi orang kampung memunculkan keheranan. Sepasang Ayah beranak masing-masing menuntun sepeda roda satunya ke kota.

(bersambung…)

4 thoughts on “Tentang Ayah (9)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s