Tentang Ayah (8)

Sambil bersitatap, masing-masing benak kami memikirkan cara terbaik untuk mengatasinya. Mengatakan apa adanya pada Ayah, belum apa-apa nyali kami sudah mengerut. Tidak dibilang? Mau ditaruh dimana sepeda ini nanti? Tidak mungkin kami menyembunyikannya lama-lama. Ayah menggunakan sepeda ini kemanapun ia pergi. Akan lebih repot dan bingung lagi bila kami berbohong dan berkelit. Setelah menimbang-nimbang baik dan buruknya, akhirnya kami harus rela mengambil pilihan yang pertama; berterus terang pada Ayah.

Kami lalu berjalan beriringan sambil masing-masing menggiring satu bagian sepeda. Terasa aneh pastinya. Sudah timbul juga syak wasangka dalam diriku tentang pandangan orang-orang kampung yang melihat kami. Sebagian dari yang kulirik ada yang bermuka bingung, sampai-sampai menghentikan kegiatannya menjemur buah pinang di halaman. Ada pula yang tersenyum-senyum sambil berbisik-bisik dengan orang di sebelahnya. Itu kutahu dari sudut mataku. Semakin jauh berjalan menuju  rumah, semakin berat cobaan malunya. Mukaku semakin memerah dan menunduk saat kudengar ada yang tertawa keras setelah aku lewat di depannya. Aku tahu siapa dia. Salah seorang bujang lapuk kampung kami; Sutan.

Kak Nur tetap melaju. Gaya dan pembawaannya yang tak acuh membuatnya agak mudah menerima ujian kesabaran ini. Langkahnya pasti. Arah pandangannya lurus saja ke depan. Tak menunduk, seolah tak takut musuh. Seumpama pejuang yang bertekad baja, siap menghadapi segala kemungkinan serangan pihak lawan. Heroik sekali. Aku agak terpengaruh. Aku pun bisa begitu. Terlebih aku anak laki-laki. Semestinya lah aku lebih berani menghadapi segala risiko yang mungkin terjadi. Tapi semakin dekat ke rumah, semakin tak karuan pula perasaan dan pikiranku. Kukuat-kuatkan diriku. Inginnya sekuat tekad baja Kak Nur.

Akhirnya sampai juga kami di halaman. Udak masih di dalam. Agak mengendap-endap, kami berlari kecil ke belakang rumah. Menyandarkan dua patahan sepeda itu di dinding luar dapur. Kami buat bergandengan setepat mungkin di patahannya. Lalu cepat-cepat kami keluar pekarangan lagi. Menjauh dari rumah.

Di tempat Lokot kami bersembunyi. Imajinasi menakut-nakuti kami. Ayah akan tahu lalu mencari keberadaan kami sampai ke pinggir kampung. Beberapa orang turut membantu pencarian. Persis seperti pencarian anak hilang. Setelah dapat, kami pun digiring paksa ke rumah lalu diinterogasi tentang hal ihwal sepeda yang patah dua itu. Tentang siapa yang duluan berniat membawa lari sepeda dari rumah, siapa yang lalu mencelakainya hingga terpatah dua, sampai pikiran siapa yang mengatakan lebih baik bersembunyi daripada berterus terang.

Semua bayangan itu berputar-putar di kepala kami. Aku dan Kak Nur saling tahu pikiran masing-masing karena kami bertelepati. Lokot yang sedari tadi hanya melihat bahasa tubuh kami yang menyiratkan kecemasan luar biasa, ikut-ikutan bertelepati.

Heh, Kot…buat apa kau ikut-ikut?” hardikku pada tatapannya yang sok tahu.

Lokot diam saja. Dalam diamnya itu dia berani-beraninya menjawab hardikanku.

“Suka-sukaku lah mau ikut kalian apa nggak. Yang pasti, aku udah tau masalah yang membuat kalian keringat dingin gitu. Pasti Ayah kalian kan?”

“Ha! Kok tahu pulak kau?”

“Tahu lah aku. Yang kau pikirnya aku ini sok tahu. Padahal memang. Tapi betul aku kan?”

Haahhh…apa pulak urusanmu?”

“Na! Udah kalian yang ke sini mau sembunyi, harus pulak lah aku tau. Kalau nggak, bisa kubilang Ayah kalian nanti,”

“Siapa pulak yang mau sembunyi? Ah, kau ini memang betul-betul sok tahu! Tak usah lagi kau bertelepati sama kami,” aku dan Lokot serentak membuang muka. Kak Nur yang sedari tadi bergantian melihat kami menatap dengan muka heran.

Heh! Apanya kalian ini? Muka merengut-rengut tak jelas gitu. Udahlah. Sekarang pikirkan cara supaya kita bisa pulang ke rumah dengan tenang.” Kak Nur bersuara kepadaku. Aku merengutkan dahi lagi. Kali ini berpikir. Agak lama sampai akhirnya aku memutuskan sesuatu.

Ah…kurasa tak guna juga kita di sini lama-lama kak. Makin tak jelas ini. Tak enak juga kan kalau akhirnya Ayah menemukan kita di sini terus kita dimarah-marahi. Malu aku. Jadi kurasa pulang ajalah kita. Tak mungkin kita sembunyi aja soal sepeda itu. Bentar lagi pun udah tahunya Ayah itu. Kalopun dimarahi, bagus awak dimarahi di rumah aja daripada di rumah si Lokot ini. ”

Kak Nur tampak berpikir. Benar juga apa kata adiknya ini. Ia lalu menimbang-nimbang kata-kata apa yang pantas untuk menghadapi orang yang lekas sekali marah.

“Kau saja yang bilang ya, Mir,”

“Ah…kakaklah yang bilang. Kakak kan lebih tua,”

“Biarpun lebih tua tapi kau kan lebih didengar Ayah,”

Aku terpelongo. Ada sebersit rasa haru Kak Nur bilang begitu. Di mata Ayah, aku memang dianggap lebih penurut dibanding Kak Nur. Umak pun pernah bilang begitu. Kak Nur lebih berontak daripada aku. Kenakalannya terkadang melebihi kenakalan anak laki-laki. Tapi rasa haru itu sekejap berganti menjadi rasa iseng ingin menjahilinya.

“Iya…orangtua mana pulak yang mau mendengar cakap anak yang tak penurut seperti kakak?” kataku sambil memeletkan lidah. Lokot yang jadi penonton terkikik. Kak Nur merah padam. Mata amarahnya bergantian memandang kami. Kami langsung bersiaga. Sebentar lagi angkara murkanya akan naik ke ubun-ubun.

“Lariiiiiiiiiiiiii…..!!” spontan kami berlari tunggang langgang ke jalan.

“Heeeeeiiiii….awas kalian ya! Sini kalian! Akan kukejar kalian sampai kujewer mulut kalian yang sengak itu!” Kak Nur secepat kilat mengejar. Kami semakin pontang panting. Nafas sudah mulai terengah-engah. Bagaimanapun Kak Nur berbadan lebih besar dan kuat daripada kami. Larinya pun lebih cepat. Kalau sampai dia mendekat dan betul-betul akan menjewer mulut kami… ahh…alamak sakitnya itu.

(bersambung…)

2 thoughts on “Tentang Ayah (8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s