Tentang Ayah (7)

Aku baru saja pulang dari rumah Hasan ketika Udak1 datang ke rumah ingin bertemu Ayah. Rasanya senang sekali bila ada yang bertamu. Dengan tersenyum senang aku langsung mencari Ayah di dalam. Kutemukan Ayah sedang membelah kayu bakar di halaman belakang. Peluh membasahi kausnya yang sudah berwarna kusam.

“Yah, ada Udak di luar,” kataku.

Ayah menghentikan gerak kapaknya. Kayu yang terbelah menggunung di sebelahnya. Masih ada setumpuk lagi. Aku pun menawarkan diri membantunya.

“Biar Amir saja yang membelahnya, Yah. Ayah temui saja Udak di luar,” kataku sambil mengambil alih kapak dari tangannya. Wajah Ayah tampak lega. Ia angsurkan kapak kayu itu ke tanganku dan berjalan ke beranda dari samping rumah.

Aku membelah kayu-kayu itu secepat yang aku bisa. Pekerjaan yang hampir setiap hari kulakoni ini membuatku tak sulit lagi mengayunkan kapak tepat membelah kayu yang dikumpulkan Ayah dari hutan di belakang rumah. Biasanya aku setengah hati mengerjakannya. Membelah kayu bakar bukan pekerjaan mudah. Tapi kali ini aku merasa termotivasi untuk mengerjakannya lebih cepat, karena selesai ini,  aku akan membawa sepeda Ayah ke jalan.

Aku mengintip hati-hati dari sela jeruji besi jendela samping dengan tangan memegang stang sepeda janda milik Ayah. Ayah dan Udak masih mengobrol di ruang tamu. Kulihat kak Nur membawa nampan berisi dua gelas teh manis panas lalu menghidangkannya di meja. Umak telah pula turut serta dalam perbincangan itu, duduk di samping Ayah. Sudah cukup aman untuk membawa sepeda itu keluar pekarangan. Pelan-pelan, serupa mengendap-endap, aku menggiring sepeda itu ke arah jalan dari samping rumah.

Sebuah tepukan di pundak membuatku terlonjak. Jantungku tiba-tiba turun ke dengkul. Secepat kilat aku menoleh ke kiri.

“Aahh…rupanya kaunya kak,” Kak Nur terkikik tanpa suara. Dia lalu ikut mendorong sepeda Ayah menjauh. Pikiran kami sama. Bertiga dengan sepeda janda yang telah menua itu, kami menuju tanah lapang di ujung kampung.

“Aku duluan,” kataku begitu kami sampai di tanah lapang. Kak Nur melotot.

“Aahh…nggak. Aku lebih besar dari kau. Jadi aku yang duluan,” Dia langsung merebut stang sepeda lalu membawa sepeda itu ke sisi seberang. Aku pasrah. Lebih baik menunggunya berpuas-puas main sepeda sampai dia lelah, setelah itu baru giliranku. Melawannya hanya akan menuai amarahnya.

Hampir-hampir aku tertidur menunggu di bawah rindang pohon mahoni ketika aku merasakan geli di telinga. Kupicingkan mata. Ahh…Kak Nur mengusiliku dengan sebatang rumput.

“Nih, giliranmu. Belajar aja kau sendiri ya. Aku mau tidur dulu. Capek aku,”

Mataku memelas. Aku ingin sepeda itu dipegangi ketika aku menaikinya.

“Bantulah dorongin, Kak. Nanti jatuh-jatuh aja aku,”

“Alaaaahh…coba-coba aja sendiri. Bisanya kau itu,” dia memalingkan muka sambil mengunyah batang rumput.

“Kak, tolonglah…biar cepat aku belajar terus pulang kita. Udak itu bentar lagi pulangnya itu. Kekmana kalo Ayah tahu kita bawa sepedanya? Kan kakak juga yang kena nanti,” Alasanku cukup manjur. Kak Nur lalu bangkit dan mengekor di belakang sepeda. Aku mulai menaiki dan mengayuhnya. Masih setengah putaran. Sulit sekali rasanya mengayuh sepeda sebesar itu dengan hanya ditopang badanku yang kecil ini.

 Angin sore bertiup kencang. Membuat acara mengayuh sepeda semakin berat saja. Pantas, aku melawan arus angin. Kuputar sepeda yang kalau dikayuh berbunyi “krieeett…krieeett….” itu ke arah yang berlawanan. Kak Nur mengikuti sambil memegangi sadel belakang. Tenaganya yang kuat lalu mendorong sepeda. Sekejap aku seperti merasa berkejaran dengan ribuan anak angin yang berlarian searah denganku. Aku dan sepeda meluncur kencang. Jantungku mendadak berdegup hebat. Darahku tersedot ke dengkul.

“Aku lepas ya!” Tanpa menunggu jawabanku, kak Nur melepas pegangannya di sadel.

Aku gugup. Kaki dan tanganku tak siap menguasai stang dan roda-roda yang mulai menggila. Aku sudah mengerem sekuat tenaga tapi tetap saja sepeda itu meluncur melalui bagian tanah lapang yang landai. Tak diragukan lagi. Sepedaku meluncur pasti ke arah pohon trembesi tua di depanku. Mukaku terasa panas pias. Tak lama lagi aku akan tersedot ke lubang hitam di batang pohon itu dan…

“Aaaaaahhhhhh…!! Kak Nuuuurrr..!!” lalu suara besi dan kayu bersinggungan hebat.

“Krraaaakkk…!!”

Aku terjerembab beberapa jengkal dari pohon sambil meringis-ringis kesakitan memegangi kakiku.

“Aduuuuhhh…kekmana ini, Mir? Kau rusakkan sepeda Ayah! Duuuhh…mati lah kita,” ucapan Kak Nur membuatku sebal setengah mati padanya. Bukannya buru-buru menolongku, tapi malah sibuk menyesali nasib sepeda Ayah yang kulihat sudah tak berbentuk lagi. Sambil bersungut-sungut aku berusaha bangkit sendiri. Terseok-seok mendekatinya dan sepeda kesayangan Ayah.

“Nih…hah…kau tengok lah ini. Bilang apa kita nanti? Alaah…mate ma hita!2

Begitu melihatnya, rasa sakitku tergantikan rasa panik dan cemas luar biasa. Ini memang benar-benar bencana! Sepeda Ayah patah dua. Pas di tengah, di antara roda depan dan belakang. Bagaimana bisa? Bilang apa kami nanti?

(bersambung…)

______________________

1 : Panggilan untuk Adik Ayah atau kerabat laki-laki (pihak Ayah) yang berusia lebih muda dari Ayah

2 : Aduuh…matilah kita! (Bahasa Mandailing)

4 thoughts on “Tentang Ayah (7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s