Tentang Ayah (6)

Dari sekian banyak anak Ayah dan Umak, rasanya cuma aku yang disuruh pergi mengaji pagi-pagi benar. Kak Nur, cuma diajari Umak di rumah. Adik-adikku pun begitu. Entah apa alasan Ayah hanya menyuruh diriku sendiri saja pergi ke masjid seberang sungai dan menemui Ustaz Tudan Pulungan untuk belajar mengaji sebelum berangkat ke sekolah. Terkadang aku ingin protes. Bangun saat fajar baru merekah, mandi dan berwudhu dengan air pegunungan yang dinginnya Masya Allah, salat Subuh, baru kemudian bergegas ke rumah Ustaz di seberang sungai itu.

Benar-benar bergegas, karena biasanya aku dan seorang temanku, Hasan Hutasuhut, berlari-lari melewati jembatan di atas Aek Sibontar, sungai yang memisahkan kampungku dengan kampung Ustaz yang terkenal galak itu. Namun pada akhirnya, bangun pagi-pagi benar untuk pergi mengaji menjadi rutinitas yang tak lagi terasa melelahkan. Tubuhku sudah biasa dengan dinginnya udara pagi yang menggigit, dan langkahku telah pula terasa ringan berkejaran dengan gerak matahari agar nantinya bisa tepat waktu sampai di sekolah.

Sampai di sana, Ustaz bersorban itu pasti sudah siap dengan Al-Quran, buku dan pensil penunjuk bacaannya. Turut bersamaku dan Hasan, ada seorang anaknya yang ikut mengaji bersama kami, Sarben Pulungan. Sama saja dengan cara mengajar dan mendidik Ayahku, Ayah Sarben pun keras sekali dalam mendidik anaknya sendiri. Malah Sarben lebih sering dimarahi daripada kami. Bila ditelisik, kesalahan Sarben memang cukup fatal. Mungkin ia tak pernah mengulang bacaannya di rumah. Kerjaannya main saja. Maka tak heran lah kalau ia sering dijadikan sasaran amarah sang Ayah.

Seperti pagi ini. Kami sudah duduk dengan hikmat mendengarkan ceramah Ustaz Tudan tentang hadits mengenai kewajiban menuntut ilmu sampai ke liang lahat, ketika sesosok bayangan bergerak-gerak gelisah di lantai masjid. Tanpa menoleh pun, kami semua sudah tahu milik siapa bayangan itu.

β€œHa! Baru bangun kau?” Ustaz Tudan menanyai anaknya dengan suara serupa bentakan.

Kami menoleh sebentar, lalu pura-pura menekuri buku bacaan. Khawatir dia akan malu bila kami ikut menonton adegan tak menyenangkan antara Ayah dan anak itu. Sarben hanya menunduk, melangkah masuk dengan leher tertekuk. Entah kenapa, meski sudah sering dimarahi di depan kami, tetap saja dia melakukan hal-hal yang dianggap Ayahnya salah. Datang terlambat, padahal satu rumah dengan Ayahnya. Mengaji dengan tajwid yang tak maju-maju, masih sering salah. Hafalan tarikh dan hadits yang masih setengah-setengah.

Jadi kurasa bukan lagi salah Ayahnya jika beliau sering murka. Kami tak berani menasehati, takut dia balik memarahi kami. Meski pendiam, anak itu terkenal sebagai anak yang cukup emosional. Bukan kata-kata yang dimuntahkannya, tapi sorot mata tajam menghunjam sampai hati siapa saja yang berani menatapnya dengan pandangan rendah berdesir ciut. Bukan sosok kawan yang bersahabat. Maka kami tak begitu dekat dengannya. Dan pagi itu, adalah pagi terakhir aku dan Hasan belajar mengaji bersama Sarben.

Esoknya, tak kami lihat lagi bayangannya yang gelisah di lantai masjid. Dia sudah mengundurkan diri dari pengajian yang diajar Ayahnya sendiri.

(bersambung…)

8 thoughts on “Tentang Ayah (6)

  1. Sarben memerlukan bimbingan yang penuh kasih sayang dari ortunya, pasti ada sebab mengapa dia demikian temperamental.

    > lanjuutttt πŸ˜€

    Mba Anissa, ini Cerber yaa. nice
    Mengangkat kisah rakyat sehari-hari.

    • hehehe..iyaa, mbak Della..kasian si Sarben ya..
      ini sebenarnya semacam novel biografi, mbak..tentang Ayah saya waktu kecil dulu..hehe..niatnya sih mau dibukukan, tapi ya diawali di blog dulu lah ya..hehe..settingnya ini tahun 1950-an, mbak..di kampung Ayah saya di Mandailing.. πŸ™‚
      wah..jadi pengen baca punya pak Rawa..kalo kisahnya ditulis sendiri pasti bagus itu, mbak..lebih menjiwai..kalo saya ini harus “reinkarnasi” dulu ke sosok Ayah di jaman dulu..hihihih..lebih rumit ya.. πŸ˜€

      makasiihh, mbak Della udah mampir yaa.. πŸ™‚

  2. yaaaaa.. NOVEL… he he salah deh saya kira Cerber, pas klik kategori ternyata “Tentang Ayah” adalah Novel

    Tetap semangat membuat kelanjutannya Mba.

    Jadi ingat Bang @Rawa (kompasianer) yang tulis juga kisah “Aku mau pergi kesekolah” wah ketika itu saya ikuti sampai seri yg ke 16 kalau gak salah, bagus nian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s