Tentang Ayah (5)

Hari ini pembagian rapor kelas 2. Aku naik kelas dengan nilai cukup baik. Ayah yang memberiku nilai-nilai itu tanpa sedikit pun faktor belas kasihan seorang Ayah kepada anaknya. Kenaikan ke kelas 3 berarti harus pindah ke SR negeri di kota Padang Sidempuan, 3 kilometer jauhnya dari Sibatu. Aku mulai membayangkan jauhnya perjalanan yang harus ditempuh kaki-kaki kecilku untuk bisa sampai di sekolah. Meski sekolah di kota akan terasa lebih menyenangkan karena akan banyak yang bisa kulihat -selain karena aku tak diajar Ayah lagi-, tapi tetap saja aku bermimpi di  kampungku ini tiba-tiba akan dibangun sekolah SR baru yang kelasnya lengkap, dari kelas 1 sampai kelas 6, demi menyambut kenaikan kelasku.

Agaknya naluri Ayah sebagai pendidik tahu apa yang kupikirkan. Maka di suatu sore yang cerah di beranda depan, Ayah duduk di sampingku yang sedang melamun.

“Kenapa kau melamun? Tak bermainnya, kau?” tanya Ayah basa basi. Aku menggeleng saja sambil menatap ke arah kumpulan kawan-kawan yang tengah bermain cungkil di lapangan sebelah rumah. Biasanya aku paling gemar bermain cungkil. Bisa dikatakan, aku lah jagonya. Tak sulit bagiku untuk mencungkil batangan kayu kecil sepanjang 15 sentimeter dengan sebatang kayu lain  sejauh-jauhnya. Aku lebih sering menang dan sulit dikalahkan kawan-kawanku.

Aku mengalihkan pandang ke depan. Dari sudut mataku, Ayah mengelap kacamata tuanya. Tua karena kacamata itu sudah lama tak diganti. Tapi kacanya tetap bening karena Ayah telaten merawatnya.

“Menuntut ilmu itu adalah kewajiban seorang muslim,” Ayah memulai nasehatnya. Aku diam mendengarkan.

“Kau tahu kan apa artinya menuntut ilmu? Menuntut ilmu itu sekolah, belajar yang rajin. Kalau perlu kau sekolah sampai jauh, merantau ke Medan atau Jawa sana. Lebih hebat lagi kalau bisa ke negeri seberang.” Pandangannya lurus ke depan. Seolah menunjuk tempat bernama Medan, Jawa atau negeri seberang yang hanya beberapa depa.

“Kalau kau memiliki kemauan yang kuat untuk belajar, tak akan jadi masalah buatmu bangun pagi untuk berangkat ke sekolah, biarpun sekolahmu itu jauh di ujung sana.” Kini gambar tempat bernama Medan, Jawa atau negeri seberang itu berganti menjadi Sekolah Rakyat Negeri kota Padang Sidempuan. Sekolahku nanti.

“Banyak orang yang tak sekolah. Apalagi di kampung ini. Bukan karena tak mau, tapi orangtuanya tak mendorong anaknya untuk sekolah lebih tinggi lagi. Dibiarkannya saja anaknya sekolah hanya sampai kelas 2 SR. Kau kan tahu si Solkot? Dia tak melanjut lagi ke kelas 3. Kata Ayah Umaknya, dia bisa baca tulis saja sudah bagus. Jadi tak perlu sekolah lagi. Tokh, nanti pun dia akan mengurus sawah orangtuanya yang hanya lima petak itu.”

Di depanku langsung terbayang sosok Solkot, sering jadi lawanku dalam bermain cungkil. Anaknya biasa-biasa saja. Kurasa, aku masih lebih pintar darinya.

“Ayah tak mau kau nanti seperti dia. Ayah guru. Ayah pengen anak-anak Ayah sekolah sampai perguruan tinggi. Mengenai biaya, tak usah kau pikirkan. Itu urusan Ayah. Urusanmu adalah belajar yang rajin. Semangat berangkat ke sekolah tiap pagi. Tak perlu lagi kubangunkan.”

“Kalau sekolahmu yang sekarang jauh, ya macam mana lagi. Tak mungkin lah Ayah membangunkan sekolah buatmu di kampung ini. Itu kan kewajiban pemerintah lah. Nah, pemerintah baru membangunnya di kota. Jadi mau tak mau kau ikut kemauan pemerintah saja lah. Sekolah lah kau di kota sana.”

“Sekolah memang capek. Tapi jangan kau pikirkan capeknya. Gembirakan hatimu waktu belajar. Insya Allah tak capeknya itu. Lebih capek lagi Ayah dulu. Berkali lipat lagi jauhnya sekolah Ayah daripada sekolahmu sekarang. Naik turun gunung, lewat hutan pula. Udah gitu, kegiatan belajar mengajar di sekolah pas jaman perang dulu tak selalu ada. Kadang gurunya ikut bergerilya melawan Belanda. Macam mana mau sekolah? Tak ada yang mengajar. Jadi dulu lebih banyak liburnya. Makanya dulu Ayah lama baru tamat sekolah.”

“Tapi apa? Kami murid-muridnya yang semangat tinggi untuk belajar. Berbagai cara lah dilakukan. Begitu bisa baca tulis, semua yang ada tulisannya dibaca. Dulu, beruntung kali kalau dapat koran. Biarpun berbahasa Belanda, koran itu pura-pura kami pahami isinya. Sampai tak sadar kami pun akhirnya bisa berbahasa Belanda.” Ayah berkata panjang lebar. Aku mulai tertarik mendengarkan nasehatnya.

“Kalau mau jadi guru seperti Ayah, wah…sulitnya bukan main. Jatuh bangun mengalami pendidikan Belanda yang kerasnya bukan main. Apa yang Ayah lakukan sama kau ini belum seberapa dibandingkan Ayah dulu. Jadi bersyukurlah, nak…kau sekolah di jaman Indonesia sudah merdeka. Sudah senang kali kau sekarang. Bebas sekolah tanpa takut sama penjajah” Aku menoleh ke arahnya. Kurasakan tarikan nafasnya yang entah harus kuartikan apa. Yang jelas, di sudut matanya mulai tergenang air bening.

Aku menghela nafas. Kubulatkan tekad. Mulai besok, aku tak akan cemaskan lagi perjalanan yang jauh antara rumah dan sekolah baruku. Aku bisa berjalan kaki sejauh apapun demi mencapai cita-citaku.

Esoknya, Umak terheran-heran melihat perubahanku. Aku bangun pagi-pagi benar. Saat ia menjerang air, aku sudah siap mandi dan berwudhu untuk shalat Subuh. Selesai berpakaian dan sarapan teh manis dengan sepotong pisang rebus, aku akan berangkat bersama kawan-kawan yang masih ingin melanjutkan sekolah ke kelas 3. Kami berenam. Belum lagi waktu syuruq*, aku telah melangkah menuju rumah Hamid untuk kemudian mengajak Imron, Lokot, Sodik, dan Halim berangkat bersama-sama sebagai rombongan kecil menuju satu gerbang cita-cita; Sekolah Rakyat Negeri 6 Padang Sidempuan.

____________________

*Syuruq: terbitnya matahari. Waktu syuruq menandakan berakhirnya waktu Shubuh. Waktu terbit matahari dapat dilihat pada almanak astronomi atau dihitung dengan menggunakan algoritma tertentu.

(bersambung…)

10 thoughts on “Tentang Ayah (5)

  1. Sekedar tanya, mbak Nis…pernyataan ‘udah gitu’ apa memang lazim diucapkan oleh orang Sumatera terutama pada zaman dulu sesuai setingan cerber ini?

    Ditunggu lanjutan berikutnya 😆

    • wedeh…kalo ditanya gitu, saya juga bingung mbak, karna belum lahir… 😆

      cerita ini coba saya visualisasikan sebisa saya aja berdasarkan cerita Ayah saya..mungkin asiknya pake bahasa mandailing ya? kuatirnya ntar pembaca malah ribet bolak-balik ke footnote..maksudnya biar pesan tersampaikan aja…hmmm…gimana bagusnya ya? 🙄

      • hmmmm….alasannya saya tanyakan hal tersebut adalah karena kata ‘udah gitu’ kesannya nuansa Jawa, sementara cerita ini setingnya adalah Sumatera dan tokoh2x dalam cerita tsb juga adalah beretnis Sumatera pula.

        Hal ini tdk berarti orang Sumatera tdk bisa berlogat Jawa…hanya kalau menurut saya, kemungkinan di jaman dulu sesuai jamannya Ayah mbak Nissa, mereka masih ‘murni’ menggunakan bahasa mereka pun dengan logatnya.

        Dengan demikian kita benar2x bisa merasakan nuansa budaya Sumatera. Itu menurut saya, mbak. 😀

        Boleh saja kalau mau pakai bahasa Mandailing, sepertinya akan lebih menarik. Tapi kalau khawatir soal footnote, maka mungkin baiknya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia saja, mbak.

        Seperti sinetron Siti Nurbaya dulu 😀

  2. sdh lama kita menunggu tulisan yg mengisahkan kehidupan tempo dulu di sumatera utara setelah era balai pustaka dan pujangga baru. mudah2an ini sebagai awal bagi kebangkitan penulis di sumut. selamat ya….

    • amiin bang…hehehehe…cita2 ga muluk2 sih bang..pengen nulis ttg Papa/Tulang abang aja..niatnya utk kado ultah yg ke 70 desembr nanti, tapi kalo molor gapapa jugalah ya..kemaren2 masih krg kesempatan utk leluasa menulisnya..mudah2an bisa siap…

      makasih bang, udah mampir.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s