Tentang Ayah (4)

Rencana yang kumaksud kukira bukanlah suatu rencana yang usil. Dalam pikiran kanak-kanakku, kurasa apa yang kami lakukan nanti adalah hal yang wajar. Tapi mungkin orang lain yang mengetahui akal bulus kami, akan menganggap perbuatan kami sudah termasuk manipulasi kelas ringan. Bibit untuk menjadi seorang birokrat yang keranjingan melakukan KKN di kemudian hari. Ah…tapi kurasa itu berlebihan. Kami hanya mencicipi salak. Itu pun kami sudah minta izin pada empunya, pedagang buah salak yang banyak berjajar di pasar.

Aku dan kawanku menganggap ide kami itu sebagai ide yang brilian. Memakan salak tanpa membelinya. Bagaimana bisa?

Begini. Kami, biasanya aku dan beberapa kawanku, bertempat tinggal jauh sekali dari sekolah. Kira-kira 3 kilometer. Rumah kami di daerah Sibatu, sementara sekolah kami di kota Padang Sidempuan. Masa itu kendaraan masih sangat jarang. Sepeda janda (sepeda onthel) atau sepeda motor adalah kendaraan yang mewah bagi kebanyakan masyarakat pada masa itu. Ada pun sado, uang kami takkan cukup untuk membayar ongkosnya. Maka dengan terpaksa kami harus rela berjalan kaki di terik siang hari dengan perut yang sudah sibuk minta diisi.

Hari sudah siang, perut kami sudah lapar dan kami masih harus berjalan kaki sejauh itu agar bisa makan di rumah. Kami lebih sering tak diberi uang jajan. Kalaupun ada, biasanya uang jajan yang sedikit itu kami tabung lalu setelah cukup akan kami belikan mainan. Maka salah satu cara untuk menyiasatinya adalah dengan pura-pura membeli salak di pasar agar bisa mencicipinya. Biasanya akan berlangsung dialog seperti ini:

“Sadia do salak on sakilo, inang? Berapa salak ini sekilo, bu?,” kami dengan suara yang hampir serempak, seperti koor. Ah…tidaklah. Biasanya aku atau kawan setiaku dalam pencicipan salak, Hamid, yang bertanya demikian.

Lalu sang inang penjual salak mengamati kami satu per satu. Tidak dengan tampang curiga, lebih ke raut iba. Siapa yang tak iba? Di zaman Indonesia baru merdeka dan baru saja terjadi agresi militer Belanda ke II, penampilan kami sungguh memprihatinkan. Baju seragam lusuh, sepatu kebesaran dan bolong di sana sini -biasanya sepatu itu adalah limpahan dari abang atau kakak yang sepatunya sudah tak muat lagi, sehingga ukurannya pun masih kebesaran bagi anak-anak seusia kami- lengkap dengan tampang yang memelas, datang menanyakan harga sekilo salak. Bahkan mungkin membeli sebuah saja kami masih berpikir berkali-kali. Lebih baik uang itu dibelikan mainan daripada membeli salak yang akan hilang begitu saja wujudnya di dalam perut lalu berakhir ke tempat pembuangan.

Tanpa suara, inang penjual salak akan memberi kami salak berukuran kecil sebuah satu orang. Dengan “akal bulus”nya pula, inang itu berkata pada kami,

“Cubo ma jolo sada. Ciciplah dulu satu,” tawaran inang penjual salak itu tentu membuat kami senang, merasa berhasil mengelabui orang dewasa yang sesungguhnya sudah tahu pikiran kami sampai ke dalam-dalamnya. Tapi mungkin karena kasihan, ia berpura-pura tak tahu saja.

Kami pun mengupas salak kecil itu dengan semangat tinggi. Kami gigit cepat-cepat. Manis. Sambil mengunyah, kami saling melirik. Bersiap melancarkan strategi selanjutnya.

“Maccom do, inang. Asamnya, bu,” ujar kami sambil berekspresi meringis keasaman. Inang itu diam saja. Ia mengalihkan pandangannya sambil mengipas-ngipas wajah dengan kain panjang yang melilit lehernya. Kami pun meninggalkan inang tersebut sambil mencari penjual salak selanjutnya yang kira-kira berhasil kami kelabui. Begitu seterusnya sampai kami cukup kenyang dan siap berjalan kaki sampai ke rumah masing-masing.

Tapi rencana kami itu tak selalu berjalan mulus. Ada juga penjual salak yang kikir bahkan sekadar mencoba sebuah salaknya dibagi beramai-ramai.  Tapi ada pula yang ketika melihat gerombolan kami langsung menyiapkan kami salak masing-masing sebuah. Ada pula yang seperti inang tadi. Pura-pura baru kenal dengan kami lalu dengan murah hati memberi kami salak sebuah satu orang, meski dengan ekspresi dingin. Padahal kalau dipikir-pikir, penjual salak mana yang bisa lupa pada kami yang saban Senin selalu bertandang ke kiosnya untuk merecoki dagangannya. Pikiran polos kanak-kanak kami lah yang membuat kami tetap bermuka tebal untuk mendatangi dagangan mereka.

Dalam hati aku berdoa, semoga para penjual salak yang berbaik hati memberi kami salak waktu itu diberikan kelapangan di alam kuburnya karena bersedekah pada generasi penerus bangsa Indonesia yang baru merdeka. Amin…

(bersambung…)

6 thoughts on “Tentang Ayah (4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s