Tentang Ayah (3)

Hari ini Senin. Ada pekan di Padang Sidempuan yang hanya sekali seminggu. Terbayang suasana pekan yang ramai, pikiranku tak fokus lagi ke pelajaran Pak Sitanggang. Beliau mengajar Matematika, mata pelajaran bukan favoritku. Suaranya yang menggelegar memenuhi pendengaran kami. Mataku tetap ke papan tulis, namun pikiranku mengawang. Tergambar suasana pedagang baju-baju yang bagus, mainan-mainan yang jarang kulihat di kampungku, makanan-makanan camilan semacam keripik sambal, juga buah-buahan, terutama salak. Aku memvisualisasikannya dalam benakku semirip mungkin dengan kenyataan sambil berusaha untuk tetap mendengar penjelasannya tentang persamaan Matematika.

Agaknya Pak Sitanggang sudah mengintai gelagatku sejak tadi. Beliau tahu betul ekspresi wajah murid-muridnya yang benar-benar belajar dengan yang hanya pura-pura belajar. Buru-buru aku alihkan pikiranku kembali ke persamaan Matematika. Sungguh susah. Bayangan tentang suasana pekan kembali gentayangan. Tiba-tiba aku merasakan suasana kelas hening. Ada apa? Tanyaku dalam diam. Teman di sebelahku menyenggol kaki kiriku pelan. Aku langsung tersadar. Tapi terlambat sudah. Dari sudut mata, kulihat pandangan Pak Sitanggang menohok wajahku. Aku tak berani melihatnya balik. Dari sudut mataku pula kulihat beliau mendekat ke bangkuku. Langkahnya perlahan sekali, sambil mengayunkan rotan. Aku bergidik. Tubuhku menegang mengantisipasi segala macam kemungkinan terburuk. Bila ada cermin di depanku, pastilah bisa kulihat wajahku yang memucat.

“Blaaaaarrrr!!” suara rotan di depanku menggelegar, menggetarkan seisi kelas. Meja di hadapanku serasa terbelah dua. Keringatku mulai bertimbulan.

“Lagi mikir apa kau?” tanya beliau murka. Tubuhku memanas. Keringatku mulai mengalir sekarang. Aku memilih diam saja. Kalau menjawab pun pasti akan dimarahinya juga.

“Heh…kenapa pulak kau diam? Ayo jawab!” bentaknya. Nyaliku ciut. Sesal tiba-tiba merayap. Kenapa pulak aku mengkhayal tadi?

“Tidak, pak. Tadi…tadi saya…tadi…”

“Apa tadi-tadi? Pintar kau menjawab ya. Sekarang kau kerjakan soal nomor 9 di papan tulis. Kalau kau tak bisa, kerjakan sampe bisa. Baru kau boleh pulang.”

Sorot matanya tegas menghunjam. Aku buru-buru menunduk. Tanganku bergetar di bawah meja.

“Ayo cepat!” hardiknya. Hampir terjatuh aku bangkit dari bangku dan tergesa menuju papan tulis. Kuambil kapur dan aahh…aku lupa membawa bukuku. Aku kembali lagi ke mejaku dan mengambil buru-buru bukuku sebelum dipelototi lagi oleh Pak Sitanggang.

Kucari soal nomor 9 di sana. Syukurlah soal persamaan yang bisa kujawab. Dengan style yakin, kutulis jawabannya dengan kapur setengah. Selesai, kuamati lagi baik-baik. Bila salah, akan kena murka yang kedua kali. Setelah haqqul yaqin akan jawabanku, aku menghadapkan tubuh ke arahnya. Tegang menunggu reaksinya.

“Yakin kau ini jawabannya?” suaranya sedikit lebih rendah sekarang.

“ Ya…yakin, Pak…” aku tergagap. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ahh…bukankah tiga belas dikali empat sama dengan lima puluh dua? Kenapa aku menulis lima puluh empat? Buru-buru aku hapus jawabanku. Mengulang lagi bentuk persamaannya. Sekali lagi kuamati jawabanku baik-baik. Kembali aku menghadap Yang Terhormat Pak Sitanggang.

“Ini jawaban yang benar, Pak.”

Setelah memicingkan mata untuk meneliti jawabanku, kulihat kepalanya mengangguk sekali. Tapi bibirnya tetap tak menyunggingkan senyum. Seakan dengan seulas senyum wibawanya akan runtuh seperti tembok Berlin. Aku tak tahu beliau mengangguk karena jawabanku benar atau karena beliau sedang ingin mengangguk saja karena pegal leher. Maka kutunggu kata-katanya masih dengan jantung berdebar.

“Ya sudah…duduklah kau,” aku sangat lega dan berusaha menahan senyum -bahkan senyum kami pun dianggapnya seperti sebuah ejekan- lalu duduk kembali ke tempatku. Tepat saat aku menaruh bokong di bangkuku, lonceng pulang sekolah juga berdentang. Kami murid-murid kelas 5 SR tetap tak mengeluarkan suara dan masih duduk manis di tempat kami masing-masing. Padahal pikiran kami telah sampai ke luar kelas; berjalan-jalan di pasar, bermain di pematang atau langsung pulang ke rumah karena perut yang sudah keroncongan.

“Pelajaran kita hari ini sudah selesai. Kalian sudah boleh pulang. Tapi ingat, besok akan Bapak kasih soal latihan untuk kalian. Belajar baik-baik di rumah,” tegasnya yang disambut suara serempak dari kami,

“Baik, Paaaakkk…”

Yang Terhormat Bapak Sitanggang lalu melangkah meninggalkan kelas. Aku langsung mengajak Hamid menjalankan rencana kami siang ini.

(bersambung…)

4 thoughts on “Tentang Ayah (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s