Tentang Ayah (2)

Di antara kawan-kawan, sesungguhnya aku yang paling takut. Di rumah, pasti aku dimarahi lagi. Jadi dua kali lah aku kena. Kenyataan itu langsung menciutkan nyaliku. Tak berani aku bersitatap dengan wajahnya yang mengetat. Tubuh kurus kecilku semakin mengerut ketika kudengar suara Ayah menggelegar bertanya,

“Dari mana saja?” pertanyaan yang serupa bentakan.

Mulutku terkunci. Aku semakin menunduk.

“Ayo jawab! Dari mana saja kau?”

Pertanyaan itu khusus ditujukan padaku meski kawan-kawanku yang tiga orang juga berbaris menunduk di belakang.

“Yang lain duduk!” Tunjuknya ke arah ketiga kawanku. Segera mereka kembali ke bangkunya masing-masing. Tinggallah aku yang menahankan derita.

“Da…dari rumah situ…ma…makan jambu,” jawabku akhirnya perlahan. Ayah makin murka.

“Kau bilang apa? Makan jambu? Di rumah orang? Mencuri kau ya?” tuduhnya tanpa belas kasihan.

Segera diayunkannya penggaris kayu itu. Tepat mengenai betisku yang tak lebih besar dari gagang sapu.

“Plaakkk!!” penggaris itu terbelah dua. Kakiku langsung mati rasa menahankan sakit yang luar biasa. Mukaku merah meringis. Belum habis penderitaan…

“Pulang kau sana!” usir Ayah dengan telunjuk mengarah ke luar. Aku tahankan perih yang kemudian menjalari seluruh tubuhku. Sakit sekali rasanya. Tak tertahankan.

Aku paksakan kakiku melangkah. Dengan langkah terseok-seok, aku pun pulang mematuhi perintahnya. Untunglah jarak sekolah ke rumahku tak jauh. Sampai di ambang pintu, aku diam menatap Umak yang sedang menyapu. Lama juga aku tak berkata sepatah pun. Umak belum menyadari kepulanganku.

“Hah? Sudah pulang kau dari sekolah? Kenapa cepat?” tanya Umak begitu melihatku duduk berselonjor di lantai dekat pintu.

Aku diam saja. Umak meletakkan gagang sapunya dan mendekatiku.

“Pucat kali kau kutengok. Sakitnya kau?” punggung tangannya meraba kening dan pipiku.

“Heh? Kenapa kakimu ini?” sambil menatap kakiku yang sudah lebam membiru.

Pertanyaan yang kemudian membuat air mataku mengalir pelan-pelan lalu terisak. Ibu menatap mataku. Dari mataku yang memerah, kulihat matanya berkaca-kaca. Ia pasti sudah paham kakiku mengapa. Digenggamnya kedua tanganku. Lalu dituntunnya aku ke kamar untuk beristirahat.

Sorenya, aku merasakan badanku panas sekali. Umak sibuk bolak-balik mengompres keningku. Dari sepicing mataku, aku melihat Ayah di pintu, memandangku dengan raut wajah iba. Aku memalingkan wajah ke Umak. Tak ingin aku berlama-lama melihat Ayah yang tega nian memukulku.

Panasku tak turun sampai esok paginya. Ayah mulai khawatir. Bolak-balik ia ke kamarku demi melihat keadaanku yang semakin parah. Ketika bercakap dengan Umak, aku mendengar mereka berencana membawaku ke bidan kampung. Ayah lalu mendekatiku.

“Mir, malum ma amang arun mi…aso kehe hita mangan sup tu pasar. Sembuhlah nak…biar pergi kita makan sup ya,” bujuk Ayahku sambil mengusap-usap kepalaku.

Sup yang dimaksud Ayah pastilah sup yang ada di rumah makan “Hati Dermawan”, milik Wak Akhirun Nasution. Di samping pintu rumah makannya, setiap Senin, biasa terpampang sebuah papan tulis kecil bertuliskan “Hari ini tersedia sup panas”. Sup nikmat yang hanya ada sekali seminggu. Sebenarnya rumah makannya tak hanya menjual sup, tapi rasa sup yang membuat ketagihan itu lah yang selalu mengundang lebih banyak pengunjung mampir tiap hari Senin. Racikan supnya sungguh menggugah selera. Potongan-potongan daging lembu yang besar-besar, disiram kuah sup yang berminyak berkilat-kilat, ditaburi rajangan daun sop dan bawang goreng. Makannya dengan nasi panas.

Air liurku terangsang. Ingin sekali rasanya makan di situ tiap hari Senin. Tapi uang Ayah tak cukup bila kami sering-sering membelinya. Hanya sesekali saja, biasanya pada hari-hari istimewa. Bila panen sawah kami yang sepetak itu meningkat atau saat liburan sekolah. Kali ini kutambahkan satu lagi daftarnya; bila anak sakit karena dipukul dan membujuknya agar lekas sembuh.

Aku mencari ketulusan kata dari mata Ayahku. Kali ini, ia sungguh-sungguh. Dalam hati, aku pun memaafkan perbuatannya. Ayah ternyata masih baik. Tak lama, aku pun terlelap dan bermimpi memakan sup Wak Akhirun yang nikmat, sampai berminyak-minyak mulutku.

(bersambung…)

9 thoughts on “Tentang Ayah (2)

  1. huhuhuhuhuhu…jadi sempat mewek terbawa suasana…hahahhhahahahahahaahahahhaahhahahahahaha

    mantap kali cerber ini, bah….sudah lama tak membaca yang seperti ini, mbak…lanjuuuutttt

    sekedar catatan: barangkali yang berbahasa daerah itu bisa dicetak miring dan diberi catatan kaki utk terjemahannya ke bahasa Indonesia, mbak?

    cerewet kali aku ini, bah! :))

    • waahhh…aku seneng loohh kalo bisa bikin mbak Inge mewek… (eh..hihihihih..) bukaann..maksudnya aku seneeenngg kalo tulisanku yg sederhana ini bisa dinikmati sepenuh hati.. 🙂

      iya, mbak..bisa juga sih gitu..bahasa selain bahasa Indonesia dicetak miring trus dikasih tanda untuk footnote-nya. tapi ada juga penulis, Ahmad Fuadi, yg dalam novel2nya terdapat beberapa kalimat yg menggunakan bahasa Minang, tapi langsung diterjemahkan di kalimat berikutnya. mungkin itu jadi alternatif ya..hehe..

      sebenernya ini masih tulisan mentah, mbak…hehehe..pasti masih banyak kekurangan..tapi itulah…agak disengaja juga, biar ada masukan..dan pas sekali..aku suka kalo mbak Inge yg langsung mengoreksi.. 🙂 mohon koreksi terus ya, mbak.. 😀

  2. di tulisan Ayah yg pertama, dibilang jarak sekolah ke rumah sejauh 3km, berarti lumayan jauh untuk kaki-kaki kecil .. di tulisan ini, dibilang, jarak rumah dengan sekolah tidak terlalu jauh..

    nah karena saya rada dudul, kira-kira, jarak 3km itu jauh atau dekat Mba Nisa?

    • nah..ini saya lupa ngeditnya berarti, mbak Suri..hahahah..maaaff..saya yang dudul..hihih..
      sebenarnya, tokoh “aku” SR di 2 sekolah yang berbeda, kelas 1-2 dia sekolah di dekat rumah, nah, pas naik ke kelas 3, dia pindah sekolah ke kota karena di kampung di Sibatu itu gada kelas 3-6..cuma 2 kelas..gitu..

      makasiihh masukannya yaa, mbak..nanti langsung diralat.. 😀

      • mbak Suri..ini saya copas komen untuk mbak Inge yang nanyanya sama ama mbak Suri ya..ternyata udah saya jawab waktu itu:

        “ehehehe…waktu yg bagian (1) ini posting di Kompasiana, aku juga dapet pertanyaan serupa, mbak..memang agak membingungkan ya, berhubung Ayahku waktu itu kelas 1 & 2 SR-nya di dekat rumah yg hanya berjarak 100 meter. Trus karna ga ada kelas lanjutan (kelas 3 ke atas) di deket rumah itu, jadi beliau harus bersekolah di kota Padang Sidempuan. Nah, jarak kampung tempat tinggal Ayah dgn kota Padang Sidempuan itu sejauh 3 km. Untuk menjembatani fakta itu, aku hanya menulis begini:
        _______________________

        SR tempat Ayah mengajar itu kecil. Hanya ada dua kelas. Satu lagi guru yang mengajar di situ adalah Pak Lubis. Berdua mereka bergantian mengajar puluhan murid kelas 1 dan kelas 2. Aku adalah salah satu muridnya. dst…

        … Seperti waktu itu. Aku masih kelas 2 SR. Sekolahku kala itu masih berjarak 100 meter dari rumah.
        __________________________

        nah, kira2 begitu, mbak Suri..mungkin kalimatnya belum terasa pas ya..hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s