Tentang Ayah (1)

Hari belum terang benar ketika Ayah membuka jendela. Dari mataku yang masih menyipit menahan beratnya kantuk, aku lihat Ayah bersiap dengan semangkuk kecil air. Sayup-sayup kudengar suaranya menyuruhku bangun untuk salat Subuh. Mataku sungguh berat. Aku ingin melanjutkan tidur saja. Tapi tiba-tiba sepercik dua percik air menyemprot mukaku, disertai suara Ayah yang bernada perintah menyuruhku segera bangkit menuju sumur.

Dengan berat langkah aku pun harus rela melepas mimpi menuju belakang rumah. Dinginnya air memang sanggup mengenyahkan setan-setan dari pelupuk mataku. Terkadang aku membayangkan setan-setan itu bermain ayunan di bulu mataku yang agak panjang. Terkadang bermain perosotan atau hanya bergelayut saja di situ. Lalu ada segerombolan lagi yang memaksakan kehendaknya untuk terus duduk di kelopaknya. Menekannya dan menyuruhku terus tidur saja. Lalu setelah diguyur air wudhu, mereka pun berteriak ketakutan dan hilang begitu saja. Blass! Begitu bunyinya. Aku pun merasa menjadi pemenang setelah itu. Menang berjihad melawan setan-setan kecil yang lucu seukuran kutu. Setidaknya itu kata guru mengajiku.

Selesai salat Subuh, aku pun mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Baju seragamku yang kupakai kemarin masih menggantung di balik pintu. Segera kuambil dan kupakai dengan terburu-buru. Hari memang masih belum terang benar, tapi aku sudah agak terlambat. Perjalanan 3 km ke sekolahku butuh waktu cukup lama bila ditempuh dengan sepasang kaki kecilku. Maka untuk mempercepat langkahku, sebelum berangkat segera kusambar sepotong pisang yang baru digoreng Umak. Tak lupa pula teh manisnya, yang langsung kuhabiskan sampai kandas.

Selesai bersepatu, aku pun menyalami Ayah dan Umak.

“Hati-hati di jalan!” teriak Umak dari dalam setelah aku sampai di halaman. Umak masih sibuk beberes di dapur.

“Pulang sekolah, langsung pulang,” begitu selalu pesan Ayah di ambang pintu.

Pakaian Ayah kemeja putih dan celana panjang hitam. Di kepalanya bertengger peci berwarna hitam pula. Tali pinggang dan sepatunya juga hitam. Ia terlihat begitu klimis dengan seragamnya sebagai guru bantu di Sekolah Rakyat (SR) Desa Sibatu itu.

Ayah berangkat setelah aku melangkah ke sekolah bersama kawan-kawan. Biasanya diawasinya dulu aku dan kawan-kawan sampai hilang di belokan jalan. Sambil ia memandangku menjauh, aku tahu, di dalam hatinya ia berdoa, semoga aku selamat dalam perjalanan pergi dan pulang dari sekolah. Harapannya sungguh besar padaku. Sebesar tekadku melintasi perkampungan penduduk sejauh 3 kilometer untuk bisa sampai di sekolah, tempatku belajar di kelas 3 SR kota Padang Sidempuan.

SR Sibatu tempat Ayah mengajar itu kecil. Hanya ada dua kelas. Satu lagi guru yang mengajar di situ adalah Pak Lubis. Berdua mereka bergantian mengajar puluhan murid kelas 1 dan kelas 2. Aku adalah salah satu muridnya. Bila zaman sekarang anak seorang guru yang setiap hari bertemu di sekolah yang sama lebih banyak diistimewakan, maka jauh sekali kenyataannya denganku. Aku tak beda dengan murid-murid lain. Ayah di rumah dan di sekolah sama saja.  Sama-sama keras. Setelah besar, baru kupahami caranya itu sebagai hasil didikan orang-orang Belanda, sebagaimana lazimnya orang-orang yang besar di masa penjajahan. Tapi terkadang kurasa Ayah sungguh kelewatan.

Seperti waktu itu. Aku masih kelas 2 SR. Sekolahku kala itu masih berjarak 100 meter dari rumah. Sebagai anak yang kurang gizi, tubuhku sangat kurus. Pendek pula. Kalau ada fotonya, kurasa orang-orang zaman sekarang bisa meneteskan air mata bila melihatnya. Keadaanku sungguh menyedihkan. Tapi soal kelincahan gerak, jangan tanya. Aku bisa bermain apa saja dengan kawan-kawan tanpa lelah seharian.

Nah, waktu itu, pada jam istirahat, aku dan kawan-kawan yang sedang ingin mengunyah camilan, memanjat pohon jambu yang tumbuh kekar di halaman rumah salah satu warga di dekat sekolah. Jambunya jenis jambu air yang merah ranum. Sungguh menggugah selera. Maka tanpa segan-segan kami mengambil dan langsung memakan buahnya. Tak disangka, jam istirahat lewat sudah. Ketika tersadar, kami langsung tergopoh-gopoh turun dari pohon dan lari tunggang langgang ke sekolah. Halaman sudah sepi. Murid-murid lain telah kembali belajar di dalam kelas. Dengan wajah ketakutan, aku dan kawan-kawan mengetuk pintu kelas. Di depan kelas ada Ayah dengan penggaris kayu panjang kebesarannya.

(bersambung…)

6 thoughts on “Tentang Ayah (1)

  1. Jujur saja membaca karangan ini membangkitkan kenangan masa kecil saat sekolah dulu. Jadi rindu…plus rindu dgn almarhum ayah yg dulu juga seorang guru 🙂

    Sekedar catatan, mbak Nis: menurut EYD, yg benar adalah salat, bukan shalat. Shalat adalah bahasa Arab dan setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi salat. Ini setelah membaca blog salah satu kawan pemerhati bahasa Indonesia dan juga tadi mengecek lewat KBBI online 😀

    Makasih ya penjelasan kata ‘ditabalkan’ yg kemarin. Kata tabal ada dalam KBBI yang pengertiannya spt ini:

    ta.bal
    [kl n] tabuh (beduk) yg dipalu ketika meresmikan penobatan raja

    Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/tabal#ixzz1cVL2dX8c

    Kurang lebih sama maknanya ya?

    • okee, mbak Ingee..makasih banyak yaa masukannya.. 🙂

      iya mbak, menurut pemahamanku, kata “ditabalkan” itu lebih kurang sama dengan “disematkan”, “dinobatkan”, “diresmikan”..intinya sih pemberian suatu gelar/nama..

  2. Mbak Nis, sepertinya ada yang ‘janggal’?

    Pada paragraf ke-6 dikatakan si ‘aku’ harus menempuh jarak 3 km utk sampai ke sekolah.

    Tapi pada paragraf ke-8, katanya jarak sekolah dan rumah si ‘aku’ hanya 100 meter.

    Atau apakah saya yang salah tangkap ya? 😀

    • ehehehe…waktu yg bagian (1) ini posting di Kompasiana, aku juga dapet pertanyaan serupa, mbak..memang agak membingungkan ya, berhubung Ayahku waktu itu kelas 1 & 2 SR-nya di dekat rumah yg hanya berjarak 100 meter. Trus karna ga ada kelas lanjutan (kelas 3 ke atas) di deket rumah itu, jadi beliau harus bersekolah di kota Padang Sidempuan. Nah, jarak kampung tempat tinggal Ayah dgn kota Padang Sidempuan itu sejauh 3 km. Untuk menjembatani fakta itu, aku hanya menulis begini:

      SR tempat Ayah mengajar itu kecil. Hanya ada dua kelas. Satu lagi guru yang mengajar di situ adalah Pak Lubis. Berdua mereka bergantian mengajar puluhan murid kelas 1 dan kelas 2. Aku adalah salah satu muridnya. dst…

      Seperti waktu itu. Aku masih kelas 2 SR. Sekolahku kala itu masih berjarak 100 meter dari rumah.

      tapi kalimat itu rasanya masih kurang informatif ya, mbak? hmmm…soalnya kalo detail penjelasannya, aku rasa kurang asik. karya fiksi kan perlu membuat pembacanya berpikir tentang fakta2 tersurat maupun tersirat yg sudah dijabarkan sebelumnya..hehehe..tapi maaf loh, mbak, kalo membingungkan gini..nanti aku coba cari kalimat yg pas..makasih, mbak.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s