Tentang Ayah (Prolog)

Untuk Ayahku

Juga

Untuk Ayah dari Ayahku

***

Kampung Napa, Tapanuli Selatan, 31 Desember 1941

Perempuan muda itu meringis-ringis memegangi perutnya yang membulat sejak sembilan bulan lalu. Keringat di dahi dan sekujur tubuhnya membuat rambut dan pakaiannya basah. Pandangannya hampir mengabur karena menahankan rasa sakit yang sangat. Ia gigit ujung selimutnya sekuat giginya mampu menahan. Saatnya akan tiba. Sang dukun sudah siap dengan tempayan dan berlembar-lembar kain panjang yang seluruhnya berwarnaย  kecoklatan.

Di luar, lelaki berperawakan sedang dengan ujung bibir mencangklong sejumput tembakau diam di tempatnya duduk. Meski begitu, ia sesungguhnya amat gelisah. Pikirannya mondar mandir. Dari tembakau ke istrinya di dalam. Dari istrinya lalu ke tembakau. Terkadang diselingi monolog tentang dua anaknya yang kini sedang bermain di depannya.

Kali ini mereka berdua, Nuraini dan Burhan, tidak berisik. Hanya bermain-main dengan tanah dan sebatang kayu. Tangan-tangan mungil mereka membentuk aneka rupa dengan ujung kayu itu; pohon kelapa, pohon pisang, gunung, atau sawah. Sesekali mereka berseru girang, namun langsung diam begitu sekilas memandang Ayah mereka yang sedang menyilang kaki di bangku kayu. Mereka tahu, ibu mereka sedang kesakitan. Maka ketika terdengar bunyi erangan dari dalam tanda mengejan, mereka pun bangkit mendekati rumah. Dengan mata kanak-kanaknya, mereka menyiratkan tanya pada sang Ayah.

Sang Ayah hanya tersenyum sedikit, lalu kembali mencangklong. Sekarang matanya turut gelisah. Bertiga Ayah dan anak itu duduk berdampingan. Raut mereka ikut tegang. Si kecil Burhan yang biasanya sibuk meracau sampai-sampai ikut terdiam. Suara perempuan di dalam kamar semakin memilukan. Kaki dan tangan sang Ayah bergerak-gerak kebingungan. Ingin kakinya melangkah saja ke dalam tapi tetap saja ia tak sanggup. Syukurlah, tak menunggu terlalu lama, buyarlah kegelisahan itu dengan suara tangisan bayi.

Tanpa suara, buru-buru ia masuk ke dalam. Melewati beberapa sanak keluarga di ruang depan lalu hilang di balik tirai. Matanya berkaca-kaca memandang istrinya dalam diam. Bergantian pandangannya ke arah sang istri, lalu si bayi mungil dan dukun beranak. Hanya sedikit bersuara, sang dukun sigap membasuh si bayi mungil di baskom, mengelapnya, lalu membungkusnya dengan kain panjang. Ia lalu menaruh bayi merah itu ke sisi sang ibu. Ibu bayi itu masih tergolek lemas. Darah mengalir sampai ke lantai. Itu pekerjaan sang dukun berikutnya. Dengan cepat dibersihkannya bagian selangkangan perempuan itu lalu di balutnya dengan beberapa tumpuk kain. Bajunya pun diganti perlahan-lahan. Setelah nyaman, barulah bayi itu didekatkan ke pelukannya.

Ayah bayi itu mendekat. Matanya memancarkan kasih yang tak terhingga pada ibu dan anak itu. Ditanyanya kelamin si bayi pada dukun. Senyumnya lalu mengembang. Anak laki-laki adalah penerus marga yang selalu dinantikan kehadirannya pada setiap kelahiran. Ia genggam tangan istrinya lalu dielusnya pipi si bayi. Terlintas sebuah nama yang telah lama menggantung dalam pikirannya, menunggu ditabalkan.

(bersambung…)

6 thoughts on “Tentang Ayah (Prolog)

    • “ditabalkan” artinya semacam “disematkan” atau “diberi nama”, mbak Inge…kaya’ acara “penabalan nama”..entah itu cuma bahasa yang populer di Medan ya..hehe..tapi kaya’nya itu memang bahasa Indonesia. ga laahh..mbak Inge tetep guru bahasa Indonesia & Inggris favoritku.. ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s